Film Resensi

A Taxi Driver: Mencari Kim Sa-Bok

February 12, 2019

Oleh: Agung Setya

Di dunia nyata, Kim Sa-Bok bukan nama yang lazim di Korea Selatan. Sepanjang sisa hidupnya, seorang Jurnalis berkebangsaan Jerman, Jürgen Hinzpeter, mencari sosok pemilik nama itu dan terpaksa mengakhiri hidupnya pada 25 Januari 2016 tanpa pernah menemukannya.

Itulah jurus pamungkas yang disuntikan kepada film A Taxi Driver (2017) yang disutradarai oleh Jang Hoon. Bahwa film memusatkan pada sosok nyata pahlawan tanpa tanda jasa—yang berperan sebagai sopir taksi untuk jurnalis asing seperti disebutkan di atas—tentu bukan tanpa sebab.

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Koresponden New York Times, Choe Sang-Hun, adalah karena selama ini yang selalu dielu-elukan oleh publik adalah Hinzpeter, dan tidak dimungkiri ia memang berjasa bagi perjuangan demokrasi Korsel dengan mengabarkan kondisi Korsel kepada dunia. Namun, seperti selalu ditulis oleh Hinzpeter di beberapa catatannya, ia tidak mungkin berhasil meliput peristiwa berdarah di Gwangju (Kwangju), Korsel, pada Mei 1980 tanpa bantuan seorang sopir taksi. Dan inilah saatnya pahlawan sebenarnya mendapat tempat di hati rakyat Korsel.

Menguji Prioritas

Dalam cerita film, Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) adalah pribadi yang pantang menyerah, teguh pendirian, dan lugu. Berkat pengalamannya menjadi sopir truk di Arab Saudi beberapa tahun sebelumnya, ia punya kemampuan berbahasa inggris yang cukup baik. Dengan begitu tanpa kesulitan ia bisa berkomunikasi dengan Peter—nama yang merujuk kepada Hinzpeter—yang diperankan oleh aktor Jerman Thomas Kretschmann, selama perjalanannya dari Seoul ke Gwangju.

Jika pada kenyataannya—seperti ditulis oleh Choe Sang-Hun—Kim diminta oleh kenalan Hinzpeter di Seoul untuk mengantarnya ke Gwangju, sementara dalam plot film, Kim berjuang untuk mendapatkan upah sebesar 100.000 Won dari tugas mengantar jurnalis asing tersebut. Meski begitu, ia melakukannya karena tuntutan ekonomi dan untuk anak perempuan semata wayangnya Eun Jeong (Yoo Eun-Mi) yang berusia 11 tahun.

Bagian konflik film memuncak saat ia harus memutuskan apakah harus selalu menemani penumpangnya selama bertugas meliput kerusuhan di Gwangju atau harus pulang menemui anaknya yang tinggal sendirian. Prioritas dan kecintaannya pada keluarga diuji.

Gwangju 1980 dan Jakarta 1998

Ada konteks kemiripan antara peristiwa Gwangju Mei 1980 dan Demonstrasi Mei 1998 di Jakarta, yaitu sama-sama melibatkan mahasiswa untuk menurunkan diktator-militeristik. Meski demikian, jika harus membandingkan antar film, penulis secara subjektif akan membandingkannya dengan salah satu film bertema Mei 1998 di Indonesia, yakni Di Balik 98 (2015).

Meski banyak pro dan kontra terkait film Di Balik 98, pembandingan ini untuk melihat visualisasi dan plot film yang mengangkat perjuangan mahasiswa untuk mendelegitimasi rezim yang saat itu berkuasa.

Di Balik 98, mahasiswa merupakan tokoh dan arus utama yang membawa plot film. Sedangkan pada A Taxi Driver, mahasiwa adalah hal di luar Kim Sa-Bok yang wajib ia masuki dan ia bela agar film bisa berjalan sesuai alurnya. Jika Di Balik 98 memunculkan banyak konflik yang nantinya berpilin jadi akhir yang manis, tapi di A Taxi Driver cukup dengan perjuangan Kim Sa-Bok, maka seluruh perjuangan mahasiswa itu akan bisa tuntas.

Dalam A Taxi Driver, Kim Sa-Bok adalah kaum marjinal di negaranya. Sementara Di Balik 98 juga memunculkan narasi kaum marjinal pada ayah dan anak berpakaian lusuh yang sehari-hari berkeliling Jakarta membawa gerobak. Bedanya, kehidupan Kim Sa-Bok dinarasikan getir namun ia bisa membuat kehidupannya riang gembira. Itu persis ciri khas humor dari film-film Korea. Sedangkan sosok ayah dan anak di film Di Balik 98, seakan dipaksa muncul dengan ironi-ironi yang ada. Namun, tanpa kesan kuat humanisme dan hanya mengeskpos kemelaratan.

Jika menonton Di Balik 98, penonton diguncang perasaan sedih dan marah atas perjuangan Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), sementara dalam A Taxi Driver, kita diajak untuk asyik mengikuti petualangan Kim Sa-Bok dalam misinya untuk setia mengantarkan penumpang. Tak hanya itu, ada rasa optimisme bahwa perjuangan kelompok mahasiswa tidak hanya mengesankan luapan kemarahan, tapi juga keyakinan bahwa itulah jalan yang benar sedari awal.

Adegan-adegan aparat militer menembaki mahasiswa ditampilkan secara jelas di film A Taxi Driver. Ratusan mahasiswa tanpa ampun menjadi korban peluru tajam. Dan Kim Sa-Bok akhirnya mengambil peran juga untuk membantu mahasiswa meskipun tampak aneh dan agak lucu. Barangkali di kejadian sebenarnya penembakan mahasiswa tentu amat menyeramkan, dan tindakan yang dilakukan oleh Kim Sa-Bok dalam cerita film digambarkan menjadi berani tanpa memedulikan keselamatan dirinya seakan-akan adegan epos di film-film superhero. Penggambaran yang sama juga terjadi di aksi balap-balapan di penghujung film. Meski begitu, tanpa adegan tersebut, Kim Sa-Bok justru akan menjadi figuran, kalah bersaing dengan Peter.

Hal berbeda ada pada film Di Balik 98 yang tidak terlalu menonjolkan adegan kekerasan fisik. Ia hanya membidik psikologi para tokoh dalam keruwetan masalah masing-masing. Di satu sisi itu jadi nilai tambah, tapi di sisi lain ada momen yang tidak bisa didapat seperti di film A Taxi Driver. Bisa jadi ada pertimbangan lain, tapi sangat disayangkan.

Kim Sa-Bok menghilang

Kembali kepada judul di atas, mencari sosok nyata Kim Sa-Bok bukan hal mudah. Desas-desus bermunculan pasca tragedi Gwangju 1980 dan informasi kasat mata yang diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Ada yang mengatakan bahwa ia meninggal empat tahun setelah peristiwa itu karena sakit, ada pula yang menyatakan ia sengaja menyembunyikan diri. Terbukti dengan namanya yang aneh dan tampaknya hanya nama palsu.

Bagaimanapun, sosok Kim Sa-Bok jelas ada, dan ialah pahlawan yang sesungguhnya. Dengan tindakannya yang ada dalam versi fiksi di film A Taxi Driver, masyarakat Korea Selatan mengaku mulai mengaguminya. Bukan saja karena ia ada di balik terpukulnya rezim diktator Chun Doo-Hwan, tapi juga nilai-nilai kepribadian seperti diwartakan Hinzpeter bahwa ia jujur, setia, cerdik, pantang menyerah, dan pemberani.

Karakter positif yang tercermin dalam diri Kim Sa-Bok bisa dicontoh oleh banyak pengemudi taksi. Di kala beberapa pengemudi taksi—termasuk pengemudi kendaraan umum lainnya—banyak disorot atas kinerjanya terhadap pelayanan penumpang, Kim Sa-Bok mengajarkan bagaimana menjadi sopir taksi. Tentu bukan keberanian menerobos penjagaan aparat militer, tapi bagaimana kejujuran, kesetiaan, ramah, dan yang terpenting mengantarkan penumpang sampai kepada tujuannya.

Itulah mengapa kita pun bisa ikut mencari “Kim Sa-Bok”.

Agung Setya lahir di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada tahun 1992. Ia aktif menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya Membaca Mata (2016) dan kumpulan cerpennya Menjelang Dingin (2018).


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Only registered users can comment.

  1. Film nya menyentuh bgt.
    Apalagi saat Tn. KIM harus memilih keselamatan putrinya yg dia tinggal sndri atau org2 yg di bantai di gwang-ju… 😭😭😭

  2. So touching
    So bikin tegang jg mbrebes mili.
    Semisal Tn. KIM msh hidup smpai skrg, kira2 dia dan keluarganya dlm bahaya ga ya klo mengakui ke media ??? 😭😭😭

    1. Kenapa sih gak ketemu , walaupun petter udah meninggal 4 tahun lalu saya masih berharap mereka bisa bertemu , walaupun hanya sekedar mengobrol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *