Buku Resensi

Cinta Melulu

March 31, 2020

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seperti moral dan agama, cinta juga dapat dikatakan sebagai realitas abstrak. Bukannya tidak mungkin ditelaah dengan metode ilmiah yang memadahi, tapi sebagaimana dua hal yang tersebut di atas, seberapa pun ilmiah metode yang digunakan untuk menyingkap segala perkara soal cinta, ia tetap membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mudah diterima logika berpikir manusia modern, tapi sekaligus juga tidak bisa lepas dari diri manusia itu sendiri.

Pola pikir manusia yang mengandalkan akal-rasio selama berabad-abad lamanya, serta peradaban manusia yang diwarnai oleh perilaku praktis-pragmatis, membuat sebagian manusia hanya mau tunduk pada hal-hal yang memiliki nilai guna dan tampak oleh mata (hlm. 3). Manusia modern berlomba-lomba menjadi manusia logis dalam menyikapi segala hal di kehidupan. Pergulatannya dengan logika membuat manusia perlu mengalami perubahan-perubahan sikap memandang-mengkritisi-mendobrak keyakinannya.

Cinta termasuk juga moral dan agama yang sejatinya terbenam di relung keyakinan acap kali menjadi objek yang dikritisi dan didobrak manusia. Manusia modern sangat mudah mematahkan tatanan moral dengan argumen-argumen logisnya. Ia juga berhak dan bahkan cenderung bebas menentukan sendiri pandangannya soal agama. Misalnya seorang theis yang rajin beribadah bisa saja di kemudian hari meninggalkan ibadah-ibadah wajib karena pelbagai alasan. Barangkali karena hal semacam itu tak logis menurut akal-rasionya atau karena alasan lainnya. Termasuk juga cinta, perkara ini kiranya mudah dipandang terbelakang di dunia modern saat ini.

Kendati demikian, seberapa pun manusia mencoba kabur dari hakikat cinta, moral, dan agama, ia tak akan bisa benar-benar berhasil melakukannya. Apakah manusia bisa hidup tanpa memercayai sesuatu, tidak mengikuti nilai tertentu, bebas dari perasaan suka dan tidak suka. Padahal semua itu sejatinya lebih dekat dengan apa yang dianggap terbelakang menurut akal-rasio manusia modern.

Mendefinisikan Cinta

Hari-hari kita tak absen dari seruan kata-kata yang terdengar sangar: humanisme, perubahan iklim, keberagamaan, feminisme, keberagaman, perdamaian, perang dagang, puritanisme, radikalisme, liberalisme, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu penanda kehidupan yang sedang berlangsung. Dunia global mengalami masalah-masalah bertaut kemanusiaan misalnya kemelut perang saudara di Suriah, kamp muslim Uighur di Tiongkok yang diduga sebagai kamp pencucian otak, sekian penggusuran yang terjadi di Indonesia, ketidakadilan hukum, sikap represif pemerintah, dan lain-lain sebagainya.

Masalah-masalah pelik itu memang membutuhkan solusi rasional. Ratusan WNI terduga simpatisan ISIS di Suriah menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia karena situasi di medan perang makin mencekam, media-media internasional gencar menyoroti kamp muslim Uighur untuk membuka mata publik internasional akan tipu daya Tiongkok, aktivis-akademisi mendampingi masyarakat terdampak penggusuran untuk memperoleh hak-haknya. Hal-hal yang demikian tampak sangat rasional, namun apakah upaya baik manusia untuk membantu manusia lain yang sedang dalam masalah semata-mata digerakkan oleh akal-rasio? Mudah bagi kita dengan menjawabannya tidak.

Manusia yang berani melawan ketidakadilan, bersikap jujur antar sesama, hormat terhadap alam semesta, tidak bisa dikatakan sebatas sebagai manusia yang rasional, tetapi juga penuh cinta. Pendapat ini rasanya perlu meminjam konsep cinta Erich Fromm. Menurutnya, cinta terdiri dari unsur care, responsibility, respect, dan knowledge (hlm, 20). Manusia-manusia yang demikian selain memiliki rasionalitas yang sehat, juga memiliki ketajaman perasaan sehingga mampu menangkap realitas secara jernih dan tepat dalam merefleksikannya.

Gibran melalui bukunya The Prophet mendefinisikan cinta dengan indah sekaligus rasional. Akal pertimbangan dan perasaan hati laksana kemudi dan layar dalam mengarungi bahtera jiwa. Jika satu layar atau kemudi itu patah, kau hanya bisa mengambang, terombang-ambing gelombang. Atau lumpuh tanpa daya, di tengah samudera. Sebab akal yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri. Sedang perasaan yang tidak terkendali, bagai api yang menghanguskan diri (1926, hlm. 59). Rasionalitas dan cinta itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup kita baik sebagai personal, makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan, penghuni dan penjaga bumi, warga negara dan dunia, dan peran-peran lainnya.

Karakter Cinta

Dalam buku yang bermuasal dari kekagumannya akan sosok dan karya-karya Kahlil Gibran, Fahruddin Faiz menyebut empat karakter utama cinta: kebebasan, keindahan, ketulusan, dan penyucian. Cinta tidak mungkin dikendalikan. Faiz bahkan menelaah karya-karya Gibran sangat anti terhadap segala hal yang membatasi atau malah mengendalikan cinta, entah itu budaya, aturan atau bahkan ajaran agama. Kita cerap sajak Gibran berikut ini. Saling bercintalah, namun jangan membuat belenggu dari cinta. Biarkan cinta seperti air yang lincah menjelajah di antara pantai dua jiwa.

Pribadi-pribadi yang saling mencintai bebas untuk mengekspresikan diri sebagaimana adanya, tanpa harus dituntut untuk merombak individualitas maupun eksistensi kediriannya. Cinta tidak menganjurkan pribadi-pribadi saling melebur, tetapi lebih kepada saling memahami dan mendukung. Perbedaan dalam menjalani laku cinta merupa kesempatan untuk saling memperkaya diri, saling mengisi, dan saling menghormati. Dari situ akan bisa dibuktikan, apakah seseorang sedang mencintai, memengaruhi, mendominasi, atau menggantungkan diri (hlm. 69-70).

Adalah juga sifat dasar alamiah manusia yang menyukai keindahan. Saat berjalan-jalan di taman, mata kita mudah tersirap oleh bunga-bunga bermekaran, tapi misalnya juga terganggu dengan sampah yang berceceran di taman itu. Di deretan toilet umum, ada kerelaan yang muncul begitu saja untuk menyisir toilet mana yang paling bersih di antara yang lain. Manusia tampak wajar ketika mendambakan segala sesuatu yang baik. Kalau kata Jonn Kets,  a thing of beauty is a joy forever. Keindahan dalam cinta agak berlainan. Betapa juga pahit dan sakit yang dialami seseorang dalam mencinta, cinta tetap meninggalkan keindahan kenangan bagi dirinya.

Di antara empat karakter cinta menurut Faiz, kiranya ketulusan yang agak berat bersinggungan dengan akal-rasio kita. Ketulusan dalam mencinta didefinisikan sebagai wujud cinta yang sempurna, yang memberi tetapi tidak mengharap imbalan sama sekali. Ketulusan dalam cinta dibuktikan dengan keteguhan sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima atau diberikannya ditemui kesulitan, kepahitan, dan lain sejenisnya (hlm, 77).


Rizka Nur Laily Muallifa, Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *