Cerpen

Di Atas Daun Jati, Ia Bersaksi

May 7, 2019

Cerpen Sasti Gotama

Gadis mungil itu tidur dengan tenang. Ia tergeletak di atas tumpukan daun jati kering berwarna  kuning kecokelatan. Bayang-bayang pokok jati yang menjulang terbiaskan pada tubuh yang telentang diam. Kontras dengan kulit si gadis yang  sepucat bulan. Jika bukan karena jemari Tara yang terlatih mampu merasakan denyut nadi  di lekuk leher gadis itu, mungkin para warga desa yang ikut dalam pencarian akan mengira nyawanya telah hilang.

“Nadinya lemah, tapi ia baik-baik saja,” gumam Tara, sedikit tak yakin.

Dengung lebah segera terdengar, berasal dari mulut-mulut penduduk desa yang saling berbincang,  tentang praduga-praduga, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang prasangka-prasangka. Seorang lelaki tua maju dan membalutkan sarung hitam yang tadi dikenakannya pada tubuh gadis mungil itu, membuatnya tampak seperti kepompong hitam. Seorang pemuda desa berbadan tegap mengangkat tubuh pucat itu dalam sekali helaan. Langkah-langkah tergesa segera terdengar dari kaki-kaki yang memijak ranting-ranting kering. Semua bergegas. Semua tergesa.

Malam masih muda dan bulan pucat bersembunyi di balik awan,  tapi Tara berfirasat malam akan terasa panjang. 

Mata gadis itu terbuka, memandang kosong ke langit-langit kamar ruang periksa. Sedetik kemudian ia mengerang. Separuh kesedihan, separuh kengerian. Suara itu menelusup ke dalam lorong telinga, menggetarkan gendangnya, dan merangsang rumah siput melepas sinyal-sinyal ke sel-sel kelabu Tara hingga ia terbangun dengan gelagapan. Hampir saja kursinya terjatuh. 

Seperti dugaannya, tadi malam memang terasa panjang. Semalaman ia membersihkan luka-luka gores di sekujur tubuh gadis mungil itu, memberinya oksigen, dan mengalirkan larutan glukosa ke dalam pembuluh darahnya yang kolaps. Gadis itu seperti baru saja diserang kera gila, atau manusia gila berotak kera. Tara tak tahu, mana yang lebih mengerikan.

Mulut mungil itu mengucap sesuatu. Tak terlalu jelas. Hampir serupa gumaman. Tara tak terlalu paham bahasanya. Ia baru seminggu menjejakkan kaki di pedalaman pulau Lombok ini demi  sebuah pengabdian.

“Bu Bidan, ia bilang apa?” tanyanya pada perempuan setengah baya yang baru saja masuk ke ruang periksa.

Bidan  itu  mendekatkan telinganya ke mulut mungil itu, lalu mengangguk-angguk perlahan. Sejenak kemudian, wajahnya berubah seolah-olah ia bertemu hantu paling seram.

Perempuan berbaju putih itu mendekat ke arah Tara yang  kebingungan. “Dok,” ucapnya bergetar, “sepertinya kita perlu memanggil polisi.”

Dari balik jendela berbingkai putih, Tara melihat tiga orang petugas berbaju cokelat mendekat. Dua diantaranya wanita. Puluhan penduduk yang tampak penasaran, membentuk setengah lingkaran di halaman puskesmas. Dengung manusia serupa suara lebah terdengar lebih tajam.

Salah seorang wanita berambut sebahu itu meminta Tara menunggu sejenak di depan ruang periksa. Ia memilih menunggu di belakang bangunan tua itu yang menghadap ke hamparan kuning sabana di kaki gunung Rinjani. Ia mendongak, memandang mendung gelap menggantung. Padahal belum musim penghujan, keluhnya. Seolah-olah alam bersekutu mengutuk peristiwa yang terjadi semalam. Sesuatu yang terlalu kejam untuk terjadi pada seorang gadis mungil berumur belasan.

Salamah namanya. Jika bukan karena peristiwa semalam, Tara tak akan memperhatikan gadis itu. Ia sama sekali tak mencolok, terlalu biasa untuk anak berusia sebelas tahun. Wajahnya bisa dibilang tak cantik dengan kulit cokelat pucat sewarna pokok jati. Rambut ikalnya berwarna hitam sedikit kemerahan dengan panjang sebatas bahu. Ia seperti gadis kampung Sasak pada umumnya. Yang membedakannya adalah tragedi yang terjadi padanya. 

Saat ia belum lagi usai menjalani masa balita, ayahnya meninggal ketika menjadi porter di gunung Rinjani. Senja itu badai, dan ia terpeleset di tebing Senaru. Ibunya menyusul pergi selamanya sebulan setelahnya, mungkin karena kepedihan yang tak bisa ditahannya. Salamah harus tinggal dengan keluarga paman jauhnya yang dipanggilnya tuaq[1]. Semua informasi ini tak tertulis di rekam medis, tapi  meluncur dengan lancar dari mulut Bu Bidan yang mengenal gadis itu semenjak ia kecil.

Tara tersentak ketika seseorang memanggil namanya. Bidan itu sudah berada di sampingnya dengan wajah setengah prihatin setengah marah. “Diminta visum, Dok. Surat permintaannya akan disusulkan nanti sore,” ucap perempuan itu sebelum berbalik badan. Baru tiga langkah, bidan itu berhenti  dan berbalik badan. “Oya, dokter tak akan percaya apa yang akan saya ceritakan nanti.”

Gadis itu terbaring di atas tempat tidur sederhana berangka kayu jati. Alas kasur yang berwarna hijau muda, senada dengan baju hijau daun khusus pasien yang dikenakannya. Wajahnya tak sepucat tadi malam. Ada rona merah muda di pipi tirusnya. Matanya memandang jauh keluar menembus kaca jendela. 

“Salamah,  saya periksa sedikit di bagian, ehm.” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya. Biasanya ia tak pernah merasa serba salah seperti ini, terutama saat melakukan tindakan di daerah kewanitaan pasiennya. Namun, kasus ini membuat ia merasa tak nyaman. Ia memberi isyarat pada bidan yang mendampinginya untuk menjelaskan dengan bahasa daerah setempat. Perempuan setengah baya itu mengangguk, lalu berbisik lembut di telinga gadis itu. Gadis itu bereaksi. Ia mengangguk ragu, lalu memejamkan mata. Erat-erat. Terlalu erat. 

Tara berjuang memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan lateks yang berukuran satu nomor di bawah dari yang biasa ia pakai. Namun, pikirannya bukan terpusat ke sarung tangan itu, melainkan  pada kejadian senja temaram, ketika seorang anak harus menghadapi takdir kejam.

Sepuluh menit yang lalu, bidan itu menceritakan apa yang ia dengar saat mendampingi Salamah. Katanya, dari mulut mungil Salamah yang bergetar, meluncurlah cerita tentang seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berpendidikan yang sedang pulang dari perantauan, memaksakan hasratnya pada seorang gadis berumur belasan. Tara membayangkan teriakan gadis itu yang teredam bekapan tangan, juga tubuh mungilnya yang memberontak di tengah hutan yang temaram. Mengerikan. Terlalu kejam.

“Saya mulai periksa, ya,” ucap Tara selembut mungkin. “Lampu, Bu Bidan.” Lalu, cahaya yang kuat terarahkan tepat ke satu titik. Titik yang membuat Tara terperangah.

Sentuhan itu. Salamah merasakan sentuhan tangan berlapis karet pada bagian pangkal pahanya. Sentuhan yang membuatnya terseret ke suatu malam ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Malam itu, ada yang membuka kelambunya. Perlahan, hampir tak terdengar, kalah dengan suara desau angin di luar dinding papan. Lalu, ia merasakan sentuhan. Perlahan, lembut, dari mata kaki kanan, lalu merayap semakin ke atas. Embusan napas yang ia dengar begitu memburu, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri. 

“Salamah rindu Amaq[2], Inak[3]?” Suaranya berat, seperti derau badai di lereng Rinjani. Lalu ia dengar dengkusan, serupa dengusan anjing hitam yang berkeliaran di sekitar hutan. Dengkusan yang semakin lama semakin cepat, seiring rasa menyengat di sebuah titik di bagian bawah tubuhnya.

Salamah diam. Ia tak ingin diam, tapi terpaksa diam, ketika telapak yang lembab berkeringat membekap mulutnya. Ia harus diam. Saat itu, juga keesokannya, juga hari-hari selanjutnya.

Malam-malam itu selalu terulang, lalu tiba-tiba terhenti setelah pemuda yang  biasa membantu di ladang tuaq, pulang kampung. Malam-malamnya kembali hening. Namun, ia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tak bisa terpuaskan hanya dengan sentuhan jarinya.

Lalu pemuda itu datang. Putra tetua desa yang pulang dari perantauan. Lelaki itu tampak bersinar di bawah mentari Lombok kala ia membacakan buku-buku yang ia bawa dari kota. Buku tentang roket ataupun jenis-jenis bunga-bungaan. Puluhan anak Sasak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap ceritanya. Termasuk Salamah. Suara lelaki itu begitu lembut. Terdengar lamat-lamat di setiap hening malam Salamah. Seperti bisikan, seperti gendam. 

“Bu Bidan,” desis Tara, “coba lihat.” Perempuan itu membungkuk dan menajamkan pandangan pada titik yang ditunjuk Tara. Tampak beberapa robekan di sana. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada anak seusia Salamah.

 “Ajari aku tentang daun-daun jati yang meranggas di musim kemarau.” Lelaki itu menyanggupi permintaan Salamah, menemani ke hutan jati. 

Sore itu, Salamah sudah berhias secantik mungkin. Rambutnya yang hitam ia jepit ke belakang. Ia pilih pakaian terbaiknya, putih seperti warna bulan. Blus itu selalu berhasil menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai matang. Tak pernah gagal.

Seharusnya semua berjalan lancar sesuai yang ia bayangkan. Seharusnya tiap lelaki akan seperti kucing yang disodori ikan. Seharusnya. 

Namun,  lelaki itu tak menanggapinya. Ia hanya  tertawa dan malah menasihatinya. Ia akan menyesal, pikir gadis itu, geram.  Lelaki itu akan mendapat hukum adat untuk sesuatu yang ia tolak. Untuk sebuah kebohongan yang gadis itu ungkapkan pada pihak kepolisian sejam yang lalu. Seharusnya lelaki itu tak menolak. Seharusnya, jangan. 

Salamah memejamkan mata. Ia menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan dari tangan bersarung lateks. Seperti hujan yang turun menyiram tanah kering sabana Sembalun setelah kemarau panjang. Ia menginginkan hujan ini selalu ada. Juga sentuhan itu.

Ia membuka mata dan menatap lurus pada iris cokelat gelap berbingkai kaca mata yang menatapnya. Salamah tersenyum, sekejap. Ia, rindu.

Tara memandang sorot mata sendu itu. Sekilas, mata itu berkilat, binal. Lalu redup kembali. Tara terkesiap. Ia bingung, bagaimana menuliskan laporan visumnya. Memang ada robekan pada selaput dara. Namun bukan luka baru. Tak ada luka baru. Hanya ada bekas koyakan lama. Sepertinya sangat lama.***


[1]Tuaq: paman

[2]Amaq: ayah

[3]Inak: ibu

Sasti Gotama Seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi, Antologi Journey to Infinity, Antologi Jejak Perempuan, Antologi Perempuan di Sisi Waktu, Antologi Kampung Humor dan Antologi Rahasia Cinta Bunda.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *