Esai

Abstraksi Diri Manusia

September 24, 2019

Oleh Miguel Angelo Jonathan

Ada pendapat yang mengatakan bahwa moralitas manusia berkembang seiring berlalunya waktu. Itulah sebabnya kini perbudakan, pembunuhan hewan, ataupun pemberian hukuman mati kepada tersangka kriminal mulai dilarang dan ditentang di berbagai belahan bumi ini. Padahal jika kita memutar sedikit arah waktu selama beberapa ratus tahun ke belakang, hal-hal yang baru saja disebutkan itu sebelumnya dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Namun, walau manusia yang disebut sapiens (bijak) itu kini dianggap telah memasuki abad modernitas dengan segala perkembangan teknologi dan moralitas yang katanya sudah tinggi, nyatanya pelanggaran-pelanggaran atas martabat manusia masih saja dengan mudah kita temui. Apalagi, bentuk terngerinya kita jumpai dalam peristiwa pembantaian manusia yang mengerikan.

Tujuh puluh tahun lalu ketika perang dunia kedua berlangsung, Nazi Jerman melakukan genosida terhadap 6 juta masyarakat Yahudi di seluruh Eropa. Dua dekade setelahnya,rezim Soeharto di Indonesia juga membantai sekitar 2-3 juta manusia tertuduh komunis. Di Myanmar, belum lama ini terjadi pula pembunuhan sistematis terhadap etnis Rohingya dengan korban yang diperkirakan sebanyak 50 ribu orang.

Peristiwa genosida yang disebut itu hanyalah beberapa contoh dari berbagai pembantaian lainnya yang terjadi selama satu abad terakhir. Kengerian atas pembunuhan besar-besaran ini diperparah dengan kenyataan bahwa tak sedikit dari manusia yang katanya bermoral itu mewajarkan genosida yang terjadi, dan bahkan ada pula yang berharap peristiwa tersebut bisa mereka ulangi dan lakoni. Seperti misalnya seorang keturunan pasukan Nazi Jerman yang ditemui Etgar Keret dan diceritakan dalam bukunya The Seven Good Years (2016), yang dengan bangganya mengatakan ingin bisa mengalahkan rekor kerabatnya dalam membunuh orang Yahudi.

Orang-orang semacam yang ditemui Etgar Keret itu menganggap manusia-manusia yang dibuat mampus dan menjadi korban genosida memang pantas dibasmi dari muka bumi. Para korban genosida dalam pandangan mereka dianggap tak lebih umpamanya seperti babi, anjing, ataupun kecoa. Oleh karena derajatnya dilihat lebih rendah, orang-orang yang dibuat mati pun tak melahirkan rasa empati atau kesedihan, tetapi justru tak jarang malah rasa damai dan tenang.

Keadaan seperti ini sepatutnya melahirkan pertanyaan pada diri setiap manusia yang masih “waras”. Apa kiranya penyebab manusia dengan teganya saling bantai demi suatu ajaran, kepercayaan, atau ideologi yang dianut, dan kenapa pula para algojo yang membunuh tak merasa sedih ataupun menyesal atas perbuatan mereka?

Alasannya bagi Thomas Hidya Tjaya yang mengupas pemikiran Emmanuel Levinas dalam Enigma Wajah Orang Lain (2018) adalah hadirnya pemikiran atas “Yang Lain” pada diri manusia. Konsep pikiran ini melahirkan gagasan, anggapan, ataupun pikiran terhadap kelompok yang dilihat berbeda dari “Yang Sama”.

Gagasannya itu sendiri berupa nilai-nilai negatif. Karena berbeda dalam masalah identitas (agama, etnis, maupun ideologi), kelompok “Yang Lain” lekas melahirkan perasaan membahayakan, mengancam, dan keterusikan pada manusia yang memandang kelompok tersebut. Alhasil, keberlainan yang sesungguhnya tidak pernah bisa dihindari dalam kehidupan malah melahirkan rasa ketidaksenangan semata.

Mulanya keberlainan memang menjadi alat identifikasi ketika bertemu orang lain. Namun, oleh karena sikap alamiah manusia yang “senang” menyerap segala yang asing, keberlainan dianggap sebagai sesuatu yang harus ditundukkan dan melahirkan kehendak untuk menguasai “Yang Lain”. Thomas Hidya Tjaya menulis, “kita merasa aman, nyaman, dan tenteram karena tidak ada sesuatu yang ‘asing’ ataupun berada di luar kontrol kita.” Hanya dengan “mengikis” perbedaan barulah ketidaksenangan bisa diatasi. Atau dengan kata lain, ketika tidak ada lagi “Yang Lain” dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia pada hakikatnya memang sering kali terlanjur melihat dan memperlakukan orang lain berdasarkan gagasan yang telah tertanam atas orang tersebut. Jika sejak kecil seseorang diindoktrinasi oleh lingkungan terdekatnya untuk membenci golongan tertentu, dapat dipastikan ketika dewasa ia akan merasa terganggu dengan perbedaan yang dijumpai, terutama ketika menyangkut golongan yang begitu ia benci.

“Kebersamaan sebagai manusia seringkali menjadi terancam dan bahkan hilang karena kita berpegang erat pada gagasan kita mengenai identias diri kita maupun identitas orang lain.” Tulis Thomas Hidya Tjaya. Jika gagasan kita terhadap orang lain sudah buruk, maka perlakuan dan relasi kita dengan orang itu ikut pula menjadi buruk.

Itulah yang mengakibatkan orang dapat begitu membenci masyarakat tertentu dan bahkan tega membunuhnya. Dalam pandangan Levinas, manusia yang merasa terusik dan sampai membunuh kelompok yang berbeda sesungguhnya belum benar-benar bertemu. Mereka sebatas mengenal orang lain dalam “gagasan” mereka belaka. Dalam artian, orang-orang yang berbeda itu belum dikenal sebagai pribadi yang hidup, tetapi hanya dikenal berdasarkan gagasan yang terbentuk dari pikiran.

Levinas menyebut kondisi ini sebagai “visi”, yaitu kegagalan bertemu dengan wajah orang lain oleh karena kebiasaan kita dalam mendekati orang lain hanya berdasarkan pemikiran dan gagasan kita mengenai orang lain tersebut. Kita lebih sibuk dengan apa yang hendak kita katakan dan lakukan berdasarkan visi yang terbentuk itu, daripada apa yang mungkin kita “terima” dari orang lain. Untuk mengatasi hal ini, orang pertama-tama mesti menghilangkan gagasan yang mengakar dalam benaknya, dan membangun relasi secara terbuka dengan orang lain.

Dalam pemikiran Levinas, kita sebagai manusia tidak perlu memasukkan orang lain dalam kategori-kategori tertentu dalam pikiran, karena tindakan itu merupakan pemicu awal atas kehendak untuk menguasai atau menjadikan orang lain sebagai bagian dari golongan yang merasa lebih superior. Hanya setelah kita menghilangkan perasaan sebagai yang nomor satu barulah kita bisa melihat “wajah” orang lain secara apa adanya.

Pada prinsipnya, humanisme yang diperjuangkan Levinas diarahkan pada orang lain dengan pertama-tama melupakan eksistensi dan kepentingan diri sendiri, juga di atas ideologi nasionalis, agamis, ataupun yang lainnya. Itu karena, sesuai yang ditulis Thomas Hidya Tjaya, “ketika gagasan ideologi, ajaran, doktrin, bahkan yang bersifat paling religius sekalipun dijunjung tinggi di atas segala-galanya, manusia dengan mudah kehilangan rasa-perasaannya terhadap sesamanya.”

“Tanggung jawab” terhadap kehidupan “Yang Lain” haruslah muncul dalam diri tiap manusia. Kalau kekerasan dan pembunuhan terhadap golongan berbeda apalagi yang dilakukan dengan embel-embel persatuan dan semangat religius tidak dilihat sebagai sesuatu yang buruk, maka ada yang salah pada pandangan hidup kita. Jika kematian pribadi saja tidak diperhatikan, bagaimana mungkin kehidupan orang lain bakalan menjadi perhatian kita? Hanya ketika kita terusik saat mendengar kekerasan dan pembantaian terhadap orang lainlah kita masih memiliki harapan akan rasa kemanusiaan.***


Miguel Angelo Jonathan. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan editor di penerbitan Pustaka Kaji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *