Cerpen

Dewi Sri

October 27, 2020

Cerpen Rizka Umami

Malam itu aku membantu ibumu lahiran. Saat semua orang memaksa bapakmu membawa Dewi Sri ke bidan desa atau rumah sakit, ibumu justru ngotot lebih percaya padaku, dukun bayi yang selama ini hanya punya bekal titen.

Jika semua selamat, seharusnya kamu anak kelima yang lahir dari rahim Dewi. Meski dalam hitungan orang-orang, kini kalian lebih familier dengan sebutan empat serangkai. Orang-orang pastinya tidak tahu apa yang akan aku katakan ini.

Sekarang aku ingin membayar utang cerita yang sempat tersendat tempo hari. Yang harusnya jadi anak keempat bukan kamu, karena sebelum kamu lahir sebenarnya ibumu sempat hamil. Sayangnya di usia dua bulan janin itu mati di perut ibumu. Jadilah kamu anak keempat.

Ketika kamu akan lahir, sore itu bapakmu menggedor-gedor pagar rumahku. Ia minta aku segera bersiap-siap. Aku hanya diberi waktu kurang dari 10 menit untuk mengambil beberapa jarik dan perlengkapan seperlunya. Setelah aku keluar dan mengunci pintu rumah, buru-buru bapakmu menarik lenganku, lalu kami melesat.

Jam lima sore, ibumu sudah buka tiga. Ada yang aneh, selain ibumu mengeluarkan banyak darah seperti orang haid, darah itu bergumpal-gumpal merah-hitam. Pekat.

Waktu magrib yang kala itu tiba pukul enam lebih sedikit, aku membantumu keluar dari perut Dewi. Memang tidak sulit, tapi yang membuat orang-orang di sekeliling bapakmu takut, karena kamu keluar bersama darah pekat itu, baunya anyir segar.

“Apa yang bapak lakukan waktu sadar banyak darah yang dikeluarkan ibu, Mbok?”

Aku tidak sempat memperhatikan ekspresi bapakmu. Tapi aku yakin dia orang yang paling tidak siap dengan semua itu. Tidak siap dengan kelahiranmu dan tidak siap menerima rasa sakit yang dialami ibumu.

“Sebentar, Mbok. Bagaimana orang-orang juga tahu kalau aku lahir bersama darah yang tak lazim itu?”

Aku yang waktu itu membantu ibumu berbaring di lantai ubin kamar tengah, tanpa alas apapun. Lantai ubin yang dingin itu rupanya letaknya lebih tinggi dan hal itu mendorong darah yang keluar dari liang ibumu mengalir ke segala arah, ke tempat paling rendah, bahkan sampai ke luar dari pintu kamar tengah.

Oh iya, kamu sengaja dilahirkan di senthong tengah sesuai permintaan ibumu. Sebab baginya senthong itu jadi tempat ibumu menghabiskan waktu sembahyang dan bertemu dengan Sang Hyang Asri, Dewi yang dihormatinya sepanjang hayat.

Aku salut saat pertama kali mendapat cerita dari mbah putrimu, soal ibumu yang di zaman modern seperti ini masih menaruh setia pada inangnya kesuburan, Dewi Sri, yang dianggap sebagai pengendali kehidupan, mengatur rezeki agar selalu cukup.

Jadi wajar jika kemudian seluruh isi rumahmu menaruh hormat pada ibumu, Dewi Sri. Sebab berkat kesetiannya itu, keluarga besarmu tidak pernah satu kali pun mengalami gagal panen, apalagi sampai kelaparan.

“Apa itu juga sebabnya namaku sama seperti nama ibu?”

Begitulah. Ibumu dan kelahiranmu adalah dua simbol yang tidak bisa kami maknai secara utuh. Jauh sebelum ibumu mengandung anak pertama, mbah putrimu sempat mendatangiku, bahkan beberapa kali hanya untuk menceritakan perihal mimpinya yang sama. Tahu kamu apa yang dimimpikan mbah putrimu? Dia memimpikan kelahiranmu.

Benar, Nduk. Jadi apa yang kulakukan saat menolong kelahiranmu, semacam sudah diramalkan mbah putrimu sendiri. Dan selang sepersekian menit setelah aku membersihkan bekas darah di tubuhmu, semilir angin berkesiur, seperti memberi bisikan, bahwa Dewi Sri telah melahirkan Dewi Sri. Ibumu telah melahirkanmu, Dewi Sri yang baru.

“Tapi kenapa beberapa orang menyebutku telah melenyapkan ibu?”

Orang-orang yang melihat aliran darah pekat keluar dari kamarmu pastinya ketakutan. Aku saja ngeri jika tidak melihat sorot mata ibumu yang menandakan semuanya baik-baik saja. Kukira wajar jika perkara darah yang membersamaimu dianggap sebagai pertanda buruk.

Tapi percayalah, Nduk. Anggapan itu akan berangsur lepas pesat sampai nantinya kamu tidak akan mendengarnya lagi. Seperti yang kukatakan berulang kali, kamu bukan penyebab dari apa-apa yang tidak kamu lakukan. Termasuk perkara hidup mati ibumu. Bukankah tiap-tiap kita memang sudah semestinya berawal dan berakhir? Begitu juga ibumu, dan aku atau kamu juga akan berakhir nanti, suatu hari.

Dewi Sri itu, selain dimaknai sebagai penguasa kelahiran dan kesuburan, ia juga mengendalikan kemiskinan dan bencana, memengaruhi kematian. Semua tergantung pemaknaan. Jadi  kuingatkan lagi. Kelahiranmu mesti bisa kamu maknai sendiri. Titenono! Kabeh perkoro mesti biso dititeni. Ada pola yang suatu saat bisa kamu baca dan pahami. Karena itu, Nduk… berhentilah menyalahkan kehadiranmu di bumi Tuhan ini. Semua akan baik-baik saja. Kecuali jika kamu tidak mau menghilangkan anggapanmu itu, bisa jadi kamu telah membiarkan petaka akan benar-benar hadir dalam kehidupanmu.***


Rizka Hidayatul Umami. Kelahiran Tulungagung, 28 Juni. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan dan anak. Bisa disapa via IG: @morfo_biru, Twitter: @morfo_biru, Fb: Tacin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *