Cerpen

Akan Kepulangan

April 26, 2022

Cerpen Ruly R

Anwar Saleh merebahkan badan di kasur lantai tipis warna hijau lumut yang apaknya tiada tanding. Tangannya sibuk membuka tutup aplikasi percakapan di ponsel murah merk tak jelas yang dibelinya di Glodok. Masih membuka-tutup aplikasi percakapan, tidak ada satu juga pesan yang masuk. Ponsel diletakkan. Mata Anwar Saleh menerawang ke langit-langit petak kontrakan. Tidak ada secuil masa depan atau angan apa pun yang dia pikirkan, hanya masa lalu dan beberapa hal yang baru saja dia lewati, utamanya tentang Eti Ncus.

Usai mengantar si biduan pentas di daerah Depok, pikiran Anwar Saleh tak bisa tenang. Kekhawatiran yang mula-mula seakan hentakan ketipung satu-dua patah-patah, kini semakin menjadi, membentuk keserasian dalam iringan musik dangdut sedih dengan lirik yang menyayat-pilu. Anwar Saleh sadar diri, tugasnya hanya menjemput-antar Eti Ncus yang sebentar lagi tambah tersohor, yang semula main dari panggung ke panggung, beralih dari satu stasiun tv ke stasiun tv lain. Begitu yang dipikirkan Anwar Saleh tentang perempuan yang dia cintai, namun tak pernah tahu. Dia merasa tak pantas diri lagi mencintai terlebih memiliki Eti Ncus. Sudah pupus segala tanda yang dia berikan agar Eti Ncus tahu perasaan lelaki berbadan ceking dan berambut setengah gondrong itu.

Pernah Anwar Saleh bayangkan Eti Ncus menyambut cintanya sepenuh hati. Membangun segala keindahan rumah tangga bahagia, melakukan aktivitas ringan dan obrolan yang menyenangkan bersama Eti Ncus. Tapi angan-angan ditabrak kenyataan, jauh meninggalkan Anwar Saleh seorang diri. Sepi, muram, dan jelas tak mengenakan hati.

Saat segala kecamuk berkelindan dalam benak, Anwar Saleh merindukan rumah. Dia ingin namun tak ingin. Baginya, pulang sama saja mengakui kesalahan yang sepenuhnya tak pernah dia lakukan. Pikiran tentang keinginannya pulang kali ini bersebab dari segala yang dia temui beberapa hari lalu, juga beberapa waktu saat Eti Ncus ada di panggung.

Saat matahari seakan meremukan batok kepala orang-orang yang menjemput rezeki di sekitaran stasiun Pasar Senen, saat itulah Anwar Saleh bertemu tetangga sekaligus kawan lama. Pertama-tama disapa, Anwar Saleh setengah kaget, sementara kawannya mengatakan pangling dan berkali-kali menatap Anwar Saleh coba meyakinkan bahwa yang ditemuinya itu memang kawan lamanya.

“Anwar? Iya kan Anwar? Waduh, War. Lama kita ndak ketemu. Sehat, to?” tanya kawan Anwar Saleh sambil menepuk pelan dan berkali-kali pundak yang ditanya.

Anwar Saleh menanggapi sekenanya. Dia paham hal itu hanya basa-basi di awal pertemuan setelah waktu merentangkan jarak begitu lama. Dia selalu tak nyaman ketika bertemu kawan lama dari kampungnya. Hal itu yang coba dihindarinya meski tanpa maksud tidak memudarkan pertemuan yang tak sengaja.

Anwar Saleh mengajak kawannya duduk di bangku plastik biru milik pedagang minuman dingin. Gerobak besi bercat biru tua pudar milik penjual minuman menyaksi segala yang telah lampau.

“Dua teh botol dulu ya, Mang.”

“Asal jangan lupa bayar dah, War.”

Anwar Saleh menanggapi sahutan mamang warung dengan anggukan dan mengatakan tak perlu khawatir.

“Eh garpit sebatang boleh dah,” ucap Anwar Saleh lantas terkekeh.

“Ngelunjak lu, War.”

“Buru lempar aja!”

Mamang warung dengan wajah tak enaknya melempar rokok yang diminta. Anwar Saleh kembali terkekeh sementara kawannya hanya diam. Obrolan akan pertemuan kembali seakan tangan yang menggali masa lalu yang ada. Dari mulai kenakalan yang mereka lakukan, keadaan di kampung sekarang, tentang teman yang telah menikah dan punya anak, tentang mereka yang telah meninggal, dan hal lain tentang kesuksesan dan kegagalan siapa pun yang masing-masing mereka kenal.

“Lama bener lho, War. Kamu betah di Jakarta?”

Anwar Saleh melempar pandangan pada padatnya kendaraan di depan stasiun Pasar Senen. Beberapa mikrolet membunyikan klakson begitu kencang, motor-motor padat memenuhi jalan, dan mobil merayapi tempat dan jalan yang ada. Cukup lama hingga akhirnya Anwar Saleh mengucapkan jawabannya untuk pertanyaan itu, jawaban yang beriring dengan suara laju kereta di sekitaran stasiun Pasar Senen.

“Aku cuma mau main, War. Ibuku sekarang kan ikut adikku di Jakarta sini,” ucap kawan itu saat ditanya Anwar Saleh akan ada kepentingan apa di Ibu kota.

Mendengar itu Anwar Saleh kembali diam. Pikirannya tertumbuk pada bayangan tentang rumah, tentang ibu, dan bila sudah berbicara tentang perempuan yang melahirkannya, Anwar Saleh juga akan otomatis teringat pada lelaki yang begitu dibencinya, bapaknya.

“Kenapa kamu ndak pernah pulang? Apa ndak kangen ibumu?” tanya kawan itu usai bercerita bagaimana hubungan pertemanannya dengan Anwar Saleh dan seakan memahami segala masalah di masa lalunya. Pertanyaan itu tak dijawab. Kawan itu juga menceritakan kesehatan ibu Anwar Saleh. Yang ditanya dan diajak bicara hanya diam, justru mengalihkan obrolan pada kesibukan kawannya itu sehari-hari. Obrolan itu terus berlanjut, ditingkahi azan asar.

Sore menjelang matang sempurna. Jalanan masih padat lalu-lalang kendaraan. Orang-orang berjalan tergesa untuk berangkat atau pulang. Kawan itu pamit pada Anwar Saleh dan meminta nomor ponselnya. Mereka berjanji akan saling berkabar dan bertemu kembali.

“Kagak manggung lu, War?” tanya mamang minuman dingin saat Anwar Saleh akan membayar minumannya dan beberapa batang rokok yang dia minta tadi lagi dan lagi.

“Perkutut kali manggung.”

“Maksudnya kagak gawe gitu? Daripada lu ngajedok terus di situ.”

Anwar Saleh katakan dua hari lagi akan ada pentas di daerah Depok. Dia jelaskan juga kalau segalanya pasti beres karena dia sudah tahu dan terlampau hafal akan tugasnya.

Suara kaleng milik tukang pijat bergelontang, membuyarkan lamunan Anwar Saleh tentang pertemuan dengan kawan lamanya. Dibukanya kembali aplikasi percakapan di ponsel, tak ada apa-apa dan digeletaknya begitu saja ponsel itu.

Terang pucat bohlam menyaksi benak Anwar Saleh dalam rebahnya. Dia menunggu dengan murung dan cemas kenapa Eti Ncus tidak memberi kabar usai pentas, padahal biasanya pesan ringan akan lempar-tangkap ketika Eti Ncus telah diantarnya ke rumah. Angan Anwar Saleh melayang seakan menembus petak kontrakan, menembus malam yang baginya terlampau panjang. Anwar Saleh masih menyesali dan meratapi kenapa belum juga mengatakan cinta pada Eti Ncus, namun merasa ditolak. Anwar Saleh mahfum kenyataan memang pahit untuknya. Nasib baik tak pernah berpihak padanya.

Di hadapan Eti Ncus lidah Anwar Saleh seakan kelu, tiang-tiang penyangga jembatan layang seakan menimpa kepalanya, sangat berat membebani pikirannya. Anwar Saleh ingat pentas tadi. Dalam benaknya masih tersimpan bagaimana suara Eti Ncus samar menyanyikan lagu Muara Kasih Bunda didengarnya dari belakang panggung saat dia sedang menyiapkan es cekek untuk tukang ketipung.

Bunda

Tak pernah kau berharap budi balasan

Atas apa yang kau lakukan

Untuk diriku yang kau sayang[1]

Bekas kardus yang bakal Anwar Saleh gunakan untuk mengipasi tukang ketipung terlepas dari genggamannya. Perasaan yang aneh dan penuh kegamangan merambat di hati Anwar Saleh. Dia tak ingin gubris semua itu dan melanjutkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya setiap pentas.

Sebuah suara notifikasi masuk ke ponsel Anwar Saleh. Hal yang begitu dinantikannya. Namun sekali lagi nasib tak pernah berpihak padanya, bukan pesan dari Eti Ncus yang datang, melainkan pesan dari kawan lama, yang memberi padanya sebuah alasan akan kepulangan.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Nukilan lirik lagu Muara Kasih Bunda yang dipopulerkan Erie Suzan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.