Buku Resensi

Ekonomi Feminin

June 30, 2020

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *