Cerpen

Cinta Dalam Bus Antar Provinsi

May 28, 2019

Cerpen Jeli Manalu

Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat, belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke pori-pori tanah yang di sananya akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari sebelum kejadian itu ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa menduganya, tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia sedang memohon.

“Sudah ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual tiket kau lihat mencari-cari di catatannya.

“Bagaimana dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk memastikan namun wanita calon penumpang memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal nomor dua puluh dan selanjutnya.”

“Sudah kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya saat itu juga. Sembari memikirkan entah apa ia melihat ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai. Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas terlebih dahulu.

“Beli saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju. Setelah itu ia dan kau sudah berada dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku nomor tiga lalu tanpa permisi ke pengemudi kau segera saja pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata: meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta ….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan sesuatu yang sudah terlalu mendesak. Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik. Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya ke kantong plastik dan kau sempat mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya. “Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki yang telah membuat seorang kenalan baru menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh kepalanya bertumpu di bahumu, kau jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai. Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat saat mengganti popok bayimu di usia dua bulan. Peleburan tertinggi dari seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu, meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan sebaris doa kepada denyutan itu: aku mencintaimu. Mencintaimu sejak pertama dan selamanya. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia ingat sudah pernah suara yang begitu terjadi: tadi, ketika Bus Antar Provinsi mogok dan ada yang diperbaiki di bagian mesinnya padahal bus itu bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak masuk akal kurang sehat begitu. Remnya putus, teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru saja diservis. Diganti catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya dan lain-lain. Intinya bus itu habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan napas berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak mampu menjinakkan kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan dua putramu kembali menyetani dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku takut, Ara. Aku takut,” pekik wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu dua kali lipat kekuatannya. Debur antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat genting seperti ini?—kau merasa ini tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar cintamu mendadak berlipat ganda, oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya. Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini kucar-kacir setelah salah satu dari mereka sempat menabrakkan mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau, April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *