Cerpen

Tari 9 Bidadari

April 16, 2019

Cerpen S. Prasetyo Utomo

/1/

Di antara sembilan penari bedhaya, Arum tampak paling memancarkan daya pikat  memerankan bidadari. Mereka menari di panggung yang didirikan di pelataran sendang.Arum seperti menemukan kembali kegairahan hidupnya dalam  tari bedhaya: mengisahkan sembilan bidadari turun dari kahyangan, mandi di sendang, menjaga kesuburan bumi, menaungi alam lereng Gunung Merapi.

Arum mempelajari tari bedhaya sembilan bidadari dari Ki Broto yang menciptakannya selama sembilan bulan. Ia mesti belajar dari awal, seperti ketika remaja dulu, dari sembah hingga jemari menerpa dan mengibaskan ujung-ujung kain selendang. Ia mesti matang memeragakan tari ini, dan melatih delapan penari muda untuk mementaskannya di padepokan Ki Broto dan beberapa kota.

Kini umur Arum 45, seorang janda yang memutuskan bercerai dengan suami. Ia mengikuti permintaan Ki Broto untuk kembali menari bedhaya. Bukan bedhaya semang. Bukan bedhaya ketawang. Ia menarikan bedhaya sembilan bidadari. Lebih mirip dengan bedhaya srimpi. Ia suntuk berlatih, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, agar bisa tampil dengan gerakan-gerakan dan kelenturan tubuh yang luluh dalam peran bidadari. Ia berpuasa untuk bisa merasuk ke dalam peran bidadari yang dibawakannya di panggung.

Kini ia sadar benar bila setiap orang memandanginya, memerhatikan tiap jengkal langkah kaki dan gerak tubuhnya. Ia seperti kembali ke masa silam, masa remaja ketika berguru pada Retna Astuti. Ia senantiasa dipuja penonton setiap kali  menari.

Semua tamu yang datang di padepokan Ki Broto, berpusat memandangi Arum. Begitu pula dengan para tetangga  yang menonton pergelaran gladi resik pergelaran tari itu, kebanyakan berbinar-binar takjub mengagumi tarian  Arum. Mereka tak berkedip menatap janda itu menari bedhaya, dengan keagungan penari ternama.

“Apa kau masih menolak sumbangan  bosku untuk pergelaran ini?” tanya Arum pada Ki Broto, pemilik padepokan. Arum seorang manajer pemasaran sebuah hotel, yang bekerja pada seorang pengusaha.

“Aku tak mau berhutang budi pada bosmu,” tukas Ki Broto. “Pasti ada kemauan besar di balik kebaikan itu.”

“Ia tak nuntut apa pun.”

“Kali lain pasti dia nuntut agar akujual bukit di sebelah padepokan.Ia ingin dirikan hotel di bukit itu.”

“Tak ada niat jahat bos padamu.”

Dalam sepasang mata Ki Broto yang bening terbaca keteguhan pendiriannya. Ki Broto tidak membantah. Ia hanya mengusap-usap jenggotnya yang memutih. Arum sudah mengenal Ki Broto semenjak lelaki itu jejaka, sebagai sesama penari di padepokan Retna Astuti. Lelaki itu tak pernah meninggalkan keterampilannya menari.Tak pernah mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan uang. Ia menetapkan hidupnya sebagai penari. Ia membeli tanah di lereng Gunung Merapi, lahan yang dianggap angker, dengan pohon randu gumbala tua yang dulu pernah ditebar potongan-potongan mayat Ranem, seorang penjaja cinta. Sebuah sendang bening berada di bawah pohon randu gumbala itu. Kini pohon randu gumbala tua itu sudah ditebang, ditanami pohon nangka. Sendang bening dengan air  berlimpah terus memancar, terus mengalir  melalui pancuran bambu. 

Tiap kali Ki Broto memperoleh rezeki, selalu membeli lahan di sebelah tanah yang sudah dimilikinya. Lahan itu kian luas, dan setelah ia menikah, ditempatinya, didirikan padepokan: bangunan-bangunan dari kayu jati.Ia mendirikan rumah-rumah penginapan di sekitar padepokan. Orang-orang berdatangan untuk menonton pergelaran tari, musik, teater, dan wayang. Selalu dipergelarkan pementasan seni yang dihadiri penonton dari kota dan tamu-tamu dari lain daerah yang menikmati penginapan di padepokan.

/2/

Malam sudah larut di depan panggung pergelaran tari.Masih belum beranjak, Ki Broto, Arum, para penari, dan penabuh gamelan duduk bercerita. Mereka minum kopi dan merokok, kecuali para penari. Mereka baru saja selesai melakukan latihan tari bedhaya terakhir kali, sebelum pementasan sesungguhnya besok malam dan pentas keliling ke beberapa kota. Besok malam akan banyak tamu yang hadir dari hotel tempat Arum bekerja sebagai manajer pemasaran. Sang pengusaha – pemilik hotel – membujuk Arum untuk ikut menari dalam pergelaran Ki Broto, dengan menyembunyikan hasrat menguasai padepokan di balik kebaikan-kebaikan yang dilakukannya.

“Bergabunglah dengan kegiatan di padepokan Ki Broto. Aku akan membantu biaya pergelaran. Bujuk ia agar menjual bukit sebelah padepokan itu untuk kita dirikan hotel baru. Atau, bila padepokan itu bangkrut, kita kuasai agar jatuh ke tanganku,” pinta sang pengusaha, yang senantiasa diingat Arum.

Para penari sudah berpamitan pulang, sebagian penari yang tinggal di padepokan sudah beranjak beristirahat ke dalam bilik mereka. Arum masih duduk di antara penikmat kopi. Bagaimana membujuk Ki Broto, agar bukit di sebelah padepokan itu dijual pada sang pengusaha untuk dijadikan hotel? Arum belum berani bicara. Ia merasa mesti mencari suasana yang lebih longgar dan menyenangkan. Ia membayangkan, tak cukup hanya sekali bujuk rayu agar bukit itu lepas dari kepemilikan Ki Broto.

Tengah malam itu Arum melihat kegairahan Ki Broto memperbincangkan  tari ciptaannya, sebelum besok malam bedhaya sembilan bidadari dipentaskan. Ia merasakan degup dada yang lembut, tak meletup-letup seperti masa remaja, bila menjelang naik panggung.Ketika masih berguru pada Retna Astuti, seringkali ia meredakan rasa gugup, salah tingkah dan cemas menjelang pentas.

Arum berpamitan pada Ki Broto, meski masih merindukan gurauan-gurauan di bawah panggung dengan para penabuh gamelan.

“Aku mengundang Ibu Retna Astuti untuk menyaksikan pergelaran kita besok malam. Tentu kau tak ingin mengecewakannya,” kata Ki Broto, melepas kepulangan Arum.

/3/

Menari bedhaya sembilan bidadari di atas panggung padepokan Ki Broto, Arum merasakan kepercayaan diri yang utuh.  Hampir dua jam ia menari. Lepas pergelaran tari bedhaya sembilan bidadari, Arum merasakan sambutan meriah penonton, rasa takjub yang dikumandangkan melalui tepuk tangan panjang. Seluruh penonton berdiri, dan Arum yang turun dari panggung paling depan, disalami penonton dan menerima ucapan selamat bertubi-tubi.

“Tarianmumembuat mata siapa pun tak berkedip!” sanjung sang pengusaha. “Kau pasti segera memperoleh kepercayaan Ki Broto, dan ini jangan kausia-siakan.”

Orang-orang yang mengenal Arum memangili namanya. Beberapa orang meminta foto bersama. Ia paling akhir mencapai pendapa rumah Ki Broto. Di pintu pendapa ia disambut Retna Astuti, akrab, penuh rasa kangen, dan dekapan yang hangat. Dekapan ini tak pernah dirasakan dulu, semasa ia berguru menari pada Retna Astuti, perempuan enam puluh tahun yang menyembunyikan keningratannya itu.

“Kau memang muridku yang paling berbakat,” kata Retna Astuti, dengan kewibawaan seorang guru tari, sambil memandangi tubuh Arum yang masih sempurna  dengan kelenturan dan keluwesannya. “Tapi kamu perlu belajar pada Ki Broto, yang setia pada guru, dan memiliki keteguhan hati.”

“Mohon berkenan memaafkan saya, Ibu.”

“Bukan aku yang harus memaafkanmu,” kata Retna Astuti, tegas, memandang dengan tatapan tajam. “Lihat dirimu sekarang, dikagumi semua orang. Tapi sebagai siapakah kamu? Hatimu pun kaugadaikan. Dikuasai orang lain.”

Masih tersenyum, meski memaksakan diri, Arum tak ingin luruh di hadapan guru tarinya yang bertahun-tahun menempa ketajaman perasaannya sebagai penari. Arum masih tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya malam itu. Ia bahkan tak ingin melepas dandanan tarinya. Masih tercium wangi melati. Masih basah keringat mengaliri lekuk tubuhnya. Ia menampakkan diri sebagai penari yang paling murah senyum dan ramah malam itu. Sama sekali tak tampak bila ia tengah tersinggung dengan kata-kata guru tarinya, yang menikam begitu tajam.

“Kalau kau ingin tahu apa yang mesti kaulakukan, tanyakan pada Ki Broto!” pinta Retna Astuti, sebelum mereka berpisah.

/4/

Tengah malam itu ketika Arum melewati pintu gerbang rumah yang dibukakan satpam, masih tersisa rias tari pada wajahnya. Ia memasuki ruang tamu. Ia enggan menghapus rias tarinya. Telah lama, bertahun-tahun lamanya, ia tak mengenakan busana tari, dengan riasan dan aroma melati yang melekat pada tubuhnya.  Ia seperti menemukan kembali kebahagiaan yang lenyap.Selama ini hatinya keropos, dan tindakannya mengingkari diri sendiri.

“Lihat, kau menjelma bidadari paling cantik dalam panggung tari!”selalu diingat, guru tarinya, Retna Astuti menyanjung usai pergelaran.

Arum mencoba untuk rebah dan memejamkan mata. Tapi selalu terbayang keramaian pementasan tari di padepokan Ki Broto. Ia seperti dikembalikan pada masa kegairahan menari di masa muda, dari satu panggung pementasan ke panggung pementasan yang lain, yang penuh ketakjuban. 

Semalaman Arum tak bisa tidur. Ia tak dapat memejamkan mata. Telah lama ia hidup seorang diri di rumah ini, tanpa suami, tanpa anak. Ia hanya tinggal berdua dengan adik lelakinya yang berjalan ngesot, tak bisa bicara. Ada dua satpam dan seorang pembantu yang setia, berusia agak tua.

Apa yang mesti kutanyakan pada Ki Broto? pikir Arum. Lama ia mempertimbangkan diri untuk bertemu lelaki setengah baya yang selalu mengenakan pakaian lurik, blangkon, dan bersarung itu. Lelaki itu hidup bahagia di padepokan. Lelaki yang senantiasa tidur larut, setelah minum kopi, merokok, dan berbincang-bincang dengan orang-orang terdekat. Dalam hati Arum, ia akan menemui sahabatnya itu besok malam. Dalam waktu luang, ia akan ngobrol bersama, sebagaimana dulu semasa remaja, ia selalu mencari sahabatnya itu untuk memperoleh pertimbangan dan keputusan hati.

/5/

Masih terlalu pagi, ketika Arum turun dari ranjangnya. Ia belum memejamkan mata semalaman. Ia menanti fajar, ingin segera bertemu dengan Ki Broto. Guru tarinya, Retna Astuti, memintanya untuk bertanya pada Ki Broto, apa yang harus dilakukannya? Belum mandi, hanya cuci muka, menyisir rambut, Arum mengendarai mobil meninggalkan pelataran rumah, dengan tatapan mata satpam yang penuh tanda tanya.

Mencapai padepokan Ki Broto, Arum merasakan pagi berkabut yang tenang. Arum menemui Ki Broto yang tengah memeragakan tari bedaya sembilan bidadari di pelataran sendang, mencari gerak yang lebih indah.

“Aku ingin berhenti sebagai manajer pemasaran hotel. Sudah kuputuskan untuk  bergabung dengan padepokanmu,” kata Arum, tenang.

***

Pandana Merdeka, April 2019

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *