Cerpen

1.001 Kura-Kura

January 3, 2023

Cerpen Beri Hanna

Aku mendengar Selin bercerita tentang lompat tali. Ceritanya hampir selesai. Setelah dia adalah giliranku. Aku semakin gerogi. Seharusnya aku memilih cerita yang serupa seperti teman-teman sebelumnya. Tapi aku sudah tidak punya waktu.

Teman-teman bertepuk tangan, tanda selesainya cerita lompat tali itu. Ibu guru berdiri, mengangkat buku absensi lalu menyebut namaku.

***

Di sudut bumi tempat mama bekerja, tak terlihat seekor kura-kura seperti yang pernah diceritakan papa. Aku kecewa sekaligus sedih saat mendapati suasana di sini tak seperti yang aku bayangkan.

“Sungguh membosankan sekali,” kataku ketus, tak sadar begitu gampang aku katakan.

“Hei! Apa katamu?” mama bertanya tetapi aku tak menjawabnya bahkan tidak melihat ke arahnya.

Aku masih melihat sekeliling, mencari sesuatu yang dapat menghibur. Tetapi tak ada apa-apa selain kelengangan panjang bagai tiada habisnya. Seluruh tempat ini berwarna putih pucat. Hal ini menambah suasana jenuh yang sepertinya mampu membuat orang sepertiku menjadi gila dalam hitungan menit.

Baru sebentar berada di sini, aku langsung merindukan rumah. Rasanya perjalanan dengan mesin waktu ini sia-sia. Aku ingin kabur tetapi sama sekali tak tahu ke mana jalan yang harus aku lalui. Menggunakan mesin waktu seperti tadi aku dan mama tiba di sini, sepertinya akan membuatku mati lebih cepat sebelum sampai tujuan, atau paling tidak aku akan tersesat di tempat antah berantah. Mesin itu terdiri dari banyak tombol dan lain-lainnya yang tidak aku mengerti. Seolah didesain khusus untuk perorangan yang berkepentingan.

Ini satu kesalahan terbesar dan sepertinya memang aku harus berada di sini, terkutuk untuk waktu yang tidak akan aku ketahui. Lagi pula mama sudah mulai bekerja dan tentu saja dia akan melupakan aku.

“Kenapa ya, aku bisa ikut ke sini,” kataku kemudian.

Aku tahu mama mendengar tetapi pura-pura sibuk dengan pekerjaan memasukkan angka-angka di permukaan pokok pohon. Waktu kecil aku sering diceritakan papa tentang pekerjaan mama yang mengharuskannya tidak pulang selama bertahun-tahun.

“Aneh,” kataku kepada papa suatu hari. Papa berkata itu tidak aneh dan aku langsung mendebatnya bahwa tidak ada satu pun orangtua temanku yang bekerja seperti mama. Lagi pula, tak ada seorang anak yang mengatakan tentang pekerjaan mama ketika ditanyai guru tentang cita-cita mereka.

“Mama, apakah kita tidak salah tempat?” tanyaku dan mama menjawab tidak, dengan suara yang hampir tak kudengar. Aku mendekat dan menanyakan lagi pada mama.

“Tidak mungkin salah,” jawabnya, masih sibuk memasukkan angka-angka ke pokok pohon.

“Lalu mana kura-kura seperti yang diceritakan papa itu?”

“Tunggu saja,” kata mama. “Kura-kura itu akan datang. Jumlahnya seribu satu dan tidak pernah kurang atau lebih.”

“Berapa lama lagi, Mama?”

“Tidak lama, kok. Pasti sebentar lagi.”

Begitulah mama. Aku tahu sejak dulu ia mudah menjawab setiap hal yang aku tanyakan meskipun tak pernah tepat dan akurat. Mama memang tidak pernah memuaskan—mungkin juga termasuk memuaskan papa.

Seharusnya sejak dulu papa merencanakan sesuatu yang besar. Seperti Tua Gundul (aku lupa namanya, tetapi Gundul ini teman papa) yang berbakat mengingat nomor telepon serta alamat rumah setiap perempuan. Rumor tentang Gundul yang suka menghubungi perempuan untuk diajak berkencan ke bioskop benar adanya. Papa, aku dan semua temanku tahu Tua Gundul telah menikah sebanyak dua belas kali. Tetapi papa, masih setia kepada mama yang hampir tidak pernah pulang.

“Apa, sih, yang Papa harapkan dari Mama?” tanyaku suatu hari kepada papa. Kalau tidak salah saat itu aku masih berusia sepuluh tahun. Papa dengan mantap menjawab ia hanya mengharapkan mama pulang. Itu membuatku tak ingin lagi menanyakan perihal hubungan papa dan mama. Aku tidak peduli meski sebenarnya aku ingin papa mencari perempuan lain karena mama, bagiku, seperti yang tadi aku katakan: Tidak pernah memuaskan.

Suatu hari ketika mama pulang dengan mesin waktunya secara tiba-tiba, aku sama sekali tidak takjub karena bagiku itu bukanlah sesuatu yang hebat. Teman-temanku tidak pernah membicarakan mesin waktu, keajaiban semacam itu. Begitu pintu mesin waktu terbuka, mama melengos berjalan ke arah kamar tanpa menyapaku. Saat itu aku kesal dan mengejarnya. “Jangan masuk kamar, dulu,” kataku, menahannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Jawaban.”

“Kalau begitu siapkan pertanyaanya.”

Aku langsung bertanya, mengapa anjing menggonggong sedangkan kucing mengeong? Dan mama menjawab karena anjing tidak mungkin mengeong dan kucing tidak mungkin menggonggong.

“Sederhana sekali jawaban, Mama,” kataku dan mama mengatakan: “itu, kan menurutmu.” Ia juga menambahkannya dengan balik bertanya kepadaku, apa jawaban yang aku harapkan. Aku ingin memperpanjang obrolan ini seperti apa arti kata tidak mungkin, yang dimaksud mama? Inilah yang tidak pernah mama jelaskan kepadaku! Tetapi, andaikata aku benar-benar menanyakannya tentu saja mama akan menjawab itu sesuatu yang tidak terjadi. Selagi aku berpikir, mama telah melengos lagi. Membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Aku tak dapat menahannya. Aku hanya bergumam geram, “licik sekali.”

Jawaban-jawaban mama selalu mengambang penuh misteri atau bisa aku katakan tidak pernah pasti. Mama tak pernah memikirkan apa yang ingin aku ketahui. Seperti saat ini, ia membiarkan aku menunggu sementara ia sibuk dengan pokok pohon dan angka-angka. Bagaimana bila aku menunggu hingga warna putih pucat di seluruh tempat ini menjadi hitam gelap? Sementara seribu satu kura-kura itu tidak datang. Apakah mama akan menjeda kerjanya lalu medekat kepadaku sambil membisikkan kata; sabar. Aku rasa itu tidak akan terjadi. Paling pasti, mama tidak akan mendekat dan malah menyarankan aku untuk terus menunggu.

“Apakah papa pernah menipu Mama?” tanyaku setelah bosan mengingat-ingat yang telah berlalu. Lagi pula, kini aku dan mama telah jauh dari rumah.

“Mama lupa.”

“Pasti papa pernah menipu Mama,” simpulku.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena mama tak ingin mengingatnya. Oh tidak. Mama lupa karena memang tidak pernah ada di rumah.” Mama diam tidak menjawabku, dan kembali bekerja.

Pada satu kesempatan papa banyak bercerita tentang seribu satu kura-kura. Aku takjub karena cerita papa seperti legenda penuh keajaiban. Sejak mulai kura-kura terjun ke dalam laut, menuduh raja ikan sebagai dalang perpecahan kaum tawar dan asin, memberantas penjahat yang memperbudak musang, lalu menunggangi kuda emas hingga terbang bergentayangan di malam hari. Kura-kura bersenjata pedang berkilau. Dan masih banyak lagi.

Satu hal yang dilupakan oleh papa dan baru pada saat mendapati kenyataan kelengangan di sinilah, aku menyadarinya. Aku jadi berpikir, kira-kira apa ya, yang dilakukan seribu satu kura-kura sebelum datang ke sudut bumi, tempat di mana mereka akan muncul dan aku dapat melihatnya seperti kata papa itu. Aku bisa saja menduga-duga, tetapi dugaanku tak lebih hebat dari cerita-cerita papa.

Bertanya kepada mama adalah jalan terburuk. Mama akan merusak apa yang aku bayangkan. Demikian nanti dia berkata, “Seribu satu kura-kura sedang dalam perjalanan. Mereka capai dan berhenti lalu melanjutkan perjalanan.” Lebih baik aku tidak menanyakannya. Lebih baik pula jika aku mencari tahu sendiri. Ya. Sepertinya itu lebih baik. Sembari menunggu—karena menunggu teramat membosankan—aku akan berjalan untuk melihat-lihat apa yang dapat aku temukan.

Beberapa langkah dari tempat mama bekerja aku merasakan kesunyian seperti memang telah mengutuk tempat ini. Oh, sungguh menyedihkan mamaku yang bekerja di sini. Aku rasa mama pernah bosan dan bahkan mungkin melewati fase gila. Setelah jauh melangkah, kesunyian ini benar-benar nyata. Semakin lama semakin lengang. Aku pernah membaca beberapa cerita yang menggambarkan kesunyian, semuanya menceritakan si tokoh dapat mendengar detak jantungnya sendiri, nafas, langkah kaki, atau suara serangga hingga tetesan air. Tetapi aku, semakin berjalan menjauh semakin tak mendengar apa-apa. Benar-benar hening bahkan aku semakin sulit menangkap suara hatiku sendiri.

Ketika melewati hal-hal aneh yang tidak pernah aku lihat bahkan aku tak punya pengandaian untuk menarasikan semua ini, aku semakin merasa kosong. Oh, apa ya semua ini. Aku benar-benar bingung. Aku dapat melihat semuanya. Aneh. Sesuatu yang begitu rusak. Yang begitu membusuk dan mencair, berserakan di mana-mana, bertumpuk dan meninggi. Aku dapat mencium bau yang menyengat.

Aku berjalan lagi. Kira-kira sudah sangat jauh dari tempat mama tadi bekerja. Aku menyadari sesuatu, apa yang aku pikirkan benar adanya. Mama tidak pernah memanggilku. Dia membiarkan aku bergerak, tersesat dalam kelengangan aneh seperti ini. Benar-benar licik.

***

Dua menit lagi bel sekolah berbunyi. Teman-teman yang mendengar ceritaku sudah menguap sejak tadi. Ibu guru juga begitu. Sesekali saat bercerita, aku melihat ibu guru termenung memandang kekosongan dengan segudang pikirannya sendiri yang berkeliaran di dalam kepalanya. Hanya dia yang tahu apa isinya.

Aku berteriak, ceritaku telah selesai. Teman-teman mengangkat kepala. Bertepuk tangan. Ibu guru berdiri dan menyilakan aku duduk. “Jadi, kesimpulannya, hari ini kita punya cerita aneh,” kata ibu guru.

Bel berbunyi. Semua teman berhamburan keluar kelas. Aku menyusun buku ke dalam tas. Aku dengar saura Selin berbisik kepadaku, “Lalu bagaimana dengan seribu satu kura-kura itu?” Aku melihatnya. Tersenyum.****


Beri Hanna, lahir di Bangko. Bergiat di Teater Tilik Sarira dan Kamar Kata Karanganyar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *