Buku Resensi

Dekat & Nyaring: Upaya Mengutuk Penulis yang Keasyikan Bercerita dan Dakwah yang Salah Tempat

June 25, 2019

Oleh Doni Ahmadi

Sastra Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang mulai ramai dengan karya-karya berbentuk novelete atau novela, sedikit contoh, Omong-kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda, Arapaima karya Ruhaeni Intan, Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karya Faisal Oddang, hingga yang terbaru, Dekat & Nyaring karya Sabda Armandio (selanjutnya akan saya tulis Dio). Dan saya akan mengulas yang disebutkan terakhir.

Secara sadar atau tidak, penulis cenderung keasyikan bermain-main, ngoceh ngalor ngidul, maupun pamer keterbacaan, pengetahuan serta pengalaman yang tidak perlu-perlu amat diceritakan dalam bentuk novel. Hal itu tentu tak bisa dilakukan dalam bentuk novela, tentu saja. Novela—dengan keterbatasan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi penulis untuk melakukan itu. Namun jika penulis telah memutuskan untuk novela dan tetap melakukan itu, konsekuensinya hanya dua: menjadi novela yang mubazir atau cerita pendek yang kebetulan dipanjang-panjangkan.

Dekat & Nyaring tidak termasuk dua hal di atas, Dio tidak asyik-masyuk membiarkan tokoh-tokohnya lompat terlalu jauh dan menceritakan hal lain selain apa yang ia ingin kisahkan: Gang Patos, sejarah singkatnya (dalam bentuk alegori maupun secara langsung), hingga kisah-kisah ajaib para penghuninya.

Dekat & Nyaring cukup padat menggambarkan kehidupan orang-orang yang bermukim di Gang Patos: Edi, Nisbi, Anak Baik, Wak Eli, Aziz, Idris, Kina. Bekas penghuni gang Patos: Sam. Serta satu orang lain dari tempat antah berantah yang turut bersinggungan dengan penghuni Gang Patos: Dea Anugrah. Setiap tokoh, hidup dengan karakter yang utuh, tidak lari atau mengalami transformasi seperti banyak tokoh-tokoh di novel—terlebih pewaktuan dalam novela ini juga tidak terlalu jauh, hanya sehari dan sesekali putar balik mengisahkan masa lalu dangan porsi yang tidak terlalu banyak.

Dalam novela ini, misalnya tokoh Edi. Tokoh ini konsisten dengan paham ‘selalu ada jalan lain’ di sepanjang cerita: mencari jalan lain meski seringkali tidak sesuai.

“Kenyataan itu tak membuat Edi putus asa, ia meyakini kalimat kesukannya setiap kali menghadapi masalah ’selalu ada jalan lain.’ Seperti misalnya, mencincang sanca dan menjualnya sebagai kobra.” (hlm. 8)

“Edi menganggukkan kepala. ‘itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik […].” (hlm. 46)

Tak hanya tokoh Edi, tokoh Nisbi juga berperan konsisten. Sebagai janda satu anak, ia ditampilkan begitu cerdik menutupi dosa masa lalunya dengan terus memproduksi dongeng bagi anaknya—tokoh Anak Baik. Tokoh Aziz, seorang anak yang dengan kecerdasan mental yang tertinggal sepuluh tahun, juga digambarkan apa adanya sepanjang cerita: begitu lugu dan polos, hingga didera kemalangan di akhir kisah karena sifatnya. Lalu tokoh Anak Baik, yang tampil sebagaimana anak-anak dengan pengetahuan terbatas yang membuatnya mengeluarkan banyak pertanyaan konyol karena rasa ingin tahu yang tak terbendung. Tokoh Kina, yang konsisten mencacat segala hal di gang Patos untuk keperluan karya fiksi yang menurutnya otentik. Dan banyak lagi.

Selain tokoh-tokoh tersebut, yang menarik lagi adalah bagaimana cara Dio menghidupkan sosok Pak Koksi tanpa pernah memunculkan batang hidungnya sepanjang cerita. Tokoh ini hidup dan cukup menarik perhatian lewat dongeng-dongeng hasil ciptaan Nisbi. Ketidakmunculannya tokoh Pak Koksi ini juga usaha Dio memberi teror kepada seluruh penghuni gang Patos, sekaligus kepada pembacanya. Seperti yang disebutkan dalam wawancaranya[1]—yang mengatakan bahwa dalam novela terbarunya ini ia ingin menghadirkan sense of horror tanpa hantu—Dio pun membuka kisah horor melalui cerita pak Koksi ini.

“[…] Orang Patos membangun desa yang amat bagus—tentu tanpa tulang naga, dan di seberangnya Orang Koksi mulai membangun desa yang sama sekali berbeda.[…] Pak Koksi mendatangi Samwau. Ia datang menawarkan ide lamanya, yaitu menyatukan dua desa agar memiliki tanah yang lebih luas dan sumber daya alam yang saling melengkapi. […] Suatu sore, seorang tak dikenal masuk wilayah Orang Patos, orang itu bersin-bersin sampai pingsan. Orang Patos menolong, sebagai gantinya beberapa hari kemudian Orang Patos ikut bersin-bersin. […] Pak Koksi juga membuka peluang emas bagi Orang Patos. Ia akan memberi satu rumah dan mantel bagi Orang Patos yang bersedia tinggal di wilayah yang sudah disediakan Orang Koksi. […] beberapa orang Patos yangbersin-bersin mengambil kesempatan itu.”

“[…]Orang-orang Patos hilang satu per satu,” jawab Wak Eli, “Saat mengetahui kabar itu, Samwau segera berdiskusi dengan Pak Koksi. Pak koksi meminta dukun-dukunnya untuk mencari tahu penyebab hilangnya orang-orang itu.” (hlm. 40-42)

Dalam kisah yang diketahui seluruh penghuni gang Patos ini, Dio berusaha menceritakan sejarah singkat gang Patos dengan cara lain yang lebih cerdik. Alih-alih mengisahkannya dengan gamblang, Dio membuat alegori untuk Orang Koksi sebagai penghuni kompleks Permata Permai Residence yangdibangun berseberangan dengan Orang Patos atau gang Patos. Sejarah singkat ini pun juga muncul dalam porsi yang pas dan diceritakan bergantian oleh tokoh-tokohnya (Nisbi, Edi, Wak Eli, Kina) kepada tokoh Anak Baik—yang bukan tanpa kebetulan[2]—untuk memahami sejarah singkat penghuni gang Patos sebelum ditinggal oleh penghuninya.

Tidak cukup dengan alegori tersebut, produksi ketakutan dalam Dekat & Nyaring pun dimunculkan lagi lewat interaksi antar tokohnya. Teror ini ditegaskan lewat sosok Sam—yang merupakan bekas penghuni gang Patos dan kebetulan berprofesi sebagai Polisi. Berikut.

“Aku mengerti perasaanmu. Aku tumbuh dan besar di sini, tapi sadarlah. Masa kejayaan itu sudah lewat, Nis. Lagi pula mereka tidak meminta kalian pergi secara cuma-cuma,” kata Sam, “Kau bisa pakai uangnya untuk buka warung atau apalah buat anakmu.”

“Kuingatkan,” kata Sam, mendekatkan wajahnya ke Nisbi, “Dua puluh tahun lalu dua ratus kepala keluarga tinggal di gang sempit ini. Dua ratus. Ramai dan damai. Seperti kehidupan yang layak, kan? Aku pikir juga begitu, tapi dulu aku masih terlalu muda dan naif. Mereka yang punya otak lekas pindah saat ditawari kesempatanyang lebih baik. Dan sekarang cuma kalian yang bertahan.” (hlm. 28)

Will Wright dalam Undestanding Genres: The Horror Films menyebut “adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utama, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.” sebagai salah satu ciri-ciri genre horor. Dalam kisah ini pun, Dio memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan darah yang akan pembaca jumpai di babak-babak akhir. Dan dari 8 ciri lain[3] dalam penjabaran Wright, ciri ini sajalah yang dimanfaatkan Dio untuk memasukan sensasi horor dalam kisahnya. Selain itu, Dio juga mengamini pendapat Edgar Allan Poe, J.L Borgel, dan Peter Penzolt dalam ciri-ciri cerita horor dengan menghadirkan salah satu tokoh stereotip yang kerap hadir dalam kisah horor (dukun, tokoh agama, polisi), yang dalam kisah ini, muncul sosok Sam yang merupakan seorang Polisi.

Selain itu, Dio juga membuat judul buku ini terkesan misterius bagi pembaca[4]. Sepanjang pembacaan, pembaca akan beberapa kali melihat frasa dekat dan nyaring—tujuh kali tepatnya—sebagai penanda kisah semakin dekat menuju puncaknya.

Melihat ini, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Dekat & Nyaring adalah novela yang bercerita tentang kaum yang bertahan dan yang terempas dengan balutan teror sebagai bumbu penyedap. Namun itu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru, novela ini tidak hanya bercerita soal itu saja. Dio juga sedikit memberi pandangannya terhadap sastra (khususnya untuk para penulis) lewat tokoh Kina—sosok seorang penulis misterius yang merelakan dirinya menikahi Idris dan bermukim di gang Patos karena ingin menuliskan karya sastra yang otentik—dan Dea Anugrah—satu-satunya karakter yang hanya berhubungan dengan Kina dan bukan gang Patos.

Lewat tokoh Kina dan Dea Anugrah, Dio sedikit menyinggung masalah susastra yang selalu menjadi mitos: menggugah masyarakat dengan menyuarakan yang tidak tersuarakan. Dio sadar betul, bahwa dengan menciptakan karya fiksi, ia tidak dapat mengubah apapun, dan itulah yang ingin ia katakan dari sekian banyak gagasan dalam novela tipis berjudul Dekat & Nyaring ini. Hal itu bisa kita lihat dalam dialog antara Kina dan Dea, berikut.

“Kenapa sih, kau merasa perlu mewakili mereka? Itu sama saja dengan kau meremehkan kemampuan mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa perlu kau wakili.”

“Orang perlu melihat masalah sebenarnya,” kata Kina.

“Kalau begitu tulis saja jurnal antropologi, esai, atau liputan mendalam. Jangan menulis novel, nggak akan mengubah apa pun. Kenapa kau nggak fokus memperbaiki tulisanmu sendiri, atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti beternak lele, misalnya, ketimbang meromantisir kemiskinan orang lain?” (hlm. 93-94)

Dio memilliki keyakinan bahwa karya sastra tidaklah bisa mengubah apapun, dan ketimbang penulis sibuk berdakwah dalam karyanya—yang kemungkinan pesannya tidak sampai atau hanya menjadi kutipan motivasi di media sosial—maka hal yang lebih baik dilakukan adalah memperbaiki tulisannya. Dio sadar betul, seberat apapun gagasan yang ditawarkan dalam prosa fiksi, akan sia-sia saja jika dikisahkan dengan cara yang amburadul.

Melalui novela Dekat & Nyaring, Dio seolah memberi pukulan yang lumayan telak bagi penulis yang keasikan berdakwah dalam tulisannya dan tidak memerhatikan bentuk maupun gaya bercerita.Hal ini bukan berarti cerita yang memuat gagasan berat selalu buruk, bukan itu. Masalahnya adalah apakah tujuan penulis menulis cerita? Jika ia ingin menyuarakan yang tidak tersuarakan, maka pilihan yang bijak adalah menulis esai, opini, ataupun kajian yang bersifat non-fiksi.

Dalam hal ini, Dio sependapat dengan Edgar Allan Poe—dalam esainya berjudul “The Poetic Principle”[5]—yang menolak gagasan bahwa karya sastra sebaiknya memberikan penerangan moral dan karenanya Poe mengusung ide bahwa karya seni harus ditulis demi karya sastra itu sendiri.

Melalui Dekat & Nyaring, Dio seperti menjewer penulis yang keasyikan menceritakan hal tidak perlu dan para pendakwah yang salah tempat dengan frasa dekat dan nyaring, Dio juga berhasil memberi alternatif untuk para pencerita setelahnya memberi batas dan penanda agar cerita tak lari terlalu jauh. Melalui tokoh-tokohnya, ia juga berhasil menghadirkan ketakutan tanpa hantu dan bagaimana manusia dengan segudang imajinasinya bisa bertahan di situasi yang tidak memungkinan.

Dan jika ada satu hal yang buruk dalam novela Dekat & Nyaring, maka yang patut disalahkan adalah kembali laginya sosok Dea Anugrah di akhir kisah. Hal yang membuat para pembacanya bertanya, “Di luar gang Patos, apa hanya ada Dea Anugrah saja?”—selain tentu saja beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh, yang cukup krusial, di tengah-tengah cerita.

Jakarta, Mei 2019.


[1] Dalam laman https://jurnalruang.com/read/1538062132-sabda-armandio-gak-perlu-bertele-tele#

[2]Untuk mengisahkan dongeng Pak Koksi, Dio pun menciptakan tokoh Anak Baik yang polos dengan segudang rasa ingin tahu dan sedikit keras kepala.Kisah tidak datang tiba-tiba tanpa motif (sebagaimana banyak prosa buruk yang sekonyong-konyong berkisah tanpa memerhatikan kausalitas).

[3] (1) Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana. (2) Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata. (3) Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap. (4) Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah. (5) Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. (6) Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka. (7)Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah. (8) Teknologi sering menjadi salah satu pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang menjadi pemenangnya.

[4]Dalam pembacaan lebih lanjut, motif dari penggunaan frasa berulang ini bisa menjadi siasat yang sekaligus berperan sebagai benang merah, yang menjaga agar cerita tak lari terlalu jauh, dan penanda babak-babak penting dan krusial dalam cerita.

[5] Dalam A History of Literary Criticism: from Plato to Present. M.A.R Habib (Blackwell Publishing: Oxford, 2005) hlm. 464.


Doni Ahmadi , lahir dan tinggal di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Tulisannya tersebar di media cetak dan daring. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *