Buku Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

July 2, 2019

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *