Cerpen

Kisah Tentang Seorang Pemuda Bodoh

June 11, 2019

Cerpen Adi Zamzam

Coba dengarlah sejenak kisahku ini. Sebuah kisah yang mungkin bisa kalian ambil pelajaran darinya. Kisah yang menceritakan tentang seorang pemuda yang merasa dirinya manusia sempurna. Tampan, cerdas, lahir sebagai keturunan saudagar kaya raya pula. Pemuda yang memelihara pikiran, jika seorang sempurna haruslah berjodoh dengan yang sempurna pula.

Maka, ketika kedua orangtuanya memilihkan jodoh untuk pendamping hidupnya, ia selalu saja menolak.

“Aku ingin jodoh yang sepadan, Ayah,” ujarnya.

“Sepadan bagaimana maksudmu?”

“Si Maya, yang Ayah tawarkan kepadaku itu, kedua matanya terlalu besar untuk ukuran wajahnya yang lonjong. Si Nadia, apa Ayah tak melihat bahwa gigi-giginya mengerikan sekali? Juga si Mega yang Ayah bilang keibu-ibuan itu. Apa Ayah ingin aku menikahi gajah?”

“Lantas yang kau inginkan itu yang seperti apa, Nak? Mana ada orang yang sepadan? Dalam hal jodoh, yang kita butuhkan adalah menyesuaikan diri dengan pasangan,” ganti sang ibu yang mengujar tanya.

“Apa Ibu tak melihatku? Aku ini anakmu, bertahun-tahun aku tinggal bersama kalian. Apakah ada yang terlihat cacat di matamu, Ibu? Yang tiada cela janganlah kau sandingkan dengan yang ada cela, Ibu. Itu jelas tak seimbang.”

Berubah sedihlah wajah sang ibu. Tanpa diduga, perempuan itu pun mengulurkan tangan kanannya demi memperlihatkan jari-jemarinya. Pemuda itu terkejut. Ia baru ingat bahwa jari telunjuk itu telah kehilangan satu ruasnya.

“Musibah itu terjadi sewaktu Ibu membantu kakekmu memanen padi. Jari Ibu terjepit saat berniat membetulkan poros perontok padi. Ibu masih sangat muda saat itu. Sepuluh tahun kemudian barulah Ibu menikah dengan ayahmu. Kami bahagia,” tutur sang ibu dengan lembut.

“Pokoknya aku ingin yang sebanding. Titik!” Pemuda itu meninggalkan kedua orangtuanya dengan marah. Sepertinya percuma saja memberikan pengertian kepada mereka.

***

Dan pemuda itu pun masih terus mencari dan mencari. Setiap ia main ke rumah teman-temannya, hampir selalu ia menanyakan hal yang serupa.

“Apa kau punya saudara atau kenalan seorang gadis yang tiada cela? Kalau punya, kenalkanlah kepadaku. Tentu aku akan sangat senang untuk memintanya sebagai pendamping hidupku.”

Namun jawaban yang ia dapat selalu saja mengecewakan hati. Justru mereka malah memamerkan kekurangan masing-masing.

“Suamiku hidungnya pesek, kepalanya juga sedikit benjol, tapi kami bahagia.”

“Ah, kau lihat sendirilah itu. Istriku cerewet sekali, kayak tukang jual obat kuat di pasar. Jika kami adu mulut, bisa kupastikan telingamu akan tuli. Tapi aku cinta dia. Hingga detik ini kami baik-baik saja. Dan kami bahagia.”

“Dari dulu suamiku suka kentut kalau di ranjang. Tapi aku kagum dengan keperkasaannya. Kami bahagia.”

Demikianlah jawaban dari beberapa temannya yang sudah berumah tangga. Namun pemuda itu tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Aku yakin akan bisa menemukan yang sempurna, yang sebanding denganku. Aku tidak mau kecewa gara-gara mendapati cela di kemudian hari,” kilahnya, jika ditanya perihal dirinya yang amat pemilih.

Dan, bulan demi bulan pemuda itu terus mencari. Gadis demi gadis ia kenali, ia dekati, dan ia memang sadar, gadis sempurna seperti yang diinginkannya memang sukar dicari. Pikirnya, bukankah memang begitu? Bukankah barang bagus itu memang jumlahnya sedikit? Kekhawatiran orangtuanya selalu ia redam saja, meski dalam hatinya terselempit pula sedikit was-was.

Sampai suatu ketika ia mendapat sebuah kabar dari salah seorang pamannya yang baru saja pulang dari mencari barang dagangan.

“Ada tiga gadis kembar yang sangat sempurna. Aku yakin pasti kamu akan terpikat dengan salah satunya. Jika kamu mau, akan kuhubungkan dirimu dengan bapaknya. Kebetulan dia adalah penyuplai beras daganganku.”

“Lebih sempurna dari gadis-gadis kampung kita, Paman?”

Sang paman mengacungkan jempol sebagai jawaban. Ia bahkan berani menjamin di hadapan kedua orangtua si pemuda bahwa kecemasan mereka akan segera berakhir.

Dan benar saja. Ketika pemuda itu turut serta pamannya saat kunjungan berikutnya, ia langsung yakin bahwa di antara ketiga gadis cantik itu akan ada yang jadi istrinya.

Kedua orangtuanya gembira alang kepalang. Mereka bahkan langsung mendatangi ayah gadis-gadis itu guna meminta izin langsung agar anak lelakinya diperbolehkan mengenal satu per satu.

“Aku akan menikahi yang paling sempurna di antara mereka,” ujar pemuda itu di hadapan ayah ibu, serta pamannya.

“Kamu harus cepat, sebab aku dengar kabar katanya sudah banyak pemuda yang mendekati mereka,” tutur sang paman.

***

Hari pertama perkenalan, pemuda tampan itu memulainya dengan gadis yang paling tua.

“Hanya selisih tigapuluh menit?”

“Iya. Kalau dengan adikku yang nomor dua umurku hanya selisih lima belas menitan. Itulah kenapa kemudaan kami hampir tak terlihat perbedaannya,” tutur si gadis tertua.

“Saat ulang tahun kalian pasti selalu patungan untuk merayakannya.”

Gadis itu tertawa mendengar gurauan itu. Tawa manis yang terdengar merdu sekali. Membuat hati si pemuda tampan ingin lebih dekat dan semakin dekat.

Namun suasana cepat berubah ketika mata si pemuda tampan menemukan pemandangan itu. Ya Tuhan, jari tengah kaki kanan gadis itu ternyata cacat! Bentuknya lebih kecil dibanding jari kelingking kakinya sendiri. Dan itu sudah cukup membuat si pemuda tampan merasa mual.

Ketika si pemuda tampan kemudian meminta izin untuk mengenal gadis nomor dua, tahulah orang-orang bahwa gadis yang tertua pastilah punya cacat.

“Coba perhatikanlah jari tengah kaki kanannya yang luput dari pandanganmu, Paman. Jika aku menikah dengannya, pasti salah satu anakku akan ada yang jarinya begitu. Aku tidak mau,” jawabnya ketika ia ditanya sang paman.

Dengan gadis kedua pun sama. Sembari mengajaknya jalan ke beberapa tempat yang menyenangkan, si pemuda tampan diam-diam meneliti dengan saksama dari ujung rambut sampai ujung kaki. Juga dengan gadis yang ketiga.

Hingga akhirnya si pemuda tampan itu pun menjatuhkan pilihannya.

“Aku ingin menikah dengan gadis ketiga,” ujarnya, yang langsung bersambut pekik gembira kedua orangtuanya.

“Yang nomor dua kalau tidur mengorok keras sekali, Paman,” ujarnya ketika pamannya bertanya. “Waktu itu aku mengajaknya nonton konser di pantai. Dia kelelahan. Aku menyewa penginapan kecil. Paginya dia telat bangun. Dari luar kamarnya aku mendengar dengkuran yang keras sekali. Bayangkanlah, gadis secantik dia, tapi dengkurannya seperti raksasa. Mengerikan.”

“Yang nomor tigalah gadis sempurna yang aku cari, Paman. Tak kulihat sedikit pun cacat padanya.”

Pesta pernikahan digelar dengan sangat meriahnya. Ayah si gadis pun tak mau kalah dengan kemewahan pesta yang diadakan calon besannya. Dan sebenarnya, justru lelaki itulah yang paling berbahagia.

Singkat cerita, kebahagiaan itu semakin memuncak tatkala istri si lelaki tampan hendak melahirkan bayi pertama. Ia membayangkan, betapa lengkap sudah kebahagiaan yang dimiliki. Ketampanannya, kecantikan sang istri, harta yang lebih dari cukup, serta sebentar lagi akan ditambah dengan buah hati yang pastinya akan menuruni kesempurnaan ayah ibunya. Cinta yang ada akan semakin tumbuh dan semakin tumbuh.

Tapi ternyata tak demikian. Ketika melihat bayi perempuan yang baru dilahirkan sang istri, lelaki itu justru meradang. Cintanya seketika layu gugur ke tanah.

“Bagaimana bisa anak kami berkulit hitam, Ayah?” tanya lelaki tampan itu kepadaku. Ya, akulah ayah dari ketiga gadis kembar nan rupawan.

“Kulit hitam bukanlah cacat, Nak,” jawabku menenangkan.

“Tapi bagaimana bisa? Aku dan istriku tidak berkulit hitam!” cecarnya.

Hingga akhirnya terpaksalah kuceritakan semuanya. Ibu ketiga gadisku telah meninggal saat melahirkan mereka. Susah payah sendirian aku membesarkannya. Dari ketiganya, si bungsulah yang dulu paling sukar diatur. Dan dia memang pernah berhubungan dengan seorang pemuda berkulit hitam. Mereka kupaksa putus hubungan karena aku tak suka kelakuan pemuda pemabuk.***

Kalinyamatan – Jepara, 2013-2018.


Adi Zamzam, lahir di Jepara. Tulisannya dimuat di berbagai media. Tahun 2002, beberapa cerpen dan puisi dipublikasikan di Bahana Sastra-nya RRI Pro II Semarang. Tahun 2004, juara harapan Lomba Menulis Cerpen Islami Majalah UMMI. Tahun 2005, juara harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke- VII) majalah ANNIDA. Tahun 2008, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami ( LMCPI ke-VIII) majalah ANNIDA. Tahun 2009 dan 2010, dua buah cerpen menjadi  karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2010. Tahun 2012, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke XI) Majalah ANNIDA. Unggulan Lomba Cerber Majalah Femina 2014/2015. Juara 1 Lomba Cerpen Kategori C (Umum, Guru, Dosen, Pengarang) Green Pen Award 3 Perum Perhutani 2016. Masuk nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *