Cerpen

14.400 Detik Sebelum Aku Lahir

May 18, 2021

Cerpen Seto Permada

Gemetar guruh menggetarkan dinding-dinding rahim yang menjagaku. Kudengar tetes hujan dari kecil-kecil hingga sebesar jempol. Beberapa detik sebelumnya, aku tidur pulas, bermimpi singgah ke negeri peri. Gadis-gadis berkemban dan bersayap putih menawariku segelas susu ekstra madu yang diambil dari sungai panjang nan lebar. Tawaran itu pun kuterima. Namun, saat kucoba menggapai gagang gelas, tangan mereka menjauh, menjauh, hingga kecil-kecil seperti kuman.

Itu suara Ibu. Suaranya mengaduh. Kedua tangannya mengetukku dari luar. Refleks, kedua tanganku pun meraba-raba dinding gelap ini. Ada apa, Bu? Ia bercerita siang tadi ke warung Mpok Jamilah. Di sana ada Pak Tob. Orang itu meledek, “Apakah kau mau melahirkan anak perempuan lagi, Marni, yang kelima kalinya? Tidak bosan?”

Di sela keluhan Ibu, kutangkap nadanya yang ingin aku lahir sebagai anak laki-laki. Kedua tangannya mengelusku dari luar. Rata. Tak ada benjolan kuat yang mengerucut. Pertanda kelak aku menjadi anak perempuan. Apa salahnya menjadi anak perempuan, Bu? Kakak-kakak perempuanku di luar sana pasti sudah banyak membantu; masak, mencuci, atau bahkan ikut mencari nafkah. Ya, kan, Bu?

Kini, suara keluh Ibu dibarengi suara jatuhnya hujan yang mengetuk dinding rahim keras-keras. Sering kutanya pada Tuhan, Mengapa tak Kau-sediakan lampu? Namun Dia tak menjawab. Barangkali ruangan khusus ini memang diciptakan agar tetap menjadi rahasia besar sepanjang zaman.

Kuhitung-hitung, sudah 8 jam Ibu tak makan apa-apa. Biasanya tidak selama ini. Selang yang menancap ke perutku tampak kempis. Bahkan saat kupencet hanya berisi udara. Apa Ibu ingin jadi pembunuh menjelang kelahiranku?

Dua jam penuh Ibu merintih dan meraung-raung tak tentu di tengah lebatnya hujan. Setelah itu, suaranya semakin lemah dan lemah hingga sepenuhnya tergantikan oleh hujan. Detak jantung Ibu yang berada di bawah kedua kakiku terdengar melambat. Ruangan ini pun terasa sesak dan pengap. Aku lemas.

***

“Marni! Marni! Kenapa kau tiduran di sini tengah hujan-hujan begini?”

“Ah, kau sudah pulang rupanya. Tiba-tiba tadi aku ingin jalan-jalan.”

“Di rumah anak-anak bagaimana?”

“Mereka tidur.”

“Ayo pulang. Jangan sampai dilihat orang. Apa kata Eyang nanti kalau dia tahu kau tergeletak di lapangan sepak bola.”

“Ya jangan bilang-bilang.”

“Kamu belum makan, ya? Wajahmu pucat. Ayo kita pulang.”

“Sudah, kok. Tadi makan ikan kalengan.”

Maaf tadi aku tidur sebentar. Jarang-jarang ada suara Bapak. Percakapan tadi, meski sepotong, kudengar dengan saksama, bahkan kata per kata. Ia jarang pulang karena kerja di luar kota, kata Ibu suatu waktu. Sama dengan Ibu, sebenarnya aku merindukan Bapak dan suara-suaranya yang besar itu. Di rumah, Eyang mendominasi suara-suara yang beredar. Kadang aku malu sendiri. Apalagi, kata Ibu, rumah kami diapit dua rumah dan berada di tengah-tengah puluhan rumah lainnya.

Sesampai di rumah, Ibu diantar ke kamar mandi oleh Bapak. Suara hujan deras tadi tergantikan oleh guyuran air kulah yang terasa jauh lebih hangat. Seakan-akan, air itu menyirami sekaligus menyelimuti seluruh permukaan tubuhku. Samar-samar, di luar juga terselip dengkuran Eyang. Mengapa harus ada dengkuran seberisik itu?

Saat Ibu menggosok gigi, ubun-ubunku terasa berdenyut. Apa ini? Udara asing bertiup di ujung kepalaku, membelai-belai sebagian rambutku. Serta-merta, Ibu menghentikan acara gosok gigi dan berteriak memanggil-manggil Bapak. Kudengar suara panik dan langkah kaki mendekat. Namun kepalaku terlalu pusing, dadaku berdetak kencang, dan tubuhku lemas. Suara-suara itu semakin mengecil seperti para peri yang beberapa jam lalu meninggalkanku….

***

Saat bangun tidur, kudengar Ibu teriak keras-keras, menggetarkanku, membuat ruangan ini semakin sempit dari detik ke detik. Getaran lain berasal dari bawah punggung Ibu, diiringi suara klakson dan derum mobil.

“Sebentar lagi sampai.”

“Eyang tidak ikut, Mas?”

“Masih tidur tadi. Sayang kalau dibangunin.”

“Syukurlah. Kita mau ke mana?”

“Rumah Sakit Kasih Ibu. Ya kan, Mang?”

“Ya, Bos,” itu suara Mang Kholil, tetangga sebelah.

“Tidak ke rumah sakit umum saja? Katanya gratis, kan?”

“Aduh, KIS kita kan belum jadi.”

***

Setelah beberapa kali tarikan ke kanan dan ke kiri diiringi erangan Ibu, akhirnya mobil yang kami tumpangi diam juga. Bapak membopong Ibu. Sedang Mang Kholil diminta ke resepsionis agar kamar bersalin cepat siap.

Setibanya di kamar, Ibu belum langsung melahirkan. Sesuai arahan suster, Ibu harus menjaga ritme pernapasan dulu. Jangan ada tekanan padaku. Lepas saja seperti bernapas biasa. Suster itu benar. Apabila Ibu mengerang dan menekan dirinya sendiri, rasanya aku teremas-remas. Sedangkan saat Ibu bernapas lepas, ruangan ini menjadi lapang dan perasaanku sangat lega. Mungkin Tuhan ingin aku dan Ibu saling bekerja sama dan saling mengerti.

“Anda suami dari Ibu Marni?”

“Saya, Bu Dokter.”

“Sesuai prosedur kami, suami dari pasien yang hendak melahirkan diharap ke luar ruangan.”

Meski agak ragu karena tak ingin meninggalkan Ibu, terdengar juga jawaban, “Baik, Bu Dokter.”

Suara Bu Dokter sangat mirip dengan Elisa, salah satu peri berkemban dan bersayap putih yang pernah mengajakku berdansa di atas lapisan salju dalam cuaca cerah. Kami berdansa di atas gerakan ikan hiu, anjing laut, penguin, dan udang. Gerakan kaki-kaki kami membentuk cetakan-cetakan indah.

“Ayo, terus ikuti langkahku dan lihat cetakan apa yang kauhasilkan,” kata Elisa memberi aba-aba.

“Bunga!”

“Ya, kelak kau akan jadi gadis tercantik di dunia.”

Aku tersipu.

“Lihat ada lagi.”

“Kucing!”

“Ya, kelak kau akan selalu menyayangi binatang dan melindungi mereka dari orang-orang jahat.”

“Sekarang kita menuju langkah terakhir. Gerakkan tanganmu ke atas dan berjinjit. Lihat cetakan yang kauhasilkan.”

Aku agak bingung karena cetakan terakhir berbentuk kotak persegi panjang, terdapat gambar di tengah-tengahnya, dan ada tulisan-tulisan di atasnya. Cetakan itu berbentuk lembaran-lembaran saat angin musim dingin meniupnya.

“Apa itu, Elisa?”

“Menurutmu?”

Kurasakan Bu Dokter menekan perutku dari luar. Tak lama kemudian, tangannya meraih kepala dan tubuhku. Tangan kasar itu tak sama dengan Elisa. Apakah Bu Dokter adalah Elisa versi jahat?

Selama prosesi melahirkan, Ibu kehilangan suaranya. Tak bisa kubayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Pasti sangat kecapaian. Bu, besar nanti, aku akan rajin mencuci, memasak, merawat bunga-bunga, dan jadi gadis terpandai di dunia. Aku pasti bisa membuat Ibu bangga.

“Selamat. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat,” kata Bu Dokter sebelum membawaku ke ruangan lain.

Ibu tidak menjawab apa-apa. Mungkin karena ia terlalu letih sekaligus terkejut. Saat Bu Dokter keluar membawaku, sebenarnya Bapak sudah tak sabar ingin menimangku. Namun Bu Dokter tetaplah Bu Dokter. Ia menyerahkanku ke salah satu suster dan membawaku ke ruang pencucian sekaligus peristirahatan.

Saat suster itu membilasku dengan air sehangat tubuh ini, aku terus bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku seorang laki-laki? Laki-laki macam apakah aku nanti? ***

Purworejo, 22 April 2021


Seto Permada adalah nama pena dari Muhammad Walid Khakim. Ia berdomisili di Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa kali karyanya termuat media lokal dan media online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *