Resensi Dahulu
Buku Resensi

Bertemu (Mantan) Penyair

July 21, 2020

Oleh M. Fauzi Sukri

Bandung Mawardi berperistiwa penemuan puisi. Peristiwa pertemuan itu terjadi melalui majalah-majalah lawas dari tahun 1950-an sampai tahun 1980-an. Bukan melalui buku puisi atau puisi yang dimuat di koran. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan kerja semiotik, analisis sosiologis (meski minimalis), pemaknaan historis, dan sesekali merasakan rasa estetik puisi (meski yang sangat sedikit).

Dari esai ke esai berikutnya, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana: esai-esai yang disuguhkan kepada pembaca ini pertemuan dengan puisi atau pertemuan dengan penyair. Secara umum, yang kita temukan dalam esai-esai Bandung Mawardi ini adalah pertemuan dengan penyair yang diperantarai puisi. Sedangkan puisi itu sendiri lebih banyak diposisikan sebagai dokumen sejarah, bukan sebagai dokumen estetika puisi.

Bandung Mawardi tampak hendak mengungkit-mengungkap kepada pembaca mutakhir: seperti apa puisi yang pernah ditulis seorang yang kemudian menemukan makna kata-kata bahasa Indonesia dengan sangat suntuk serius; seperti apa puisi-puisi yang ditulis penyair muda yang sekarang sudah jadi penyair terkenal dan karyanya diakui pembaca sastra Indonesia mutakhir.

Dari pertemuan Bandung Mawardi dengan puisi-puisi di majalah lawas, kita tahu bahwa cukup banyak penyair yang menulis di masa muda. Radhar Panca Dahana menulis puisi pada umur 15 tahun dengan nama Rpd Reza Morta Vileni. Puisinya dimuat di majalah Zaman 1980. Sampai sekarang Radhar Panca Dahana masih menjadi penyair selain sebagai budayawan. Dari penelusuran majalah lawas, kita juga mendapati sekian tokoh yang pernah menulis puisi tapi sekarang sudah menjadi mantan penyair.

Kita bertemu dengan puisi Soesilo Toer yang menulis puisi pada usia 16 tahun. Begitu juga, puisi-puisi Rendra sudah bertebaran di berbagai media saat berumur 20 tahun. Bandung Mawardi menampilkan puisi Rendra yang dimuat di majalah Kisah. Pada umur 21 tahun, puisi Sobron Aidit dimuat di majalah Kisah pada tahun 1955. Poeradisastra atau Boejoeng Saleh tercatat pernah menulis puisi.

Bandung Mawardi juga mendapati puisi yang ditulis oleh kritikus seni rupa paling produktif di Indonesia: Agus Dermawan T. Sang kritikus seni rupa ini pernah menulis lima puisi yang dimuat di Horison pada 1974. Bandung Mawardi juga bertemu dengan mantan penyair yang dahulu pernah menulis puisi bagus tapi tidak lagi terkenal sebagai penyair. Inilah nasib yang dilakoni dan dipilih Budi Darma.

Dalam majalah Gadis (1978), Bandung Mawardi menemukan puisi yang ditulis oleh tokoh kondang nan penting dalam bahasa Indonesia: Eko Endarmoko. Tokoh penulis buku ampuh Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) dan Tesamoko (2016) ini adalah mantan penyair.

Dan, jika sekarang Anda mengenal Seno Gumira Ajidarma sebagai sastrawan penting di dunia prosa (cerpen dan novel), siapa sangka dia pernah berhasrat menjadi seorang penyair dengan nama pena Mira Sato. Seno menulis puisi saat berumur 20 tahun. Pada masa itu, publik pembaca Indonesia jelas belum begitu kepincut dengan cerpen-cerpennya yang memukau.

Tentu saja, karena berbasis dokumentasi majalah lawas, Bandung Mawardi tampak juga mengungkit puisi-puisi jelek yang pernah ditulis penyair Indonesia pada waktu muda. Sekarang penyair-penyair ini sudah menjadi penyair terkenal dan puisi-puisinya diakui oleh publik sastra Indonesia.

Sapardi Djoko Damono menulis puisi, yang menurut Bandung Mawardi, pantas dicap sebagai bait “bait jelek” berjudul Sketsa Diri. Puisi ini ditulis tahun 1962 dan dimuat di majalah Basis—tempat Sapardi dahulu pernah menjadi salah satu redaktur sastra. Puisi Sketsa Diri ini hampir pasti tidak akan ditemukan dalam buku antologi puisi Sapardi. Namun, Anda bisa membaca petikannya di buku Bandung Mawardi ini. Kita juga bertemu dengan sastrawan nan penyair seperti Triyanto Triwikromo yang pernah menulis puisi dan, sekali lagi menurut Bandung Mawardi, puisi itu ternyata jelek.

Tentu saja, dalam kliping kritik sastra ini, kita mendapati puja-puji terhadap beberapa penyair khususnya Afrizal Malna, Sapardi Damono, dan Goenawan Mohamad.

Selain itu, ada beberapa penyair yang sangat mungkin tidak dikenali oleh penyair, seperti Paramitha atau Slamet Wibisono—untuk menyebut dua saja. Paramitha adalah anak dari penyair kondang Goenawan Mohamad. Slamet Wibisono menulis puisi “Untuk Pramoedya Ananta Toer” yang dimuat di majalah Medan Bahasa edisi Maret 1957. Slamet Wibisono menulis puisi dengan berbagai perasaan perihal perebutan penerjemahan buku sastra kanon dunia (Timur dan Barat) yang dilakukan sastrawan Indonesia pada tahun 1950an.

Jika kita tilik pola kliping kritik puisi yang dilakukan Bandung Mawardi ini, kita bisa mengatakan bahwa, pertama-tama, yang dipilih dan dibahas dari ‘penemuan’ puisi majalah lawas adalah sosok penyair itu sendiri, bukan puisinya. Jika kita meminjam judul buku A. Teeuw, Pokok dan Tokoh, yang ditulis Bandung Mawardi bukan terutama pokok puisi tapi tokoh penyairnya. Yang dihadirkan atau diketemukan Bandung Mawardi adalah lebih banyak tokoh penyair daripada puisi-puisi yang bersifat ‘kebetulan’ ditemukan kembali. Seandainya puisi-puisi yang ditemukan itu tidak begitu tersangkut paut dengan penyair yang jadi tokoh, puisi-puisi yang bertebaran di majalah lawas tidak jadi pilihan untuk diulas.

Kita sedikit sekali mendapati puisi dari penyair yang jelas-jelas tidak terkenal saat itu hingga saat ini. Bandung Mawardi juga tidak mengulas puisi yang tak punya hubungan yang menarik dengan sastra Indonesia mutakhir. Jelas ada semacam seleksi ‘pilih kasih’ dari puisi-puisi yang diulas dalam buku ini. Maka, “Mereka” dalam judul buku ini adalah jelas mereka yang masih punya jejak kiprah sastra sampai sekarang, khususnya yang sudah jadi tokoh.

Buku kliping kritik sastra dari Bandung Mawardi ini adalah lebih banyak peristiwa pertemuan kembali dengan jejak masa lalu tokoh penyair besar atau sastrawan besar melalui jalur puisi. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan dialog antara karya masa lalu dan sastra(wan) masa kini. Di sinilah kita melihat bagaimana pertemuan-pertemuan yang diperantarai puisi bisa berubah menjadi pujaan tapi juga bisa sindiran bahkan ejekan.


M. Fauzi Sukri, penulis Bahasa Ruang, Ruang Puitik (Basabasi, 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *