Cerpen

Sepotong Masa Lalu di Depan Pintu

May 21, 2019

Cerpen Latif  N. Janah

Akulah saksi perjalananmu. Merebut hatimu sejak keluargamu sendiri tak menerima kau kembali. Akulah pemilik hatimu sekarang ini. Meski begitu, kau selalu berharap agar aku menghilang. Melebur bersama kenangan. Tetapi, nyatanya, aku semakin  hidup dan berjaya megah di kehidupanmu. Jika keluargamu menyebutku noda, kau justru lebih halus menamaiku penyesalan. Akulah yang lantas mengiringi hidupmu sejak Sania mencampakkanmu.

Kau membisu. Tanganmu masih menggegam terali besi jendela. Bibirmu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Terhitung sejak kedatangannya setengah jam yang lalu, yang kau lakukan hanyalah menatap ke luar jendela. Seolah-olah dengan begitu, kau bisa menemukan sedikit pereda kegugupanmu.

Ia datang bersama Maria, gadis kecilmu yang umurnya kini hampir lima belas. Kau sama sekali tak bernafsu melihat keduanya. Meskipun jauh di kedalaman hatimu, kau mengakui sebagai ayah Maria.Tetapi apa yang diajarkan keluargamu, memaksa untuk mengakui bahwa itu adalah aib. Sesuatu yang amat tak patut bahkan untuk dibicarakan sekalipun. Walau pada akhirnya, Maria-lah yang meluluhkan pendirianmu.

“Baiklah, jika kedatanganku tak kau terima. Kau boleh saja melupakanku, tapi tidak Maria.” Ada kepasrahan bergetar dalam suaranya.

Mendengar itu, wajahmu semakin berkerut. Bibirmu mengerucut, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi ia, Sania, wanita yang dulu begitu kau cintai secepatnya pergi. Digandengnya Maria dengan tergesa.

***

Terkadang, dalam pikiranmu, kau anggap dirimu telah mati. Hanya agar kau merasa terhibur. Sementara luka di dadamu masih menganga. Buah dari penolakan yang dilakukan oleh orang tua Sania. Kau merasa seperti sampah. Dicampakkan begitu saja.

“Kau boleh pergi sekarang!” Begitu yang diucapkan orang tuanya ketika itu.

Kalimat itulah yang terpahat membentuk goresan di dalam hatimu. Dan kediaman Sania saat itu, terasa seperti air garam yang mengalirinya. Kau merasa perih tak terkira. Kau merasahanya menjadi alat yang digunakan untuk membuat pengakuan di atas kertas, bahwa Maria memiliki ayah yang sah.

Kepada siapa kau pulang. Itulah perkara yang merongrong pikiranmu. Jangankan menerimamu kembali, keluargamu tentu akan menertawakanmu. Jika saja kau tahu begini akhirnya, kau tak akan sudi menikahi Sania. Rasa cintamu padanya bukan sebuah tiket untuk mendapat penghinaan dari keluarganya.

Suatu hari, entah bagaimana kau sampai pada sebuah jembatan besar. Badanmu entah sudah berapa minggu tak tersentuh air. Daki dan rambutmu yang kumal adalah identitas yang kau sandang saat itu.

Saat matahari sejajar dengan kepalamu, sebuah mobil tiba-tiba mendekat padamu. Hal yang tak kau sadari saat itu adalah bahwa hanya kau sendiri yang berada di sana. Sementara orang-orang yang mirip denganmu sudah berlarian entah ke mana. Itulah yang kemudian merubah nasibmu.

*** 

Kini kau berada dalam sebuah rumah baru. Itulah yang kau dengar dari seorang perempuan yang memberimu sarapan, pagi itu. Kau merasa matahari terasa begitu hangat menyapa kulitmu. Begitulah yang kau lalui bertahun-tahun. Terkadang, kau merasa bahwa inilah yang akan kau lalui sepanjang hidupmu sehingga lambat laun kau melupakan sakit hatimu. Meski kau tak bisa menolak kenyataan bahwa kadang kau merasa iri jika melihat teman-temanmu didatangi orang-orang yang kemudian membawa mereka pulang.

Sampai pada suatu waktu saat seorang yang biasa memberimu sarapan mengatakan bahwa ada dua orang perempuan yang ingin menemuimu. Saat itulah untuk pertama kalinya, api di dalam hatimu seperti dipantik kembali.

“Mereka ingin sekali bertemu dengan Bapak,” ucap perempuan itu. Sementara wajahmu hanya menunjukkan kekosongan. Tak menolak, juga tak mengiyakan.

“Baiklah kalau Bapak tak mau,” ucapnya kemudian pergi. Saat itulah kau mendengar suara perempuan yang sama sekali tak asing di telingamu.

***

Petang itu, kau dikejutkan dengan kedatangan Maria, putrimu satu-satunya yang secara tiba-tiba berdiri canggung di hadapanmu. Kemudian kau tahu, bahwa ia memaksa untuk bertemu denganmu dengan alasan yang tak bisa ditolak. Wajah sekaligus mulutmu tak berekspresi apa pun. Kau diam untuk menutupi keterkejutanmu.

“Ibu ingin bertemu Ayah.” Dengan sedikit terbata, Maria berkata. Kau tak bersuara.

Dalam bayanganmu hanya ada kau dan Sania. Sania, bagaimana pun juga, pernah kau cintai dan mencintaimu. Meski sempat lupa, kau tak pernah bisa menghapus kenyataan bahwa ia jugalah yang telah membuangmu, hingga kau terdampar di sini, di pusat rehabilitasi.

“Ibu sangat membutuhkan Ayah,” kata Maria sungguh-sungguh. Kau tak mendengar sedikit pun kecanggungan saat ia menyebutmu ayah. Meski begitu, kalimat itu terdengar begitu klise di telingamu. Kau tetap diam, hanya untuk memperlihatkan keteguhan sikapmu.

“Baiklah jika Ayah tak mau. Tetapi perlu Ayah tahu bahwa Ibu tak pernah sedikit pun mengajariku untuk membenci apalagi melupakan Ayah.”

Itulah kalimat Maria yang tertanam di indera pendengaranmu. Sampai pagi datang, kau tak mampu memejamkan matamu. Hanya Maria dan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat yang ia tinggalkan yang memenuhi pikiranmu.

***

Pagi itu terasa amat asing bagimu. Kau berdiri termangu di depan sebuah pintu. Kau hendak mengetuk pintu sebelum akhirnya pintu itu dibuka oleh seseorang dari dalam yang melihat siluetmu dari balik jendela.

Kau pupuk keberanianmu untuk masuk. Setelahnya, kau disambut dengan air mata Maria. Entah sedih atau bahagia. Yang kau lihat kemudian adalah Sania yang terbaring di ranjang. Tergolek tak berdaya. Tubuhnya terlilit selang-selang kecil entah berapa banyaknya. Kau memalingkan wajahmu beberapa saat, sebelum akhirnya  matamu kembali bertatapan dengan matanya.

“Berapa kali pun aku meminta maaf, aku tahu tak akan berguna,” kata Sania pelan.

“Meski begitu, itulah yang ingin kukatakan di hadapanmu juga Maria. Kau tak harus memaafkanku, tetapi jika kau berkenan, tinggalah di sini sebagai penebus kesalahanku juga keluargaku dulu.”

Itulah kalimat terakhir yang kau dengar dari Sania. Tangis Maria pecah dalam pelukanmu. Dan saat itu kau sadar, kau tak pernah dilupakan.***

***

Menjelang Sore, Januari 2017-April 2019


Latif Nur Janah Lahir di Sragen.Gemar menulis cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *