Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

September 10, 2019

Cerpen Nurul Fatimah

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Selama ibu di dapur, sesekali menangis, tapi selebihnya hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke arah ventilasi yang warnanya kehitaman akibat bertahun-tahun terkena asap kompor dan tidak pernah dibersihkan. Selama ibu di sana, tidak bicara sepatah kata pun pada kami—anak-anaknya. Ibu masuk ke dapur hanya untuk membunuh waktu, membunuh kenangan dan rasa sedih karena ditinggalkan. Seakan tempat itu memiliki dimensi yang memisahkan ibu dari dunia luar.

Dapur selalu menjadi ‘markas’ ibu, bahkan jauh sebelum bapak meninggal. Selalu menghabiskan waktunya di sana dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Seakan-akan pekerjaan di dapur tidak pernah ada habisnya.

Ibu akan bangun di pagi buta sebelum penghuni rumah lain bangun untuk menyiapkan sarapan dan membuat kue yang akan di titipkan ke warung-warung. Ibu tidak pernah terlambat atau lebih tepatnya ibu tidak boleh terlambat. Sarapan harus dihidangkan sebelum bapak duduk di meja makan. Bapak tidak suka menunggu barang semenit pun. Kalau sampai sarapan belum dihidangkan saat ia sudah duduk di meja makan, bapak akan marah besar. Begitu pula kue-kue yang ibu buat harus jadi sebelum aku dan Dio, adikku berangkat sekolah, karena sebagian kue-kue yang ibu jual dititipkan juga di kantin sekolah.

Di siang hari, ibu juga selalu ada di dapur. Ketika aku pulang sekolah, ibu tidak akan ditemukan di mana-mana selain di sana. Sibuk menyiapkan makan siang untuk aku dan Dio. Ia akan makan sebentar saat aku dan Dio makan. Makannya sedikit saja, tidak pernah banyak. Lalu setelah kami selesai, dan ia membersihkannya, barulah ibu ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali menyiapkan adonan untuk kue-kuenya.

Menjelang sore hari waktu ibu biasanya keluar rumah. Ibu akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan bahan kue. Itu pun sebelumnya ibu harus menyiapkan kopi dan cemilan untuk bapak kalau bapak ada di rumah. Tanpa perintah, ibu harus ingat sendiri, seakan-akan itu  tugas wajibnya dan kalau ibu lupa, bapak lagi-lagi akan marah. Jika tidak ada jadwal ke pasar dan bapak tidak di rumah, ibu biasanya duduk sebentar di teras. Sekedar menikmati sore dengan mata menerawang, selalu tampak memikirkan sesuatu. Wajahnya tidak pernah tenang, seakan ada sesuatu yang ia simpan sendiri.

Sebelum petang ibu sudah berkutat lagi di dapur. Menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Hanya dijeda waktu salat magrib sebelum menghidangkannya dan sudah harus selesai dibersihkan sebelum azan isya berkumandang. Setelah melaksanakan salat, tanpa istirahat terlebih dahulu, ibu mulai membuat kue agar besok pagi tidak terlambat. Hari-hari berikutnya  semuanya terulang lagi dan terus begitu.

Aku pribadi tidak pernah berpikir bahwa bekerja di dapur dan menjual kue adalah hal yang menyenangkan bagi ibu. Dulu, saat sebelum sesibuk sekarang, ibu terlihat lebih bahagia walau jarang mengekspresikannya. Ada waktu-waktu di mana ibu terlihat bersantai dan menikmati hidup walau dalam diam. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya ibu terperangkap di dapur itu, kehilangan segala gairahnya. Tidak ada waktu bersantai, waktu istirahatnya hanya untuk tidur, atau duduk sebentar dengan wajah bosan karena rutinitas yang melelahkan.

Dapur kadang terlihat lebih seperti penjara bagi ibu karena memisahkannya dari dunia luar. Menyita seluruh waktu yang dimiliki wanita itu untuk menikmati kehidupan. Ibu terperangkap di sana karena banyak alasan. Mengabdi pada keluarga, juga untuk menambal kebutuhan ekonomi yang selalu sulit.

Gaji bapak yang seorang pegawai negeri anehnya tidak cukup untuk menunjang kehidupan kami yang jauh dari kata mewah. Selalu saja kurang hingga berkali-kali ibu harus menyuruh kami berhemat, menyuruh kami bersabar atas keadaan. Ibu tidak pernah mengeluh tentang sulitnya ekonomi pada bapak. Kalau pun pernah itu hanya sesekali saja, namun keluhan itu malah berakhir pertengkaran hingga suatu malam ibu ditampar oleh bapak. Aku yang saat itu masih kecil bahkan masih mengingat suara saat tangan bapak menampar wajah ibu.

Ah. Kalau dipikir-pikir, tamparan bapak malam itulah yang memenjara ibu di dalam dapur. Setelah kejadian itu, ibu benar-benar tidak pernah mengeluh. Ibu memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan bapak. Semua pekerjaan rumah ibu lakukan dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya, sehingga bapak tidak punya alasan untuk protes. Ibu juga mulai berjualan kue untuk menambal ekonomi keluarga yang tetap saja bocor di sana-sini meski sebaik apa pun ibu berusaha.

Bertahun-tahun ibu terpenjara di dapur dengan segala aktifitasnya, hingga ibu bertambah tua dan tanpa sadar sudah kehilangan begitu banyak kesenangan dalam hidup yang seharusnya ia dapatkan. Meski begitu, ibu masih juga tidak mengeluh, bahkan pada kami, anak-anaknya. Ibu lebih suka menyimpannya sendiri di dalam hati. Namun, waktu berlalu dan aku juga semakin dewasa lalu kedewasaan membuatku mengerti penderitaan yang tidak pernah diceritakan ibu.

Selain sebagai penjara, dapur sebenarnya juga tempat pelarian ibu. Ada waktu-waktu di mana ibu mencoba untuk menghidar dari pertengkaran dengan bapak meski seringkali pertengkaran tetap tidak bisa terelakkan, dan dapur menjadi tempat ibu bersembunyi. Menangis diam-diam, tidak ingin membuat anak-anaknya ikut sedih. Atau ketika tuntutan hidup menekan ibu dan ia tidak punya tempat untuk mencurahkan perasaannya, ibu akan duduk melamun di sana. Seakan dinding dapur bisa mendengar semua kesusahan yang dipancarkan oleh mata ibu.

“Bu, makan dulu,” kataku sambil menyodorkan sepiring ketoprak yang aku beli dari pedagang ketoprak keliling yang lewat di depan rumah. “Ibu belum makan dari pagi,” kataku lagi karena ibu tidak kunjung menyentuh makanan yang aku sodorkan.

Sudah lewat dua minggu setelah meninggalnya bapak dan ibu masih hampir selalu berada di tempat pelariannya. Kesedihan di matanya masih sama meski ia sudah tidak menangis lagi setelah minggu pertama. Semenjak bapak pergi, tidak pernah ada aktivitas apa pun di dapur. Ibu hanya berdiam diri di sana, biasanya duduk di kursi tuanya sambil melamun.

Ibu tersenyum lemah. “Nanti,” katanya singkat.

 “Bu, Ibu nggak bisa begini terus. Kita harus ikhlaskan kepergian bapak. Ibu harus lanjutin hidup, hidup yang baik.”

Air mata ibu menetes perlahan mendengar kalimatku meski begitu ibu masih tidak bicara apa-apa. Hatiku sakit melihat ibu menangis lagi karena bapak. Semasa bapak masih hidup, ada begitu banyak penderitaan yang ibu alami karena lelaki tua itu dan sekarang setelah ia tiada pun ibu masih saja dibuatnya sedih.

“Bu,” kataku lebih memaksa.

Aku tidak pernah menyangka kepergian bapak akan sebegitu menyiksanya. Aku pikir kematian bapak akan membuat hidup ibu lebih mudah. Bapak tidak pernah bersikap baik pada ibu. Tidak banyak kenangan baik yang tersisa untuk dikenang bahkan setelah aku tumbuh dewasa dan ibu sudah semakin menua. Hanya ada kenangan-kenangan buruk yang membuatku semakin tidak ingin bersedih atas kematian bapak.

“Bu, selama ini bapak sering jahat sama kita. Apa iya ibu harus meratapi kematiannya sampai nggak peduli sama kesehatan ibu sendiri?” Sebenarnya aku tidak ingin berkata begitu, menjelek-jelekkan bapak yang sudah meninggal, tapi aku tidak tahan karena ibu terus berlarut-larut dalam kesedihan.

“Bagi ibu, nggak akan ada yang bisa menggantikan bapak, Nak. Puluhan tahun hidup sama-sama, tentu ibu butuh waktu, kan? Jadi, ibu mohon biarkan ibu begini.” Ibu berbicara dengan lemah, tidak menatap mataku.

Kata-kata ibu membuatku kesal. Ibu terlalu setia untuk bapak yang entah sudah berapa kali berselingkuh dari ibu. Gajinya selalu habis untuk pacaran dengan entah sudah berapa wanita. Hanya kemarahan dan kekesalan yang bapak bawa ke rumah, dan ibu yang akan dijadikan pelampiasannya.

Terakhir, beberapa minggu sebelum meninggal, bapak bahkan meminta untuk menikah lagi. Aku ingin ibu bercerai saja dengan bapak. Namun, ibu memilih bertahan dalam pernikahannya yang menyedihkan. Ibu memilih diam ketika dipukuli karena menolak keinginan bapak itu. Ah, ibu memang terlalu baik. Sangat baik hingga aku yang harus bertindak. Meracuni bapak.***


Nurul Fatimah. lahir di  Mataram (NTB), 24 Mei 1994. Karya: All My Love (Ragam Media, 2014) (Novel). Call Me Anna (Chapter Eleven, ebook, 2017). Adik Sudah Mati (Cabaca, kumpulan cerpen horor, 2018).

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *