Cerpen

Dua Alasan Hukuman Mati

May 14, 2019

Cerpen Koesmiyati Harsanto

Bagaikan busur raksasa, kerumunan ratusan manusia membentuk setengah lingkaran di lapangan kompleks militer yang kering dan berdebu. Mereka saling berkelisik satu sama lain seraya memandang tiang pancang yang berdiri kokoh, siap memeluk seorang  terpidana yang nantinya akan diikat di situ untuk menerima hukuman mati. Di antara tiang pancang dan penonton, sebarisan regu tembak berdiri memunggungi kerumunan, bersiap dengan senapan masing-masing.

Pengelana Muda menyelinap di antara kerumunan. Jiwa petualangnya berdebar menduga-duga apa yang akan dia lihat selanjutnya. Telah belasan negeri ia jelajahi. Banyak sudah kematian dia saksikan. Namun baru kali ini dia menjumpai prosesi hukuman mati yang dipertontonkan pada khalayak ramai. 

Dengung yang semula memenuhi udara berubah senyap tatkala dari pintu salahsatu bangunan di sana, lima orang berseragam warna khaki muncul menggiring seorang perempuan bertubuh mungil yang bagian matanya terbebat kain hitam.

“Kejahatan apa yang dilakukan perempuan itu hingga harus dihukum mati?” dengan rasa penasaran Pengelana Muda bertanya pada pemuda di sampingnya. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau pasti berasal dari negeri yang jauh,” kata pemuda itu kemudian. Pengelana Muda menelan ludah. Tak perlu usaha keras untuk tahu dia pendatang dari jauh. Meski dia bisa berbicara bahasa yang sama dan berpakaian layaknya penduduk negeri ini, matanya yang kehijauan dan kulitnya yang terang jelas menunjukkan kalau dia berbeda.

“Negeriku berjarak separuh bumi dari tempat ini,” jawab Pengelana Muda.

“Tertawa,” Si Pemuda berkata pendek. Butuh sekian detik untuk Pengelana Muda menyadari itu jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. Keningnya berkerut. Jadi perempuan itu dihukum mati karena tertawa?  Demi bumi yang berputar, negeri macam apa yang menganggap tertawa  adalah suatu kejahatan berat?!

“Di saat pemakaman Sang Terpilih,”  lanjut pemuda itu seolah bisa membaca pikiran Pengelana Muda.

“Meskipun begitu, apa pantas dihukum mati? Bukankah itu terlalu kejam?” tanya Pengelana Muda heran. Dia tahu pemimpin negeri ini baru saja mangkat. Itulah salahsatu alasannya datang ke tempat ini, untuk melihat secara langsung pemakaman Sang Terpilih, julukan dari mendiang pemimpin negara.

“Kau tidak memikirkan orang macam apa yang bisa tertawa saat pemakaman pemimpin negara. Jenis pemberontak yang membenci pemerintahan,” jawab Si Pemuda.

“Begitukah? Jadi perempuan itu pemberontak?” Pengelana Muda tak yakin. Perempuan mungil yang sedang digelandang menuju ke tiang hukuman itu, jauh dari gambaran pembangkang. Tak ada perlawanan samasekali meski para lelaki berpakaian militer itu membawanya dengan setengah diseret. Sekadar bersuara pun tidak.

Prosesi pemakaman Sang Terpilih baru saja kemarin dilaksanakan. Dan sekarang perempuan itu sudah menghadapi hukuman mati. Jika alasannya karena dia tertawa saat pemakaman Sang Terpilih, bisa dipastikan dia dihukum tanpa proses pengadilan yang wajar.

“Dia tak terlihat berbahaya. Mungkin tawanya cuma kelepasan karena sesuatu yang lucu melintas di pikirannya saat itu,” kata Sang Pengelana. Pemuda di sampingnya hanya mengangkat bahu tampak tak peduli.

“Bagaimanapun, itu sudah cukup bagi pemerintah negeri ini untuk mencap dia sebagai pemberontak,” kata pemuda itu kemudian. Pandangannya beralih dari Pengelana Muda ke tiang pancang.

“Pemerintah? Tapi negeri ini bahkan secara resmi belum punya pemimpin baru, bagaimana bisa sudah ada yang menerima hukuman mati?” sahut Pengelana Muda makin tak mengerti.

Dipandangnya perempuan terpidana yang sekarang sudah terikat di tiang bagai benalu menempel di pohon biangnya. Dia tak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perempuan itu. Sepertinya dia sudah pasrah atau mungkin putus asa. Bisa jadi masih berharap keajaiban. Prosesi pemakaman Sang Terpilih kemarin begitu agung dan sakral. Bilamanakah perempuan itu terpergok saat tertawa? Tawa macam apa hingga pantas diganjar kematian? batin Sang Pengelana  Muda dipenuhi banyak tanya.

Dia ingin bertanya lebih jauh lagi pada pemuda di sampingnya, tapi diurungkan saat dilihatnya pemuda itu tampak antusias menantikan proses eksekusi yang akan segera dimulai. Sementara Pengelana Muda masih ragu apakah dia sanggup menyaksikan eksekusi ini atau tidak. Telah dijumpainya sejumlah kematian tragis. Dia pernah melihat seorang buronan ditembak polisi, seorang anak yang mati terlindas mobil, bahkan seorang perempuan yang terjun dari lantai tujuh, namun semua itu disaksikannya tanpa dia sangka sebelumnya. Kali ini situasinya beda. Apalagi menurutnya, siapa pun perempuan itu tidaklah pantas dihukum mati. Yang dirasakannya saat ini justru keinginan kuat untuk menyelamatkan perempuan malang itu. Namun bunyi senjata yang terkokang menyadarkannya bahwa keinginannya mustahil terwujud, serentetan suara letusan berikutnya memperjelas hal itu. Dia tertunduk, tak sanggup untuk menyaksikan saat peluru menerjang Si Terpidana.

Perlahan Pengelana Muda mendongak, melihat suasana usai eksekusi. Perempuan itu masih terikat di sana dengan dahi yang mengalirkan darah. Regu penembak tampak melakukan penghormatan militer purna tugas. Penghormatan yang ditujukan pada sebuah foto sebesar papan tulis berbingkai pigura warna emas. Dua orang berseragam khaki memegangi sisi kanan dan kiri pigura. Seolah mendiang Sang Terpilih bisa melihat prosesi hukuman mati lewat fotonya.

“Ini tidak adil!”  Pengelana Muda tak bisa menahan kegeramannya. “Perempuan itu mungkin hanya tertawa di tempat dan saat yang salah. Dan karena itu dia harus dihukum mati?” suara Pengelana Muda terdengar gusar. Pemuda di sampingnya menatapnya dengan sorot mata bijak dan tenang.

“Biar kuberitahukan sesuatu padamu, Tuan, di negeriku ini orang bisa saja dihukum mati karena dua alasan yang tampaknya sepele. Dan itu berlaku untuk siapa pun. Satu seperti yang kau katakan tadi, tertawa di tempat dan saat yang salah. Kau sudah menyaksikan sendiri perempuan tadi ditembak mati karena alasan itu,” Si Pemuda berbicara dengan lambat dan jelas, bagai seorang guru mengajar muridnya.

“Dan perempuan tadi adalah kakakku,” lanjut pemuda itu dengan intonasi lebih tegas. Pengelana Muda terperangah. Ditatapnya pemuda itu dengan rasa tak percaya. Matanya bertemu dengan sepasang mata dingin milik pemuda itu, dan seulas senyum yang sama dinginnya. Hati Pengelana Muda mencelos ketika dia menyadari satu hal, wajah pemuda di hadapannya bak replika dari foto mendiang Pemimpin Negara.

“Dan alasan yang satunya lagi?” tanya Pengelana Muda dengan suara bergetar.

“Bertanya pada orang yang salah,” jawab pemuda itu dengan pelan, namun sesuatu dalam diri Pengelana Muda menyuruhnya untuk segera berlari.

***

Koesmiyati Harsanto wirausaha kuliner yang belajar menulis. Giat di Komunitas Sastra Alit, Surakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *