Cerpen

Perempuan Tiga Puluh Tahunan dan Lubang Hitam yang Menganga di Dinding Kamarnya

April 30, 2019

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Sungguh, ia ragu-ragu mengayunkan langkah ke lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya. Selain karena lubang hitam itu bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala, lubang hitam itu juga terlihat bagai moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Bahkan, peluh seni yang terus tumbuh di dahinya sebesar biji-biji jagung, berjatuhan satu demi satu. Membasahi permukaan permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai. Namun, permukaan permadani klasik yang lembut pemberian suaminya itu, belum cukup memberikannya ketenangan untuk melawan rasa takut yang sedari tadi membingkai pikirannya. Ia lunglai. Terjatuh. Dan tak sadarkan diri.

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan itu siuman. Ia mendapati lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya kian besar. Cukup untuk memasukkan seekor gajah ke dalamnya. Ia pun melihat, lubang hitam itu benar-benar moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Gelap dan pengap. Serta, aroma lembap yang begitu kentara.

Ia menangis. Ada kesedihan yang maha yang menyelusup ke dalam batinnya dan melukai. Darah mengucur deras. Anyir darah yang menggenangi batinnya menyeruak menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya mual sejadi-jadinya. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah. “Tolong jangan paksa saya masuk ke dalam sana,” racaunya. Ia coba menahan sekuat tenaga. Tapi, lagi-lagi, anyir darah yang menggenangi batinnya itu kembali menyeruak dan menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya semakin mual. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah untuk kedua kalinya. “Tolong, jangan, saya mohon….”

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan yang tadi sempat siuman dalam ketidaksadaran dirinya itu kembali pingsan. Dan, dalam pingsannya itu ia bermimpi–sama seperti mimpi yang kerap menghantuinya sejak dulu. Di mimpinya, ia melihat dirinya berjalan menyusuri lorong gelap yang ada di lubang hitam itu. Berjalan dan terus berjalan. Ia mengendap-endap. Membuntuti dirinya sendiri yang terpaut belasan langkah di depannya. Ia merasa lelah, tapi tak mampu untuk berhenti. Terus dan terus menyusuri lorong gelap hingga secercah cahaya kemerah-merahan terlihat dari ujung sana. Ia pun cepat-cepat memacu langkah. Buru-buru ingin mengetahui cahaya apa yang ada di ujung sana. Hingga tanpa ia sadari, dirinya tidak lagi berada di depannya–bahkan tidak lagi ada di sana.

Cahaya kemerah-merahan itu ternyata senja. Ya, senja. Senja yang menyelimuti tanah landai yang cukup luas yang ditumbuhi alang-alang yang sedang berbunga. Dan, dari sela-sela alang-alang yang sedang berbunga tersebut, perempuan tiga puluh tahunan melihat aliran sungai yang agak berkelok dan panjang. Aliran sungai itu mengarah ke dalam hutan. Berada persis di hadapannya. Akan tetapi, bukan lebatnya hutan dan panjangnya aliran sungai itu yang menarik perhatiannya saat ini, melainkan sesosok gadis kecil. Gadis kecil yang bermain-main di pinggiran sungai sambil mengejar seekor kupu-kupu. Setiap kali kupu-kupu itu hinggap di pucuk bunga-bunga liar yang tumbuh di tepian sungai, gadis kecil itu mengintai lalu menyergapnya. Dan, apabila kupu-kupu itu berhasil lolos, kemudian terbang terlalu tinggi atau jauh ke tengah sungai, maka gadis kecil itu akan menari-nari seolah-olah tidak memedulikan kupu-kupu itu lagi. Sampai kupu-kupu itu terkecoh lalu kembali hinggap dan gadis kecil itu akan menyergapnya lagi.

Selangkah demi selangkah perempuan tiga puluh tahunan itu mendekat. Ia melihat gadis kecil yang mengenakan gaun panjang–berwarna putih–tanpa lengan itu sedang menari-nari di hadapannya. Rambut gadis kecil itu hitam legam agak bergelombang dan panjangnya sedikit melewati bahu. Sesekali angin menerpa rambutnya, juga rambut perempuan tiga puluh tahunan itu. “Anak manis, siapa nama kamu?” perempuan tiga puluh tahunan menyapa dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin mengagetkan gadis kecil itu.

Alih-alih menjawab, gadis kecil malah menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia lantas menunjuk kupu-kupu yang masih terbang ke sana-kemari. Perempuan tiga puluh tahunan paham maksud dari gadis kecil tersebut. Ia lalu diam. Menunggu dan terus mengamati gadis kecil itu hingga senja berangsur pekat. Dan, rembulan muncul perlahan-lahan.

“Boleh saya ikut bersama kamu, anak manis?”

Gadis kecil mengangguk, kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai menuju hutan. Perempuan tiga puluh tahunan bergegas menyusulnya.

“Anak manis, tunggu!”

Bagi perempuan tiga puluh tahunan, gadis kecil itu terlampau gesit. Ia kesulitan mengikuti langkah gadis kecil itu ketika melewati bebatuan licin yang besarnya tiga kali dari buah nangka paling besar yang pernah ia lihat semasa kecil dulu. Perempuan tiga puluh tahunan berhenti sejenak. Ia mengatur napas.

“Anak manis, tunggu! Jangan tinggalkan saya!”

Perempuan tiga puluh tahunan langsung mengejar tatkala bebatuan licin yang sejak tadi jadi rintangannya sudah tidak ada lagi. Ia berlari sekencang-kencangnya–saat melihat gadis kecil itu lamat-lamat tenggelam ke dalam hutan.

“Kamu di mana?”

Dengan napas tersengal-sengal, ia nekat masuk dan mencari-cari gadis kecil itu di dalam sana. Ia menatap pohon-pohon besar yang akar-akarnya berjuraian menghunjam tanah. Perempuan tiga puluh tahunan itu bergidik. Ia merasa akar-akar pohon yang berjuraian itu seolah-olah hendak menggerayangi tubuh dan merobek-robek perutnya. Matanya berkunang-kunang. Dan, hampir saja perempuan tiga puluh tahunan itu pingsan, seandainya saja gadis kecil itu tidak segera menghampiri dan menjawil tangannya.

“Anak manis, tolong, jangan jauh-jauh, saya takut.”

Gadis kecil tersenyum. Ia kembali melangkah sembari menggamit tangan perempuan tiga puluh tahunan itu. Perempuan tiga puluh tahunan cuma bisa pasrah.

“Di mana kita sekarang?”

Perempuan tiga puluh tahunan mengamati pohon-pohon besar yang kini terlihat jauh lebih tinggi dan besar daripada pohon-pohon yang ia lihat tadi. Dan, akar-akar gantung pohon-pohon besar itu tampak lebih kokoh daripada akar-akar tadi yang sempat membuatnya ngeri. Ia pun melihat, di bawahnya, daun-daun yang berguguran yang telah berwarna kuning kecokelatan itu terhampar dengan sangat tebal. Daun-daun layu itu juga terasa begitu lembap.

“Kita mau ke mana?”

Gadis kecil mengarahkan telunjuknya ke sebongkah batu yang ada di dekat tebing–batu dan tebing hutan itu berjarak tinggal beberapa langkah lagi.

“Di mana rumah kamu?” perempuan tiga puluh tahunan celingukan; ia tak melihat sebuah rumah–atau apa pun yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal–di sekitar situ.

Dengan ringan gadis kecil itu tersenyum.

“Di mana orangtua kamu? Saya tak melihat siapa pun di sini selain kamu,” perempuan tiga puluh tahunan langsung duduk menyandar pada batu yang tadi mereka tuju. Ia kelelahan. “Papa kamu di mana?”

Gadis kecil menggeleng. Ia tampak murung.

“Kamu tidak punya papa?”

Gadis kecil bergeming.

“Maafkan saya sudah menanyakan hal itu.”

Suasana tiba-tiba menjadi kaku. Perempuan tiga puluh tahunan menyesal telah membuat gadis kecil itu bersedih. Meskipun dalam hatinya, ia iri pada gadis kecil tersebut. Ia senantiasa iri pada tiap-tiap anak yang tidak mempunyai papa. “Beruntunglah manusia yang tidak mempunyai papa. Beruntunglah Isa putra Maryam. Beruntunglah kamu, anak manis,” gumam perempuan tiga puluh tahunan itu seraya melempar pandang ke arah langit. Memandangi bintang-bintang yang terlihat–yang tidak terhalangi oleh kerindangan pohon-pohon besar itu. Sejenak kemudian, perempuan tiga puluh tahunan memejamkan mata, “Seandainya saya seperti kamu.”

“Bagaimana dengan mama kamu? Kamu pasti punya mama, kan?” perempuan tiga puluh tahunan kembali menoleh. “Di mana dia sekarang?”

Gadis kecil tidak menjawab.

“Oh, anak manis, tolong jangan katakan kepada saya, kalau kamu tidak seberuntung itu. Setidaknya, dulu, saya pernah mempunyai seorang mama yang sangat baik,” perempuan tiga puluh tahunan menghela napas cukup panjang, “walau TBC akhirnya membuat dia mati.”

“Ta-nah.”

“Apa?” tentu saja perempuan tiga puluh tahunan itu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis kecil tersebut. Akan tetapi, mengapa gadis kecil itu berkata demikian; tanah?

“Ibuku adalah ta-nah.”

Perempuan tiga puluh tahunan terperanjat mendengar perkataan gadis kecil tersebut. Ia tatap gadis kecil itu dengan saksama. Gadis kecil lalu mendekat. Mengangsurkan tangannya pada perempuan tiga puluh tahunan. Mengajak perempuan tiga puluh tahunan itu melihat sisi sebaliknya dari batu yang ia jadikan sandaran. Dan, di situ, di sela-sela antara batu dan tebing hutan itu, perempuan tiga puluh tahunan mendapati gundukan daun yang tidak terlalu tinggi. Gadis kecil lantas menunjuk gundukan itu.

Dengan sigap perempuan tiga puluh tahunan menyibak daun-daun layu yang terasa basah dan menutupi ceruk di sela-sela batu dan tebing hutan itu. Betapa terkejutnya ia, kala mendapati kerangka bayi yang tersembunyi di balik serasah pada sebuah ceruk di lantai hutan. Bahkan, tengkorak bayi yang ia temukan itu tidak lebih besar dari kepalan tangannya. Dan, kerangka bayi yang masih terlihat utuh itu juga tampak seperti kerangka bayi yang baru saja dilahirkan.

Ia mengerang. Sesuatu berdetak dalam perutnya. Makin lama makin terasa. Dan semakin kencang. Detak itu seolah berkejar-kejaran dengan detak jantungnya sendiri. Sesuatu yang ada di perutnya itu kini berontak. Menendang-nendang. Memukul-mukulnya dari dalam. Perempuan tiga puluh tahunan mendekap perutnya yang membesar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Dan tiba-tiba saja, bak menerima hantaman keras, perempuan tiga puluh tahunan itu terpekik, “… akhh!” Ia terpelanting jauh. Seketika segalanya jadi menghitam.

“Hahaha.”

“Hahaha.”

“Mari bersulang.”

“Mari kita rayakan.”

Suara ramai orang yang bercakap-cakap itu membuatnya terbangun. Samar-samar, serupa bayangan, dilihatnya dua orang yang tengah asyik bercakap-cakap itu mengangkat gelas dengan penuh sukacita. Ia masih terbujur lemah di atas permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai itu. Dan, mereka, dua orang laki-laki tua yang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa itu kian menjengkelkan. Perempuan tiga puluh tahunan mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap dua laki-laki tua yang saling berbesan itu lenyap dari penglihatannya. Perempuan tiga puluh tahunan kemudian menangis. Ia teringat seorang lelaki yang dulu pernah ia jadikan kekasih dalam khayalannya. Laki-laki yang kerap memberikannya bahu tiap-tiap ia merasakan sedih. Laki-laki yang seringkali mengusap-usapkan hidungnya ke pipi, leher, juga payudara dan selangkangannya. Laki-laki yang tidak pernah lupa mengecupkan bibirnya dengan penuh penghayatan. Dan, laki-laki itu, sayangnya mati dengan cara yang entah bagaimana. Perempuan tiga puluh tahunan tidak pernah tahu. Ia tak pernah paham. Namun, dalam lamunannya, ia meyakini, bahwasanya laki-laki itu mati dimangsa kawanan serigala lapar. Sebagaimana yang pernah diceritakan mamanya dahulu: cuma serigala laparlah yang tega menghabisi nyawa orang baik-baik. Dan serigala lapar itu tentu tidak akan melakukannya sendirian.

Dua laki-laki tua saling berbesan itu kini raib dari penglihatannya. Ia melihat lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya masih bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala. Dan, di depan lubang hitam yang menyala-nyala itu pula, ia menyaksikan dirinya tengah mengendap-endap membuntuti gadis kecil yang berjalan menyusuri lorong gelap dan menakutkan itu. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu menangis sejadi-jadinya.***

Abdullah Salim DalimuntheTinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *