Cerpen

Satu Menit di Neraka

April 2, 2019

Cerpen Daruz Armedian

Bandu mati suri dan ketika hidup kembali, ia menceritakan pengalamannya satu menit berada di neraka. Orang-orang setempat tidak ada yang percaya, meskipun kemudian tetap menyimak ceritanya.

Orang-orang setempat yang tidak percaya mengenai pengalaman Bandu sewaktu mati tentu saja bukan tanpa alasan. Banyak orang mati suri dan ketika hidup kembali, mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka dibuat lupa oleh pencipta semesta ini. Pengetahuan mereka dibuat kembali dari nol lagi.

Orang-orang setempat yang penasaran cerita Bandu tentang satu menitnya di neraka juga bukan tanpa alasan. Siapa yang tidak rindu kebohongan paling asyik di tengah-tengah banjirnya kebohongan yang buruk di dunia maya? Tentu saja penasaran dengan cerita Bandu menjadi pilihan terbaik. Bandu toh memang tukang cerita yang baik. Bandu toh juga bersungguh-sungguh ingin memberikan pengalamannya.  

“Satu menit di neraka ternyata menyedihkan. Kau akan tahu bagaimana malaikat yang digambarkan terbuat dari cahaya itu menjadi begitu bengis. Persis iblis. Mereka tidak peduli ada makhluk-makhluk Tuhan paling mulia tersiksa di neraka. Malaikat itu terus membodami mereka, sampai hancur, sampai tulang-tulangnya menjadi bubur.”

Orang-orang menyimak dengan saksama. Saleho, pemuda yang kebetulan masa kecilnya sering mengoleksi buku kecil Siksa Neraka, melongo sampai pada titik terlebar. Mulutnya seperti ingin memangsa lebih banyak udara.

“Satu menit di neraka, kau akan tahu bagaimana rasanya tulang punggung meleleh, otak mendidih, dan daging matang.”

“Gimana Abang bisa tahu itu sedangkan sekarang Abang baik-baik saja? Abang masih bisa bercerita. Abang masih bernapas seperti biasa.” Celetuk Ahmad Sultan Syafi’i, mahasiswa fakultas dakwah.

“Tunggu dulu, Anak Muda. Masalah ini tidak segampang yang ada di pikiranmu.”

“Terus gimana, Bang?”

“Karena cuma satu menit, maka aku belum disiksa. Aku baru di pinggir neraka dan melihat semua kejadian-kejadian mengerikan di dalamnya.”

“Bukannya satu menit di neraka itu sudah terhitung lama?”

“Aku tidak paham soal itu. Yang jelas, aku belum disiksa. Hanya, Tuhan berencana memasukkan aku ke dalamnya lewat malaikat-malaikat yang bengis itu.”

“Tunggu dulu. Kamu jangan ngawur!” tersinggung karena malaikat dibilang bengis, Ustaz Khaliq angkat bicara, “cukupkan saja ceritamu itu.”

“Mohon maaf, Ustaz. Kalau tidak mau mendengar cerita saya, silakan Ustaz undur diri. Saya akan tetap melanjutkan cerita saya soal di neraka yang siksaannya sangat pedih.”

Ustaz Khaliq geram, alih-alih masih tetap mendengarkan cerita Bandu. Dan tepat ketika cerita itu sampai pada peristiwa yang paling mengerikan (tentu saja tidak perlu ditulis di sini), Ustaz Khaliq tergidik, lalu pergi dan tidak mau mendengarkan cerita mengenai neraka lagi. Terlalu mengerikan, bahkan walau hanya untuk dibayangkan, pikirnya. Lalu satu orang menyusul pak ustaz, lalu satu orang lagi, lalu beberapa orang, lalu semuanya pergi meninggalkan Bandu.

Bandu terbahak-bahak melihat kejadian itu. Sehingga orang-orang yang belum jauh pergi, memandangi Bandu dengan heran. Kemudian terdengar teriakan dari Bandu, “Kalau kalian takut neraka, mestinya tak perlu mengharapkan surga! Kalian menyembah Tuhan atas nama ketakutan!”

Semuanya tersentak. Tetapi, itu tentu bukan hanya karena perkataan Bandu, tapi juga karena tepat pada saat mengucapkan itu, Bandu terbang. Semakin meninggi dan meninggi dan akhirnya tak kelihatan lagi.[]


Daruz Armedian Lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mendapatkan penghargaan cerpen terbaik tingkat remaja di DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016 dan 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *