Cerpen

Cinta Terlarang

July 2, 2019

Cerpen Anggoro Kasih

Aku membuka jendela kamar hotel, membiarkan angin yang dibawa oleh pekat malam masuk membelai tubuhku. Kulihat bulan bulat sempurna berwarna perak seperti mata serigala, bertengger mesra di langit malam tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela. Kupandangi bulan itu beberapa saat. Sebagai pengganti rasa gelisahku menunggu pujaan hatiku yang tak juga kunjung tiba.

Kini aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kunyalakan televisi sekadar mengusir sepi. Aku sudah menutup jendela dan membiarkan bulan perak berada di luar sana sendirian. Sudah pukul sebelas malam. Tak ada lagi kabar darinya selain pesan yang dia kirimkan sekitar satu jam yang lalu “Sabar ya, aku pasti datang menemuimu.”

Aku cemas memikirkannya. Ingin sekali aku mengirim pesan atau menelepon untuk mengobati rasa cemasku. Namun selalu urung. Pikiranku berkecamuk, mungkin dia sedang mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi. Mungkin juga dia sedang meninabobokan anaknya. Maklum, anak keduanya masih berusia balita. Atau mungkinhal buruk terjadi; istrinya memergoki obrolan mesraku dengannya dichatt roomWhatsApp. Untuk yang terakhir ini, aku selalu mengingatkan dia agar menghapus obrolan kami begitu menemu ujung percakapan. Tapi aku tahu dia sering teledor dan pelupa. Semoga saja ini hanya prasangka burukku. Semoga saat ini dia sedang sibuk menyetir, membelah jalanan macet yang memang selalu padat di malam minggu seperti sekarang untuk menuju ke sini.

Aku mengganti saluran televisi berkali-kali. Berharap menemukan acara yang tepat untuk mengusir rasa gelisahku, namun gagal. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir seperti induk ayam kehilangan telur. Sementara ponselku masih saja diam tak bersuara. Aku benar-benar benci situasi seperti itu. Kenapa untuk melepas rindu saja begitu merepotkan? “Arrghh.” Aku menggerutu pelan.

Kamar hotel ini berukuran delapan kali delapan, dilengkapi fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Mungkin sudah tiga kali aku memesan hotel ini untuk melepas rindu dengannya. Namun bukan di hotel ini saja kami biasa bercinta. Kami sering pindah-pindah hotel untuk menghindari terbongkarnya perselingkuhan kami. Sebagai direktur perusahaan yang cukup punya nama, aku bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan client atau kenalan. Seperti dua minggu lalu saat aku berjalan dengan kekasihku menuju kamar yang telah kupesan, aku bertemu dengan rekan bisnisku.

“Sedang apa Anda di sini?” pertanyaan itu keluar usai kami bertegur sapa dan berjabat tangan.

“Biasa, urusan bisnis,” jawabku enteng. Lalu aku mengenalkan kekasihku. Tak ada sedikit pun kecurigaan yang muncul dari raut wajah rekanku. Dia memang belum tahu banyak mengenai diriku, terlebih tentang hubunganku dengan kekasihku. Tentang hal itu, tentu saja aku bersyukur.

Semenjak kejadian itu, aku dan Dudut, begitu biasa aku memanggil kekasihku, memutuskan untuk tidak berjalan bersamaan saat masuk dan keluar hotel. Dudut menangbukanlah nama aslinya, melainkan panggilan sayangku padanya. Kupanggil demikian karena dia gendut. Namun aku tak pernah mempermasalahkan itu hinggamenyuruhnya untuk diet. Bagiku gendut itu lucu, dan yang terpenting, sangat hangat untuk kupeluk. Sampailah waktunya banyak orang yang mencurigai hubungan kami, dan karenanya kami sering mendengar desas-desus yang beredar tentang kisah asmara kami. Karena aku dan Dudut sudah sama-sama berkeluarga, maka semenjak itu, kami memutuskan untuk bermain lebih hati-hati.

Seperti sungai yang berhulu, kisah ini juga berawal. Aku mengenal Dudut dari temanku bernama Widy. Saat itu semua berjalan wajar dan biasa. Saat itu aku sedang merasakan sakit hati hingga menenggelamkanku pada lautan derita yang kelam. Kekasihku sebelumnya saat itu bilang kalau hubungan kami harus berakhir. Seperti seorang pejalan yang terjerembab ke dalam lubang hitam secara tiba-tiba. Aku kaget dan tidak bisa terima. Ketidakterimaan itu terasa menyakitkan, terlebih karena datangnya tiba-tiba hingga aku sulit menerimanya. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku hal itu akan terjadi. Widy adalah orang pertama yang menenangkanku. Memberiku semangat untuk perlahan bangkit dari lubang hitamku. Saat itu aku seperti manusia tanpa harapan. Manusia yang selalu mencoba memungkiri kenyataan hingga hanya menyisakan kepedihan.

Ombak akan terus bergulung dan kisahku juga terus berjalan. Selain Widy, juga ada Dudut yang sering menemaniku selama dalam masa remuk, dia ada  membawa air dan udara sejuk. Aku merasa bersyukur karena memiliki mereka, terlebih Dudut, karena itu aku dan Dudut menjadi dekat, bahkan hubungan kami menjadi mesra.

“Kamu jangan terlalu dekat dengan Riben. Lebih baik kau menjauh dia,” ucap Widy padaku. Riben adalah nama asli Dudut. Saat aku mencari tahu alasan kenapa aku harus menjauhi Riben, Widy menjawab kalau Riben telah jatuh hati padaku dan hal itu katanya bisa membuatku tidak jadi lepas dari dunia kelam yang saat itu dia nilai mulai kulepaskan.

***

“Kamu sudah lama? Maaf aku baru selesai mandi. Habisnya kamu gak ada kabar,” ucapku usai membuka pintu.

Tanpa banyak kata, Dudut masuk dan memelukku erat, dia mendekapku seperti seorang tuan yang takut burung merpatinya lepas. Sementara tangannya sibuk memeluk dan membelaiku, dia gunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.

“Aku rindu,” ucapnya manja di samping telingaku. Handuk yang kugunakan juga sudah terlepas. Bibirnya kini menyapu daun telinga dan leherku. Dia seolah tak mau melewatkan setiap incinya. Sementara tangannya sibuk membelai dan meremas dadaku. Tangan itu perlahan turun, menepuk pelan bokongku. Kurasakan bibirnya semakin liar bermain. Lidah kami beradu. Dia memang pandai memancing dan membuat nafsuku bangun dan berapi.

Hanya ada suara televisi dan nafas yang beradu. Tidak lagi terasa dingin udara AC meski kami sudah sama-sama telanjang. Justru tubuhku terasa panas saat tangan Dudut dengan gemas mamainkan kemaluanku. Aku dibuatnya malayang.

“Lakukan cepat, aku sudah tak tahan lagi,” ucapku yang lebih terdengar seperti desahan yang mengemis.

Perlahan, kemudian cepat dan semakin cepat si jagoannya menusukku. Menghentak-hentak, membuatku menjerit pelan beradu dengan suara decitan tempat tidur. Tubuhnya rebah di sisiku setelah senjatanya memuntahkan hasratnya.

“Aku sayang kamu,” ucapnya usai mengecup keningku. Kami tidur berhadapan. Tanganku membelai wajahnya. Ingin sekali kubawa wajah itu kemana pun aku pergi.

Pekat semakin mengikat malam gelap. Aku berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi bulan bulat perak masih berada di tempat yang sama seperti enggan pergi. Rasanya aku juga ingin seperti bulan itu. Berada di sini bersama Dudut lebih lama lagi. Namun itu jelas tidak mungkin. Hidup memang sering menyebalkan. Usai merapikan kemejanya, Dudut memelukku dari belakang. Aku tahu dia juga ingin berada di dekatku lebih lama. Tapi kami tahu sama tahu, kami harus segera pulang, karena istri kami sama-sama telah meninggalkan banyak riwayat panggilan di ponsel kami masing-masing.

***


Anggoro Kasih, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Kamar Kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *