Esai

Kabar Bohong

April 16, 2019

Esai Alexander Robert Nainggolan

Alkisah, Nabi Yusuf dipanggil oleh Zulaikha, istri dari majikannya ke dalam kamar. Zulaikha yang terpesona akan ketampanannya bermaksud ingin bercumbu dan menginginkan dirinya. Dan ajakan dari Zulaikha itupun ditolak oleh Yusuf, bermaksud untuk keluar kamar menuju pintu, namun Zulaikha bersikeras dan menarik gamis yang dikenakannya. Gamis itupun robek di bagian belakang. Keinginan Zulaikha gagal untuk bercinta.

Celakanya, Zulaikha malah menyebarkan kabar bohong dengan menyebutkan bahwa Yusuflah yang ingin memperkosanya. Untungnya, sebagaimana kisah itu berlanjut ucapan Zulaikah– yang konon memiliki kecantikan tak terperi itu tidak serta merta ditelan mentah-mentah oleh suaminya. Ia menguji dengan penalaran yang cerdas, jika bagian depan gamis yang robek maka benarlah kabar yang disampaikan Zulaikha. Namun jika gamis bagian belakang yang robek, maka benarlah pernyataan dari Yusuf.

Kisah Nabi Yusuf sudah bertahun-tahun lampau lewat dalam peradaban manusia. Namun cerita itu setidaknya relevan untuk saat ini. Ketika begitu banyak orang yang berbicara, dengan sungguh-sungguh, terkesan penuh dengan keyakinan– namun ternyata hanya bualan semata. Segala yang didekripsikan, apa yang terjadi dalam dirinya tak lebih adalah gembar-gembor, hiperbola yang berlebihan. Nyatanya fakta berbicara.

Meskipun dengan keajaiban teknologi dan berita yang super cepat, dalam hitungan detik kita pun tak bisa mencegahnya. Kemajuan tekonologi untuk menyebarkan kabar  yang cuma berada di ujung jari manusia. Dengan hanya menekan tombol pada telepon pintar melalui media sosial, kitapun turut terkena getahnya. Bahwa apa yang diucapkan ternyata berbanding 180 derajat dari kenyataan yang terjadi.

Ada seseorang yang barangkali piawai untuk mengekspresikannya. Sehingga dari mimik atau gestur tubuhnya kita merasa terhipnotis dan mengamini bila yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Namun kebenaran adalah keselarasan dari fakta, bukan sekadar opini yang dibangun dari pendapat-pendapat. Parahnya lagi, jika ternyata opini yang diungkapkan ternyata hanya merupakan manipulasi yang bertolak belakang dengan kejadian sesungguhnya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam sebuah teori bahwa kebenaran memerlukan konsistensi atau kecocokan. Antara fakta yang melingkupinya, sehingga dapat dicocokkan dengan segala bukti yang ada.

Dengan kecepatan arus teknologi yang melingkupi kita saat ini, kita diharapkan untuk dapat memilah setiap kabar. Kabar yang terlanjur tersebar dalam media sosial. Barangkali dengan mengujinya. Tidak dengan gegabah membagikan kabar itu di mana saja.

Demikianlah, setidaknya kita harus bisa bertindak. Menjadikan diri sendiri sebagai filter, dengan menelaah akan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan kata lain, kita harus pandai untuk berandai-andai dan menduga-duga kebenaran itu sendiri. Kecuali, dalam karya sastra– sebuah fakta yang nyata bisa menjadi kebohongan. Sebab karya sastra membutuhkan imajinasi dan metafora. Kebenaran yang disuguhkan dalam karya sastra barangkali berpijak kepada realitas. Namun ia dibalut dengan sejumlah personifikasi lain, yang tentunya berusaha mengungkapkan keindahan dengan cara yang lain.

Meskipun, jauh hari sastrawan F. Rahardi menegaskan bahwa karya sastra bukanlah kebohongan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan: karya sastra adalah fiksi. Beda fiksi dengan  nonfiksi adalah fiksi merupakan tulisan berdasarkan imajinasi, sementara nonfiksi adalah tulisan berdasarkan data dan fakta nyata. Jadi karya sastra sebagai fiksi memang bukan sesuatu yang nyata, tetapi karya sastra juga bukan kebohongan. Sastrawan bukan seorang pembohong. Sastrawan yang baik justru selalu menyuarakan kebenaran. Ini bukan pendapat saya pribadi tetapi ada di Webster, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Encyclopedia Americana, Encyclopedia of Writing, Ensiklopedi Indonesia, dan lain-lain. Padanan kata imajinasi adalah khayalan, rekaan, angan-angan. Lawan kata imajinasi adalah kenyataan, fakta, realitas, sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. (Harian Kompas, 19 Maret 2000)

Menurut kamus besar, bohong bermakna: tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya. Seorang yang berbohong senantiasa berusaha untuk menutupi kebenaran yang melingkupinya. Maka apa yang dikabarkannya akan berusaha untuk dicarikan penguat, ditutupi. Walaupun sebagaimana peribahasa, sepintar-pintar kita menutupi bangkai, baunya akan tercium juga.

Apa yang terjadi belakangan ini dengan fenomena kabar bohong (hoax) yang makin “menggila”, barangkali kita perlu untuk terus melakukan cek dan re-cek akan kebenaran sebuah berita. Dengan melakukan pemilahan, kita tak akan membuat dunia semakin gaduh terhadap kenyataan sebuah berita.

Meskipun kita tahu ada banyak tingkatan akan kebenaran. Kebenaran terdiri dari kebenaran indera merupakan tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia, yang kedua sebagai tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio. Ketiga sebagai tingkat filosofis, yakni sebagai rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya. Dan yang terakhir adalah tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.

Dalam kamus umum bahasa indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni:

  1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya); misalnya, kebenaran berita ini masih saya sangsikan; kita harus berani membela kebenaran dan keadilan.
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya); misalnya, kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama.
  3. Kejujuran; kelurusan hati; misalnya, tidak ada seorangpun sangsi akan kebaikan dan kebenaran hatimu.
  4.  Selalu izin; misal, dengan kebenaran yang dipertuan.
  5. Jalan kebetulan; misal, penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran

Pada akhirnya untuk memilah arus informasi yang terlanjur mengembara ke dalam benak orang banyak, kita mesti bertindak seperti suami Zulaikha, mengujinya dengan berbagai paradigma atau kemungkinan-kemungkinan. Sebab kebenaran tak pernah hadir majemuk, ia tunggal meskipun kita memandangnya dari sisi mana saja. Walaupun terkadang kita akan sulit untuk membedakannya. Mana yang kabar benar atau bohong. Namun dengan tidak gegabah ketika mengkhidmati sebuah kabar, niscaya akan dapat dibedakan mana yang sungguhan atau palsu. Bukankah sebutir mutiara akan tetap bercahaya walaupun ia berada di dalam lumpur sekalipun?

Nah, sudah siapkah anda untuk berbohong kali ini?

Alexander Robert NainggolanLahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kecamatan Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media.Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Bukunya Rumah Malam di Mata Ibu (Kumpulan Cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (Kumpulan Puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (Kumpulan Cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (Kumpulan Puisi, Basabasi, 2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *