Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Continue Reading...

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu.

Continue Reading...

Cerpen

Granky

Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam. Zain tidak pernah suka pada cara kucing tersebut bersikap. Ia membalas tatapan tajam kucing itu dengan tatapan tak kalah tajam, seolah-olah sepasang pedang mencuat dari mata mereka dan beradu di udara.

Continue Reading...

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Continue Reading...

Cerpen

Puisi di Dada Temanku

Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita itu, melainkan puisinya. Puisi itu ditulis di dada temanku oleh kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun.

Continue Reading...

Cerpen

Penderitaan

Sekawanan hyena mengepung seekor zebra. Herbivora malang itu terpisah dari kawanannya, setelah ia berlari dan terus berlari menghindari kejaran seekor hyena yang kini dilihatnya tengah bersiap-siap menyergapnya—bersama hyena-hyena lainnya. Tak ada mukjizat, tentu.

Continue Reading...

Cerpen

Sebuah Usaha Menulis Cerita

Tulisanmu buruk, tidak bisa kami muat, begitu balasan email Sudaryono, seorang editor koran lokal. Alina Karina membaca berkali-kali tulisan yang tertera di layar laptopnya sampai matanya terasa pedih, tapi tulisan itu tidak berubah. Ini penolakan yang keempat puluh empat, mungkin, karena Alina Karina malas menghitung. Ia hanya mengira-ngira. Dari dulu ia malas berhitung, kecuali menyangkut uang.

Continue Reading...

Cerpen

Taman Dasar Kali

Apa yang dicari seorang perempuan, lepas tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah dipadamkan?

Continue Reading...

Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian.

Continue Reading...