Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

December 28, 2021

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.