Buku | Resensi

Pengelana Berbunga dan Tamat

Kehadiran Knulp di rumah teman-teman untuk singgah sehari atau sekian hari sering memberi kegairahan hidup, sodorkan hal-hal menghidupkan setelah orang-orang di kelesuan, sibuk, dan rutin. “Jika ia butuh tumpangan maka si pemilik rumah akan senang dan merasa terhormat,” pengakuan sahabat merasa girang mendapat kunjungan Knulp. Sesaat tapi memberi percik dan kobaran bahwa hidup masih bergelimang makna. Knulp teranggap mendatangkan kesantaian dan keriangan. Menumpang itu memicu kerepotan dan pemberian dari tuan rumah. Knulp memang berhak menerima kebaikan-kebaikan berdalih bukan orang bekerja dan mengantongi gaji. Tata cara itu timbal balik terikat persahabatan.

Continue Reading...

Cerpen

Suatu Hari, Aku Ingin Piknik

Ibu bilang, aku hanya mengingatkannya pada seorang lelaki kurang ajar yang meninggalkan ibu setelah tahu hubungan gelapnya membenihkan janin. Ibu memang tak pernah memarahiku tapi juga tidak mencintaiku seperti ia mencintai Namira. Ibu selalu diam di depanku tapi banyak bicara jika di depan Namira.

Continue Reading...

RAGAM

Menyuarakan Papua Melalui Seni Rupa

Selain itu, pameran ini juga menempatkan konsep spirit Tonawi Mana yang eksklusif ke dalam aktivitas seni yang lebih luas, di mana Tonawi Mana bertransformasi menjadi suara-suara yang dihasilkan lewat karya seni dengan pendekatan dan interpretasi yang lebih bervariasi. Hal ini sejalan dengan apa yang ingin sampaikan oleh Komunitas Udeido bahwa permasalahan Papua perlu dibawa ke berbagai panggung yang tidak terbatas secara eksklusif untuk golongan tertentu saja. Tetapi menjadi masalah bersama yang kelak menumbuhkan tunas solidaritas yang jauh lebih besar lagi, yang menembus sekat sosial, ras, golongan, agama, dengan bentuk dan manifestasi yang beragam.

Continue Reading...

RAGAM

Garis-Garis Hanafi di Masa Pandemi

“Membuat karya pada masa wabah saya akui tidak mudah. Betapa sulitnya membuat jarak wabah Corona ini sebagai objek dan kreator sebagai subjek. Karena jika jarak ini tidak ditemukan, maka karya-karya yang tercipta hanya berisi kesedihan, keputusasaan, dan apatisme. Tantangan saya adalah merebut kembali jarak pandang untuk menemukan benih-benih keprihatinan hidup,” kata Hanafi.

Continue Reading...

Resensi Dahulu
Buku | Resensi

Bertemu (Mantan) Penyair

Dari esai ke esai berikutnya, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana: esai-esai yang disuguhkan kepada pembaca ini pertemuan dengan puisi atau pertemuan dengan penyair. Secara umum, yang kita temukan dalam esai-esai Bandung Mawardi ini adalah pertemuan dengan penyair yang diperantarai puisi. Sedangkan puisi itu sendiri lebih banyak diposisikan sebagai dokumen sejarah, bukan sebagai dokumen estetika puisi.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Norrahman Alif

orang-orang memilih mati
di tengah virus gigil waktu
menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya
waktu-waktunya berselimut mimpi
dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

Continue Reading...

Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadhan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

Continue Reading...

Buku | Resensi

Ekonomi Feminin

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Continue Reading...