Cerpen

Ia Tak Ingin Dicintai

“Sebaiknya engkau pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen mungilnya.

Continue Reading...

Cerpen

Kisah Cinta Abalawa dan Pohon-Pohon

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Continue Reading...

Cerpen

Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan

Cerpen Tjak S. Parlan Ketika hendak menghunjamkan pisau untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya beres. Kecuali kamu mau mampus!’ Fahmi Idris telanjur mengangkat tangannya—dan pisau ituteracung gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api […]

Continue Reading...

Cerpen

Rindu yang Membuatku Mati

Kini aku merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku telah menjadi kanker ganas yang siap melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu. Baiklah, akan kupejamkan mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku telah berada di tempat yang sama denganmu.

Continue Reading...

Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Continue Reading...

Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kalimenghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yangtak kunjung lenyap darilorong-lorong kenanganku.

Continue Reading...

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu.

Continue Reading...

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Continue Reading...

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

Continue Reading...