Esai

Dari yang Lalu dan Sekarang yang Berjalan

May 28, 2019

Oleh Yohanes Bara

“Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tanpa jendela,” kata Horece Mann, reformis pendidikan Amerika Serikat. Ruangan tanpa jendela itu pengap, gelap, dan sesak. Demikian juga pikiran tanpa buku, isinya hanya kekosongan, kegelapan, dan kesesakan. Artinya, kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bukan terletak pada tempat tertutup, tetapi pikiran yang tertutup karena tak pernah bersentuhan dengan buku. Mortimer J. Adler dalam Cara Membaca Buku dan Memahaminya (1986) menilai membaca adalah kegiatan melakukan penemuan, mengantar dari tak paham menjadi lebih paham. Atau, membaca untuk mendapatkan informasi. Membaca untuk memahami membuat seseorang bisa menjelaskan mengenai sesuatu, sedangkan membaca untuk mendapat informasi berujung pada penghapal yang hanya bisa menceritakan ulang tanpa pemahaman.

Membaca juga sebuah peristiwa mendapat sekaligus kehilangan. Dengan membaca, seseorang mendapatkan wahana baru dalam pikirannya. Dengan membaca, seseorang kehilangan waktu untuk melakukan kesenangan lain, sebab membaca merupakan aktivitas tunggal yang tak dapat disambi hal lain. Kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bisa menimpa orang atau negeri. Negeri tanpa buku ibarat negeri tanpa jendela, negeri tanpa pemahaman dan penemuan. Keadaan yang pernah dialami Indonesia sebelum buku dititipkan lewat kapal-kapal dagang kolonial atau barang bawaan misionaris.

Sejarah buku bermula dari ekspansi ekonomi kolonialisme Belanda melalui Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) terhadap produksi rempah-rempah Hindia Belanda pada tahun 1596. Saat itu, VOC merasa perlu memanfaatkan pers untuk mencetak hukum yang termuat dalam maklumat resmi pemerintah. Para misionaris Gereja juga punya peran memperkenalkan percetakan di Hindia Belanda karena berkepentingan memenuhi percetakan kitab-kitab keagamaan dan traktat. Bahkan mereka sudah memiliki mesin cetak dari Belanda pada 1624 meskipun baru memproduksi sebuah Tijtboek, sejenis almanak pada 1659 oleh Kornelis Pijl.

Percetakan awal ini tercatat lebih banyak menerbitkan dokumen-dokumen VOC hingga pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tahun 1744 terbitlah surat kabar pertama di Hindia Belanda bernama Bataviase Nouvelles yang dikelola oleh saudagar muda yang diperbantukan di kantor VOC, Jan Erdman Jordens (Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1995).

Surat kabar pertama ini hanya berukuran kertas folio yang berisi dua kolom di masing-masing halamannya. Bataviase Nouvelles berisi maklumat pemerintah dan iklan lelang yang diedarkan pada kalangan pegawai VOC saja dan sebagian kecil orang Eropa. Kerena dikhawatirkan isi surat kabar ini akan mengganggu monopoli Kompeni Belanda, akhirnya berhenti terbit pada 20 Juni 1746. Setelah gagal mendirikan percetakan pertama pada 1624, para misionaris kembali memiliki mesin cetak pada 1743 yang diletakkan di Seminarium Theogicum di Batavia. Percetakan ini mencetak Perjanjian Baru dan buku doa dalam terjemahan bahasa Melayu, hingga pada 1755 mereka dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng milik pemerintah.

Setelah VOC bubar pada 1799, usaha percetakan misionaris kian bertambah, salah satunya mesin cetak pertama di Kepulauan Maluku yang tiba tahun 1813 dan baru beroperasi pada 1819 dengan mencetak brosur keagamaan, buku sekolah dasar yang dikelola Gereja, dan surat kabar dengan bahasa anak negeri, Bintang Oetama (1858). Sejarah percetakan dan perbukuan di Nusantara pun berkembang beriringan dengan perkembangan misionaris dan sekolah-sekolah Belanda.

Sejarah panjang berbukuan tak menjamin literasi Indonesia maju dan berkembang di abad XXI. Indonesia masih memiliki masalah-masalah besar terkait literasi. Oleh sebab itu, pemerintah buru-buru membuat program Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2016. GLN setidaknya diterjemahkan dalam 6 bidang pokok: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemudian diwujudkan lokakarya-lokakarya terkait sosialisasi kebijakan teknis bagi peserta di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu menjadi program di sekolah-sekolah.

Dalam pelaksanaannya, ternyata GLN tak hanya menjadi domain Kemendikbud. Pertamina, bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, mengadakan kompetisi mural di Balikpapan dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), dengan mengangkat 6 bidang pokok yang sama dengan GLN. Di tingkat daerah, Jawa Barat, Malang, Papua Barat, Lampung, Balikpapan, Kalimantan Barat, dan Solo sudah membuat program-program dalam rangka peningkatan literasi. Mulai dari lomba-lomba, pembentukan duta baca, perpustakaan keliling hingga pengadaan buku sudah diupayakan pemerintah daerah masing-masing.

Namun, apakah membaca dalam program GLN sebatas kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi atau membaca sebagai sebuah proses penemuan pemahaman baru? Tentu masih perlu kajian mendalam untuk menjawabnya. Jika merujuk pada kajian dari World Economy Forum 2017, kualitas jenis bacaan akan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Sehingga program kampanye literasi tidak hanya berkaitan pada penganggaran tetapi juga memperhatikan konten literasi.

Untuk mendukung upaya GLN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengucurkan Rp 10 triliun setahun untuk pengadaan buku. Pemerintah Solo beberapa tahun lalu juga menyemangati gerakan literasi dengan mendirikan Monumen Patung Soekarno Membaca di Taman Plaza Manahan. Sesuai namanya, patung perunggu senilai Rp 1,5 miliar itu berbentuk Soekarno sedang membaca buku atau lebih tepatnya sedang memangku buku karena tatapan mata Sang Proklamator ini tidak pada buku.

Dengan besaran anggaran yang tinggi dalam setiap program dan proyeknya, sulit dibantah bahwa nalar birokrasi adalah nalar anggaran. Bahkan terkadang menggunakan nalar politis yang sarat kepentingan. Misalnya, mengapa Soekarno disimbolkan sebagai seorang pembaca? Padahal Mohammad Hatta dikenal lebih pembaca dari Soekarno. Semasa kuliah di Handels-Hogeschool Belanda, dalam sebuah masa liburnya di Hamburg, Hatta memborong 19 judul buku sekali beli (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 2011). Saat Hatta dipenjara di Glodok tahun 1934, ia pun membawa buku-bukunya. Bahkan, dalam masa pembuanganya di Boven Digul (Papua), Hatta membawa 4 peti berisi buku.

Hatta selalu identik dengan buku, membaca dan menulis, yang artinya memuliakan literasi. Gambaran suasana dan percakapan penulisan teks proklamasi ini kiranya dapat membawa kita ke rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia, Laksamana Tadashi Maeda pada dini hari 17 Agustus 1945, “Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Soekarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.”

Dalam peristiwa tersebut, Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Hatta menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Soekarno yang mengakui bahwa kebahasaan Hatta adalah yang terbaik.

Peristiwa sejarah itulah yang sebenarnya mengingatkan kita pada episode-episode literasi, yang selalu mengaitkan agama, politik, dan peradaban. Akhirnya, pada masa sekarang kita diharuskan memikirkan kemajuan literasi. Pemerintah telah berbuat meskipun sulit maksimal. Dukungan dari berbagai instansi atau komunitas terus saja dibuktikan yang menginginkan masa sekarang tetaplah berliterasi supaya tidak malu pada masa lalu yang sudah menampilkan sejarah rumit dan panjang.

Yohanes Bara Bekerja di Majalah UTUSAN dan Majalah BASIS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *