Cerpen

Penerbangan Mawar

April 9, 2019

Cerpen Kiki Sulistyo

Pesawat ini akan jatuh. Semalam pilot -setengah terpaksa- ikut pesta minum-minum bersama kawan-kawannya. Ia tidak fit di penerbangan ini, lalu panik dan tak bisa mengendalikan pesawat. Aku akan mati, hancur bersama tubuh pesawat yang jatuh ke laut. Aku bayangkan saat-saat terakhir itu. Siaran berita menyiarkan kecelakaan tersebut; mereka suka dengan berita-berita semacam itu.

Mereka akan mewawancara istriku. Dengan terbata-bata dan mata merah-basah istriku menyampaikan perasaannya, sesekali ia tak sanggup mengucapkan kata-kata, menangis tersedu-sedu. Sebelumnya, reporter itu meminta istriku menggendong anak kami; bocah dua tahun yang belum tahu apa-apa. Anak itu ikut menangis, bukan karena mengerti, tapi karena melihat ibunya menangis. Anehnya aku bisa membayangkan wawancara itu sementara di sisi lain aku membayangkan tubuhku telah hancur dan ruhku mungkin telah terisap lubang hitam yang membuat Stephen Hawking terkenal.

Pramugari, sesaat sebelum memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan, menyampaikan padaku bahwa lantaran aku duduk dekat jendela darurat, aku ikut bertanggungjawab menyelamatkan penumpang lain jika terjadi situasi darurat. Andai seseorang mengatakan padaku kalimat “bila terjadi situasi darurat” aku akan langsung merasa bahwa situasi darurat pasti akan terjadi. Aku melihat jendela darurat itu dan merabanya, menduga-duga sanggupkah aku membukanya nanti. Pramugari menatapku, sekilas aku merasa pandangannya mengejek, seakan-akan mau bilang, “Tidak akan terjadi apa-apa, bodoh. Ini cuma formalitas.”

Seorang perempuan duduk di sebelahku dan di sebelahnya lagi duduk pasangannya; seorang laki-laki kurus berambut kribo. Mereka tampak acuh dan tak ambil pusing. Aku melirik, ada tato mawar di leher perempuan itu. Mawar itu mekar dan berwarna biru.

Kembali aku bayangkan pesawat ini jatuh ke laut, tapi karena cuaca cerah, aku mengubah penyebabnya; bukan lagi karena pilot mabuk, melainkan seseorang telah membajak sistem perangkatnya. Navigasi jadi kacau dan pilot kebingungan sebelum akhirnya gagal menyelamatkan pesawat. Apakah hal seperti itu mungkin terjadi? Entahlah. Aku ingin bertanya pada perempuan di sebelahku, tapi kukira itu akan terdengar konyol.

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Memasang headset dan memejamkan mata, pasangannya melakukan hal yang sama. Awak pesawat menyampaikan saat lepas landas sudah tiba, dan bersiap terbang. Ada peringatan untuk mematikan semua barang elektronik. Tapi perempuan di sebelahku serta pasangannya tampak tidak peduli.

Terdengar suara gemuruh demikian keras, lalu goncangan. Ketika pesawat mulai mengudara, kurasakan seperti ada batang-batang udara memasuki telingaku. Aku tersentak seolah akan tenggelam. Biasanya setelah menelan ludah perasaan itu akan hilang, tapi kali ini tidak. Batang-batang udara terasa semakin padat menggumpal di telingaku. Untuk beberapa lama aku benar-benar merasa tenggelam.

Bobot tubuhku seakan melompat keluar, memantul-mantul di dinding pesawat. Aku membuka mata dan merasakan keheningan yang misterius. Perempuan di sebelahku masih memejamkan mata, begitu juga pasangannya. Keduanya seperti tertidur. Dan aku perhatikan semua penumpang pesawat juga tertidur. Tanda sabuk pengaman sudah dimatikan, aku berdiri dan memperhatikan lebih saksama. Aku lihat para pramugari juga tertidur tapi dalam posisi berdiri.

Tiba-tiba radio pesawat berbunyi, “Ground control to Major Tom. Ground Control to Major Tom.” Sial. Ada apa ini? Apakah pesawat akan jatuh? Aku baru ingat kalau kalimat itu seperti lirik lagu dari penyanyi yang sudah mati. “Penumpang sekalian, ini pilot Anda, David Bowie…” Aku melihat keluar jendela, langit sangat biru, tumpukan awan membuat gumpal yang berlapis-lapis. Satu bagian awan tampak seperti tebing karang, bagian yang lain mirip patung dewa yang sedang menunjuk.

Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya bergerak-gerak seperti berusaha melepaskan diri. Sebentar kemudian tato itu terkelupas dari kulit leher si perempuan. Mawarnya melayang-layang sesaat di dalam pesawat sebelum bergerak mendekati jendela, lalu perlahan-lahan menembusnya, terapung di luar, di langit yang terang, lalu membesar, membesar dan melingkupi pemandangan. Pesawat seperti berada dalam kelopak mawar. Dari celah-celah jendela, aroma mawar itu merembes masuk bagaikan air hujan di tembok orang miskin. Dalam waktu singkat pesawat sudah dipenuhi bau mawar yang wangi tapi demikian menajam hingga terasa menyesakkan dada. Tapi seluruh penumpang dan pramugari masih tertidur, seakan tak terpengaruh. Aku mengetuk-ngetuk tempat masker oksigen, namun masker itu tidak turun-turun juga. Wangi mawar semakin mencekik bagai gas bocor. Aku meronta-ronta menyadari sebentar lagi akan habis napas. Sewaktu napasku sudah demikian sesak, aku lihat para penumpang terapung-apung bagai benda di ruang hampa udara. Pandanganku pudar, aku menggapai-gapai berusaha memegang apa saja, seakan-akan aku sedang berada dalam laut.

Aku bergerak-gerak, mencoba mencari celah untuk menghirup udara. Tapi dinding atas pesawat tak bisa ditembus. Aku nyaris kehabisan napas, kalau saja aku tak melihat sebatang tangan menjulur dari atas. Segera aku memburu tangan itu, dengan upaya yang demikian keras aku berhasil menjulurkan tanganku ke arah tangan itu. Dan begitu tersentuh tangan itu segera mencengkeram tanganku dan menariknya ke atas.

Dinding atas pesawat jebol, aku keluar dan muncul di permukaan laut. Tangan tadi rupanya milik perempuan yang duduk di sebelahku. Ia berada dalam perahu, sendirian dan basah kuyup. “Kejadiannya benar-benar gila. Aku tidak bisa memahaminya. Pilot itu, siapa namanya? dia berniat menghabisi kita. Tuhan melindungi kita. Ucapkan Amin, ayo ucapkan Amin!” Perempuan itu meracau tidak karu-karuan. “Apa kau mendengarku?” teriaknya. Sementara dari dalam laut pesawat yang kami tumpangi muncul seperti seekor paus. Tiba-tiba perempuan itu melompat ke laut dan berseru, “Sampai jumpa, jaga perahu ini, aku akan kembali, aku harus mencari kekasihku.” Lalu ia lenyap.

Laut berangsur-angsur tenang. Gelombang kecil tak cukup kuat untuk menggoyangkan perahu. Aku sendirian dan tak tahu bagaimana cara mengendalikan perahu. Kubiarkan arus mengombang-ambingkannya sembari membayangkan ada satu pulau kecil di dekat sini tempat perahu ini bisa terdampar. Tiba-tiba dari dalam laut pesawat kembali muncul, kulihat perempuan tadi merangkul tubuh kekasihnya dan terlontar ke udara bagai ikan terbang. Mereka melenting jauh ke angkasa dan menghilang begitu saja. Ketika sekali lagi pesawat itu muncul, perahuku berada tepat di atasnya. Oleh desakan dari bawah perahuku terjungkal, tubuhku melayang di udara lantas jatuh menimpa air. Tamat sudah riwayatku, aku tidak akan bisa bertahan lagi, aku sungguh-sungguh akan mati. Segala ingatan tentang segala sesuatu mendesak ke dalam pikiranku seolah-olah mereka takut tak dapat bagian. Aku ingat segala tindakan buruk yang pernah kulakukan, pada saat yang sama aku juga ingat segala kebaikan yang pernah kuberikan kepada orang. Aku menimbang-nimbang, dan jika aku merasa keburukanku lebih banyak, air laut mencekikku lebih kuat bagaikan algojo, tapi bila kupikir kebaikanku lebih banyak, air laut akan mengurangi cekikannya. Situasi itu lebih menyiksa dari apapun, sebab kedua kutub pikiran ini seperti saling belit, saling banting, tak ada yang mau mengalah.

Bagaimana caranya supaya aku bisa selamat? Aku tidak pernah belajar berenang, dan di tengah-tengah samudera luas ini percuma mengharapkan ada orang datang untuk menyelamatkan.

Semuanya buyar ketika terdengar pengumuman dari awak pesawat bahwa kami sudah mendarat, aku hanya merasakan sedikit benturan ketika tadi roda pesawat menyentuh landasan pacu. Aku lega. Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya berkerut-kerut. Tapi tidak sampai terkelupas.

Setelah turun aku segera bergegas keluar bandara. Di sana sudah banyak orang berkumpul, sebagian besar menangis tersedu-sedu. Perempuan bertato mawar setengah berlari menghampiri satu kerumunan kecil. Laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya berjalan menuju arah lain. Ternyata mereka bukan pasangan. Sirin, rekan kerjaku, kulihat di antara orang-orang. Segera ia melambaikan tangan begitu melihatku.   

“Syukurlah, Tom. Kamu sudah tiba. Kantor menelpon terus.”

“Jadi bagaimana?” tanyaku. “Kita pilih saja sekarang, yang mana menurutmu?” ucap Sirin. Aku melihat sekeliling, dalam kesedihan dan dukacita setiap orang tampak serupa. “Nah, yang itu saja,” kataku sembari menunjuk ke suatu kerumunan.

Kami segera bergerak. Sirin menyiapkan kamera, aku memegang mikrofon. “Itu putra Anda?” tanyaku pada perempuan bertato mawar di leher yang terus-menerus tersedu sembari melirik seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun. Perempuan itu mengangguk. “Kami hendak mewawancarai Anda. Bisakah Anda menggendongnya?” tanyaku.

(Kekalik-Bakarti, 2018)

Kiki SulistyoMeraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *