Cerpen

Cinta Seorang Pelukis

March 2, 2021

Cerpen A. Warits Rovi

Wajah Lin adalah inspirasi cinta yang melebihi keindahan lanskap sebuah pantai, yang menggugah hatiku untuk melukis sesuatu yang indah. Dan harus kuakui, sebulan terakhir aku tak perlu datang ke pantai atau datang ke tempat wisata untuk melahirkan lukisan yang indah. Cukup melihat wajah Lin, maka lukisanku akan indah. Bahkan aku merasa, seandainya satu minggu tak bertemu Lin, mungkin—atau bisa dipastikan—bakat melukisku akan pudar. Setelah cinta berkuasa, segalanya seperti harus menghamba.

***

Lin kerap menunjukkan gambar sketsa yang sebenarnya jelek, tapi dengan dorongan hati yang entah kenapa, aku mengacungkan jempol atas gambar itu. Lin tersenyum. Sementara teman-temannya berdehem, sembari bisik-bisik, lalu bersama-sama menertawakanku. Aku membentaknya dengan suara lantang dan sebuah amuk telapak tangan mendarat keras di datar meja. “Duarrr.” Aku berjalan sambil berkacak pinggang dari satu bangku ke bangku lain, kutatap tajam mata anak didikku yang hanya bisa menunduk dan gemetar. Tiba-tiba kelas menjadi sepi. Aku marah-marah sekitar dua menit. Kulihat semua siswa menunduk tegang, hanya jemari mereka yang bergerak-gerak iseng, ada yang memencet pelan cat air, ada yang menggores-goreskan pensil, ada yang melipat-lipat ujung kertas. Jafri, siswa paling potensial yang duduk di pojok ruangan hanya memutar-mutar pensil.

“Baiklah, sekarang kita akhiri saja materi pada kesempatan kali ini. Dan kalian akan kukasih tugas. Buatlah lukisan absurd bertema cinta, utamakan dominasi warna hijau di lukisan kalian, dengan spasial tak lebih dari ukuran folio, boleh menggunakan pensil, cat atau crayon. Setelah berdoa, kalian boleh keluar,” ujarku bersamaan ketika kuhempas pantat di atas kursi, anak-anak membaca doa. Kurapikan buku-buku yang berisi materi yang sedianya ingin kuajarkan kepada mereka. Tapi laju waktu selama 20 menit sangat memisau perasaanku ketika aku ditertawakan mereka. Aku masih dengan wajah memerah dan dada serasa hendak meledak dengan emosi yang membuncah. Anak-anak pulang satu per satu dengan wajah yang seperti diselimuti mendung. Entah kenapa sebulan terakhir aku sering sentimen dan selalu bersikap kasar di depan anak-anak, tak selayaknya perupa yang mestinya menggunakan kelembutan hati untuk mencipta. Padahal selama enam tahun aku mengajar les melukis hanya saat ini aku seperti ini, seperti sebuah lukisan yang diciprat warna hitam oleh pelukisnya dan diabai terjemur di bawah terik matahari; kasar dan semrawut.

Ruang kelas semakin senyap, menyisihkan desir angin lirih dari arah pintu. Dalam ruangan hanya tinggal Lin dan Jafri, masih sibuk memasukkan alat-alat lukisnya ke dalam tas. Sore masih membias cahaya putih tak begitu kuning, membentuk segaris sorot memanjang di datar tembok, itu artinya senja masih lama. Anak-anak pasti sadar bahwa mereka keluar terlalu dini.

“Saya pamit pulang, Pak,” suara Lin dan Jafri hampir bersamaan membelah senyap. Sontak aku mengangguk dan entah dari mana tiba-tiba aku merasa ada sesungging senyum di bibirku. Wajah Lin yang dibalut jilbab ungu sempurna menaklukkan luapan emosi yang memuai dalam dada. Aku hanya bisa mengangguk, sebagai patung yang diam atas kehendak pemahatnya, betapa Lin adalah pemahat ulung bagi hatiku yang beku.

“Aku mencintai Lin, Bu. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikannya, karena Lin terlalu menghormatiku sebagai seorang guru. Tentu kewibawaanku akan ternoda bila harus menyatakan cinta kepadanya. Walau aku sadar mau tidak mau cinta itu harus diungkapkan dengan jalan yang baik. Dan yang paling kukhawatirkan, aku tidak sanggup menahan rasa sakit hati misalnya Lin menolak cintaku. Aku bingung, Bu,” ungkapku suatu pagi di depan lukisan almarhum ibu. Tanganku meraba-raba lukisan wajah ibu, dan air mataku menetes jatuh.

***

Aroma cat dan pensil kuhidu dari kertas dan belacu yang menumpuk di atas meja. Anak-anak baru saja menyetor tugas lukisan bertema “cinta”. Beragam bentuk dan kombinasi warna tertuang di datar kertas, seperti embun pecah di daun singkong. Aku mengoreksinya satu per satu.

Rata-rata material utama dari lukisan anak-anak adalah gambar hati tertembus anak panah. Itu pertanda imaji anak-anak tentang cinta masih statis, mengacu pada simbol cinta masa lampau. Jujur hanya Jafri yang punya kecerdasan visual-spasial dan imaji yang inovatif. Lukisan cinta yang ia setor berupa gambar sebuah gembor yang menyiram bunga, dengan sapuan cat abu-abu menyerupai tetes-tetes air yang jatuh dari lubang kecil di ujung leher gembor yang melengkung. Aku tertarik dengan lukisan itu. Tapi aku tidak bisa untuk mengacungkan jempol kepada Jafri. Karena jika itu kulakukan, Lin pasti jadi orang yang terkalahkan.

Sejenak kutatap wajah anak-anak. Mereka berwajah dingin, menunggu karya-karyanya dinilai dan diulas. Ruangan lebih senyap dari sebelumnya. Angin sore memainkan gantungan anak kunci.

“Lukisan kalian yang ada di depanku ini, semuanya salah. Minggu kemarin aku menyuruh kalian membuat lukisan bertema cinta. Tapi kenapa malah seperti ini?” ungkapan pertamaku membuat anak-anak saling pandang, dan tidak ada yang berani nyeletuk. Jafri menoleh ke arah Lin. Lin menoleh ke arah Jafri.

“Aku ingin pertemuan yang akan datang, kalian bisa melukis cinta dengan tepat.”

“Mohon maaf, Pak! Apa dari semua lukisan itu tidak ada yang bagus?” tanya salah seorang siswa dengan tatap mata sedikit awas, karena mungkin ia takut salah. Aku hanya bisa tersenyum. Aku memilah lukisan itu dengan selusup ibu jari memisah lembar demi lembar.

“Kalau bicara soal bagus, lukisan ini yang bagus. Tapi masih kurang mengena ke tema,” kataku seraya menunjukkan selembar kertas, hasil lukisan Lin. Lukisan setengah absurd berupa gambar hati tertusuk peniti dengan dominasi warna jingga.

Anak-anak terpaku menatap lukisan yang kupegang. Dan aku berbohong untuk kesekian kalinya. Sebenarnya hatiku sadar, jika lukisan Lin tak begitu bagus. Aku sadar bahwa apa yang baru saja kulakukan hanyalah suara cinta.

“Jadi, lukisan itu yang paling bagus ya, Pak?”

“Iya. Ini yang paling bagus.”

Lin tersipu mendengar ucapanku yang menobatkan lukisan miliknya paling bagus. Sementara anak-anak sebatas saling pandang, tak lagi berani bisik-bisik dan mengoceh. Aku malu kepada diri sendiri. Cinta telah menuntutku jadi begini.

Sore itu pikiranku tak keruan oleh godaan wajah Lin. Akhirnya materi harus segera kusudahi. Aku menyuruh anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, lagi-lagi untuk membuat lukisan cinta.

***

Di sela waktu, ketika anak-anak mengawali pelajaran dengan berdoa. Tak kubuang kesempatan untuk merogoh isi tas, mengeluarkan sebuah lukisan dan menggelarnya di atas meja. Aku tak pernah bosan mengamati lukisan wajah Lin di selembar kain belacu buatanku itu. Aku tersenyum dan hatiku bahagia, anak-anak selesai berdoa, lekas kulipat dan kumasukkan kembali lukisan itu ke dalam tas. Biar ia menjadi rahasiaku sendiri yang mampu berbicara kepada perasaan tanpa sepengetahuan siapa-siapa.

Anak-anak menyetor tugas lukisnya ke hadapanku. Kembali kuamati 20 lukisan aneka rupa dengan kuar harum cat menusuk hidung. Aku menggeleng-geleng, seraya kulepas jimpitan lembar-lembar yang telah kukoreksi. Anak-anak memandang dengan sedikit cemas.

“Semua lukisan yang kalian setor, sama seperti yang minggu lalu. Tak satu pun yang pantas untuk disebut lukisan cinta,” kata-kataku membuat anak-anak terdiam, sebagian saling pandang dan sebagian yang lain menjaga tatap matanya yang tajam tertuju kepadaku.

“Dan lukisan yang paling bagus, tetap karya Lin.”

“Huuuuuu!” suara anak-anak serentak, membuat lecut pecut ke telingaku, sontak aku naik darah. Dan telapak tanganku memukul meja. Duarr!!

“Sekarang kalian pulang! Cepat!” Amarahku memuncak, jantungku seperti mendidih. Anak-anak keluar menenteng tas. Sekali lagi aku merasa bahwa cinta telah membuatku semakin jadi patung yang tak kuasa atas tubuhnya sendiri, beruntung aku punya prinsip, tak apa menjadi patung, asal hati bahagia.

Setelah semua siswa keluar, tiba-tiba Lin berdiri di hadapanku, ia menunduk, menampakkan wajah yang minta dikasihani.

“Lin!’

“Iya, Pak.”

“Mengapa kamu berdiri di sini?”

“Saya ingi tahu. Lukisan cinta itu sebenarnya seperti apa, Pak?”

Aku terdiam. Dan dadaku berkecamuk, tapi hatiku bahagia bisa berhadap-hadapan setengah meter dengan orang yang diam-diam kucintai. Dengan pertanyaan itu, Lin seperti membuka sebuah jalan bagiku untuk masuk ke hatinya. Aku tak ingin membuang kesempatan.

“Lukisan cinta seperti ini, Lin,” jawabku seraya menyodorkan lukisan wajah Lin yang kubuat di kain belacu. Lin menerima lukisan itu dengan tangan gemetar. Aku tersenyum bahagia. Magma cinta yang berabad bergelegak, kini telah meledak.

“Terima kasih, bapak telah memberitahu lukisan cinta yang sebenarnya kepada saya. Saya akan memberikan lukisan cinta ini kepada Jafri. Karena saya sudah lama mencintai Jafri, Pak,” ucap Lin sembari mencium kain belacu itu tiga kali.***

Rumah FilzaIbel, 2021


A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. Bisa disapa melalui email: waritsrovi@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *