Cerpen

Otok-Otok dan Suara Seorang Perempuan dalam Kepala Gustam

June 18, 2019

Cerpen Erwin Setia

Sepulang dari kantor, Gustam melewati pinggir pasar, ia mendapati seorang anak memegang otok-otok dan seketika masa lalu membayang di kepalanya.

Masa itu belum terlalu jauh. Belum lebih dari lima belas perputaran bumi terhadap matahari. Tapi rasanya sudah tak bisa digenggam. Sudah jauh lepas dan mengingat-ingat tak membuatnya lantas kembali di genggaman.

Pada usia lima sampai tujuh tahun, Gustam suka ikut dengan ibunya pergi ke pasar. Ia turut ke pasar bukan untuk berjumpa dengan penjual daging yang genit kepada ibu-ibu muda atau untuk mendengar suara serak preman pasar yang napasnya berbau tak sedap—belakangan ia tahu itu aroma minuman keras. Ia mau ikut ke pasar, merelakan diri bangun lebih pagi dari biasanya, hanya untuk melihat-lihat aneka mainan. Syukur-syukur jika ibu berbaik hati membelikannya.

Salah satu mainan yang paling terkenang di benak Gustam adalah otok-otok. Sebuah mainan berbentuk kapal yang terbuat dari bambu atau kaleng. Ketika dinyalakan—lazimnya dengan bahan bakar minyak kelapa—mainan itu akan bergerak di atas air dan menimbulkan bunyi otok-otok. Bunyi itulah yang kini memenuhi kepala Gustam.

            “Apa bagusnya mainan itu, Gustam?”

            “Suaranya lucu, Bu. Bentuknya juga keren. Lihat cara benda itu bergerak. Seperti kapal laut di tv.”

            “Itu hanya mainan. Sebentar lagi juga ia akan berhenti bergerak. Lalu kamu bosan dan tak memedulikannya lagi.”

            “Tidak, Bu. Lihat, ia terus bergerak. Bergerak dan berbunyi unik.”

            “Baiklah. Bang, saya beli otok-otoknya satu.”

            “Wah. Terima kasih, Bu. Aku senang. Aku pasti tidak akan bosan bermain dengan otok-otok ini.”

Percakapan itu, dengan gambaran ibu, otok-otok, dan suasana pasar menjadi latar bagi lamunan Gustam pada sore yang gerah itu. Ia tak ingat sudah berapa lama tak melihat kapal mainan itu—sebelum kemudian melihatnya lagi saat ini. Ia juga tak tahu di mana otok-otok pembelian ibunya—otok-otok pertama sekaligus terakhirnya—kini berada. Apakah dulu mainan itu rusak lalu ayah buang bersama rongsokan lain atau hilang di suatu tempat atau masih teronggok di suatu gudang. Ia tak benar-benar tahu. Dulu, setelah otok-otok, beragam mainan lain muncul menggantikan. Mobil mainan, kereta mainan, pistol mainan, dan begitu banyak mainan lainnya. Otok-otok pun terpendam dan terlupakan. Persis dengan hal-hal lain apa pun di dunia ini. Tidak pernah ada yang bertahan terlalu lama. Karena dunia bergerak begitu cepat dan perubahan begitu kejam melindas hal-hal silam.

Gustam tersadar dari lamunannya ketika seorang gadis menegurnya.

            “Hai, kamu sedang mikirin apa?”

Gadis itu adalah rekan kerjanya. Alena. Ia berdiri di depan Gustam dengan kepala dimiring-miringkan seakan sedang meneliti apa yang terjadi pada diri Gustam sehingga ia terdiam begitu lama.

            “Oh, Alena. Tidak. Hanya hal kecil.”

            “Apa itu?” tanya Alena, masih dengan pandangan menyelidik.

            “Otok-otok. Kau tahu otok-otok?”

            “Ah, iya, aku tahu. Tapi aku lebih suka boneka barbie.”

            “Dulu ibuku pernah membelikanku otok-otok. Kemudian tak sengaja tadi aku melihat seorang anak kecil memegang otok-otok. Dan tiba-tiba saja pikiranku terlempar ke masa lampau. Semacam itulah.”

            “Kau suka bernostalgia, ya?”

            “Tidak juga. Hanya saja, ingatan-ingatan semacam itu memang sulit dicegah.”

            “Kau benar.”

Setelah ucapan pendek Alena itu, keduanya tampak seperti sepasang manusia yang dikutuk menjadi patung. Hanya diam dan nyaris tak berkedip. Saat sebuah becak yang membawa buntalan sayur hendak lewat dan sang penarik becak berteriak menghardik dua orang yang mengganggu jalannya itu, barulah Gustam dan Alena tersadar. Keduanya meminta maaf secara spontan dan berpindah ke tempat yang lebih tepat. Lebih tepat untuk ditempati dua orang yang tampaknya punya cukup waktu luang untuk sekadar bercakap-cakap atau mengamati hiruk-pikuk sore hari.

Di atas kursi halte, mereka duduk, dan mulai berbincang.

            “Rumahmu tak jauh dari sini?” buka Alena yang kelihatan tak nyaman jika hanya berdiam-diaman saja.

            “Satu kali naik angkot lagi, sampai.”

            “Aku juga. Jangan-jangan kita tetanggaan?”

            “Aku naik angkot ke arah barat. Kamu?”

            “Aku ke arah timur. Sayang sekali. Kupikir kita bisa lebih lama bersama dan melanjutkan percakapan di dalam angkot.”

            “Kamu suka ngobrol seperti ini dengan semua orang?”

            “Enggaklah. Malah aku ini sebetulnya pendiam. Memangnya kau tak memperhatikanku sewaktu di kantor. Aku tidak banyak omong, tahu.”

Gustam diam sesaat dan berusaha mengingat bagaimana Alena ketika di kantor. Memang, dibanding perempuan-perempuan lain di kantor, ia jarang mendengar suara Alena. Alena tak terlalu mencolok kalau dibandingkan dengan rekan-rekan perempuannya yang cerewet dan berisik seperti mesin diesel.

            “Entah. Aku memergokimu melamun dan tiba-tiba saja tebersit untuk menyapamu dan membangun percakapan-percakapan. Boleh, kan?”

            “Oh iya. Tentu saja,” kata Gustam sedikit tergeragap.

            “Kau mau tahu sesuatu?”

            “Apa?” Gustam mencoba untuk terlihat antusias. Ia tidak ingin membuat siapa pun merasa tak enak hati.

            “Aku suka membaca cerpen. Pagi tadi aku membaca cerpen tentang seorang lelaki yang bertemu dengan perempuan yang seratus persen sempurna. Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

Gustam berpikir sejenak. Tidak ada gambaran apa-apa di benaknya menyangkut perempuan selain rona ibunya. Ibunya yang sudah beranjak tua dan sakit-sakitan. Tiba-tiba rasa rindu menyambar dirinya. Mungkin pada akhir pekan ia akan pergi ke rumah ibu, mencium tangannya yang berkerut, dan meminta maaf atas segala kesalahannya.

            “Hei, mengapa kau malah diam?” Alena menepuk bahu bidang Gustam. Gustam terlonjak bagai orang yang baru terjaga dari tidur nyenyak. “Hobimu melamun, ya?”

Gustam menggeleng-gelengkan kepala, mengusap matanya, dan meminta Alena untuk mengulang perkataannya.

            “Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

            “Sempurna?”

            “Ya.”

            “Memangnya di dunia ini ada sesuatu yang sempurna?”

Mendengar kalimat itu, Alena tergelak. Ia meminta Gustam untuk melupakannya saja. Ia lalu bertanya apakah Gustam juga suka membaca cerpen. “Kadang,” jawab Gustam. Kemudian Gustam bercerita bahwa baru-baru ini ia membaca sebuah buku kumpulan cerpen. Dalam salah satu cerpen di buku itu, Gustam ingat betul satu penggalan kalimat, yang kira-kira berbunyi begini: Tapi tak pernah ada penderitaan terakhir. Kau tahu itu.

Alena tergelak lagi. “Kau ini aneh, ya. Aku sedang bicara tentang kesempurnaan. Kau bicara tentang penderitaan.”

Gustam tersenyum tipis. Ia agak malu. Ketika tadi Alena bertanya tentang cerpen, yang terlintas di benaknya memang hanya sebuah cerpen—tepatnya sepotong kalimat dalam cerpen—yang berisi tentang penderitaan. Ia tidak mungkin bisa mengendalikan pikirannya. Pikiran-pikiran semacam itu selalu bekerja di luar kendali.

Sebuah angkot berwarna merah tua dengan bagian bemper sebelah kiri sedikit penyok melintas dan berhenti. Alena bangkit. Ia pamit kepada Gustam dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan. Ketika angkot yang ditumpangi Alena sudah berjalan kembali dengan meninggalkan kepulan asap kelabu, seorang ibu bersama anaknya duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Alena.

Anak itu menggenggam otok-otok. Ia mengangkat mainan itu dan menggerak-gerakkannya seolah-olah udara adalah air sambil menimbulkan bunyi otok-otok dengan mulutnya. Berulang-ulang. Tok-otok-otok-otok-otok...

Gustam memperhatikan gerakan anak itu dan dengan khidmat mendengarkan tiruan bunyi otok-otok yang dibuatnya. Ia membayangkan anak itu dan ibunya sebagai dirinya dan ibunya di masa lalu. Ia senang membayangkan itu. Dan ia akan lebih senang jika kemungkinan bahwa masa lalu indah semisal itu dapat terulang. Tapi tak pernah ada masa lalu yang terulang. Ia tahu itu. Sama seperti tidak ada hal yang sempurna dan tidak ada penderitaan terakhir.

Sebuah angkot berwarna merah tua kembali melintas dan berhenti. Ibu dan anak yang menggenggam otok-otok itu beranjak menaiki angkot. Suara musik dangdut dari angkot itu keras sekali. Begitu angkot itu kembali berjalan dan sayup-sayup suara perlahan menjauh, Gustam merasa seperti seorang penduduk bumi terakhir yang ditinggal para penduduk lain yang sudah pergi ke mars. Sendiri dan sepi.

Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Sudah cukup sore. Tapi angkot yang ditunggunya belum juga tiba. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam.

Ia bangkit dan memutuskan berjalan kaki sambil menanti angkot lewat. Anggaplah pada langkah keseratus sembilan puluh sembilan atau kedua ratus, angkot berwarna biru telur asin melintas. Tapi Gustam memilih untuk terus berjalan kaki. Sementara kakinya melangkah, bunyi otok-otok dan suara lembut Alena sedang bercokol di dalam kepala Gustam. Dan ia tak ingin suara-suara itu berakhir.***

Bandung, 1 Mei 2019


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos,Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *