Cerpen

Perawan Rumah Suci

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

Continue Reading...

Cerpen

Kereta Tak Lekang Waktu

Kali ini bukan sawah yang menggugah nyawa, melainkan sebanyak dua puluhan orang berderet menyamping, mengangkat sebilah kertas yang besar. Cukup besar hingga tulisannya mampu tertangkap mata, hanya saja guncangan kereta membuatku sulit berfokus pada tulisan yang tertera. Aku bertatap mata dengan salah satu bocah berumur lima tahunan. Tatapannya menghunus hati, ekspresinya kosong, membuatku sulit menangkap dan menduga-duga deretan kata yang menghiasi kertas tersebut.

Continue Reading...

Cerpen

46 Miliar Tahun Cahaya

“Jarak. Ternyata jarak bisa demikian kejam, jarak bisa membuatku kehilangan banyak hal, jarak nyaris membuat aku kehilanganmu,” jawabku, dengan air mata yang nyaris luruh. Aku merasa puluhan taut rantai terikat di dadaku. Sesak. Aku tersedak, pada detik berikutnya ia berganti menjadi isak.

Continue Reading...

Cerpen

Sekuncup Bunga dalam Luka

Puspalita membelalakkan mata sejenak. Sedetik kemudian bergema tawanya pada daun telinga saya. Ia terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jidatnya. Saya melongo keheranan. Mungkinkah ia telah mendengar hal yang sama dari ribuan lelaki?

Continue Reading...

Cerpen

Kenangan Pohon Srikaya

Kisah Ibu semasa gadis dulu tak pernah dilupakan Dewanti. Ibu memetiki buah-buah srikaya di kebun usai subuh dan menjualnya ke pasar, sebelum berangkat sekolah. Buah-buah srikaya itu ditanam Nenek, yang kata Ibu, meninggal dunia ketika Ibu berumur sepuluh tahun. Semasa hidup Nenek, mengajarkan pada Ibu agar merawat pohon-pohon srikaya, memetiki buah-buahnya yang ranum, dan menjualnya ke pasar. Dengan menjual buah-buah srikaya, Ibu tak perlu mengutuki Kakek, yang tak pernah memberi uang untuk keperluan sekolah.

Continue Reading...

Cerpen

Kepiting Merah

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

Continue Reading...

Cerpen

Kepadanyalah Peluru Ini akan Bersarang

Rencananya ini sebenarnya sudah ia perhitungkan matang-matang. Ia akan mengendap masuk ke kamar si perempuan dan menyelinap ke dalam lemari pakaian. Sesuai info yang didengarnya, si perempuan itu akan datang pukul empat sore dengan si lelaki besertanya. Kemudian mereka akan menuju kamar setelah lima belas menit basa-basi di ruang depan. Waktu itu, ia sudah harus menyembunyikan dirinya di antara gantungan pakaian dan mencari posisi yang pas untuk membuat lubang guna mengintip.

Continue Reading...

Cerpen

Gadis Kecil dan Dendam yang Menunggu

Paul menggeleng, “Dia memang membenciku, tapi tak sampai ingin membunuhku.”
Saat kami sedang berbincang, di ambang pintu, Sergio tiba-tiba muncul. Dia menenteng secarik surat kabar yang digulung. “Apa lagi bualanmu hari ini? Kudengar dari luar, kau menyebut-nyebut namaku,” tanyanya sambil memukul-mukulkan gulungan koran ke telapak tangan.

Continue Reading...