Cerpen

Cara Berdoa

May 25, 2021

Cerpen Fahrul Rozi

Aku terbangun dari tidur panjang dan mendapatkan diriku ada di atas batu besar. Aku melihat di sekitarku ada banyak pohon yang melindungi batu ini. Karena penasaran aku segera turun, dan, batu ini amat besar melebihi perkiraanku. Saking besar dan tingginya aku tidak merasakan sakit ketika mendarat. Ini sangat aneh. Mungkin karena sudah lama disakiti tubuhku menjadi kebal terhadap sesuatu. Aku berjalan sebentar di sekitar batu besar dan pohon-pohon rimbun. Sebuah rumah kayu berdiri di antara pohon-pohon. Aku mencoba mengingat sesuatu, perihal rumah, mengapa aku di atas batu besar, dan di mana ini. Ingatan itu datang serupa bom, kepalaku seolah meledak dan tidak ada yang tersisa kecuali kepingan ingatan. Aku tersadar bahwa aku terlempar jauh dari tempa asalku. Jin cilik sepertiku gampang sekali ditendang. Aku pikir saat itu—mungkin 50 tahun lalu—aku akan mati ketika dipukul habis-habisan oleh mereka. Tapi aku masih hidup. Aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan padaku, aku juga tidak peduli dengan hidup ini.

Sebelum ditendang mereka aku pernah berteman dengan manusia bernama Iran, gadis yang baik dan selalu menerimaku apa adanya. Aku ingat sekali dengan kata-katanya, “kamu itu jin yang lucu,” bukannya aku menyangkalnya tetapi ucapan Iran membuatku tidak ingin pergi meninggalkannya.

“Jika suatu hari kamu tersesat dan tidak tahu jalan pulang, ketahuilah bahwa di atas sana ada Tuhan yang selalu melihatmu. Mintalah pada-Nya petunjuk jalan, niscaya Tuhan akan menunjukkan jalan padamu.”

Aku tahu kali ini aku sedang tersesat dan tidak menemukan jalan pulang, tapi aku bukan manusia yang selalu berdoa. Aku jin kecil yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan berdoa saja tidak tahu. Memang aku pernah melihat manusia mengangkat tangan beramai-ramai setelah salat, tetapi apakah itu disebut doa?

Aku harus mencari cara agar tahu caranya berdoa. Bagaimanapun aku harus keluar dari hutan ini. Walau pun aku suka dengan batu besar ini, tapi aku tidak bisa terus-terusan tinggal di sini.

Sebelum aku beranjak pergi, aku mendengar kasak-kusuk dari balik semak-semak. Suara tapak kaki manusia, aku hafal betul. Aku duduk di atas batu, dan keluarlah perempuan setengah telanjang membawa daging ayam yang baru saja dipanggang. Ia letakkan ayam dan segentong air di depan batu, lalu ia mendekap telapak tangan dan menaruhnya di depan dada. Aku tidak pernah melihat manusia berlaku seperti ini. Aku tetap duduk dan memperhatikannya. Tidak lama seorang laki-laki—yang juga setengah telanjang—datang dan menaruh dupa di samping makanan. Aku semakin asik melihat mereka. Mata mereka terpejam dan mulutnya merapal entah apa, mungkin doa, mungkin juga mantra. Aku semakin tertarik dan tetap duduk sampai mereka pergi. Sebelum pergi mereka sempat cekcok karena hal sepele.

Aku mengingat apa yang pernah kulihat sebelumnya, seperti melihat manusia memakai pakaian rapi dan pergi ke masjid. Mereka berlutut, bersujud, dan macam-macam lagi. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi nyatanya mereka tidak bisa diganggu. Sebab waktu aku menghampiri mereka dan menggoda salah manusia di barisan depan, mereka tetap melakukan gerakan itu sampai selesai. Mungkin itu bisa dibilang “berdoa”, seperti dua manusia barusan.

“Kenapa aku bisa melihatmu? Karena Tuhan membuka indera keenamku. Aku sudah biasa melihat makhluk sejenismu, tetapi dari sekian jin, cuman kamu jin yang lucu. Hahah.”

Humor Iran sangat kering. Aku memaksakan tawa agar ia tidak tersinggung. Aku sering mendengar humor Iran. Tidak ada satu pun humornya yang membuatku ngakak, tapi ia sangat suka ketawa. Ia selalu ceria dan tidak pernah memikirkan masalah yang sedang ia hadapi.

Satu hari di musim panas aku menemuinya. Ia sedang mengangkat kedua tangan dan membaca beberapa lafal doa, mungkin. Setelah selesai ia menoleh ke belakang. Ia tahu saja kehadiranku. Aku segera mendekatinya dan bertanya apa yang tadi ia lakukan, walau sudah sering melihat ia melakukan itu, tapi aku enggan bertanya. Ia kemudian menaruh tangannya di atas kepalaku dan berkata di dekat telinga.

“Berdoa,”

“Apa itu berdoa? Apakah itu mendapatkan makanan?”

“Bukan, teman. Berdoa seperti kita sedang mengobrol. Tapi kau perlu tahu bahwa berdoa bukan sembarang mengobrol. Berdoa wujud kita mengobrol pada Tuhan. Kau bisa berdoa dengan caramu.”

Sayangnya, aku tidak pernah diajarkan berdoa oleh orang tuaku di dunia jin. Aku bahkan tidak pernah mendengar mereka berdoa. Aku tidak tahu apakah aku boleh berdoa pada Tuhan atau mungkin sudah lambat untukku berdoa.

Apapun alasannya aku harus menemukan cara berdoa untukku. Segera mungkin aku pergi dari batu besar dan mencari manusia, jin, dan makhluk Tuhan yang lain.

Tidak jauh dari rumah kayu aku menemukan pohon meranti yang amat besar nan tinggi. Aku duduk di atas akar yang menonjol dari tanah. Selama beberapa detik angin bertiup dari arah selatan, menyebabkan bunyi gesekan ranting dan bunyi hewan kecil yang tinggal di pohon besar ini. Aku merasakan getaran pelan di akar yang kududuki. Mungkin ini adalah cara pohon meranti berdoa. Tidak salah lagi. Aku bisa merasakan getaran yang berbeda setiap satu menit, angin yang bertiup, bunyi hewan, ini seperti ratusan doa dari banyak makhluk yang hidup di hutan ini lalu bersatu di pohon meranti. Aku bisa merasakan hal itu, karena aku dapat melihat energi doa terpancar dari batang pohon meranti makin panjang dan membubung tinggi ke langit. Tiba-tiba langit tersibak seolah menyambut energi doa tersebut agar masuk. Aku memperhatikan awan seolah berhenti  dan burung yang terbang terdiam di langit.

Aku sadar telah menemukan sesuatu yang harus kubawa pulang. Pulang ke batu besar. Aku meninggalkan pohon meranti besar. Sebentar lagi aku akan berdoa pada Tuhan.

Di atas batu besar aku duduk menyilangkan kaki lalu mengikuti apa yang dilakukan Iran kemudian berdoa: Wahai Yang Maha Dengar aku berdoa untuk pertama kalinya, aku berdoa karena aku baru mengetahui cara berdoa, aku berdoa karena meminta petunjuk jalan pulang. Wahai Yang Maha Dengar, aku berdosa, sudah sepantasnya aku dihukum, jika hukumanmu adalah pengasinganku di sini, maka aku terima. Tapi aku pun tahu Kau adalah dzat yang Maha Pengampun, maka izinkanlah aku bertemu kembali dengan Iran. Ia manusia yang sangat baik dan selalu menyembunyikan masalah dariku. Aku ingin bersamanya…

Sebelum menyelesaikan doa aku membayangkan Iran di kamarnya. Tapi aku lupa dengan wajah Iran. Lalu aku melanjutkan doa. Langit gelap, tapi doaku terus berlanjut sampai pagi, sampai malam lagi. Aku tidak tahu sudah berapa hari aku berdoa. Kemudian sadar, aku tidak tahu cara mengakhiri doa.**

Jakasampurna, 06-04-2020


Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *