Buku | Resensi

Maut, Bahari, dan Kilas Balik

LaluKau rupanya seperti perjalanan kilas balik. Puisi-puisi Radhar dalam buku itu diurutkan mundur, dari tahun terbaru (2019) hingga terlawas (1985). Saya mengikuti kilas balik itu pelan-pelan. Semakin ke belakang, puisi-puisi Radhar semakin bagus. Sepanjang 2018, Radhar gemar memuisikan masjid. Ada tiga puisi tentang masjid yang Radhar tulis: “Masjidku Untukmu”, “Masjidmu Untukku”, dan “Dimana Masjid”. Lalu, mundur setahun ke 2017, Radhar masih memuisikan hal-ihwal spiritual-keagamaan. Sementara, pada 2014–2015, puisi-puisinya sangat eksistensial.

Continue Reading...

Cerpen

Suara di Tengah Malam

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

Continue Reading...

Buku | Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Gusfahri

Aku membaca puisi sebelum membuka pintu
Lalu keluar dan terus membacanya.
Sebab aku percaya langit adalah jendela rumahmu
Meski cuaca belum bisa aku raba.

Continue Reading...

Buku | Resensi

Sesuatu yang Kita Sebut “Uang”: Sejarah, Persoalan, dan Masa Depannya

Sejak kehadirannya hingga sekarang, uang mengalami berbagai perkembangan. Perkembangan itu pula yang mempengaruhi bidang industri, jasa dan agrikultur dengan ujung dampaknya pada manusia dan alam. Apalagi belakangan ini konsep e-money (uang elektronik) diperkenalkan dalam transaksi finansial. Untuk itu, tentu tidak salah bila mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara kerja uang di masa depan? Dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat luas?

Continue Reading...

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Continue Reading...

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Continue Reading...