Cerpen

Burung-burung Origami

April 27, 2021

Cerpen Heru Sang Amurwabumi

Hampir setiap malam ketika menjelang tidur, Umi selalu membuatkan aku burung-burung origami dari lipatan kertas warna-warni. Kemudian aku menerbangkannya ke langit malam di halaman rumah, berharap bahwa burung itu bisa mengepakkan sayap hingga jauh ke atas sana. Aku berhayal bahwa burung-burung origami itu bisa mencapai tempat paling indah yang sering diceritakan Abi. Membawa pesan kepada Tuhan yang kutulis di punggungnya. Berisi doa dan harapan.

Abi memang sering bercerita kepadaku, hampir setiap malam juga, tentang sebuah tempat yang ditumbuhi kembang beraneka warna. Tempat yang jauh lebih indah dari taman-taman yang ada di kotaku. Di sana, peri-peri baik hati bertempat tinggal.

Sebenarnya bukan hanya kepadaku saja. Abi juga sering bercerita tentang indahnya taman yang dia sebut surga itu kepada dua kakak lelakiku: Azzam dan Azwin. Kebetulan tiga anak Abi dan Umi semuanya laki-laki. Akulah yang bungsu.

Suatu malam, pernah aku mengutarakan sebuah pertanyaan ketika Abi sedang menceritakan taman itu untuk kesekian kali.

“Bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana, Bi?”

“Jalan ke taman itu sangat jauh dan berliku, Nak.” Umi menyela, coba menjawab pertanyaanku, yang barangkali juga mewakili pertanyaan semua anak-anaknya.

“Nanti, jika tiba saatnya, Abi akan mengajakmu, Umi, dan kakak-kakakmu ke sana, Nak,” timpal Abi.

Kemudian Umi sibuk melipat kertas menjadi burung-burung origami. Kembali aku menuliskan sebuah pesan kepada Tuhan. Tentang impian. Setelahnya, aku berlari ke halaman rumah, menerbangkan burung dari lipatan kertas itu ke langit malam.

***

Abi baru saja keluar dari sebuah ruangan di sudut rumah kami. Ruang yang selama ini dijadikan tempat bersimpuh kepada Tuhan. Setengah jam yang lalu, Abi memimpin kami di sana.

“Anak-anakku, kemarilah.”

Ada yang berbeda dengan suara Abi. Terdengar serak dan berat. Umi menutup bibirnya dengan ujung kain hijab. Aku menangkap ada yang aneh dengan sikap Abi dan Umi.

“Anak-anakku, bersyukurlah. Kita terpilih menjadi pengantin surga. Setelah ini, Abi akan mengantar kalian ke jalan yang selama ini kita cari,” lanjut Abi, “Azzam, tuntunlah adikmu Azwin. Jangan pernah kau biarkan dia jauh darimu sejengkal pun.”

“Iya, Bi.”

“Zulham, kau masih belum tahu apa-apa. Nanti kau menurut saja dengan Umi. Tak lama lagi kau juga akan bertemu dengan taman yang sering Abi ceritakan. Tentang peri-peri baik hati yang katamu ingin kautemui, Nak.”

Wajah Abah mendadak murung. Dari dua sudut matanya, butiran-butiran bening tampak menggenang. Sementara, Umni terisak-isak sambil memeluk dua kakakku: Azzam dan Azwin.

***

Abi menurunkan kami di depan sebuah gedung yang di hari Minggu pagi itu didatangi para pendoa. Mereka berpakaian rapi dan bersih. Barangkali memang seharusnya begitu ketika kita akan berdoa dan memuliakan Tuhan. Abi mengusap rambutku, lalu menciumnya, sebelum dia memacu mobil, meninggalkan aku dan Umi berdua di depan gedung itu. Aneh. Sempat kutemukan ada air mata Abi yang kembali menetes di pipi Abi. Tentu saja membuat aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Umi menggenggam erat tangan kiriku. Di tangannya yang lain, tampak sebuah benda mirip kotak mainan kecil dengan hiasan lampu—sejak kami berangkat dari rumah, lampu itu sudah menyala. Aku sedikit berat berjalan. Mungkin penyebabnya adalah mainan pipa besi sebanyak 5 batang yang dililit-lilit dengan kabel, lalu diikatkan dengan rapat di perutku.

Iya, setelah Umi menyuapi aku dengan semangkuk bubur ayam tadi pagi, Abi telah memasang mainan itu di perut dan punggungku.

“Kenapa Umi menangis lagi?”

“Maafkan Umi, Nak.”

Kurasakan genggaman tangan Umi semakin erat.

“Tahanlah, Nak. Sakit ini hanya sebentar. Setelahnya, kita tak akan merasakannya lagi. Kita akan berkumpul di taman penuh kembang warna-warni dan burung-burung origami yang setiap malam kau terbangkan untuk mengirimkan harapanmu.”

Terdengar suara ledakan yang asalnya sangat dekat dengan kami. Begitu keras, hingga gendang telingaku seperti pecah dan berdarah. Oh, ternyata aku memang benar-benar berdarah. Bukan hanya darah, panas yang luar biasa juga terasa sedang membakar sekujur tubuhku.

Hanya sesaat sakit itu kurasakan. Perlahan, ia berubah menjadi rasa dingin dan nyaman. Pandangan mataku seperti dipenuhi ribuan kunang-kunang yang turun dari langit. Kunang-kunang beraneka warna. Lalu, mendadak berubah menjadi burung-burung origami warna-warni. Pancaran warna itu melayang-layang, turun mendekatiku.

Sekejap kemudian, dari atas mega-mega, aku bisa melihat tubuhku sendiri, tubuh Umi yang diam tak bergerak dengan bersimbah darah, juga orang-orang yang sedang berdoa di dalam gedung itu berlarian menyelamatkan diri.

***

Aku tersungkur di sebuah taman yang dipenuhi kembang beraneka warna. Entah, taman di kota mana ini? Aku hapal taman-taman yang ada di kotaku. Hampir setiap akhir pekan, Abi dan Umi mengajak anak-anaknya ke sana. Aku yakin, ini bukan taman-taman yang sering kami kunjungi.

Kutebarkan pandangan ke segala arah mata angin. Semua dipenuhi pohon yang kembangnya sedang bermekaran. Sepertinya aku pernah melihat pohon-pohon itu. Tapi di mana?

Oh iya, kini aku mengingatnya. Pohon itu sama dengan pohon yang ada di makam nenek dan kakek. Abi pernah menyebut namanya: kemboja.

Makam? Apakah aku berada di pemakaman? Apakah kini aku sudah mati?

“Zulham …” Terdengar suara memanggil namaku. “Zulham, kemarilah, Nak.”

Aku mencari arah suara. Kembali kutebarkan pandangan ke sekeliling. Nihil. Hingga akhirnya dari balik sebuah pohon kemboja di taman itu, tampak punggung seorang perempuan menggunakan baju panjang berwarna putih. Mirip dengan baju yang biasa dipakai Umi. Perempuan itu berdiri membelakangiku.

“Umi?”

Wanita itu membalikkan badan. Oh, ternyata dia bukan Umiku.

“Aku peri yang tinggal di taman ini, Nak.”

“Di mana Abi, Umi, dan kakak-kakakku?”

“Tenanglah, Nak. Kalian pasti akan berkumpul. Tapi nanti, setelah mereka menyelesaikan perjalanan panjangnya. Perjalanan meniti jembatan penghakiman sebagai manusia yang telah baligh.”

“Kapan?”

“Bisa setahun, dua tahun, bahkan mungkin ribuan tahun. Kelak, kau akan mengetahuinya, Nak.”

“Apakah di tempat ini ada burung-burung origami yang mengirimkan pesanku?”

Perempuan itu menggeleng.

Angin berembus kencang. Gerimis mengundang hujan. Pohon-pohon kemboja bergoyang-goyang, hingga daunnya jatuh berserakan. Mendadak dedaunan itu berubah menjadi burung-burung origami, lepuh oleh hujan yang mengguyur tubuhnya. Mendadak pula aku merindukan Umi. Aku menangis sejadi-jadinya. ***


Heru Sang Amurwabumi, bergiat sastra di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah menjadi anggota redaksi Harian BERNAS. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019. Bisa disapa di Facebok Heru Sang Mahadewa.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *