Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kalimenghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yangtak kunjung lenyap darilorong-lorong kenanganku.

Continue Reading...

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu.

Continue Reading...

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Continue Reading...

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

Continue Reading...

Cerpen

Pangeran Katak

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Continue Reading...

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa.

Continue Reading...

Cerpen

Kunang-Kunang di Mata Julian

Pemuda itu berdiri di bawah pohon kemboja di samping gereja. Ia menatap kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar. Julian, demikian namanya. Namun teman-temannya lebih sering memanggil namanya tanpa huruf N. Julia. Ia tak kuasa berontak saat mereka mengejek dirinya dengan nama itu.

Continue Reading...

Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Continue Reading...

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu.

Continue Reading...