Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian.

Continue Reading...

Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Continue Reading...

Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Continue Reading...

Cerpen

Kami Harus Pulang ke Rumah

Jep adalah salah satu teman yang dapat kupercaya, maka aku berinisiaif mengajaknya bersama Med untuk melihat rumah Bik Merian, tempat yang sebetulnya terlarang untuk kami kunjungi. Ben kerap menceritakan tentang kebiasaan mengerikan Bik Merian.

Continue Reading...

Cerpen

Ingatan Pohon Pisang

Setelah berkali-kali aku membaca catatan harian ibu. Masih saja belum kutemukan catatan di mana aku lahir dan siapa yang memberiku nama. Sungguh itu hal yang sulit. Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas rumah dari ibu guru? Pada siapa aku harus bertanya? Aku tak punya ibu, aku pula tak punya ayah.

Continue Reading...

Cerpen

Sebuah Arloji dan Kenangan di Dalamnya

Baru kali ini seorang laki-laki datang dengan permintaan aneh. Bagi tukang reparasi sepertiku, hanya sedikit peristiwa tak masuk akal pernah menyasar. Ingin kutolak andai sorot mata laki-laki dihadapanku itu tak lebih dulu mencegah. Tetapi bagaimana mungkin mengabulkan permintaan musykilnya, memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?

Continue Reading...

Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut.

Continue Reading...

Cerpen

Aleana

“Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Continue Reading...