Buku Resensi

Celeng dan Cairnya Kedirian Manusia

February 19, 2020

Oleh Muthia Sayekti

Tokoh Sirius Black pernah menasihati keponakan baptisnya, Harry Potter, bahwa dalam setiap diri manusia sejatinya terdapat kebaikan dan keburukan. Keduanya saling bergandengan dan tidak terpisah. Ingin menjadi seperti apa manusia itu sendiri tergantung pada pilihan dari masing-masing manusianya. Nasihat itu muncul dalam sebuah adegan di serial film Harry Potter yang ke-5 berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007). Black menyampaikan petuah tersebut ketika Harry merasa gelisah karena dirinya memiliki ikatan jiwa dengan Voldemort, penyihir jahat kelas kakap yang menjadi tokoh utama antagonis dalam serial film ini. Harry khawatir ia bisa menjadi sama jahatnya dengan Voldemort. Oleh sebab itu, sebagai orangtua, Sirius Black mencoba untuk menenangkan keponakannya bahwa ia sangat bisa menjadi penyihir yang baik meskipun jiwanya terikat dengan Voldemort.

Dari kutipan adegan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa menjadi baik atau buruk sebagai manusia, merupakan otoritas diri masing-masing individu. Manusia digambarkan sebagai subjek yang otonom untuk bisa memutuskan karakter mana yang ingin ia tonjolkan sebagai manusia.

Berbeda dengan narasi tersebut, tokoh Joker ternyata tak bisa sama otonomnya seperti tokoh Harry Potter. Dalam film Joker (2019) nampak bahwa menjadi jahat tidak murni atas keputusannya sendiri. Pada adegan-adegan tertentu, Joker justru bisa dikatakan sebagai anak lelaki yang berbakti pada ibunya, pekerja keras, dan penyayang. Ia dikisahkan menjadi psikopat sebagai bentuk respon atas ketidakadilan hidup yang bertubi-tubi menimpanya.

Dengan demikian, kita bisa membandingkan bahwa karakter seseorang tidak serta merta muncul atas otoritas diri. Ada faktor di luar tubuh manusia yang turut mengintervensi bagaimana karakter seseorang itu terbentuk.

Gambar1: Cover Buku Menyusu Celeng. Sumber: ebooks.gramedia.com  

Dalam buku Menyusu Celeng (2019) karya Sindhunata, karakter manusia dikisahkan secara metafor serupa hewan celeng. Di sini, Sindhunata mencoba untuk menceritakan kisah pelukis Djokopekik yang dikenal dengan lukisannya berjudul Berburu Celeng. Secara stereotip, celeng sering merujuk pada hewan yang rakus, beringas, dan penuh hasrat akan kuasa. Pun sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa celeng merupakan hewan yang sering digunakan dalam praktik pesugihan; babi ngepet. Di sini, Sindhunata ingin membalik persepsi bahwa pesugihan celeng ini justru menjadi penyelamat masyarakat miskin yang tak mampu memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan demikian, celeng tidak hanya binatang yang buruk tetapi juga memiliki sifat penolong, sifat kemuliaan.

Dengan gaya seperti sedang bercermin dalam konsep psikoanalisis Jacques Lacan, Sindhunata menceritakan pelukis sedang melakukan proses (mis)rekognisi ketika berbincang dengan wayang celengnya (hlm. 85). Semakin si pelukis menghina dan mengumpat pada wayang celengnya, kata hinaan dan umpatan itu justru membuat si pelukis melakukan proses refleksi diri. Pelukis merasa bahwa dirinya juga tak lebih baik, bahkan sama buruknya dengan sifat-sifat yang dimiliki celeng. Hingga akhirnya ia sampai pada titik perenungan bahwa yang memiliki sifat seperti celeng tidak hanya ia (pelukis) seorang, tetapi sebagian besar manusia zaman ini. Zaman yang mana ia sebut sebagai Zaman Kalabendu.

Titik puncak perenungan si pelukis ditandai pada situasi adegan di mana si pelukis melepaskan segala dendamnya pada si celeng dengan mandi di Tuk Celeng, tempat yang dipercaya sebagai Mata Air Celeng yang bisa memurnikan jiwa, menghapus kesedihan, dan menyembuhkan segala penyakit (hlm. 114). Pelukis merasa lelah ketika lukisannya tentang celeng justru membuat banyak keonaran baru. Ia merasa bahwa lukisan itu dilahirkan dari rasa dendamnya pada penguasa yang dianggapnya seperti celeng, bukan untuk misi kebaikan membasmi sifat-sifat buruk dari celeng itu sendiri. Kekuatan dendam itulah yang dianggapnya melahirkan banyak ketidakbaikan. Toh pada dasarnya ia sendiri sadar bahwa ia juga tak lebih baik dari celeng yang ia dendami.

Siapa yang menyembunyikan celengnya dalam kebaikan-kebaikan dan kepahlawan-pahlawanannya akhirnya akan ketahuan juga, bahwa dirinya adalah celeng, seperti yang kini terjadi pada diri saya (hlm. 139).

Sindhunata di sini terlihat mengajak para pembacanya untuk ikut merenung bahwa diri setiap individu juga memiliki sifat keburukan. Tak satu juga manusia pantas untuk merasa (paling) suci, baik, heroik. Namun dalam buku ini, Sindhunata mencoba untuk meleburkan sekat bahwa karakter seseorang tidak murni dibentuk secara otonom oleh manusia itu sendiri, seperti nasihat Sirius Black. Tidak pula manusia hanya bisa menjadi pecundang terhadap ketidakadilan hidup. Setiap manusia tidak senantiasa kalah dengan keadaan yang tidak baik lalu tidak bisa melawan, seperti yang dialami Joker.

Kisah sang pelukis dalam buku Menyusu Celeng ini dinarasikan seimbang. Bahwa kebaikan dan keburukan dalam diri manusia bisa muncul secara otonom dari dalam diri mereka, sekaligus bentuk reaksi terhadap keadaan yang ada di luar diri mereka. Dalam membentuk kedirian itu sendiri, tidak ada yang bersifat absolut dan mutlak. Karakter manusia selalu cair dan dinamis. Si pelukis sendiri dulunya dikenal sebagai seniman yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosialis. Namun ketika lukisannya semakin laris, ia pun tidak menafiki dirinya untuk berlagak seperti para borjuis.

Hanya celeng yang bisa hidup secara “kanan”, sambil terus melirik “ke kiri”. Artinya, siapa yang tidak ingin hidup enak dan menikmati hidup seperti seorang borjuis? Namun supaya kelihatan sexy – istilah zaman sekarang – apalagi sebagai seniman, apa salahnya orang berpandangan kekiri-kirian seperti orang sosialis? (hlm. 152).

Manusia memang akan selalu hidup dalam proses untuk menjadi (process of becoming). Tidak ada yang terus-terusan bisa menjadi pahlawan, pun tidak ada yang bisa senantiasa menjadi pecundang.


Muthia Sayekti, penulis lepas, Alumni Kajian Budaya dan Media UGM. Bisa disapa di Muthia Sayekti (Facebook), @mutiasayekti (Instagram), @MuthiaSayekti (Twitter)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *