Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Continue Reading...

Cerpen

Yin dan Yang

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

Continue Reading...

Cerpen

Kabar dari Jauh

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Continue Reading...

Cerpen

Caraphernelia

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Continue Reading...

Cerpen

Balada Rindu

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus. Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Continue Reading...

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Continue Reading...

Cerpen

Suara Karenina

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

Continue Reading...

Cerpen

Percakapan Dua Ikan

Mendengarmu mengajak aku foto bersama. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saking senangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari kedai dan memotretmu. Bahkan ketika ponselku berdering aku sampai tidak dengar. Padahal itu telepon penting dari seorang teman. Ah, perasaan suka kadang benar-benar membuat orang-orang kehilangan daya fokusnya.

Continue Reading...

Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

Memenuhi permintaan suaminya, perkutut itu ditangkap Laksmita dan dimasukkan ke dalam sangkar. Perkutut itu sangat jinak, berada di sangkar tanpa merasa asing. Mematuk jewawut dan ketan hitam, minum sesekali. Broto memang mempunyai pekerjaan baru, merawat perkutut itu tiap pagi. Membersihkan sangkar. Mengganti jewawut dan ketan hitam. Mengganti air yang keruh dan mengering. Ia tak pernah menggerutu. Ia sadar, perkutut itu telah lama hadir dalam mimpi dan kehidupan Laksmita, istrinya.

Continue Reading...

Cerpen

Lelaki yang Berjalan Bersisian

Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku, hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.

Continue Reading...