Cerpen

Caraphernelia

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Continue Reading...

Cerpen

Balada Rindu

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus. Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Continue Reading...

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Kiki Sulistyo

apakah yang kau lihat dari seekor lebah?
dengung sayap, sayup di kayu atap, sarang
berlapis dari malam dan getah propolis
mencari serbuk sari, nektar bunga, berhektar
daun mahkota di antara duri-duri.

Continue Reading...

Cerpen

Suara Karenina

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

lalu merecik
kilasan tanya di tubir pasai
ke mana alamat semua arus ini
ketika semua peluk dan ciuman ketergesaan
adalah serombongan tafsir yang banal
dan juga gagal dalam menandai
denyut keberadaan
di bawah tatapan ruang yang seringai
dan terkaman waktu yang serigala

Continue Reading...

Puisi

Puisi Ali Ibnu Anwar

lubang pot itu menanam hari-hariku. sebatang hari
tumbuh. sebatang kaktus tumbuh. melipat daging
segar yang menyebar dalam tubuh. setiap bangun
pagi, kuhirup udara amis dalam masker. bau berita
yang membongkar mortalitas manusia. kematian
bersembunyi di balik data-data menakutkan. kematian
yang juga menakuti kursi, meja kerja, baju kotor dan
cangkul. sial! siapa yang berhak atas kematian?

Continue Reading...

Cerpen

Percakapan Dua Ikan

Mendengarmu mengajak aku foto bersama. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saking senangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari kedai dan memotretmu. Bahkan ketika ponselku berdering aku sampai tidak dengar. Padahal itu telepon penting dari seorang teman. Ah, perasaan suka kadang benar-benar membuat orang-orang kehilangan daya fokusnya.

Continue Reading...

Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

Memenuhi permintaan suaminya, perkutut itu ditangkap Laksmita dan dimasukkan ke dalam sangkar. Perkutut itu sangat jinak, berada di sangkar tanpa merasa asing. Mematuk jewawut dan ketan hitam, minum sesekali. Broto memang mempunyai pekerjaan baru, merawat perkutut itu tiap pagi. Membersihkan sangkar. Mengganti jewawut dan ketan hitam. Mengganti air yang keruh dan mengering. Ia tak pernah menggerutu. Ia sadar, perkutut itu telah lama hadir dalam mimpi dan kehidupan Laksmita, istrinya.

Continue Reading...