Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

September 3, 2019

Cerpen Halimah Banani

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Saat pertama kali Ami hamil setelah kami menunggu 10 tahun lamanya untuk punya anak, saya duduk di teras selepas sarapan. Menyandarkan punggung ke bangku sambil kedua kaki saya berselonjor ke bangku lain. Di tangan kiri saya sebatang rokok telah siap untuk dijepit ke bibir. Lantas saya mengambil pemantik dari saku kemeja, menyalakannya.

Tak ada yang aneh dengan merokok di pagi hari, ditemani secangkir kopi hitam. Sampai saya sadari kalau api dari pemantik saya tak mau padam, bahkan tak pernah bisa dipadamkan. Api itu melompat dari pemantik, berjalan mengitari saya dan ukurannya bertambah besar, sangat besar dari saat dia masih di pemantik. Sudah berbagai cara saya lakukan, dari meniupnya, mengguyur dengan segayung air, sampai memanggil tim pemadam juga para tetangga dan kaum kerabat dan rekan kerja. Namun percuma, api itu tidak mau padam juga. Saya kehabisan akal dan orang-orang sudah kelelahan dan malas mengurusi masalah api yang keras kepala dan tak mau padam meski sudah dibujuk secara halus sampai dengan cara kasar. Atas apa yang telah saya coba lakukan kepadanya, api itu murka, membentak saya dengan berkata, “Kau tidak akan bisa memadamkan saya! Jadi sebaiknya kau turuti permintaan saya!”

Bingung dengan apa yang diucapkannya. Saya bergeming. Menatap api itu tanpa berkedip.

 “Berikan saya kenangan!” bentaknya lagi.

 “Ke—kenangan apa?”

“Apa pun, kalau perlu semuanya. Saya lapar!”

Setengah gugup saya berpikir, apa yang harus diberikan kepadanya. Kenangan oh kenangan, mana yang harus saya berikan kepada api yang kelaparan. Semuanya begitu berharga. Sangat berharga. Tak ada saya rela memberikan satu.

“Cepat berikan saya kenangan atau saya akan membakarmu beserta rumah dan segala isinya!” bentaknya tak sabaran.

Saya tertunduk. Daripada dia membakar saya dan rumah beserta isinya, termasuk Ami, lebih baik saya menurutinya. Memberikan kenangan untuk dilahapnya.

***

“Cepat berikan saya kenangan lagi! Saya sudah sangat lapar!” titah api itu yang masih belum padam setelah sebulan lamanya menyala. Ukurannya semakin besar setelah diberi banyak makan.

“Kenangan apa lagi? Saya sudah memberikan begitu banyak kenangan untukmu.”

Api itu mengibas-ibaskan ekornya yang hampir mengenai tubuh saya. Pogah benar polahnya. Serupa pejabat tinggi yang membusungkan dada sambil mengangkat dagu. Menitahkan ini dan itu. Parahnya, semua harus dilakukan segera, tak boleh dibantah atau ditawar. Ucapannya dianggapnya sabda Tuhan. Paling tahu dan paling benar. Wajib dipatuhi.

“Mana kenangan yang saya minta? Berikan segera!”

Selama sebulan ini saya memberikan beberapa kenangan. Mulai dari kenangan saat saya bersekolah. Terkucil selama hampir 6 tahun lamanya sejak SMP sampai SMA karena kebanyakan teman-teman saya merupakan anak orang punya, sedangkan saya hanya beruntung mendapatkan beasiswa. Lewat surat-surat yang dikirim dari Los Angles, Ami membesarkan hati saya untuk bertahan menghadapi situasi seperti itu. Kami akan bertemu lagi karena dia akan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kemudian saat api itu masih mengamuk minta makan, saya berikan pengalaman saya selulus SMA, bertemu Ami, berjuang mencari kerja sambil meneruskan pendidikan. Mengambil jurusan bisnis. Mulainya saya bekerja menjadi karyawan di toserba, lalu saya mendapatkan pekerjaan lain di sebuah kantor swasta.

Kenangan-kenangan itu seakan-akan tak pernah mengeyangkan api yang kelaparan. Lalu saya berikanlah kenangan tentang almarhum kedua orangtua saya yang samar-samar dan kadang saya me-reka sendiri alurnya. Tentang bagaimana mereka merawat dan membesarkan saya semasa hidup. Tak cukup, saya juga memberikan kenangan masa kecil saya. Ketika menjadi yatim-piatu dan bertemu Ami di rumah panti Kasih Ibu. Ami menghampiri saya yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Saya menekuk kedua kaki dan memeluknya erat. Merasa kedinginan padahal cuaca sedang panas, bahkan keringat mengalir dari kening saya, turun dan menetes saat lelah bergelayutan di dagu. Ami duduk di samping saya, menyodorkan sebungkus cokelat yang didapatnya dari seorang wanita yang hendak mengangkatnya menjadi anak. Hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di panti bersama Ami—sampai Ami resmi diadopsi dan saya juga sudah mulai kerasan berkatnya.

Api itu masih merajuk, merongrong mengatakan, “Saya lapar!” Rupanya dia tak ada kenyang-kenyangnya seperti tak pernah sekali pun diberi makan. Dia masih menagih, tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam kerjaannya meminta diberi kenangan. Kalau begini lama-lama bisa habis seluruh kenangan saya dilahapnya.

“Cepat berikan sekarang juga!”

Akhirnya saya mengalah, menuruti kemauan api itu setelah memilah-milah mana yang hendak saya korbankan. Dibanding memberikan kenangan saat saya melamar Ami dan menikahinya, saya lebih rela memberikan kenangan saat Ami meminta saya membeli rumah ini. Berandai-andai kalau kami punya banyak anak dan setiap anak memiliki satu kamar tidur.

“Kita beli rumah ini saja. Rumah ini besar dan bisa menampung banyak orang.”

“Kira-kira berapa orang?”

“Enam?”

“Hanya enam? Itu berarti, aku, kamu, dan empat anak?”

“Ya, dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana kalau dua belas?”

“Apa? Kamu pikir melahirkan itu seperti mencetak buku?”

“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melahirkan sisanya.”

Ami tersenyum sambil memukul lengan saya. Memandang rumah berlantai dua yang baru selesai kami lihat-lihat—yang baru kami lunasi biaya cicilannya setengah tahun lalu. Ami suka rumah ini selain karena luas, juga terdapat kolom renang di halaman samping belakang rumahnya dan sebuah ruang bawah tanah yang ukurannya tak lebih dari 12 meter persegi.

Kenangan itu, sebenarnya saya tak ingin membiarkan api melahapnya, tetapi tak ada pilihan lain. Saya tak ingin api itu membakar segalanya yang sudah susah payah saya raih.

***

“Kenapa kau masih mengganggu hidup saya?” saya membentak api itu saat dia kembali meminta kenangan. Saya kesal, kenangan saat saya melamar Ami pun telah diberikan kepadanya, dan sekarang dia masih meminta kenangan untuk dilahap. Jika dihitung-hitung, kini hanya tersisa beberapa kenangan saja.

Api yang tubuhnya semakin besar itu balas membentak dengan jemawa, “Punya hak apa kau mengatur-atur saya? Kau bahkan tak bisa mengatur hidupmu sendiri.”

Saya memicingkan mata. Sok tahu benar dia akan hidup saya. Mentang-mentang dia sudah melahap beberapa kenangan, sekarang dia merasa tahu segalanya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saya. Lantas mengancam akan membongkar semuanya, bila perlu membakar segalanya sampai hangus tak bersisa.

Merasa tersudut, akhirnya saya menyerahkan kenangan tentang betapa saya dan Ami berjuang keras untuk punya anak. Tiga tahun lamanya. Sampai kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis sebab cara manual sepertinya tak membuahkan hasil. Saya ingat Ami terduduk di salah satu kamar yang sudah dihiasnya untuk tempat bayi laki-laki kami kelak, bercat biru langit dengan beberapa tumpuk mainan di sudut ruangan. Ada mobil-mobilan, bola karet, balok susun, dan masih banyak lagi sehingga saya tidak hafal satu per satu mainan apa saja yang dibeli Ami. Wajah sendunya berusaha menyunggingkan sebaris senyum, begitu kaku. Tangannya memeluk saya erat. Hatinya hancur lebur. Surat pemeriksaan yang menyatakan bahwa saya mandul berusaha ditepisnya. Dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai kamar itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur kami.

“Aku baik-baik saja, dan aku tahu kalau kamu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa pun. Mukjizat itu ada. Kita bisa berdoa semoga suatu hari mimpi kita bisa menjadi nyata,” ucap Ami sambil menepuk-nepuk punggung saya.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ami. Menangisi nasib saya yang malang. Dan kini saya meringis sebab kenangan itu dilahap api kelaparan.

***

“Cepat berikan saya kenangan!”

“Saya hampir tidak memiliki kenangan apa pun untuk diberikan kepadamu. Bahkan sudah saya berikan juga kenangan tentang Ami yang dengan berat hati mengosongkan kamar-kamar yang bakal menjadi kamar anak kami hanya untuk menghormati saya. Dia katakan kepada saya, ‘Tidak apa-apa, hidup berdua denganmu saja sudah cukup untukku.’ Berdosa saya karena mengikatnya hidup dalam kesepian,” jawab saya frustrasi. Meremas rambut dan menjambaknya keras.

“Kau masih punya satu!”

“Apa?”

“Kenangan hari itu. Cepat berikan kepada saya!”

Saya terdiam. Bergeming beberapa saat. Malam itu, sebelum paginya saya menyalakan pemantik yang mengubah hidup saya serupa neraka, saya ingat telah bertengkar hebat dengan Ami. Saya mengamuk mendapatkan kabar kalau Ami hamil. Dia pasti berselingkuh. Ya, tidak salah lagi kalau Ami berselingkuh.

“Semua rumah sakit tempat kita melakukan pemeriksaan menyatakan hal yang sama. Kalau aku mandul. Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau bukan dengan berselingkuh?”

“Ini anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun,” jawab Ami mantap. Tak sekali pun dia mengalihkan tatapannya dari saya.

“Setelah tujuh tahun? Kamu pikir aku bakal percaya? Kalau saja kamu hamil karena ada mukjizat yang menyatakan aku tidak lagi mandul, mungkin wanita-wanita yang aku tiduri dua tahun belakangan ini juga akan hamil sepertimu!”

Hening. Ami mengerutkan keningnya. Mungkin dia kaget mengetahui kalau saya telah lebih dulu berselingkuh darinya. Dia terduduk di kursi depan meja rias. Tatapannya yang sejak tadi terus menatap mata saya lekat kini beralih menatap lantai. Tak dilanjutkannya lagi perdebatan kami malam itu. Namun, setiap kali melihat Ami, bahkan sampai saat ini, saya masih terus membahas perihal kehamilan dan perselingkuhannya. Dan siang ini, merasa saya terus menerus menghindarinya, menatapnya penuh dendam, Ami memutuskan pergi dari rumah.

“Aku akan menggugurkan kandunganku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya.

***

Ami sudah tertimbun tanah merah. Niatannya mengugurkan kandungan membuat nyawanya ikut melayang. Saya tidak pernah membenci Ami, saya hanya benci kenyataan kalau saya tidak bisa memberikannya keturunan sehingga dia mencari keturunan dari pria lain.

Sudah sejam saya memandangi makamnya, sampai suara ponsel di saku celana saya berdering. Dari Rina, rekan kerja saya. Dia bilang punya kabar bahagia. Saya menggerutu dalam hati. Kabar bahagia? Kamu kira kematian istriku merupakan kabar bahagia?

“Kenapa kamu terdengar tidak bahagia?”

“Aku bahagia. Sungguh.”

“Benarkah? Aku kira kamu tidak bahagia mendapatkan anak dariku.”

“Maksudmu?”

“Aku hamil anakmu, Mas.”

“Anakku?”

“Iya. Memang kamu pikir aku wanita seperti apa? Aku hanya melakukannya denganmu seorang. Tentu saja aku hamil anakmu,” ucapnya riang karena sebentar lagi dia bakal menjadi ibu.

Dasar, Jalang! Kamu tanya wanita seperti apa dirimu? Cih! Jika kamu wanita baik-baik, tak akan mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri sepertiku. Saya menutup telepon secara sepihak. Menatap makam Ami lekat-lekat. Lantas menengadah, menatap langit yang mulai mendung. (*)

Jakarta, Oktober 2018

Catatan:
Cerpen ini merupakan versi pertama dari cerpen berjudul “Masih Ada Sepotong Pagi yang Belum Kaucicipi”.

Halimah Banani, penulis asal Jakarta. Mengikuti Kelas Menulis Loker Kata. Bisa dihubungi melalui alamat surel arsheart.ha@gmail.com. Facebook: Halimah Banani

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *