Cerpen

Di Kedai Nori

October 6, 2020

Cerpen Jeli Manalu

Tampak awan sedang turun. Tak lama setelahnya, gerimis seukuran biji sawi yang berlapis-lapis, jatuh dan melayang membasahi ujung meja. Tuan Am, begitu Nori menyebutnya, menggeser duduk ke bagian dalam kedai. Ia paham gerimis seperti itu. Meski tidak selalu menjadi hujan deras, namun durasi yang panjang sering membuat jalan tanah bercampur batu menuju stasi di pedalaman desa licin.

Tujuh bulan lalu ketika baru dipindahtugaskan ke paroki yang sekarang, dalam situasi seperti itu, pernah suatu kali ia memaksakan berangkat. Masih setengah perjalanan, motor trail-nya tergelincir sewaktu mengelakkan cekungan tanah. Selanjutnya terhempas ke tepian, menyusul terguling ke rawa. Motor trail-nya menginap di antara lumpur dan eceng gondok, sedangkan dirinya berjalan kaki sejauh empat kilo. Ah, tidak. Tidak lagi. Saya tidak mau lagi itu terjadi, batin Tuan Am, yang saat peristiwa itu, ia ingat bagaimana kondisinya berhari-hari. Dengkul nyeri bercampur panas akibat tertusuk duri pandan hutan. Siku lecet. Dahi hingga pelipis memar. Ia kemudian demam, dan dengan perasaan sedih membatalkan misa hari Minggu sebanyak dua kali.

Gerimis seukuran biji sawi namun tebal serta bercampur angin menuntun Tuan Am memesan minuman. “Sudah ada kopi?” tanyanya lebih dahulu, sembari melepas jaket lalu meletakannya di sandaran kursi.

Nori, si pemilik kedai menjawab, “Belum.”

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Apa beberapa orang memang tercipta senang mencari kenyamanan dari satu hati ke hati lainnya? pikir Tuan Am. Gerimis yang menerobos jendela seolah menampar di pipinya. Kiri, juga kanan. Penuh semua wajahnya. Ia meninju dada dan buru-buru mengucap doa tobat: ia mengaku telah berdosa dalam pikiran. Saya sungguh berdosa, katanya. Setelah mengatakan amin paling pelan yang tak terdengar bahkan oleh gerimis, dengan ujung jari ia menarik rokok sebatang. Ia isap rokok itu sambil meluruskan pikiran. Ia menyadari, tak boleh berkesimpulan terhadap permasalahan orang: sebab yang berada di luar hanya tahu luarnya saja, tidak akan pernah mengerti kejadian utuhnya. Dan apabila ada konflik, baik ringan maupun besar, sejatinya, ia hanya perlu mengunci pintu, menyalakan lilin, lalu membicarakannya pada Tuhan.

“Ya sudah kalau begitu, cokelat panas lagi. Tambahkan gula sedikit ya, Nori.”

Kata, “ya” sayup-sayup di telinga Tuan Am.

No-ri. N-O-R-I. Tuan Am mengeja. Sempat ia ragu, apa tadi sungguhan menyebut nama si pemilik kedai? No-ri, ucapnya, sekali lagi. Sebentar senyumnya rekah. Ia juga menggigit ujung kunci motor trail, kemudian merasakan dirinya aneh.  

Dari arah dapur terdengar denting sendok. Lalu aroma cokelat menghampiri meja Tuan Am yang di sananya ia mulai khidmat mengetuk-ngetuk meja.

Ada mobil hijau berhenti di depan kedai. Dari dalamnya muncul suara yang Tuan Am tebak itu suara Ariel Noah duet dengan, apakah itu vokal BCL—Bunga Citra Lestari? Tanya hati Tuan Am. Ia merasa suara serak-serak merdu itu milik BCL, perempuan yang lima bulan lalu kehilangan suami tercintanya: …. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia—Tuan Am menyanyikannya lagi, dan saat itu pula wajahnya berubah murung.

Pada bola matanya tampak semacam jala kemerahan. Bibirnya bergetar. Rokok yang diletakkan di atas asbak menyerupai sayap kupu-kupu padam dan dingin. Kesedihan tumpah di meja beraroma cokelat, beraroma kenangan.

Sepuluh tahun lalu saat bertugas di Paroki A dan usia Tuan Am waktu itu baru 34, hati serta pikirannya pernah diwarnai Lumi Ceri. Lumi Ceri seorang seniman: ia mendapat proyek membuat mural di sepanjang bangunan gereja bagian dalam—sebelumya, Lumi Ceri dikenalkan juru masak pastoran kepada Tuan Am. Tuan Am takjub bagaimana tangan serta jiwa Lumi Ceri lebur dalam dinding yang tadinya hanya putih kosong berubah jadi potongan-potongan kisah dalam kitab suci. Tuan Am merasa, belum pernah dirinya bertemu orang seistimewa Lumi Ceri. Ia juga ingat sudah berjanji menolak perempuan berkunjung ke hatinya. Ini bukan perasaan suka, cuma kagum, katanya pada diri sendiri menyangkal sesuatu yang bergejolak kuat.

Dalam piring, cangkir, asbak, dan pada sebatang rokok Lumi Ceri justru selalu muncul. Kadang kedatangannya dengan wajah sehangat cokelat. Kadang dengan sepasang mata sendu yang di dalamnya adalah hutan, dan dalam hutan itu Tuan Am melihat sebatang pohon berbuah lebat dan hampir saja ia memetiknya.

Suatu hari ia pergi retret. Ia merenungkan kembali pilihan hidup di mana dirinya tidak boleh menikah, meski jauh sebelum itu, orangtuanya memang pernah kurang merestui. Ia kemudian tekun berdoa novena[1]—ia katakan: bukankah hanya kau, hai Maria, ibu Yesus, dan ia, ibu yang telah melahirkan saya, perempuan yang boleh mengisi hati ini? Lalu mengapa sekarang ada yang hadir? Dalam doa tak sungkan Tuan Am mengaku berdebar tiap memikirkan Lumi Ceri. Rok kembang sepanjang betis yang bergoyang saat Lumi Ceri bergerak. Kemeja yang lengannya digulung sehingga Tuan Am bisa menyaksikan langsung kulit tangan Lumi Ceri. Atau syal hijau tua yang ketika akan melukis Lumi Ceri melepasnya dari leher dan meletakkannya di sandaran kursi—suatu hari, Tuan Am menyentuh syal itu, memegangnya dengan hati gelisah, namun saat itulah ia tahu aroma parfum Lumi Ceri perpaduan melati, jeruk, dan mungkin itu cokelat?

Sebotol cokelat selalu ada dalam tas Lumi Ceri. Pernah Lumi Ceri membagi Tuan Am. Ambil saja untuk Anda Pastor, katanya. Lumi Ceri bilang bibir Tuan Am tampak kering, dan napasnya saat bicara menandakan Tuan Am butuh minum. Tuan Am ingat dirinya menolak: ia bilang tidak sedang haus, menutupi hati yang mengatakan: nanti kekasihmu marah. Tapi Lumi Ceri malah bilang tidak ada yang akan marah.

Sejak itu Tuan Am semacam menantikan kapan Lumi Ceri menawarinya lagi sebotol cokelat. Apa ia membawanya dalam tas, atau adakah ia telah menyiapkan dari rumah untuk saya pribadi—Tuan Am tertawa, malu memikirkan dirinya yang mulai ke-geer-an. Untuk meredam perasaan itu, dirinya yang bijaksana berkata kepada dirinya yang kurang bijaksana: dasar Am tidak tahu diri, kau ini seorang pastor. Dilarang jatuh cinta, ingat itu! Sesudahnya ia mengucap doa tobat: Saya mengaku …. Saya berdosa dengan pikiran, dan perbuatan (?) Ah tidak kan, Tuhan. Saya tidak sedang berbuat dosa—ia meralat pada kata ‘perbuatan’. Namun di akhir doa, ia selalu bermohon agar jangan dimasukkan ke dalam pencobaan: agar hatinya jangan sampai menginginkan Lumi Ceri.

Tapi situasi memperindah bangunan gereja membuat kesempatan bertemu Lumi Ceri tak terhindarkan. Di lain sisi Lumi Ceri merasa terharu diperlakukan amat sopan oleh seorang imam, seorang pastor, yang kadang ia menemukan gelas bekas minumnya sudah menggantung bersih di rak—Tuan Am mencucinya selagi Lumi Ceri sibuk. Selain itu peralatan lukis Lumi Ceri juga sering dirapikan. Lumi Ceri merasa dicintai karenanya. Siapa saya, dalam hati ia berkata: hanya seorang hamba. Kebahagiaan pun melingkupinya.

Selesai membuat mural, yang salah satunya tentang Perkawinan di Kana, melalui juru masak pastoran Tuan Am mendengar kabar Lumi Ceri membatalkan pertunangan dengan sang kekasih. Malam harinya tunangan Lumi Ceri datang ke mimpi Tuan Am. Awan turun, gerimis jatuh. Tunangannya itu antara sedih dan murka. Dengan kuda hitam ia menuju Tuan Am, dan tampaklah sebilah pedang berkilat-kilat di tangannya.

Meski kedatangan itu hanya mimpi, Tuan Am tetap membicarakannya dengan Lumi Ceri. Lumi Ceri mengaku jatuh hati padanya. Tuan Am meyakinkan Lumi Ceri itu tidak benar. Itu tidak benar. Kamu hanya mencintai tunanganmu, katanya berkali-kali. Tapi Anda juga menyukai saya bukan, Lumi Ceri mendesak. Tuan Am gundah namun ia membohongi dirinya dan Lumi Ceri. Lumi Ceri bilang tidak mencintai tunangannya, itu hanya perjanjian antara orangtua kedua belah pihak saat mereka masih kecil. Tuan Am tetap meyakinkan Lumi Ceri bila perasaannya yang sekarang tidak benar. Setelahnya Tuan Am meninggalkan Lumi Ceri. Lumi Ceri berlari memeluk Tuan Am dari belakang. Seseorang dari kisi jendela ruang masak melihat peristiwa itu sebagai sebuah kebenaran. 

“Cokelatnya sudah sangat dingin, Tuan Am. Mari diminum dulu,” ujar Nori, membuyarkan Tuan Am dari ingatan.

“Ini tisu. Mata Tuan basah dan merah.”

Tuan Am kikuk, merasa malu ketahuan.

“Gerimis juga sudah reda,” tambah Nori.

Di luar sana Tuan Am melihat hari sudah mulai gelap. Tampak kunang-kunang terbang ke kebun sawi di samping kedai. Meski perjalanan hampir dua jam dan harus pelan-pelan menuju stasi di pedalaman desa, Tuan Am mengerti tidak mungkin menumpang tidur di kedai Nori.  

Tuan Am menyalakan motor trail-nya. Ia bunyikan “pip” saat roda mulai bergerak. Pada kaca spion yang masih diterangi lampu, ia melihat Nori berdiri sambil memegang sesuatu dalam botol dan itu mengingatkannya akan cokelat sepuluh tahun lalu. Dan seketika itu pula, dalam pikiran Tuan Am menyanyi Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari: aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. ***

Riau, Juli 2020


Jeli Manalu, saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018. Buku keduanya “Semangkuk Sup Bayam untuk Tuhan” sedang proses terbit.


[1] Doa sembilan hari berturut-turut untuk memohon suatu wujud kepada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *