Cerpen

Sebuah Cerita Tentang Rumah

April 16, 2019

Oleh Ardy Kresna Crenata

Hari ini pun ia begitu diam. Bahkan, aku rasanya belum sedikit pun mendengar suaranya. Ketika akan menyantap hidangan ia memang mengucapkan “itadakimasu[1] namun ia mengucapkannya dengan sangat pelan, seakan-akan ia berusaha agar tak seorang pun mendengarnya, seakan-akan ia enggan aku dan Kanae-san atau siapa pun menyadari keberadaannya. Kami membiarkannya. Ah, tidak. Aku yang membiarkannya, sementara Kanae-san sesekali mengajaknya bicara atau sekadar menyuruhnya mencoba hidangan demi hidangan. Sesekali ia mengangguk.

Kami mulai menikmati makan malam bertiga seperti ini sejak lima hari yang lalu. Saat itu, aku terkejut mendapati seseorang asing duduk di kursi yang biasa kududuki, dan ia seorang diri saja di sana dan menatapku tanpa emosi. Kanae-san saat itu sedang mempersiapkan sesuatu di dapur, dan ia lupa memberitahuku bahwa malam itu kami kedatangan “tamu”. Aku menghampirinya, duduk di sebuah kursi di hadapannya. Aku mengira ia teman-main Kanae-san dan karenanya aku mencoba bersikap ramah dengan menanyainya siapa namanya dan apa yang tengah dan akan dilakukannya di rumah kami, namun ia tak menjawabnya; ia bahkan segera mengalihkan tatapan matanya dariku, dan tingkahnya ini tentu membuatku kesal. Terang-terangan tunjukkan kekesalanku itu lewat raut mukaku. Akan tetapi, ia tak terlihat terganggu.

Beberapa belas menit kemudian aku mulai mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Kanae-san bilang ia ditelepon seorang teman-aktivis-nya dan diminta datang ke kantor lembaga kemanusiaan tempat temannya itu bekerja, saat itu juga. “Ada orang yang butuh pertolonganku. Gitu kata temenku,” jelas Kanae-san. Seseorang yang dimaksud temannya itu konon baru saja mengalami serangkaian “kejahatan” yang mengarahkannya pada upaya bunuh diri, hanya saja ia terselamatkan sebab jumlah pil tidur yang ditelannya rupanya masih kurang banyak. (Bisa dibilang seseorang ini memiliki tingkat imun dan daya tahan tubuh yang sangat baik. Untunglah!) Kanae-san menemui seseorang itu, mendekatinya dan duduk di sampingnya, dan mulai mengajaknya bicara. Lalu tanpa diduga, seseorang itu mulai menangis. Menangis dan menangis. Teman-aktivis-nya memberitahu Kanae-san bahwa selama lebih dari setengah jam berada di sana seseorang itu hanya diam seperti mayat hidup.

Seseorang itu kemudian dibawa Kanae-san ke rumah ini, dan kini ia berada di hadapanku. Aku ingat di malam pertama ia bersama kami itu aku mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan rupanya aku masih terus melakukannya hingga detik ini. Ia begitu misterius. Begitu kesan yang kutangkap. Saat teman-aktivis Kanae-san menemukannya ia begitu kumuh dan tak membawa satu tanda pengenal pun. Sepasang suami-istri yang memanggil ambulans dan menyertainya ke rumah sakit mengatakan mereka menemukannya di kursi sebuah taman dalam keadaan sebelah tangan terkulai hingga hampir menyentuh tanah, dan semacam cairan putih mulai membusa di mulutnya. “Aku curiga dia korban human trafficking.” Begitu Kanae-san memberitahuku. Aku pun berpikir demikian.

***

Selama tiga hari kemudian Kanae-san mencoba beragam cara untuk membuat perempuan itu bicara; setidaknya mengatakan siapa namanya sesungguhnya dan di mana ia pernah tinggal. Menurutku, jika dilihat dari kulit mukanya yang masing kencang, ia masihlah di pertengahan dua puluh, dan mungkin sempat menjalani kehidupan yang cukup mewah. Mengenakan salah satu kaus leher kura-kura milikku ia tampak begitu muda meski tanpa gairah. Dulu, lebih dari lima tahun yang lalu, Kanae-san membeli kaus itu untukku.

Sesungguhnya aku mengerti mengapa ia masih sediam ini. Dulu pun, agaknya, aku tak langsung membuka diri kepada Kanae-san; aku seperti khawatir seseorang yang begitu saja menolongku dan menampungku itu hanyalah sosok busuk lain yang harus kuhadapi dalam hidupku; hidupku yang sudah kelewat suram—saat itu. Karena kesabaran Kanae-san-lah barangkali aku akhirnya membuka diri, sedikit demi sedikit. Aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menceritakan apa saja yang bisa kuceritakan, demi meringankan beban Kanae-san dan bebanku sendiri. Dua-tiga bulan kemudian, aku sudah bisa tersenyum dan menyambut guyonan-guyonannya.

Kali ini pun Kanae-san agaknya akan mengulangi apa yang dilakukannya itu. Ia memang berpengalaman, dan professional. Aku tahu di dalam hatinya ia sesungguhnya kerap mengeluh dan ia melepaskan kepenatan dan tekanan-tekanan yang dirasakannya di tempat-tempat tertentu, meski kadang ia kewalahan juga. Suatu dini hari, misalnya, lima tahun yang lalu, aku terbangun dan ingin kencing, dan tak sengaja kutemukan Kanae-san sedang menangis sesenggukan di kotatsu[2]. Televisi di hadapannya ketika itu menyala namun tanpa suara.

Kembali ke perempuan itu. Sejujurnya, melihatnya mengingatkanku pada diriku sendiri. Diriku lima tahun lalu. Aku pun dulu mungkin masih semuda itu, hanya saja bentuk mukaku tak se-kawaii[3] bentuk mukanya. Aku tak akan terkejut jika di hari-hari yang dijalaninya sebelum bersama kami itu ia rupanya seorang model majalah lokal, atau ambassador sebuah produk kecantikan yang iklannya belum tayang di televisi. Sesuatu semacam itu. Tetapi membayangkan itu benar, dan menyandingkannya dengan kenyataan ia mencoba bunuh diri dan seperti tak memiliki siapa-siapa lagi, tak pelak lagi membuatku risau. Seseorang di hadapanku ini mungkin sedang menahan sesuatu yang teramat muram dan ia bisa saja memuntahkannya sewaktu-waktu dan itu, sangat mungkin, akan memengaruhi kehidupan kami.

“Besok siang bisa nemenin Mima-tan belanja? Aku akan seharian di luar. Baru pulang malam,” ujar Kanae-san.

Aku mengangguk. Besok hari libur dan aku tak punya rencana bepergian.

“Sudah saatnya Mima-tan melihat kembali dunia luar. Terlalu lama mendekam di sini bisa bikin dia lupa kalau dia itu manusia,” tambah Kanae-san.

Kembali, aku mengangguk. Kalau tidak salah lima tahun lalu aku pun mulai diajak “melihat” kembali dunia luar di hari kelimaku.

Beberapa minggu berlalu dan kondisi perempuan itu mulai membaik. (Kanae-san memanggilnya dengan namanya, tetapi aku entah kenapa selalu menghindari itu; seakan-akan di dalam diriku ada dorongan untuk menjauhkan diriku darinya meski jelas sekali ia mengingatkanku pada diriku dulu.) Sekarang, ia mulai merespons ucapan-ucapan Kanae-san dengan ucapan juga. Ia pun sesekali tersenyum meski masih terlihat memaksakan diri. Kepadaku, ia mulai menunjukkan keramahannya, seperti dengan mengangguk dan memberiku senyumnya itu. Aku mulai lega dan berharap kondisinya akan terus membaik. Tetapi di saat yang sama, sekiranya ini bukan perasaanku saja, sesuatu di dalam diriku justru berharap suatu hari nanti perempuan ini akan pergi kembali ke tempatnya yang semestinya dan meninggalkan kami.

***

Kanae-san sejauh ini telah cukup berhasil mengorek informasi tentang perempuan itu, dan ia begitu senang akan hal ini. Setidaknya itulah yang terlihat di binar matanya. Tentu saja ia tidak melakukannya seorang diri; si teman-aktivis-nya tadi (juga teman-temannya yang lain) ikut mendatangi sejumlah tempat dan menanyai sejumlah orang. Rupanya, setidaknya dari pencarian sementara, perempuan itu pernah terlibat dalam suatu produksi film porno; ia berperan sebagai si aktris dan pembuatan film itu melibatkan sebuah rumah produksi ternama dan seorang bintang porno terkenal. Kabar ini sebenarnya masih samar, tetapi jika benar, sungguh aku bersimpati padanya. Ia sesungguhnya dikontrak—sebab dibayar agaknya kelewat kasar—untuk bersetubuh dengan seorang lelaki saja, tetapi kenyataannya, saat proses pembuatan film berlangsung, ia disetubuhi juga oleh lelaki-lelaki lain. Ada yang mengatakan jumlah lelaki-di-luar-kontrak itu lima orang. Ada juga yang mengatakan tujuh orang. Pada saat pengambilan gambar itu tentulah ia tak berdaya; bagaimanapun ia satu-satunya perempuan di tempat itu dan ia dalam keadaan lemas—mungkin juga ngilu. Setelah pengambilan gambar selesai, setelah ia berada di kamar apartemennya, ia mulai menyesali apa yang telah dilakukannya itu, dan setelah lama memikirkannya ia pun memutuskan untuk tidak lagi melakukannya. (Tidak lagi! Sebab sekali saja sudah cukup!) Tetapi rupanya ia harus menerima kenyataan bahwa kontrak yang tempo hari ditandatanganinya itu mengandung sesuatu yang tidak ia ketahui, bahwa jika ia memutuskan kontrak begitu saja hanya setelah satu produksi film maka ia diharuskan membayar uang kompensasi yang begitu besar—puluhan juta Yen—dan ia harus membayarnya dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Mau tidak mau, ia kembali menjalani produksi film yang lain, dan terus seperti itu sampai ia tidak tahu lagi apakah ketika melakukannya ia sedang bekerja atau justru diperbudak. Ia memang dibayar, sesuai yang tertera di kontrak. Tetapi ia tak lagi menikmatinya. Tak sedikit pun menikmatinya.

Dan mulailah ia akrab dengan ide-ide bunuh diri. Pernah, misalnya, ia membayangkan menyelipkan pisau lipat di belahan dadanya, dan ia mengeluarkan pisau ini saat si aktor pasangannya mulai menciuminya dan menikamkan pisau itu ke perutnya sendiri, atau ke lehernya yang tengah diciumi si aktor itu. Pernah juga, saat tengah menjalani satu produksi film, dalam keadaan menelentang dan telanjang dan sekuat tenaga menahan rasa sakit di bawah perutnya, ia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah botol anggur. Di dalam benaknya ia memanjangkan tangan kirinya dan mengambil botol itu dan memecahkannya, lantas menikam dirinya sendiri di leher sepuas hatinya.

Ketika ia benar-benar mencoba bunuh diri (dengan menelan sekaligus sejumlah pil tidur yang ia beli dari sebuah konbini[4] dengan sisa uang terakhirnya), ia sudah beberapa lama melarikan diri dari orang-orang yang terlibat dalam produksi film-film porno yang dibintanginya tadi. Ia tak langsung menelan sejumlah pil tidur itu setelah ia membelinya; untuk beberapa lama pil-pil itu bercokol di saku celananya dan ia tak menyentuhnya. Bisa jadi, ia bimbang. Atau takut. Ia tentulah menilai hidup yang dijalaninya sudah tak berarti lagi; bahwa ia mungkin lebih baik mati saja daripada terus hidup namun menderita dan menderita. Entah di mana keluarga dan teman-temannya. Informasi yang terkumpul belum sampai menyentuh dua hal ini. Beberapa lama perempuan itu berkeliaran dari satu trotoar ke trotoar lain, dari satu taman ke taman lain, dari satu kursi ke kursi lain. Ia tak lagi makan, dan entah telah berapa hari berlalu sejak terakhir kali ia mandi. Dan begitulah ia kemudian menelan sekaligus pil-pil tidur itu, dan sepasang suami-istri yang kebetulan pulang larut dan hendak bermesraan di sekitar taman menemukannya dan menyelamatkannya dari kematian—meski ia mungkin tak mengharapkannya.

Setelah mengetahui sepenggal masa lalunya itu aku jadi melihatnya secara berbeda. Sedikit berbeda. Di dalam diriku aku memang masih merasakan dorongan untuk menjauhkan diriku darinya, dan diam-diam aku masih berharap suatu saat nanti ia akan pergi, membiarkan aku dan Kanae-san menikmati hari-hari kami berdua lagi. Tetapi sepertinya, aku juga mulai menyayanginya. Lebih tepatnya, aku kasihan padanya. Aku tak ingin sesuatu seburuk itu kembali menimpanya.

***

Enam tahun lalu, selama hampir satu tahun penuh, aku menghabiskan malam-malamku di sebuah ruas jalan di Akihabara, menawari lelaki-lelaki yang kutemui kalau-kalau mereka ingin menghabiskan satu sampai satu setengah jam denganku untuk mengobrol, hanya mengobrol, tentunya dengan imbalan sekian ribu Yen. Hampir satu tahun penuh. Selama itu aku telah berhadapan dengan dan melayani orang-orang yang berbeda, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menjengkelkan. Semula aku kira para pelangganku itu akan lebih banyak orang-orang tua; lelaki-lelaki empat puluh tahun ke atas yang tak lagi bisa menikmati kehidupan keluarganya atau telah menyerah mencari pasangan. Rupanya, lama-kelamaan, orang-orang yang duduk dan bicara di hadapanku justru anak-anak muda; lelaki-lelaki di pertengahan dua puluh atau awal tiga puluh yang kadung malas mencari teman-ngobrol yang sesungguhnya. Suatu ketika, aku jenuh. Beberapa teman-seprofesiku kudengar menerima tawaran-tawaran yang lebih jauh dari pelanggan-pelanggan mereka seperti berkencan di luar jam kerja atau bahkan bersanggama, mungkin untuk mengatasi kejenuhan mereka. Aku sendiri? Tidak. Bagaimanapun aku bukan pelacur dan apa yang kulakukan selama hampir satu tahun itu lebih ke sebuah upaya untuk mengatasi kesunyianku sendiri, sebab baik rumah maupun sekolah sudah menjadi ruang-ruang lain di mana kesunyianku itu tumbuh. Apa yang kulakukan itu adalah rumahku. Aku seperti sedang membangun rumahku sendiri. Begitulah saat itu aku berpikir. Hingga kemudian, aku jenuh. Selama beberapa hari aku menjalani profesiku itu tanpa menikmatinya lagi, tanpa sedikit pun menikmatinya lagi. Dan di masa itulah Kanae-san muncul.

“Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini? Nggak pulang?”

Itulah yang ditanyakan Kanae-san di pertemuan pertama kami. Aku menatapnya curiga. Saat itu aku sedang menengadah memandangi langit dan bertanya-tanya apa yang dilakukan makhluk-makhluk lain di luar angkasa sana—kalau memang mereka ada. Kanae-san tentu menyadari aku masih mengenakan seragam sekolahku, dan karena itulah ia menghampiriku.

Menikmati hari-hari bersama Kanae-san di rumah ini, selama lima tahun, membuatku kembali merasa hidup. Agaknya sesuatu positif ini mulai mendatangiku di tahun keduaku bersamanya. Kanae-san, meski telah tahu betul di mana orangtuaku tinggal dan seperti apa mereka, tak mendesakku untuk pulang. Ia hanya bilang bahwa aku, dan setiap orang yang merasa sendirian di dunia ini, sesungguhnya tak pernah sendirian. Akan ada orang-orang seperti dirinya yang akan menemani mereka; yang akan menerima mereka dan menemani mereka. “Kalau suatu hari nanti kamu sudah merasa ingin pulang, pulanglah,” ujarnya, hampir empat tahun yang lalu.

Di akhir tahun keduaku bersama Kanae-san aku lulus dari SMA, dan beberapa bulan setelahnya aku melanjutkan studi ke sebuah universitas di Tokyo atas dorongan darinya. (Ia bahkan ikut membiayaiku dengan menjual mobil-pribadinya yang telah digunakannya selama bertahun-tahun!) Tahun lalu, entah ini kebetulan atau apa, aku berkesempatan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa asing di sebuah kota di Indonesia. Kanae-san menyambutku setibanya aku di bandara Haneda, beberapa bulan setelahnya. Ia merangkulku dan menangis. Ia bilang ia merindukanku.

Sejak memutuskan untuk percaya padanya, aku telah berkali-kali pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju-baju ganti dan peralatan sekolah. Kanae-san tak sedikit pun menanyaiku apa yang terjadi di rumah dan bagaimana reaksi ayah-ibuku atas “kepindahanku”, dan ia selalu menyambutku dengan senyumannya yang terasa tulus dan hangat itu. Aku sangat menghargai pengertiannya dan, di saat yang sama, menyayanginya.

***

Kanae-san tak menikah. Setidaknya itu yang aku tahu. Umurnya saat ini empat puluh tiga dan ia sudah seperti ibuku sendiri. Apakah ia tidak kesepian? Kadang-kadang aku memikirkannya, dan selepasnya aku selalu bersyukur bahwa bisa jadi dengan ia tidak menikah itulah aku jadi bisa hidup dengannya, di rumahnya ini, layaknya ibu dan anak, atau dua orang teman dekat. Ia, pernah aku berpikir, mungkin mengisi kesunyian dan kesendirian yang dirasakannya akibat tak menikah itu dengan menampung dan merawat orang-orang seperti kami—aku dan si perempuan tadi. Bisa jadi dugaanku ini tepat sasaran.

“Malam ini menu kita sashimi[5],” teriak Kanae-san, dari dapur.

Aku merebahkan diriku di sofa, dan menyalakan televisi.

“Kerja-sambilanhari ini gimana?” teriaknya lagi. “Mima-tan katanya pengen tahu,” sambungnya, lantas tertawa.

“Lumayan ngerepotin,” balasku, sambil menoleh ke arah dapur.

Kanae-san lalu memberitahuku bahwa ofuro[6] sudah siap seandainya aku ingin menggunakannya. Kuucapkan terima kasih, tetapi ia mengoreksiku dengan berkata bahwa seseorang yang semestinya menerima ucapan terima kasih dariku itu adalah seseorang lain yang tengah berada di sampingnya, yang tengah membantunya menyiapkan makan malam; seseorang yang sampai detik ini aku masih juga enggan menyebut namanya itu.

“Ah, oke. Terima kasih ya,” ujarku.

Seseorang itu tak menjawabnya, atau mungkin ia menjawabnya tetapi dengan volume yang begitu rendah.

“Semalam katanya Mima-tan mimpiin kamu. Makanya dia penasaran dan pengen tahu kabarmu hari ini,” kata Kanae-san, hampir-hampir berteriak, dan kembali ia tertawa.

Jujur saja aku tak tahu harus meresponsnya seperti apa. Aku hanya memandangi layar televisi sambil mengganti-ganti saluran; membiarkan tawa Kanae-san—juga suara tipis perempuan itu—melayang-layang di dalam kepalaku, melayang-layang di dalam diriku.

Dan meski aku tahu betul aku tak mungkin mengganti-ganti saluran televisi selamanya, aku terus saja melakukannya seolah-olah aku berpikir aku bisa dan harus mencoba melakukannya selamanya. Seakan-akan, di titik aku berhenti melakukannya, sesuatu teramat penting yang telah susah-payah kumiliki akan terenggut dariku, begitu saja terenggut dariku, dan aku tak akan bisa lagi mendapatkannya.(*)


[1] Kata yang biasa diucapkan orang Jepang saat akan menyantap hidangan makanan ataupun minuman.

[2] Meja-kayu berkaki rendah yang dilengkapi dengan pemanas; biasa dipasang dan digunakan di musim dingin.

[3] cantik, imut.

[4] Convenient store

[5] Potongan ikan mentah. Biasanya disajikan dengan kecap.

[6] Bathtub versi orang Jepang. Sering juga diartikan kamar mandi ala Jepang yang terpisah dari toilet, di mana di dalamnya ada bathtub yang biasa diisi dengan air panas atau air hangat.

Ardy Kresna Crenata menulis esai, cerpen, dan puisi. Buku kumpulan cerpennya: Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (DIVA Press, 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *