Cerpen

Nenek dan Perihal Perih Tentang Ulat-ulat di Sepotong Telur Dadar

June 7, 2019

Cerpen Fina Lanahdiana

Nenek merawat kenangan serupa memelihara ulat-ulat yang disimpan dalam sebuah stoples tertutup dengan tak seorang pun menginginkan untuk membukanya. Demi apa pun, aku hendak berkisah tentang kesetiaannya pada benang-benang kenangan yang serupa sarang laba-laba yang lahir dengan panjang dan kekuatan yang tidak bisa diperkirakan. Kelak tidak ada yang hendak meneliti benang-benang halus itu dengan alasan tidak penting.

Masa tua barangkali kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Nenek sering bersedih dan menyesali atas kesepiannya sendiri. Kadang meskipun aku memilih rela meluangkan telinga untuknya, ia tetap tampak sebagai sebatang pohon yang begitu kosong. Seolah-olah kuat, namun di dalamnya, kau tahu, ada rongga besar melingkupi seluruh isi tubuhnya, menyisakan kulit kayu yang hanya lapisan rapuh yang jika sedikit saja kulit itu tergores, seluruh tubuhnya akan tumbang jadi kayu yang hanya bisa berguna bagi tungku dapur penangkal rasa lapar.

Ia kerap hanya duduk dengan pikiran yang entah menjadi pelancong bagi tempat-tempat di dalam kepalanya. Aku meyakininya, bahkan ketika ia tengah menjajakan gethuk, klepon, serabi, dan ampyang  di depan halaman rumah kami yang masih berlantai tanah. Jajanan itu diletakkan di masing-masing tampah yang berbeda di sebuah meja panjang yang telah berusia tak jauh darinya. Meja itu tetap kukuh meskipun waktu telah melahapnya bagai rayap-rayap pada musim penghujan.

            “Nek?”

Suaraku hanya pelan saja, tetapi nenek tetap terkejut. Aku merasa tidak enak dengan gelagatnya, bagai aku telah menyakiti hati perempuan tua itu. Lantas kuraih lengannya, kurengkuh ia dengan dekapan yang semoga nyaman. “Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku untuk membuatmu kaget.”

Ia akan tersenyum lantas berkata tidak apa-apa. “Nenek memikirkan apa?” Pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban tidak apa-apa.

Tetapi pada akhirnya aku tahu, nenek selalu dan tetap memikirkan suaminya. Meskipun ia tidak pernah bercerita secara terang-terangan, aku tidak bodoh betul memahami bahwa ia merindukan kakek. Nenek kerap menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang masih tersimpan di dalam laci kepalanya.

            “Kakekmu lelaki yang romantis. Ia kerap memberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Kadang-kadang ketika aku merasa lelah, ia tahu harus berbuat apa. Kami sering pergi keluar sekadar makan di warung bakso atau mi ayam. Setelahnya aku lupa dengan rasa lelah yang sangat payah.”

Tentu saja aku akan memuji kakek. Tidak mudah menjadi lelaki seperti itu.

            “Kau tahu, perempuan akan sangat senang jika diperhatikan oleh orang yang dicintainya. Ia akan merasa ringan, beban-bebannya akan hilang, meskipun seringkali perempuan tahu bahwa lelakinya tengah membual. Ia tidak akan peduli.”

Cerita nenek membuatku berpikir bahwa aku juga mesti memperlakukan perempuan dengan cara seperti itu. Menjadi lelaki yang penuh kejutan.

            “Perempuan tidak terlalu suka, jika lelaki tidak punya pilihan.”

            “Maksud Nenek?”

            “Bawalah perempuanmu ke sebuah warung makan jika ia tampak lelah dan lapar, tapi jangan kau tanya banyak hal mengenai apa yang ingin dia makan. Pastikan kau tahu apa makanan kesukaannya. Itu akan membuatnya senang. Merasa dihargai.”

            “Bukankah bertanya itu baik?”

            “Memang iya, bertanya itu baik, tapi jika kau mengulang sesuatu yang sudah pasti, itu justru akan menyakiti hatinya. Misalnya, kau tahu perempuanmu menyukai ayam bakar, tapi kau selalu bertanya, ia ingin makan apa.”

            “Bagaimana jika ia merasa bosan?”

            “Tanpa kau mesti bersusah payah menebak, perempuan akan bercerita jika ia bosan dengan apa-apa yang sudah dibiasakan. Jika tidak ada keluhan, maka mestinya kau tahu apa yang mesti kau lakukan.”

            “Apakah nenek pernah mengalaminya?”

            “Tidak. Tapi teman kami pernah mengalaminya. Ia begitu muak dengan suaminya, sebab setiap kali hendak makan saat sedang bepergian, selalu bertanya, “Apakah kau lapar? Padahal sesungguhnya lelaki itu yang merasa lapar. Ia tidak berani berterus terang. Sementara itu, seharusnya lelaki selalu berada di depan, tidak apa-apa mesti menunggu perempuan bergerak lebih dulu.”

Aku hanya mengangguk, tidak banyak berkomentar. Cerita akan berakhir ketika beberapa pembeli datang. Jajanan pasar itu tidak bertahan lama, siang sedikit saja, sudah mesti habis. Jika tidak, yang bersantan seperti serabi dan klepon akan mudah basi. Dagangan nenek memang sederhana, tapi tetap saja diserbu peminat. Apalagi di zaman yang serba digital seperti sekarang. Apa-apa yang tradisional dinilai berharga dan patut untuk dirawat sebaik-baiknya.

            “Kadang-kadang orang sekarang itu aneh, merasa peduli dengan sesuatu setelah sebelumnya terancam.”

            “Terancam yang seperti apa?”

            “Misalnya saja, hewan langka. Mereka tidak akan dianggap penting sebelum terancam punah. Sebuah keterlambatan yang gegabah.”

Tidak salah, memang demikian adanya. Tidak jauh dengan yang sudah-sudah, negeriku tercinta ini juga kerap melakukannya. Pulau-pulau kami yang semestinya dirawat, dibiarkan begitu saja seolah sampah tidak berguna. Begitu ada negara lain yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau jauh itu, pemerintah merasa kelabakan dan seolah tertindas sebagai korban. Orang-orang mendadak jadi nasionalis dengan banyak gerakan yang kupikir tidak berdampak banyak. Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Menjijikkan. Seolah keledai yang terus-menerus tergelincir—lebih tepat dikatakan sengaja menjatuhkan diri—ke lubang yang sama.

Aku senang menjadi pendengar bagi cerita nenek, tentang apa pun. Apa pun. Cerita-ceritanya bukan dongeng kosong belaka, selalu ada sesuatu yang bisa diambil bagiannya.

Perihal kesetiaan merawat kenangan, aku mencatatnya baik-baik di tubuh ulat-ulat kecil, belatung yang bergerak lincah di sebuah mangkuk berisi telur dadar.

***

Berhari-hari sudah nenek larut dalam perasaan yang hampa. Kupikir ia sedang mengulang segala jenis perputaran adegan di dalam kepalanya. Selalu seperti itu, seolah ia tidak ingin satu bagian pun terlewat dan berserakan seolah remah roti tercecer di lantai untuk selanjutnya dimangsa semut-semut.

Ia memutuskan tidak membuka gelaran jajanan seperti hari-hari biasa. Kepergian kakek yang tiba-tiba membuatnya merasa terpukul. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak sakit, tidak juga mengalami kecelakaan. Hanya sedang tidur dan barangkali setiap orang tidur selalu berdoa agar bangun di pagi harinya.

Waktu itu aku masihlah seorang bocah yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Nenek mencoba menenangkanku dengan memberikan apa saja yang dimilikinya. Uang untuk membeli jajan atau mainan, juga mengambilkan nasi sebab ia mengira aku lapar. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja waktu itu.

Dan barangkali kau juga akan sama sepertiku, menangis lebih keras sebab merasa takut dengan apa yang telah nenek berikan. Ia berjalan ke dapur dengan lengan melingkar di tubuhku, menjadikan aku bagai seekor kera yang tengah berada dalam gendongan induknya.

Tangan nenek selalu hangat. Bayi-bayi atau bocah yang sedang menangis tak tahu sebab, akan berhenti jika telah disentuh oleh tangan nenek. Aku sangat menyukai bagian ini. Nenek solah-olah pahlawan yang patut diberi hadiah atau penghargaan yang istimewa.         Perempuan itu masih sangat bersedih, aku tahu dari raut wajahnya. Namun aku yang masih bocah tentu tidak tahu apa-apa cara menghibur agar nenek merasa bahagia.

Ia berjalan ke dapur, menjulurkan tangan ke sebuah salang gantung yang terbuat dari anyaman bambu warna hitam legam sebab sering terpapar asap tungku. Di atas sana, ia meraih sebuah mangkuk yang seingatku berisi telur dadar.

Barangkali matanya telah rabun atau berkabut, ia tidak terlalu jeli memandang apa yang ada di dalam mangkuk. Sepotong telur dadar disendoknya ke piring yang telah berisi nasi. Telur itu telah dihuni mahluk-mahluk kecil, putih, dan lunak. Singgat. Aku merasa jijik dan hanya menangis.

Ibuku datang dengan keheranan yang penuh. Ia tidak tahu apa yang aku tangisi. Sampai pada akhirnya ia meraih tubuhku dari gendongan nenek, mengambil piring berisi nasi, dan berakhir dengan teriakan yang panjang. Ibu terkejut sama halnya denganku. Binatang kecil jinak namun menjijikkan itu telah menyebar di lantai rumah yang masih tanah yang dipenuhi têlo[1]. Ibu mengelus rambutku berulangkali dengan umpatan yang tertahan, “Demi apa pun, nenekmu terlalu mencintai kenangan perihal kakekmu, hingga ia melupakan telah berapa hari ia mengurung diri dalam kesedihan, hingga singgat-singgat itu telah menjadi penghuni bagi sepotong telur dadar sebagai makhluk-makhluk lapar yang menggiriskan.”

Terdengar suara prang sebab piring tempatku makan yang terbuat dari seng itu terlempar begitu saja, sementara kulihat nenek sedang sibuk—atau menyibukkan diri—melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dengan mata yang kosong, seolah di sana tidak ada lagi ruh bagi kedua bola matanya.

Dan sejak saat itu, barangkali sebagian diri nenek ikut bersama kakek sehingga hidupnya tak lagi utuh, tak lagi seluruh. Hanya serupa sepotong yang tersisa dengan segenap keinginan menjalankan sisa usia. Masa tua barangkali memang kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Dan akan seterusnya seperti itu.***

[1] Têlo: Retakan tanah (Jawa)


Fina Lanahdiana, penulis cerpen yang lahir dan tinggal di Kendal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *