Cerpen

Ayah Saya

January 9, 2019

Cerpen: Artie Ahmad

Banyak orang mengatakan, saya ini anak yang jauh dari kata beruntung. Ibu saya pergi entah ke mana, meninggalkan saya yang masih butuh kasih sayangnya waktu itu. Pagi belum benar-benar datang, ketika perempuan yang merasa bernasib paling malang di dunia itu mengendap-endap perlahan. Satu tas yang sesak oleh pakaian dia tenteng di pundak sebelah kanan. Saya yang melihatnya pergi hanya menatapnya diam-diam. Ibu menaruh jari telunjuk tangan kanannya di bibir. Meminta saya agar tak ribut.

Ayah masih bergelung di dalam kain sarung ketika ibu hilang ditelan kelokan jalan. Saya masih menatap kepergiannya, meski bayangnya tak tampak lagi. Itu kali terakhir saya melihat ibu, untuk seterusnya, saya tak pernah berjumpa lagi dengannya. Hanya terkadang ibu datang menyambangi saya dalam mimpi. Di dunia nyata, ia sama sekali tak pernah muncul.

Selepas kepergian ibu di pagi buta itu, ayah menjadi lelaki yang selalu dirundung duka berkepanjangan. Entah apa yang dirasakan ayah, saat mendapati ibu ‘minggat’, ayah tak mengucapkan sepatah kata pun. Dia sering duduk berlama-lama di beranda, mungkin menunggu ibu pulang, atau pak pos yang membawa kabar dari ibu.

Ayah menjadi sosok yang berantakan. Ia masih bekerja di pelelangan ikan, tapi lepas bekerja, dia sering menghabiskan waktunya di kedai tuak. Sejak kepergian ibu di pagi buta itu, ayah tak lagi mengajak saya bicara. Ayah masih menyiapkan makan, dan menyekolahkan saya sebagaimana anak-anak pada umumnya, tapi dia tak pernah bercengkerama atau sekadar berbincang dengan saya. Mungkin ayah marah dan kesal kepada saya lantaran saya melihat ibu pergi, tapi tak berusaha menahannya, tapi saya tak pernah menanam benci kepadanya. Meski ayah berubah, tapi saya berusaha tetap berada di sampingnya, walau ternyata tak mudah.

***

Sebelum ibu pergi, rumah kami senantiasa terbakar. Bukan terbakar sebagaimana mestinya, adanya kobaran api yang melalap dinding papan rumah kami. Bukan terbakar seperti itu. Rumah kami kerap terbakar lantaran amarah yang sering tersulut dari kepala ayah dan ibu. Keduanya sering bertengkar, baik karena hal kecil maupun hal yang dirasa genting. Apapun bisa menyulut amarah hingga berkembang menjadi pertengkaran. Ibu seringkali mempermasalahkan periuk yang sering dingin ketimbang mendidih dengan nasi yang ditanak di dalamnya. Api memang sering menyala di tungku, membakar kayu hasil mengais di hutan pinggir desa, tapi hanya untuk memanaskan air, bukan untuk memasak nasi atau sayur. Jikapun ada nasi, tapi kami hanya memakannya dengan garam atau ikan asin pemberian nelayan di pelelangan. Ayah dianggap tak becus bekerja. Ibu selalu marah, mengoceh tentang apa saja yang dirasa tak sesuai dengan hatinya.

            “Cobalah abang lebih giat bekerja! Biar kita tak melulu memanaskan air. Lagipula anak kita itu tak mungkin hanya diberi makan dengan garam dan ikan asin.” sungut Ibu satu hari ketika ayah pulang tak membawa uang cukup.

            “Aku sudah giat bekerja, tapi rezeki hanya sebatas itu. Mau bagaimana lagi?” tanggap ayah lantas meninggalkan ibu yang masih bicara.

Pertengkaran pecah lagi di penghujung sore itu. Ibu terus bicara sekenanya. Ayah tak mau begitu saja menerima semua cercaan istrinya yang keras meruntut perihal kerjanya selama ini. Meski ayah sudah merasa membanting tulang sekuat tenaga. Tapi upah menjadi buruh pengangkut ikan di pelelangan memang tak seberapa. Bahkan ayah sering menganggur, jika jumlah ikan yang didapat nelayan tak memuaskan. Ayah  hanya pekerja paruh waktu di pelelangan ikan, yang bisa saja diberhentikan sewaktu-waktu.

Selepas bekerja ayah mengambil air di sungai, atau mencari kayu bakar di hutan. Kayu bakar itu ditumpuk di samping rumah. Sesekali ayah mencari pekerjaan sampingan lainnya, untuk menambah pendapatan, tapi seringnya ayah tak mendapatkan apa-apa setelah seharian mencari peruntungan.

Saya masih sering mendengar ibu berkeluh kesah. Jika ada yang bisa memenangi lomba mengeluh dan marah, mungkin ibulah orangnya. Ayah yang terasa tertekan lebih banyak diam. Meski begitu, rumah kami tetap saja masih terbakar oleh amarah oleh keduanya. Amarah yang meletup-letup, seakan siap menghanguskan seisi rumah itu baru redup ketika ibu meninggalkan rumah diam-diam itu.

***

Banyak orang membujuk saya agar saya meninggalkan ayah Mereka mengatakan bahwa kemalangan saya sebagai anak harus diakhiri. Mereka juga mengatakan bahwa pada akhirnya ayah akan menjadi beban saya suatu hari nanti. Terlebih dia punya kebiasaan mabuk. Meski dia akhirnya berhasil menjadi salah satu pelelang ikan, tak menyurutkan pandangan mereka.

Meski begitu ayah ttetap tak mengajak saya berbicara. Sudah sekian tahun berlalu, tapi dia tetap membisu. Saya yang justru mengajaknya berbicara, meski tak mendapat jawaban dari bibirnya, tapi saya tahu ayah selalu mendengarkan apa yang saya katakan. Saat-saat saya merasa hidup tertekan, sesekali saya memikirkan omongan orang-orang. Tapi kemudian saya menepiskannya. Betapa kurang ajarnya saya bila sampai meninggalkan ayah sendirian.

Ayah sangatlah keras kepala. Banyak sudah nasihat yang diberikan sanak saudara kepadanya. Tapi ternyata tuak dan kemabukan tetap dianggapnya sebagai  pelampiasannya. rang-orang sudah sering melihat ayah terduduk setengah sadar di pinggiran jalan. Sebagian dari mereka ada yang berusaha membangunkan ayah, tapi kebanyakan tak peduli. Saat itulah saya yang membangunkan, lalu membawanya pulang. Tubuh ayah yang tinggi besar sangat berat. Saya menarik kerah bajunya kuat-kuat sembari, memanggil-manggil namanya.

“Biarkan saja, nanti juga bangun sendiri!” teriak Wak Ajo, pemilik warung kopi di seberang jalan.

            “Siapa dia? Tetanggamu?” Tanya seorang pengendara sepeda motor yang berhenti.

            “Dia ayah saya,” jawab saya sembari terus berusaha membangunkan ayah.

Sampai waktunya kesadaran ayah terjaga, dan saat itulah dia akan berusaha bangun lalu berjalan terhuyung-huyung. Sebisa mungkin saya memapah ayah. Tapi tubuh ayah yang besar membuat saya kewalahan hingga beberapa kali kami terjatuh. Kejadian seperti itu hampir terjadi tiap hari. Melihat ayah terkapar setengah sadar, menarik kerah bajunya untuk membangunkannya, dan memapahnya pulang tak ubahnya hal rutin yang selalu saya kerjakan saban hari.

Saya kerap berpikir, apa yang harus saya kerjakan untuk ayah. Beberapa tahun lagi usia saya akan matang. Apakah ayah juga akan seperti ayah-ayah lainnya, yang merasa kehilangan ketika putrinya dipinang seorang pemuda? Tapi selama ini ayah mendiamkan saya, meski dia masih bertanggung jawab merawat saya.

Meninggalkan ayah dan pergi ke kota terkadang menjadi primadona di rencana saya. Tapi ketika melihat ayah seakan terkungkung dalam kesepian panjang, lagi-lagi keinginan itu saya tepis. Ayah mungkin bukan ayah terbaik di atas dunia, tapi setidaknya dia tidak meninggalkan saya selama ini. Ibu yang selama ini saya harapkan kembali, sampai saat ini tak mengirim sebuah kabar pun. Entah di mana dia sekarang, tak ada yang tahu, tak ada yang pernah melihatnya lagi.

Orang-orang mengatakan mungkin ayah saya hampir gila. Dalam waktu-waktu tertentu para tetangga melihat ayah bicara sendiri, padahal saat itu dia sedang tidak mabuk. Saya sering mendapat aduan macam-macam tentang ayah. Setelah mendapat aduan begitu, biasanya saya mengajak ayah bicara, meski tanggapannya selalu sama, hingga saya seperti sedang bermonolog.

***

Hari itu ayah tampak lain. Dia berdandan rapi, tak seperti biasanya. Saya hanya mengamatinya dengan tatapan sedikit takjub dan heran.

            “Ayah akan pergi sebentar. Hari ini ibumu sepertinya pulang,” ucap Ayah perlahan.

Dadaku bergetar. Kali itu ayah mengajak saya berbicara. Saya seperti melihat ayah dalam dimensi yang berbeda. Perlahan langkah saya mengikutinya dari belakang. Di tengah jalan saya melihat ayah tertawa-tawa sendiri, dia seperti tak menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Sesekali ayah bicara, meski tak ada lawan bicaranya. Saya semakin cemas melihatnya. Terlebih ketika ayah berlari ke tengah jalan tepat ketika sebuah mobil berwarna hitam melintas cepat. Ayah terpental lalu terkapar tak sadarkan diri. Orang-orang seketika berhamburan berlari mendekat. Saat itu tak ada yang bisa saya lakukan, selain menarik kerah bajunya dan berucap berulang-ulang, “Ayo bangun, Ayah. Kita pulang..”

***

Artie Ahmad, lahir dan besar di Salatiga. Novel terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018. Kumpulan cerita pendek pertamanya segera terbit.


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *