Cerpen

Caraphernelia

January 19, 2021

Cerpen Fina Lanahdiana dan Zahratul Wahdati

“Selamat pagi!”

Dave mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Tangannya menyentuh baju, wajah, serta tas jinjingnya seolah-olah sedang memastikan tidak ada yang kurang atau pun tertinggal. Dia tersenyum kepada seekor kucing berwarna abu-abu gelap bermotif seperti pusaran gelombang berwarna hitam di salah satu sisi tubuhnya. Bagian kiri. Sekilas hampir tak tampak pemandangan itu jika tidak diamati dalam jarak dekat dan selekat-lekatnya. Kucing itu sedang duduk begitu saja di taman kecil halaman rumahnya. Tampak malas meskipun ia berada di dekat kolam dengan hiasan batu-batu di bagian tepi, tempat bagi para ikan koi menyambungkan napas hidupnya. 

“Kau tidak boleh nakal ya, Joni!”

Dia mengatakan kalimat itu seperti sedang menasihati anaknya sendiri. Tentu saja Dave tahu, belum pernah ada kucing yang menolak diberi ikan-ikan.

Sesekali matanya memandangi arloji bundar yang melingkari lengannya, “Masih pukul 05.45.”

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Sekitar dua puluh menit selanjutnya, dia sudah sampai di peron. Menunggu kereta yang akan membawanya pergi ke sebuah tempat yang telah membawa lari hati dan pikirannya yang dipenuhi bayang-bayang. Tempat itu seolah seseorang yang mengulurkan tangan ketika Dave sedang jatuh-jatuhnya.

Di peron itu, dia hanya berdiri sendiri, tak ada penumpang lain yang menunggu. Tiba-tiba dia berpikir: Bagaimana jika ternyata kereta yang kau tunggu tidak akan membawamu kembali? Tetapi pikiran itu hanya selintas dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Itu hanya ada dalam dongeng, batinnya.

Tetapi ia begitu heran. “Apa yang sedang terjadi dengan kota ini?”

Dia tak pernah benar-benar yakin sebelumnya dengan apa-apa yang berjalan di atas bumi. Segalanya berjalan normal dan tak mesti diperdebatkan. Lalu lalang orang-orang, lalu lintas yang selalu dipenuhi suara klakson di garis-garis lampu merah, anak-anak berseragam bergegas pergi dan pulang sekolah, remaja tanggung yang memainkan gitar dari angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya, pedagang asongan, sepasang muda-mudi yang bertengkar di kafe-kafe ternama, dan hal-hal lain yang selama ini luput ia amati dengan serius.  Tiba-tiba saja kota ini teramat sunyi. Sunyi sekali.

Berkali-kali dia memastikan. Apakah ini mimpi? Tapi ini pasti bukan mimpi. Tidak ada satpam, petugas pemeriksa tiket, tidak ada suara yang memberikan informasi, bahkan tidak ada petugas yang mengatur jalannya kereta.

Dave mengamati tiketnya. Tiket berwarna kuning kecokelatan itu menjelaskan dia harus naik gerbong 5 dan duduk di bangku nomor 21 A.

Meskipun sebenarnya terlampau banyak pertanyaan yang melayang-layang di kepala, dia harus tetap bergegas untuk segera sampai ke kantornya, di sebuah gedung surat kabar lokal yang di dalamnya dia bekerja sebagai wartawan. Menjadi wartawan bukanlah cita-cita yang pernah dia harapkan. Tapi selanjutnya semesta begitu saja menariknya seperti dia tersedot begitu saja, sehingga pada akhirnya mau atau pun tidak mau, harus menyukainya. Dan mungkin memang bisa dikatakan dia telah mencintai pekerjaannya karena telah terlampau terbiasa.

Mulutnya menggumamkan 21 A berulang-ulang seperti sedang merapal mantra. Tak lama dia menemukan gerbong yang dicarinya dan dia segera duduk. Meskipun masih sambil memikirkan dugaan-dugaan kenapa kota ini seperti telah mati atau mungkin seluruh penduduknya telah berpindah tempat ke planet lain yang dipercaya sebagai pengganti bumi yang telah berusia sangat tua, rapuh, dan sakit-sakitan.

“Apakah kereta ini akan tetap berjalan bahkan jika tak ada penumpang-penumpang lain yang biasanya begitu berdesakan? Atau yang terjadi justru sebaliknya, bahwa dia harus menunggu dan menunggu dan menunggu, seperti yang terjadi dalam cerita Alan Lightman dalam wujud sebuah mimpi yang dialami Einstein,Di dalam dunia di mana waktu tidak bisa diukir, tak akan dijumpai jam, kalender, atau pun janji pertemuan yang pasti. Satu kegiatan didahului oleh kegiatan lain, bukan berdasar waktu …

Sepersekian detik selanjutnya, segalanya di luar kendali akal sehatnya. “Apakah ini hutan? Ataukah aku salah menumpang kereta?”

Sebagaimana sebuah mimpi yang cenderung acak dan absurd, pohon-pohon seolah tiba-tiba tumbuh dari bawah kereta. Seperti akar-akar yang bergerak cepat. Menempel di lantai, dinding-dinding hingga menyentuh atap kereta. Segalanya menjadi berwarna hijau. Warna yang sejuk. Seperti embun sisa pagi hari sebelum matahari memunculkan dirinya di awang-awang di atas bumi.

Lalu burung-burung bernyanyi, seperti siulan seorang lelaki yang sedang menggoda gadis yang membuatnya ingin tertarik. Jika hal ini terjadi di dalam hutan sungguhan ketika dia sedang mendaki, adalah hal yang menenangkan dan menyenangkan. Tapi, di sebuah kereta? Lantas dia kehilangan kata-kata apa pun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Kehilangan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya.

Ini rimba. Kereta ini berisi rimba. Suara hewan rimba menyamarkan deru roda kereta yang beradu cium dengan rel. Tapi walaupun terdengar samar, Dave tahu kereta ini sudah mulai bergerak.

Meninggalkan peron. Menjauhkannya dari Joni dan ikan koi yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, dan semua hal yang biasa dia sapa setiap hari.

Dave mengucek lagi matanya, tapi rimba di kereta itu malah makin lebat. Ditatap tiketnya, tulisan di tiket sudah berubah, entah sejak kapan, tujuannya bukan ke kota tempat kantornya ada. Tetapi sebuah kota yang tidak ada di jalur kereta. Kota itu bernama Mayapada.

Dia melongok ke belakang dan ke depan, ke barisan kursi kosong di depannya, yang tertutupi semua dengan akar dan daun.

Rasa penasarannya tak kunjung habis. Dia memutuskan untuk berjalan sepanjang gerbong. Beberapa kali terdengar bunyi kriuk ranting patah. Ini bukan lagi sesuatu yang bisa dianggapnya sebuah candaan. Ingin rasanya berteriak, lalu menampar pipi kanan dan kirinya, mencubit lengannya berkali-kali hingga lebam. Segalanya tampak terlalu nyata.

 Suara burung-burung semakin nyaring dan dia tetap tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Hutan itu meluas, lapang, seperti bukan di dalam sebuah kereta. Pengamatannya tidak ingin sekali pun berpaling, dan segalanya tetap berjalan melampaui apa-apa yang sanggup ditampungnya. Juga langit-langit yang membentuk jalan-jalan kecil dari bayangan pohon-pohon yang menjulang. Batas itu kian tak ada. Baik dinding atau atap kereta, segalanya kini lenyap.

Dia ingat sesuatu di kantongnya. Sebuah ponsel. Tangannya meraih dengan susah payah sebab tangannya sedikit bergetar. Ia tak ingat harus menghubungi siapa, tetapi kemudian yang pertama kali muncul adalah ingatan tentang atasannya.

Panggilan itu terhubung dan dia demikian penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Kira-kira, akan seperti apa reaksi atasannya?

“Halo?”

Terdengar suara dari seberang.

“Aku … Maaf …”

Dave kehilangan kata-kata.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku tersesat …”

Dia mendengus kesal dan begitu mengharap pertolongan.

“Tersesat apa? Kau sedang mengajakku bercanda? Setiap hari kau pergi bekerja dan tak pernah ada masalah lalu tiba-tiba kau bilang dirimu tersesat? Konyol sekali, Dave. Jika kau sedang sakit, kau hanya perlu mengatakannya. Tak perlu mengarang cerita fiktif.”

“Tidak. Aku benar-benar tersesat.”

Lalu sambungan suara itu terputus dengan sendirinya.

Dave mengumpat. Mencoba menelepon atasannya kembali tetapi tidak terhubung. Sinyal penuh. Baterai masih empat garis. Pulsa masih tersisa 119 ribu. Mungkin ponsel atasannya mati. Jadi dia mencoba menelepon teman kantornya yang lain. Terhubung. Ahura.

“Halo, aku tersesat. Mungkin aku salah naik kereta. Tolong bilang ke atasan bahwa aku akan sangat terlambat. Dan kau harus tahu, di sini segalanya menjadi tak masuk akal, tidak ada orang sama sekali. Sunyi.”

“Dave, kau tahu kerjaanku banyak. Jangan main-main.”

“Sumpah! Kau dengar suara burung, kan? kereta yang kunaiki isinya rimba raya dan tak seorang pun bisa aku ajak bicara …”

“Gila, kau!”

Lalu sambungan suara itu terputus, kali ini Dave yakin, teman kantornya ini yang menekan gagang telepon warna merah.

Drrrttt … drrrttt … Suara itu membuat Dave terpelanting ke belakang. Suara rem. Kereta berhenti. Saat ia berusaha keras untuk beranjak dari duduknya, pemandangan itu lenyap dari hadapannya, hutan itu dengan pohon-pohon yang menaunginya. Seperti amblas. Pohon-pohon itu bergerak kembali masuk ke tanah.

“Apa lagi ini? Aku hampir saja dibuat gila.”

Dia ingin keluar, tapi pintu kereta tidak terbuka. Di luar tampak stasiun kecil, tempat singgah sementara, ada seorang nenek duduk memandang ke arah kereta.

Mata nenek itu mirip senja, indah namun sebentar lagi tenggelam dan lenyap. Begitu yang dirasakan Dave. Dave mengamati nenek itu, berteriak pun tidak akan dengar, tidak mungkin juga seorang nenek membantunya keluar dari kereta ini. Tiba-tiba ingatannya memilih sebuah perasaan terluka dan memasangnya ke dalam kepalanya. Seperti seorang perempuan yang sedang mengepas baju di depan cermin.

Kereta bergerak kembali. Hutan itu tumbuh kembali dari lantai gerbong, semakin lebat, dan hanya ada ruang kosong tempat bisa dia duduki, tempat duduknya. Beruntung tak satu pun tanaman-tanaman itu mencekik lehernya. Meskipun tanpa dicekik juga dia sudah kesulitan mengatur napas.

Dave mengingat nenek itu. Nenek itu pernah berada di dalam pelukannya, dan 14 hari kemudian, nenek itu berubah jadi senja yang tenggelam.

Hutan di dalam kereta itu makin lebat, lampu-lampu kereta tertutup, hingga gerbong itu gelap.

Dia mendengar namanya dipanggil, “Dave! Dave!”

Suara itu dari luar kereta. Suara neneknya. Dia coba berlari ke arah kaca jendela, memandang ke belakang, pohon-pohon di tepi rel seperti sedang berlari memunggungi kereta yang ditumpanginya. Namun seperti sebelum keretanya berhenti di stasiun kecil, pemandangan yang semula dialaminya kembali terjadi. Dia kurang suka situasi ini, karena itu membuat kepalanya berisik sekali.

Selain neneknya, perlahan tapi pasti, pemandangan itu kian nyata. Zora, Qui, Dante, Globe, Alofe, Koa, itu adalah sebagian teman-temannya dari masa yang jauh. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka harus bertemu dalam situasi yang tidak tepat ini. Kilasan-kilasan peristiwa merambat seperti kaki laba-laba yang tengah membangun rumah jaringnya. Sedangkan dia adalah mangsa yang kelak terjebak di antaranya.

Situasi yang seolah-olah sengaja menjebaknya. Dia terduduk sambil berusaha keras mengatur ritme napasnya. Sekali lagi, dia mengingat ponsel di kantongnya. Kali ini ia benar-benar merasa butuh bantuan.

Jari-jarinya lincah menekan angka. Tapi tak satu pun bisa dia hubungi. Dipandanginya layar kotak yang sensitif terhadap sentuhan itu, segalanya telah lenyap dari sana. Tak ada tanda-tanda ponselnya terhubung dengan jaringan apa pun. Dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi menjadi seorang lelaki tak mengizinkannya untuk mudah menangis. Tidak satu pun bisa dia lakukan, kecuali bahwa dia hanya mampu berbicara kepada dirinya sendiri.***

Kendal-Pemalang, Maret 2020


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Zahratul Wahdati, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Randudongkal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *