Cerpen

Aleana

July 30, 2019

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *