Cerpen

Cerita tentang Danto

May 5, 2020

Cerpen Elmina G.

Ketika Danto ditinggalkan secara keji oleh Erina, ia teringat masa kecilnya yang serba terbatas. Ibunya punya segudang larangan dan ayahnya jarang ia lihat. Kedua orang tuanya sangat sibuk. Ibunya, wanita pemarah yang mempunyai sekian batasan dan aturan untuk Danto patuhi. Danto kecil tidak boleh berada di luar rumah melebihi jam lima sore. Ia tidak boleh memanjat pohon seperti teman-teman sebayanya. Ia tidak boleh berenang di sungai karena ibunya khawatir anak itu tenggelam dan dimakan buaya. Dan saat anak-anak seusianya berlari-larian dengan riang gembira, ibunya juga mewanti-wantinya untuk tidak melakukan itu. Seorang anak kecil tak boleh bergerak sembarangan, ia harus berhati-hati, karena banyak hal bisa mencelakakannya sewaktu-waktu. Demikian ibunya berpetuah. Danto tidak punya pilihan lain. Ia harus mematuhinya, meskipun hatinya meledak-ledak hendak memprotes semua kekangan ibunya.

Saat Danto berusia tujuh belas tahun, ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan sepulang dari menjenguk nenek yang mengalami stroke. Nenek sudah sakit selama bertahun-tahun dan wanita tua itu masih hidup sampai sekarang. Sedangkan ibunya yang kelihatan seperti wanita paling sehat yang pernah ada justru mati lebih cepat daripada dugaan siapa pun. Prosesi pemakaman ibunya begitu khidmat dan mengharukan. Banyak orang menangis di sekeliling makamnya. Orang-orang menabur bunga dan berdoa dengan muka sembab. Namun, tidak ada kesedihan yang abadi. Kesedihan mereka pelan-pelan menyurut. Danto adalah orang yang paling cepat hilang kesedihannya.

Ayahnya semakin sibuk dan jarang di rumah. Ia mengurusi soal bisnis, kunjungan ke berbagai kota, dan tetek bengek lain yang Danto tak mengerti dan tak mau mengerti. Ia tak merasa perlu untuk mengetahui persoalan ayahnya sebagaimana ayahnya tampak juga tak menghiraukan soal dirinya. Ayahnya hanya mementingkan urusannya sendiri. Ia tidak pernah menganggap Danto sebagai anaknya, sebagai sosok individu yang membutuhkan seorang ayah bukan hanya eksistensi dan uangnya, tapi juga perhatian dan waktunya. Tapi Danto tak lagi menganggap itu hal penting. Ibu sudah tak ada dan ia bisa melakukan apa pun yang ia mau sebebas-bebasnya. Berbeda dengan ibu, ayahnya cenderung tak hirau terhadap apa yang ia lakukan.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Percakapan itu adalah pintu bagi Danto memasuki labirin kisah percintaan. Sejak itu ia tahu bahwa tak semua wanita semenyebalkan ibunya. Perempuan pertama yang dikencaninya adalah Saliza. Mereka berjumpa di kafe berbeda setiap pekannya. Mereka saling mengungkapkan kata-kata cinta dan janji-janji manis. Pada waktu itu, segala hal seakan berlangsung selamanya. Mereka berciuman, berpelukan, dan tidur dalam seranjang. Semua itu mereka lakukan dalam kurun waktu tak lebih dari dua bulan. Di bawah kuasa syahwat, segala hal bisa berlangsung cepat. Pikiran dan perasaan tak dipersilakan menunggu lama-lama di suatu ruang kalau syahwat sudah berdiri tegak di sana.

Nyatanya tidak ada yang abadi. Sebahagia apa pun sebuah kisah, ia pasti memiliki akhir. Danto dan Saliza menjalin kisah cinta selama satu tahun kurang sebelas hari, cukup lama untuk ukuran sepasang remaja belasan tahun. Pada malam itu, Sabtu malam yang berawan dan mendung, Danto menampar Saliza. Ia pernah melihat ayahnya menampar ibunya sewaktu ia kecil lantas ia menirunya bertahun-tahun berselang. Itu tamparan pertamanya untuk perempuan. Dan tentu bukan yang terakhir.

Tiga hari sebelum tamparan itu sekaligus sebelum Saliza meninggalkannya tanpa sepotong pun permintaan maaf, Danto melihat gadis itu berduaan dengan lelaki asing. Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Yang ia tahu lelaki itu mencium pipi Saliza seakan-akan orang itu adalah dirinya. Ia merasa peristiwa itu, kepasrahan Saliza terhadap lelaki asing berengsek itu, menjelaskan semuanya. Itu patah hati pertamanya. Dan jelas bukan yang terakhir.

Beberapa minggu setelahnya Danto berpacaran dengan Lianti.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Isi percakapan yang sama. Sebuah permulaan kisah cinta yang klise. Sialnya, isi kisah cinta Danto bersama Lianti pun tak jauh berbeda dengan kisahnya saat berhubungan dengan Saliza. Bedanya, kali ini bukan Lianti yang berkhianat dan menghancurleburkan semua ungkapan cinta dan janji manis yang pernah ada di antara mereka, tetapi Danto. Danto mengencani perempuan lain saat Lianti tak di hadapannya. Bukan hanya satu perempuan selingkuhan yang ia kencani, tapi lebih dari itu. Ia mengencani Rani, Sania, Delima, dan banyak perempuan lain.

Danto menjelma menjadi seorang petualang. Petualang cinta yang menyedihkan. Di sela-sela itu, ia menebus keterbatasan masa kecilnya dengan melakukan hal-hal yang dulu ibunya larang. Ia memanjat pohon-pohon tinggi, berenang sepuas-puasnya, berada di luar rumah sampai larut malam. Ia tak pernah mendoakan ibunya. Lebih dari itu, ia tak mau mengingat lagi ibunya. Semua ingatan tentang ibunya hanya membuat pikirannya kembali terkenang pada suatu masa ketika hidupnya seperti berada dalam penjara.

Sementara itu, ayahnya tak pernah lagi dilihatnya. Kabar berembus bahwa ayahnya menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Danto dan ia tinggal di kota lain bersama wanita itu. Mendengar kabar itu, Danto kesal. Ia merasa dicampakkan. Tapi, itu hanya perasaan sesaat. Bukan pertama kalinya ia merasakan hal semacam itu. Kenapa pula ia harus memikirkannya.

Sejak pernikahan ayahnya, Danto tinggal sendirian di rumahnya yang besar, megah, tapi lengang. Tidak betul-betul sendirian. Beberapa pembantu dan penjaga kebun juga tinggal bersamanya di rumah itu. Ia jarang di rumah. Kebesaran dan kemegahan rumah tak membuatnya betah menghuninya. Ia lebih banyak berkeliaran di luar rumah seperti burung-burung malam. Ia mengunjungi bar demi bar, kasino demi kasino, kesedihan demi kesedihan.

Ia sudah lama ditinggalkan Lianti. Tapi apa pedulinya. Ia memiliki banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan yang bisa diajaknya untuk melakukan apa saja, kecuali membangun kisah cinta yang serius. Selama bertahun-tahun, ia senang melakukan hubungan-hubungan singkat bersama bermacam perempuan. Itu membuatnya tak harus terbebani janji setia, impian masa depan, pedihnya ditinggalkan, dan omong kosong lainnya yang lazimnya ada dalam sebuah kisah cinta.

Namun, tidak ada hal yang abadi dan manusia adalah makhluk yang gampang bosan. Suatu malam, saat ia tinggal seorang diri di dalam bar, ia memandangi langit melalui jendela. Ia melihat sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya. Ia melihat pemandangan itu berjam-jam sampai malam berganti pagi dan rembulan serta gemintang itu lenyap dari pandangannya. Danto lalu pulang dan memutuskan untuk menghentikan petualangannya bersama perempuan-perempuan yang ia dekati tanpa ia cintai.

Ia mengurung diri di kamar berhari-hari. Waktu itu usianya menjelang dua puluh empat. Usia yang ia sadari cukup matang untuk memikirkan apa pun yang ada di dunia secara lebih serius. Namun, di dalam kamar itu ia tidak memikirkan tentang apa pun yang ada di dunia. Ia hanya memikirkan tentang dirinya. Semata dirinya. Tidak ada pikiran soal ibu, ayah, ataupun teman-temannya. Pada hari terakhir permenungannya, ia membuka jendela kamar dan kembali melihat pemandangan serupa yang dilihatnya berhari-hari silam di bar. Sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya.

Pagi harinya, Danto keluar dari rumah sebagai lelaki yang teratur. Ia berpakaian rapi, tersenyum ramah kepada orang-orang, dan menghargai perempuan. Ia bekerja mengurus salah satu lini bisnis ayahnya. Ia tidak menyukai ayahnya, tapi ia menyukai pekerjaan itu. Semuanya berlangsung biasa belaka sampai suatu hari seorang pegawai datang ke ruangannya untuk menyerahkan sebuah dokumen. Pegawai itu adalah seorang perempuan berambut panjang yang cantik. Tidak memerlukan penjelasan panjang-lebar untuk menggambarkan kecantikan yang murni. Pegawai itu bernama Erina dan Danto jatuh cinta kepadanya.

Bertahun-tahun ia menjalani kisah cinta yang manis bersama Erina. Mereka rutin makan malam bersama, melakukan perjalanan yang menyenangkan ke kota-kota eksotis, membeli barang-barang apa pun yang mereka kehendaki, dan bercinta sepuas hati di hotel-hotel berbintang.

Segalanya baik-baik saja sampai Danto mengulangi sebuah pernyataan—yang sekilas terlihat manis—yang membuat apa yang baik-baik saja menjadi luluh lantak.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

Danto dan Erina resmi berpacaran beberapa tahun lalu tanpa perlu mengatakan hal semacam itu. Danto mengatakan itu semata-mata karena ia tidak bisa menahannya.

“Tentu, Danto.”

Erina menjawabnya semata-mata karena ia merasa sebuah pertanyaan harus dijawab.

Seminggu kemudian Erina pergi meninggalkannya. Erina keluar dari tempat kerjanya dan menikah dengan seorang lelaki asing dan tinggal di kota yang jauh dari rumah Danto.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Erina memutuskan telepon. Setelah menutup telepon, Danto teringat masa kecilnya yang serba terbatas dan ia teringat kepada ibunya dan ia berdoa ibunya bisa hidup kembali agar ia bisa kembali masuk ke dalam rahim ibunya. (*)

TS, 5 Desember 2019


Elmina G. Lahir tahun 1999 di Berastagi, Sumatera Utara. Suka menulis cerpen. Kini bermukim di Bandung. Kesibukannya saat ini adalah berkuliah dan menonton drama Korea. Bisa dihubungi melalui email: sukabukubagus@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *