Cerpen

Suara di Tengah Malam

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

Continue Reading...

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Continue Reading...

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Continue Reading...

Cerpen

Gasing Tengkorak

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Continue Reading...

Cerpen

Kari

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Continue Reading...

Cerpen

Lelaki yang Memilih Jalan Memutar

Beberapa hari terakhir ini, ia suka mengitari gedung kesenian. Ia berjalan sendirian di sepanjang trotoar. Ia akan menempuh jalan memutar untuk kembali lagi ke titik yang sama. Wajahnya selalu tampak serius seakan begitu banyak beban ditimpakan begitu saja di pundaknya dan ia tak punya kuasa untuk menolak. Lelaki itu berjalan, menatap lurus ke depan. Tubuhnya yang jangkung dengan kedua pundak yang berayun-ayun secara perlahan menghilang kemudian di belokan yang menghubungkan jalan lain menuju arah trotoar di belakang gedung.

Continue Reading...

Cerpen

Suatu Hari, Aku Ingin Piknik

Ibu bilang, aku hanya mengingatkannya pada seorang lelaki kurang ajar yang meninggalkan ibu setelah tahu hubungan gelapnya membenihkan janin. Ibu memang tak pernah memarahiku tapi juga tidak mencintaiku seperti ia mencintai Namira. Ibu selalu diam di depanku tapi banyak bicara jika di depan Namira.

Continue Reading...

Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadhan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

Continue Reading...

Cerpen

Tiga Episode Ingatan

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

Continue Reading...