Cerpen

Elegi Sebatang Pohon

March 16, 2021

Cerpen Ardi Wina Saputra

Sialan! Lelaki tambun itu dengan lancangnya mengencingiku. Belum sirna bau kencing dari para pemabuk yang menempel di kaki-kakiku sejak semalam, eh sekarang ditambah lagi dengan bau kencing dari lelaki tambun berkepala plontos itu. Beginilah nasib menjadi pohon cemara tua, kekar dan rimbun saja tak cukup untuk disegani. Beberapa bagian tubuhku bopeng oleh luka. Sebulan ini, ada semacam kertas yang menempel di tubuhku. Aku tak mampu membacanya karena posisi kertas itu sehadap denganku. Biarlah, yang pasti aku tetap kokoh pada pendirianku menunggu SusterAgatha, perawat cantik dari Klinik St. Melania. Kesetiaan cintaku padanya telah mengakar menembus tanah. Menjalar dan terus menjalar ke bawah. Menembus kerikil, menembus pasir, menembus humus, dan menembus remah-remah peti matiku sendiri.

***

Sebelum menjadi pohon cemara, aku memanglah seorang lelaki yang gagah perkasa. Tubuhku tinggi dan kekar, hidungku mancung, daguku lancip, dan rambutku pirang seperti rambut papi dan mami di Roterdam sana. Kedatanganku di kota Madiun ini tak lepas dari prestasiku sebagai lulusan terbaik akademi militer di Belanda. Aku ditugaskan pemerintah untuk mengamankan objek vital mereka di Hindia. Salah satunya adalah  kota Madiun yang sedang berkembang pesat. Kota ini memiliki pabrik gula Pf. Pagoetan yang hasilnya mampu diekspor ke Burma dan Srilanka. Belum lagi kebun teh di Jamus dan kebun kopi di Dungus yang hasilnya sudah mulai dilirik pedagang dari Gujarat. Ada juga perusahaan kereta milik pemerintah, Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij[1] yang digunakan untuk membangun kereta api di seantero tanah Jawa. Politik etis juga membuat kota ini semakin penting. Ursulin, Lazaris dan beberapa ordo lainnya sudah memulai membangun sekolah untuk orang Jawa, Tiong Hoa, dan Belanda. Mulai dari Holands Chinese School[2], SD Eropa, Sekolah Pribumi Belanda, TK Eropa, TK Jawa, Sekolah Melania, Kursus Mengetik dan Stenografi, Kursus Jerman, Kursus Perancis, Kursus Musik, dan Panti Asuhan. Belum lagi pembangunan gereja di Wilstraat[3] Madiun dan tempat peribadatan lainya. Jumlah orang Belanda di kota ini semakin lama semakin meningkat. Itulah sebabnya aku ditugaskan untuk memberikan pengamanan ekstra.

Dulu, berbagai pertempuran dan pemberontakan baik dari dalam maupun luar kota sudah kuatasi. Bahkan tak jarang aku menumpas oknum tentara Belanda yang kedapatan bersekongkol dengan sempalan tentara Residen untuk menguasai pabrik gula. Desing peluru hingga suara mortir telah fasih menjamah telingaku. Tak jarang beberapa tembakan bersarang pada lengan dan pahaku. Semua itu membuatku semangat dan meningkatkan adrenalinku untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Namun ada satu peluru yang tak mampu kusembuhkan hingga kini. Peluru cinta dari bidadari pada lelaki yang telah lama merindukan belaian wanita.

Aku ingat betul, peluru itu mulai bersarang menembus tulang rusukku ketika Klinik St. Melania dibuka di Madiun pada Jumat 6 Februari 1931. Saat itu tepat setengah enam sore, Residen, Asisten Residen, Walikota, dan para donatur datang ke pembukaan Klinik St. Melania.Aku dan pasukanku diberi kepercayaan untuk menjaga prosesi pembukaanya. Ny. Wagemans, presidente[4] dari distrik Madiun selaku perwakilan dari Klinik St. Melania mempersilakan Ny Residen yaitu Ny. Van den Bosch untuk membuka pintu pertama dan mempersilakan para tamu serta donatur untuk masuk.

“Lihatlah salah satu wanita yang sejak tadi mendampingi Ny. Wagemas itu! Suster Agatha namanya!” ujar Robert, kawan yang saat itu berdinas denganku.

Mataku menurut saja pada arah telunjuk Robert. Telunjuknya yang berbulu mengarah pada wanita berseragam perawat, bukan biarawati. Kulitnya tidak cokelat juga tidak terlalu putih, tapi kuning langsat. Hidungnya mancung, tubuhnya tinggi semampai, wajahanya oval, dan bibirnya mungil. Bibir itulah yang ternyata mampu mengeluarkan sebutir peluru lalu melesat dan bersarang di dadaku ketika mulai diletupkan dalam bentuk senyuman.

“Agatha, Kemari!” panggil Robert.

Ia tidak menjawab, hanya melempar senyum yang mampu memporak-porandakan pilar-pilar cinta dalam lubuk hatiku. Ia lalu melanjutkan tugasnya kembali. Memeriksa beberapa pasien dan sesekali menjawab pertanyaan tamu.

“Kau mengenalnya?” tanyaku pada Robert.

“Dia sama sepertiku Pak, ayahnya Belanda dan Ibunya dari Jawa. Sebelum bekerja di sini, dia menjadi salah satu guru di Hollands Chinese School, sekolah anakku. Dia juga teman baik istriku,” jawab Robert lalu menyeret tanganku.

Sebagai rekan setim, tentu ini tidak sopan. Tapi apa daya, ada magnet yang amat besar membawaku ke arahnya. Saat itu, aku mencoba memberanikan diri berkenalan. Kuulurkan tangan dan dia menjabat tanganku. Ada arus yang begitu besar dari telapak tangan kanannya yang mampu merasuki sekujur tubuhku.

“Aku harus profesional Tuan Robert, kedatanganku ke sini adalah melayani pasienku dan aku tak akan berlama-lama dengan orang lain selain pasienku,” ujarnya pada Robert.

Memang dia lahir di Jawa, tapi kelogisan dan kelugasanya menunjukkan dia memang benar ada darah Belanda mengalir dalam tubuhnya. Sebelum ayah dan ibuku meninggal, mereka pernah berpesan padaku agar aku menikah dengan wanita berdarah Belanda. Kini usiaku bertengger mendekati penghujung kepala tiga, tapi istri pun aku tak punya. Aku terlalu sibuk dengan karier kemiliteranku. Inikah akhir dari pencarianku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergelayutan dalam kepalaku.

Pertemuan dengan Agatha terjadi begitu singkat. Aku ingin menemuinya lagi. Sesampainya di markas, aku bingung mencari cara agar aku bisa menemuinya. Tak ada cara lain selain menjadi pasien. Aku sadar bahwa pedang dan peluru tak dapat melukaiku, maka aku mencari cara lain. Kuminum obat-obatan yang entah apa namanya agar tubuhku demam. Satu, dua, tiga jam aku menunggu, aku tak merasakan apapun. Otakku bekerja keras mencari cara agar aku dapat sakit. Berbagai hal bodoh kulakukan agar aku dapat sakit tapi tak juga berhasil. Hingga sampailah pikiranku pada hal paling bodoh. Aku ingat, tak jauh dari sini ada semak belukar. Kuambil motorku dan kujelajah semak-semak itu sendirian di tengah malam yang masih gerimis.

“Dapat!” teriakku ketika menemukan beberapa lubang ular di semak-semak itu. Tanpa ragu, kumasukkan tangan kiriku ke dalamnya.

“Arghhhh!”

Sakit memang, seperti ada jarum yang menancap sangat tajam di tanganku. Satu, dua, dan tiga kali barulah kucabut tanganku dari lobang itu. Kulihat ada tiga pasang luka tusuk mirip bekas suntikan yang ukuranya berbeda menembus tanganku.

“Berhasil!” ujarku mantap. Kunyalakan kembali motorku dan aku bergegas menembus hujan menuju markasku.

“Aku digigit ular! Aku digigiit ular!” Sesampainya di markas, aku sengaja meronta-ronta di samping ruang tempat tidur prajurit, mencari perhatian sekaligus pertolongan. Beberapa prajurit terbangun, lalu datang mengerumuniku. Ada juga yang bergegas keluar mencari pertolongan pertama. Tubuhku mengigil dengan amat dahsyat, gigiku gemertakan, bahkan aku sempat muntah. Pengelihatanku mulai kabur.

“Bawa aku ke klinik St. Melania!” pesanku pada salah satu prajurit yang kepalanya paling dekat denganku. Setelah berucap demikian, mataku semakin kabur dan semua menjadi gelap.

***

Saat itu aku tak sadarkan diri cukup lama. Aku merasa tertidur sangat pulas sekali, hingga suatu ketika kubuka mata dan aku sudah berbaring di bawah salib yang menempel di dinding ruangan Klinik St. Melania. Ada Robert dan seorang prajurit di sampingnya. Samar-samar aku masih ingat wajah prajurit itu adalah wajah prajurit yang kuberi pesan agar bersedia membawaku ke Klinik St. Melania. Aku tersenyum pada prajurit itu, lalu pada Robert. Sayangnya, Robert malah menatap mataku dengan tatapan sinis.

“Di mana dia?” ujarku pada Robert yang aku yakin sudah sangat tahu maksudku.

“Hampir seharian penuh kau sudah tak sadarkan diri. Siang tadi, Suster Agatha berangkat bersama salah satu pemimpin Pabrik Gula di Madiun, Tuan Abelard namanya. Mereka berlayar menuju Amsterdam menggunakan kapal J.J. Johan de Witt yang diberangkatkan dari Surabaya siang ini,” jelasnya.

“Ada keperluan apa lelaki itu membawa Suster Agatha pergi?” tanyaku.

“Tuan Abelard mengajak Suster Agatha untuk menandatangani beberapa perjanjian donasi dari perusahaan di Amsterdam.”

“Lalu kapan Agatha kembali?” tanyaku penasaran.

“Mereka akan kembali paling cepat Natal tahun depan. Itu pun kalau tidak ada halangan,” ujar Robert lagi.

Mendengar Suster Agatha dibawa pergi laki-laki lain, semangat hidupku menurun drastis. Aku tahu benar sifat licik Tuan Abelard dalam memikat wanita, karena aku pernah bekerjasama denganya dalam misi pengamanan aset pabrik gula di Madiun sehingga kami menjadi akrab dan sering berkomunikasi. Andai Natal tahun depan Suster Agatha benar-benar kembali, aku yakin dia sudah tak sesuci dulu lagi dan pantang bagiku yang perwira tinggi ini untuk mendapatkan sisa dari laki-laki lain. Aku berjanji pada diriku sendiri, kelak jika aku sembuh maka aku akan membeli peti mati terbaik, mengeduk tanah di belakang klinik ini dan mengakhiri hidupku dengan membaringkan diri, menembakkan peluru dari ujung revolver kesayanganku.

***

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menepati janji yang telah kubuat sendiri. Begitu sembuh, kubeli peti mati berbahan kayu berukir perjamuan terakhir Kristus. Lalu malamnya, kugali makamku sendiri tepat di belakang Klinik Melania. Dua petugas yang berjaga di klinik itu kuminta untuk membantuku mengangkat peti dan memasukkanya ke lubang galianku. Mereka tahu benar reputasi dan pangkatku di kota ini, sehingga tak berani bertanya dan hanya menunduk sambil mengerjakan setiap perintahku. Setelah itu, mereka kusuruh kembali ke pos jaga. Aku terjun masuk ke peti mati lalu berbaring, dan kuletakkan ujung revolver di samping pelipisku. Pada hitungan ketiga kutekan pelatuknya dan semua menjadi terang seterang cahaya yang menarikku dengan sangat cepat untuk keluar dari jasadku. Kini sukmaku benar-benar terbebas tapi pergerakanku terbatas. Aku tak bisa pergi terlalu jauh dari jasadku, karena apabila hal itu terjadi maka sukmaku perlahan akan sirna. Mau tidak mau aku harus berdiam di sini menatap jasadku, melihat dua petugas jaga yang tergopoh-gopoh memanggil warga dan polisi untuk menutup petiku, melihat keributan malam itu, melihat upacara militer sederhana di atas pemakamanku, dan melihat para pelayat yang datang silih berganti. Namun, wajah Agatha tak muncul dari puluhan pelayat di kota itu.

Lambat laun, kulihat sendiri kulit, daging, dan seluruh organ tubuh beserta seluruh tulang belulangku hancur lebur bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Peti matiku juga telah rapuh, rengat, keropos, dan tergerus menjadi remah-remah bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Namun kerinduanku pada Agatha tak bisa sirna begitu saja. Kerinduan ini harus tetap kujaga. Tanah pemakamanku sangat gembur oleh hujan dan subur karena jasadku yang terurai di dalamnya. Pelayatku bermacam-macam profesinya, termasuk petani dan tukang kebun. Beberapa dari mereka tampaknya tak sengaja menjatuhkan benih ketika melayat. Oleh sebab itu kuputuskan untuk menyatukan jasadku pada salah satu benih yang telah tercampur aduk dalam tanah kuburku. Lalu benih itu mengeluarkan akar, merambat ke bawah menembus humus, menembus tanah, menembus kerikil, dan merambat ke atas menjadi tunas menyembul di atas permukaan tanah. Semakin lama semakin meninggi, tumbuh daun satu demi satu hingga rimbun dan barulah kusadari bahwa wujudku sekarang adalah pohon cemara. Aku masih berharap kalau Agatha sampai di Madiun, dia tak perlu bingung mencari pohon Natal karena dia bisa memelukku sewaktu-waktu. Tubuh baruku juga semakin kokoh, tahan angin, tahan petir, tapi tak tahan menimang rindu.

Dari bentuk baruku ini aku menunggu kedatangan Agatha sambil menjaga Klinik St. Melania yang semakin lama semakin sepi, semakin kosong, ditinggalkan pengelolanya, dibiarkan, lapuk, roboh, dan hancur tergerus zaman. Ribuan tamparan sinar matahari dan ratusan tangis purnama telah kulewati sendiri. Jutaan manusia silih berganti melintasiku, puluhan ribu jenis debu kendaraan telah kuhirup.

Hingga suatu ketika dari arah utara, ada sekelompok komplotan turun dari mobil, mukanya garang tubuhnya gempal juga legam, jumlahnya lima. Mereka turun di dekatku berdiri, bergerombol tapi tak mau mendekat karena bau kencing yang masih menyengat.

Salah satu dari mereka berperawakan rapi, berjas dan berdasi, mengarahkan telunjuknya ke arahku dan berkata pada orang-orang berbadan gempal yang mengitarinya, “Sesuai dengan isi poster yang telah tertempel di pohon cemara itu, maka besok saya minta kalian semua untuk membersihkan wilayah ini sekaligus menebang pohon itu! Kita akan bangun proyek besar di tempat ini!”


Ardi Wina Saputra,Anggota Komunitas Pelangi Sastra Malang.


[1] Perusahaan jawatan kereta api Belanda

[2] Sekolah untuk Belanda dan China

[3] Jalan raya

[4] Pimpinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *