Cerpen

De Sese

April 8, 2019

Cerpen Pangerang P. Muda

Empat wajah di depannya berubah rona, menegang menanggang amarah, sesaat ia menyatakan penolakan, “Saya tidak bisa. Saya takut kalau ketahuan.” Padahal sebelumnya, sudut-sudut bibir keempat wajah itu terangkat, melekuk ramah.

Di atas kepala mereka, dengung AC sontak terdengar lebih kencang, akibat mulut-mulut yang mendadak terkatup kehilangan kata. Penolakannya mencengutkan keempat orang di depannya.

“Betapa bodohnya kamu.” Entah berapa menit kemudian, baru ada sahut, lepas dari mulut orang yang duduk di balik meja. “Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikanrekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepak bola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Menekuk batang lehernya, menundukkan kepala, De Sese merasa sedih. Penjelasan orang itu mengaduk emosinya. Jadi, permainannya dianggap tidak meningkat? Bahkan ketika berhasil mencetak gol yang diawali liuk berlari serupa penari, ternyata hanya dianggap kemahiran bermain bola se’sosok’ roh yang sedang meminjam raganya!

Ia mengangkat kepala, mendengar cecar orang di depannya, “Kenapa pula takut kalau ketahuan? Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang juga selalu melenceng dari mulut gawang. Jadi itu tidak perlu kamu khawatirkan.”

“Selama ini, penonton sudah hapal permainanmu,” mulut orang di balik meja terus nyerocos. “Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng. Kalau tidak memelesat di atas mistar, pasti mengacir ke samping tiang gawang. Jadi mau kami, tetap saja mainkan kemampuan bermainmu yang seperti itu. Tentu tidak akan ada yang curiga, toh mainmu memang begitu. Penonton sudah tahu, kok. Dan bayaran yang kami tawarkan, lebih tinggi dari gaji yang kamu terima dari klubmu. Segampang itu.”

Pada sandaran kursi, ia rapatkan kepala. Ingatannya meluncur surut ke momen dua puluh empat jam lalu, di saat-saat ia berhasil melewati dua pemain belakang sebelum mulut gawang lawan menganga di depannya, dan kata-kata pelatihnya terngiang bagai ledakan petasan, “Sudah lima kali kamu saya pasang sebagai gelandang menyerang, dan tidak sekali pun kamu mencetak gol. Ini kesempatan terakhirmu!”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut pelatihnya setiap membentaknya, “Kalau kamu tidak juga berhasil mencetak gol, maka kamu saya keluarkan dari tim!”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut pelatihnya yang sedang menganga. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, sebelum ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu.

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pelatihnya, yang telah ia jejali nganga mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola!!”

Dan di dalam ruangan ini, empat orang sedang menatapnya seakan tak hendak berkedip. Salah seorang berujar, “Jadi,kami hanya meminta kamu kembali ke pola permainanmu sebelumnya. Jangan bersikap bodoh dengan menolak. Ingat, kami menawarimu uang, uang yang tidak sedikit!”

Dalam perasaan tertekan, ia teringat bisik-bisik temannya yang selalu mengingatkan adanya upaya mafia judi bola yang suka mengatur skor pertandingan, membuatnya memilih melunak. “Baiklah, saya terima tawarannya,” sahutnya, padahal ada ide lain sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

***

Kernyit bingung mengerucutkan hidung polisi mendengar pelapor mengatakan seorang pemain bola hilang, dan menambahkan, “Dia hilang di lapangan.”

Sekitar sepuluh atau sebelas jam sebelum dilaporkan hilang, De Sese berhasil melewati dua pemain belakang dan terus meliuk-liuk sambil terus pula mengingat kata-kata orang yang menemuinya, “Betapa bodohnya kamu. Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikan rekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepakbola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut orang yang menemuinya itu, yang nyerocos, “Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang selalu melenceng dari mulut gawang. Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng….”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut orang yang menemuinya itu. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, peluit panjang akhir pertandingan melengking nyaring. Ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu. 

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pada orang-orang yang menemuinya, yang ia anggap telah suapi mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola, penyuap!!”

Gelegak euforia nyaris meledakkan dadanya, melipat gandakan pula tenaganya. Pagar yang mengantarai tepi lapangan dengan tribune ia panjat, dan dari puncaknya ia melemparkan tubuhnya ke arah hiruk penonton. Malam itu ia bisa buktikan bahwa se’sosok’ roh bintang sepak bola tidak sedang meminjam dan merasuki raganya, gol penentu itu ia hasilkan sendiri.

Dengan mengutip sebagian kejadian di atas, si pelapor memperjelas laporannya, “Sejak itulah ia hilang. Ia hilang di tengah sorak-sorai euforia pendukung tim kami.”

Sesaat menatap keseriusan si pelapor, polisi bertanya dengan pertanyaan standar, “Siapa namanya?”

“Seto,” jawab pelapor, yang juga pelatih tim. “Sejak jadi pemain bola, ia ganti namanya menjadi De Sese. Nama ini lebih dikenal orang daripada nama aslinya.” Sesaat, pelatih itu termangu penuh sesal. Di saat mulai merasa menyukai permainan De Sese, anak asuhnya itu malah hilang.

“Jadi, kami mesti mencari seorang pemain bola bernama De Sese yang hilang; atau seakan menguap, saat dikerumuni pendukungnya,” simpul polisi, tersenyum tapi terheran-heran.

Pelapor itu tidak tahu, bahwa di antara riuh pendukung timnya malam itu, ada empat orang sedang sesak napas menanggang amarah menyaksikan gol De Sese. Keempatnya merasa sia-sia telah membayar anak itu, dan merasa dipermainkan. Keempatnya ikut membaur dalam keriuhan penonton, ikut pula melempar-menimang tubuh De Sese sebelum menarik dan membawanya pergi. ***

Pangerang P. Muda: Menulis cerpen di beberapa media. Kumpulan cerpen terbarunya yang terbit: Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi, 2019). Berdomisili di Parepare.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *