Cerpen

Balada Rindu

January 19, 2021

Cerpen Indah Fai

Ya Tuhan, suara lembut ibu merambat anggun memenuhi segala sudut. Ada resonansi merdu ketika suara ibu menimpa perabotan di dalam ruangan ini. Aku mendengar rak buku, lemari pakaian, kasur lantai, meja, kursi, gelas, piring, pigura. Ah, bahkan dinding pun melantunkan suara ibu.

Aku bisa merasakan tatapan hangat  dari bola matanya ketika aku demam tinggi begini. Ibu menghabiskan sepanjang malam duduk di tepi ranjangku dengan mata terjaga. Setiap kali aku terbangun, ibu mencecarku dengan pertanyaan, “Sudah merasa baikan?” Aku mengangguk kemudian  ibu tersenyum dan mengusap punggung tanganku sampai aku jatuh tidur.     

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus.Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Terakhir,  ibu menekan sakelar lampu pada dinding di sisi kanan pintu kamarku. Ruangan menjadi gelap ketika ibu beranjak keluar. Lantas aku bangkit dari ‘tidurku’ menuju meja komputer, menekuri lagi permainan sepak bola sampai larut, sampai aku benar-benar mengantuk.

Pernah di malam tahun baru aku pulang pagi. Ketika akan memasuki kamar, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu kamarku dengan raut wajah kecewa. “Sekarang  pukul setengah empat pagi. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali.” Suara ibu bergetar tapi masih lembut. Aku tidak menemukan  amarah di sana.

“Coba lihat rambut  pelangi dan jambulmu. Astaga!” Aku mengabaikannya dan melenggang ke kamar. “Cuma setahun sekali, Bu.” Aku menatap ibu sejenak sebelum menutup pintu kamar. Mata ibu dikelilingi lingkar hitam karena menahan kantuk. “Lebih baik ibu tidur saja.”

Ibu mengetuk pintu kamarku, “Tadi ibu memasak semur ayam kesukaanmu. Mungkin sekarang sudah dingin. Apakah kau sudah makan? Ibu akan menghangatkannya lagi supaya enak.”

Seandainya ibu tahu betapa merasa bersalahnya aku waktu itu. Aku bahkan tidak ingin berpura-pura tidur lagi setiap pukul sepuluh malam.

Suatu waktu, ibu menghampiriku di teras rumah. Aku sedang berkonsentrasi menggambar poster grup band kesukaanku yang akan kubawa pada konsernya di alun-alun kota minggu depan. Ibu mencermati gambarku dengan saksama. Ia berkata : “Bagus. Tapi kau tak akan pergi ke konser itu.” Aku menatap ibu tak percaya. “Mereka ini band pro rakyat, Bu. Lagu mereka suara hati rakyat. Menyanyi untuk rakyat. Kenapa tidak?”

Ibu balas menatapku. Senyumnya semanis tebu. “Tidak. Kau tak akan pergi ke konser itu. Percayalah, di sana hanya ada kerumunan pemuda malas yang merokok, minum-minuman beralkohol, berjoget, berteriak, tawuran, dan banyak lagi. Apa yang akan kau lakukan di sana?

Biar Ibu beritahu, lima belas meter dari rumah kita ada panti asuhan. Kau boleh mengajari mereka melukis dengan cuma-cuma. Tetangga kita, Bi Ami, malam kemarin rumahnya kemalingan. Sisihkan uang sakumu dan uang yang akan kau gunakan untuk membeli tiket konser lalu berikan padanya. Atau bantulah ibu menyapu halaman depan sore nanti. Pro rakyat yang lebih manusiawi, kan?”

Ibu tidak memerlukan sihir agar bisa membaca isi hatiku melaui ekspresi tubuh. Pada suatu siang, sepulang sekolah, aku memasuki pintu utama tanpa mengucap salam. Waktu itu ibu tengah menyiapkan makan siang, sekilas ia melihatku tersuruk-suruk menuju kamar. Aku mengurung diri sepanjang sore dan baru keluar ketika ibu mengetuk pintu kamarku untuk yang kesebelas kali—memintaku makan.

Hanya ada suara piring dan sendok makan yang beradu pada menit-menit pertama; kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Ketika nasi di piring kami sisa separuh, ibu menatapku geli sambil menggeleng,  lalu berkata, “Ayahmu berjuang setengah mati untuk bisa menikahi ibu. Ibu selalu menolak setiap ayahmu mengutarakan perasaannya. Tapi, memang dasar ayahmu itu keras kepala. Semakin ditolak, semakin dia penasaran katanya.”

Aku mencerna kalimat ibu sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutku. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Aku berusaha mengaitkannya dengan apa yang berlaku padaku di sekolah pagi itu. Ketika aku memberi sekotak cokelat kepada Vani—dan ia langsung menolaknya.

Pipi ibu memerah seperti kelopak mawar. Aku mengamati kedua mata ibu berputar dengan senyum yang merekah. Jam makan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan dari ibu:

 “Apakah kau akan memerjuangkan gadis yang kau sukai itu?”

***

Pada pertengahan Agustus, aku mengepak barang-barangku ke dalam koper besar berwarna biru laut pemberian ayah. Ibu memandangiku dari ambang pintu kamar tanpa sepatah kata dan kemudian berjalan pelan menuju ranjang tempatku mengepak barang—ia duduk di sampingku. Aku mendengar ranjangku berderit menampung tubuh ibu. Kemudian ibu berujar lirih, “Kau sungguh ingin kuliah di Malang?” Aku menatap ibu sekilas sambil tesenyum, dan mengangguk mantap.

“Kenapa harus di Malang? Bogor tidak kekurangan Universitas.”

“Adit ingin belajar mandiri, Bu.”

“Di sini juga sama saja.”

“Malang, Bu.”

“Kau tahu berapa jarak Bogor-Malang?”

“Ayolah, Bu. Adit sudah delapan belas tahun.”

“Justru karena kau baru delapan belas tahun, Adit.”.

Aku menarik napas dalam kemudian menghempasnya pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke kaca jendela kamar. Ada bulir-bulir embun mengalir zigzag di sana, sisa hujan semalam. Beberapa daun mahoni yang menguning berguguran tersapu semilir angin Agustus di pagi hari. Aku mengalihkan lagi pandanganku kepada ibu. Kepala ibu menghadap lurus ke depan dan matanya beradu pandang dengan dinding, tetapi seakan-akan ia menatap ke kejauhan.

Aku melihat ayah berdiri di ambang pintu kamar seperti yang dilakukan ibu sebelum duduk di sampingku. Entah, sudah berapa lama ayah berdiri di sana. Ayah menyandarkan punggungnya ke gawangan pintu. Ia berkata, “Sudahlah, Bu. Biar Adit belajar mandiri. Sebentar lagi juga liburan Natal, Adit pasti pulang, kan?”

Aku melihat mata ibu berkilau terpapar cahaya yang menerobos dari jendela kamar. Ada semerbak air yang akan tumpah di sana. Ibu berkata, “Siapa yang akan mengingatkanmu untuk mencukur rambut? Memasakkan semur ayam? Astaga, kau akan banyak-banyak makan mi instan di sana. Ya Tuhan, jagalah anak Ibu.” Lalu air di mata ibu tumpah seluruhnya.

***

Beberapa waktu terakhir, setiap pukul sepuluh malam, aku selalu mendengar derap langkah ibu menuju kamar kontrakanku. Ia membuka pintu, mematikan komputer, membenahi selimutku, dan mematikan lampu. Ketika bangun di pagi hari, aku tertegun karena komputer dan lampu masih menyala.

Sekarang, suara langkah itu semakin keras dan dekat. Aku tahu itu ibu. Sebentar lagi ibu akan sampai di depan kamarku dan membuka pintu. Berdiri di sana, lalu berujar, “Kenapa bisa sakit? Kau telat makan?” Sudah lama aku tidak melihat ibu berdiri di ambang pintu dengan suara lembutnya.

Aku menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan kemudian mengangkat kepalaku ke arah pintu yang setangah terbuka. Aku bangkit dari tidurku, menyandarkan punggungku ke dinding. Aku berkata, “Ibu? Ibukah itu?”

Kemudian pintu terbuka seluruhnya dan aku melihat sosok itu berdiri di sana, kedua alisnya bertaut, “Ibu?”

Dia bukan ibu.

Aku kembali merebahkan punggungku ke kasur lantai. Rizal meletakkan nasi bungkus di atas rak piring mini dekat pintu. “Apa kau ingin aku mengantarmu ke dokter?” Aku menggeleng. “Tidak usah,” kataku pelan.

“Vani bilang akan menjengukmu besok.”

“Aku tahu, boleh minta tolong?”

“Iya?”

“Tolong beritahu Ibuku aku sedang sakit.”

“Kau ingin aku meneleponnya di wartel?”

“Tidak, pakai ponselku saja.”

“Oh, ya? Kenapa bukan kau saja yang meneleponnya?”

“Aku tidak bisa.”

“Apa kau pikir aku sehebat itu?”

Rizal menatapku kesal lantas ia duduk di  lantai di jalan masuk pintu. Ia membuka bungkusan nasi yang ia letakkan di atas rak piring tadi kemudian memindahkannya ke dalam piring. Rizal menyorok piring itu ke samping kanan kasurku. “Makanlah,” ujarnya. Aku melihatnya tanpa selera, kuamati  langit kamar yang cat putihnya mulai menguning dimakan waktu dan pandanganku terhenti pada lampu yang aku lupa mematikannya pagi tadi.

“Ini sudah bulan kedua kau bertingkah seperti orang gila.”

“Maksudmu?”

“Ayolah, Dit. Ibumu sudah meninggal. Kau harus menyikapi realita dengan baik.”

Aku masih memandangi lampu itu. Cahaya putihnya menyakiti mataku. Rizal bangkit dan menekan sakelar lampu di dinding di sisi kanan pintu masuk. Lampu mati dan ruangan menjadi redup. Hanya sedikit cahaya matahari sore yang menyusup dari jendela kamar kontrakan ini.

 Rizal pamit menuju kamarnya. Kemudian, samar-samar aku mendengar seluruh perabot melantunkan suara ibu lagi. Aku juga mengingat hari pertama aku tiba di  sini. Ibu menelponku sebanyak dua puluh sembilan kali, dan aku mengabaikannya.**


Indah Fai, kelahiran Banyuwangi, 15 Juli 1994. Tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Bisa disapa melaui akun Facebook: Indah Fai dan email: indahannisa94@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *