Cerpen

Bayi Lelaki yang Menjadi Bola Api

January 22, 2019

Cerpen: Rin Ismi

Kemarau menjadi penanda hari ketika aku keluar dari selangkangan Emak. Siang itu matahari serasa tepat berada di atas ubun-ubun. Suhu udara mencapai tiga puluh sembilan derajat Celcius. Emak tak sempat melahirkan di bidan. Beliau merasakan kontraksi luar biasa saat sedang memasak di dapur dan seketika pecah ketuban. Emak berteriak dengan sisa tenaga. Para tetangga berdatangan membantu persalinan. Sebagian lagi tergopoh-gopoh memanggil Mak Praji, dukun bayi terkenal di kampungku.

Emak dibaringkan di amben—semacam ranjang—dapur yang terbuat dari bambu. Wajahnya memerah selama proses mengejan, seakan berjuang keras mengeluarkan bongkahan bara. Begitu pun Mak Praji dan beberapa orang yang membantu. Tubuh mereka dipenuhi peluh. Siang itu, aku menjelma bayi lelaki yang lahir di pinggiran kota berjuluk Serpihan Neraka. Aku menangis tapi lebih serupa lolongan kemarahan. Mbah Juna, tetangga sebelah rumah Emaklah yang mengumandangkan adzan dan iqamah di kedua telingaku.

“Udah disiapin nama belum, Tin?” tanya Mbah Juna menyerahkanku ke gendongan Emak.

“Udah, Mbah. Namanya Raka Geni,” jawab Emak lemah seraya menerimaku dan mendekapku untuk segera disusui.

Untuk pertama kalinya, kutatap wajah Emak. Inilah wanita yang mengandungku selama sembilan bulan. Dan kini harus merasakan beban berat menjadi ibu seorang diri. Sementara Ilham, kakakku yang baru berusia empat tahun terus bertanya tentang Bapak. “Kenapa Bapak dibakar, Mak? Emangnya ayam apa dibakar?” tanyanya polos ketika pelan-pelan diceritakan bahwa Bapak telah tewas. Seisi kampung kasak-kusuk membicarakan Emak sebagai si Titin malang yang suaminya dibakar hidup-hidup karena dituduh mencuri.

Tapi tenang saja, Mak. Raka tidak akan membiarkan Emak bersedih lagi. Itu janjiku pada Emak. Akan kucari makhluk-makhluk laknat itu dan memastikan mereka menebusnya kontan. Tubuhku menggelepar seperti kejang membuat Emak histeris ketakutan. Ia memanggil-manggil Mak Praji yang masih membersihkan sejumlah kain sisa persalinan. Suhu tubuhku terus memanas, memanas, dan memanas hingga seluruh pakaianku mulai terbakar. Aku menggulung diri, terbang menjadi lingkaran bola dengan pijar api merah menyala. Aku memelesat mencari jejak kehidupan terakhir Bapak dua bulan lalu saat aku masih di perut Emak. Di bawah sana kulihat Emak tampak syok, orang-orang di sekitarnya ikut menengadah menatapku dengan seribu tanya. Ada yang bilang aku ini bayi setan, ada yang mengatakan aku lahir untuk balas dendam, ada yang terus mengucapkan takbir. Terserah mereka sajalah.

Di ceruk tepi jalan inilah Bapak mengembuskan napas terakhir. Pada sore nahas itu Bapak hendak mengantarkan amplifier yang telah diservis ke rumah pelanggannya tak jauh dari Pasar Muara Bakti. Beliau mampir sejenak ke sebuah musala untuk menunaikan shalat ashar. Agar tak dicuri orang, Bapak mengangkat amplifier itu dari jok motor dan membawanya serta ke dalam mesjid. Selepas shalat, seseorang melihat tanpa bertanya dulu langsung meneriakinya maling.

Dalam sekejap bapakku menjadi bulan-bulanan warga. Sambil berlari menyelamatkan diri ke kampung sebelah, Bapak berusaha menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Tetapi massa kian banyak, Bapak dikepung dari berbagai arah. Perut dan punggung Bapak dijotos bogem mentah. Ketika jatuh tersungkur, kepala Bapak diinjak-injak. Seluruh tubuhnya jadi sasaran tendangan. Kata makian terdengar bersahutan. Wajah Bapak sudah babak belur, dengan suara parau masih mencoba menjelaskan. Tapi tak ada satu orang pun yang mendengarkan.

Seperti Tuhan, mereka sibuk menjadi hakim dadakan. Dalam keramaian, mereka mendapat suntikan keberanian melebihi aparat. Merasa berhak menentukan hukuman dan menghabisi nyawa seseorang. Tak cukup melihat bapakku meregang nyawa, seseorang—yang bagiku sudah dirasuki iblis—menyiram bensin ke tubuh Bapak dan membakarnya hidup-hidup. Tubuh Bapak menggeliat kepanasan namun tak satu pun sudi menolong. Mereka bersorak mengumpat puas. Akhirnya maling ini mati di tangan mereka. Ya, bapakku tewas dengan sejukur tubuh gosong. Kabar itu cepat tersebar.

Andai Bapak memang mencuri, pantaskah diperlakukan keji begitu? Beranikah mereka melakukan hal yang sama pada maling duit rakyat yang duduk di kursi dewan sana? Saat mayat Bapak tiba di rumah, Emak jatuh pingsan berkali-kali. Tak percaya jika tulang punggung keluarga ini dilenyapkan secara brutal. Terlebih perut Emak kian membuncit mengandungku. Sejak saat itu, airmatanya sering tak terbendung jika mengingat kematian Bapak. Aku meresapi setiap kesedihannya. Setiap sari pati nutrisinya yang masuk ke tubuhku berubah menjadi percikan api. Aku bertekad untuk menghapus kesedihan Emak jika lahir kelak. Seseorang harus membayar airmata Emak dengan harga yang mahal. Uang sebanyak apa pun tidak akan mampu menghidupkan kembali Bapak. Maka biar impas, nyawa harus dibayar nyawa.

Di bawah sana kulihat si Somad, lelaki berwajah sengak yang menyiramkan bensin ke tubuh Bapak. Dia masih muda, tapi sudah hendak berlagak jadi begundal kampung. Baik, akan kutunjukkan bagaimana rasanya dibakar hidup-hidup. Kebetulan dia sedang mengisi bahan bakar di sebuah warung kelontong. Dengan santai dia menyalakan sebatang rokok sambil kembali menstarter motor. Aku memelesat ke arahnya, membakar habis rokok itu. Somad terkejut. Spontan dia melepas rokok itu dan jatuh ke tangki yang belum sempat ditutup. Seketika api berkobar lalu menjalar ke celana pemuda itu. Aku menikmati momen saat dia panik berusaha menyelamatkan aset di antara selangkangannya. Dalam hitungan menit, motornya terbakar hebat dan meledak. Somad terlempar dengan luka bakar serius. Kobaran api di  celana cepat melebar ke seluruh pakaiannya.

“Tolooooonggg! Tolooooonggg!” lolong Somad tak kuasa menahan panas.

Sejumlah orang datang berusaha memadamkan api dengan menyiramkan air ke tubuh Somad. Tapi siapa pun yang berusaha menolongnya ikut tersambar. Aku telah menyulap air itu menjadi bensin hingga api kian ganas. Mereka berlompatan tak terkendali seperti api yang menari-nari. Aku tertawa menyaksikan histeria mereka dari ketinggian. Satu demi satu dari mereka tewas terbakar. Semesta mendukung amarahku. Angin terus berembus. Sekecil apa pun gesekan akan menjadi api.  Mentari berkontribusi menyumbangkan terik layaknya siang bolong, padahal hari masih pagi.

Dalam sekejap kampung itu menjadi serpihan neraka yang sesungguhnya. Setelah puas menuntaskan kesumat, aku terbang ke rumah Emak. Menjadi Raka Geni yang mungil menggemaskan. Emak terus berucap syukur melihat bayinya kembali, mendekapku dalam buaiannya, ditemani Ilham yang urung jua berhenti bertanya tentang Bapak. Hanya perlu hitungan detik untuk membuat kabar terbakarnya satu kampung yang menewaskan seluruh warganya tersebar. Aku tersenyum. Beginilah dendam bekerja. Cara Raka Geni, bayi lelaki yang menjadi bola api.***

Rin Ismi, pegiat literasi, tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *