Esai

Mengencani Jakarta

May 14, 2019

Esai oleh Shela Kusumaningtyas

Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun pemberhentian  berikutnya. Begitulah pekik yang diumumkan. Speaker yang dipasang di sudut-sudut kereta melantangkan dan terus mengulang pemberitahuan itu. Para penumpang yang berjejalan di tengah gerbong telah bersiap menembus barisan penumpang lain yang juga berjibaku dengan pegangan.

Mereka yang akan turun lantas menyusun jurusnya masing-masing supaya tidak terjepit di dalam kereta yang penuh sesak. Lalu akhirnya terlewat untuk keluar kereta. Sebab pintu kereta terbuka tak lebih dari lima menit.

Penumpang yang kebetulan dapat tempat duduk pun mesti beranjak dari bangku. Mereka harus menyibak celah-celah sempit antara para penumpang yang berdiri. Kemudian mendekatkan posisi dengan pintu kereta.

Gerak mereka mesti gesit. Pasalnya, penumpang di luar juga telah menunggu untuk dapat masuk kereta. Sehingga, dibutuhkan kerja sama antara penumpang yang turun dan naik. Supaya tidak ada yang dirugikan.

Di situlah kesabaran dan emosi diuji. Penumpang yang akan turun akan menyingkal dan menghalau penumpang yang buru-buru naik. Lalu teriakan yang memekakan telinga akan dilontarkan. Bahwa penumpang naik mesti menunggu dulu semua penumpang benar-benar turun.

Sementara penumpang yang akan naik kadung tidak sabar. Mereka abaikan peringatan dari penumpang yang turun. Sebab, jika benar-benar memasuki kereta ketika penumpang dari dalam sudah tidak ada yang turun, kemungkinan untuk bisa dapat ruang di dalam kereta akan sulit.

Kereta sudah begitu sesak sehingga pasti yang akan naik akan dicegah. Lalu mereka disuruh untuk menanti kereta selanjutnya. Padahal, mereka sudah menunggu terlalu lama, hingga parfum yang mereka semprotkan dengan semangat telah menguap baunya. Daya pikat aromanya telah berbaur dengan udara yang mulai tersusupi asap knalpot.

Riasan para perempuan yang akan naik juga mulai terhiasi bulir keringat. Alis yang mereka lukis hampir makan waktu sejam pelan-pelan kehilangan goresannya yang indah. Sebab tak sengaja terseka oleh tisu yang harusnya untuk mengelap keringat.

Penumpang kereta seolah menjelma jadi sosok yang egois. Hampir semuanya menghindari sikap untuk mengalah, karena dengan mengalah, kepentingan mereka akan kacau. Misalnya, waktu untuk tiba ke kantor jadi terlambat.

Selain perilaku saling serobot dan terabas untuk masuk dan turun kereta, keegoisan juga tampak saat kereta melaju. Rasa kantuk seakan langsung menyergap para penumpang yang beruntung bisa menaruh pantat di kursi yang tersedia. Mata langsung disetel terpejam sesaat setelah penumpang duduk, supaya tidur bisa pulas sepanjang perjalanan, mulut dibungkam oleh masker. Tangan mendekap tas. Ini agar sensasi tidur memeluk guling layaknya di rumah bisa dirasakan. Tampilan yang begini menjadi semacam tanda bagi penumpang lain untuk tidak mengusik tidur mereka.

Jika sudah begitu, penumpang lain menjadi patuh terhadap kebijakan tak tertulis tapi telah mengakar di kalangan para pelaju kereta. Dengan demikian, tidak ada yang berani  menepuk pundak penumpang yang tidur.

Tentu bukan tanpa sebab tidur mereka diganggu. Karena penumpang lain akan meminta izin supaya tempat duduknya mereka berikan kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan orang membawa balita.

Itulah pemandangan yang jamak ditemui di commuter line. Baik dari atau menuju Jakarta, perjalanan menumpang commuter line menjadi sebuah pertarungan usaha. Ada perjuangan yang mesti dibayarkan supaya tiba di tempat tujuan.

Sikap tolong-menolong dipertaruhkan di dalam gerbong. Kedewasaan dan kebaikan tersorot nyata dalam setiap perlintasan yang dilalui.

Memang betul, acap kali penumpang muda yang sebenarnya masih kuat berdiri dan bergelantungan enggan untuk berbagi kursi. Dalih yang dipakai adalah mereka menempuh perjalanan dari titik mulai hingga titik terakhir relasi kereta.

Dari situ biasanya perdebatan sengit tercetus di dalam gerbong. Semua adu argumen. Tiap mulut kukuh menumbangkan pendapat lawan bicara. Dan masker penutup menjadi pengaman supaya ketika terjadi cekcok soal kursi, tak ada yang mengidentifikasi wajah mereka masing-masing.

Sedangkan penumpang lain asyik jadi penonton sembari mengabadikan momen itu lewat gawai pintar. Sudah bisa ditebak, keributan itu akan sampai ke akun-akun Instagram yang kerap menyebarkan peristiwa viral dan menggemparkan.

Apakah kejadian singkat di kereta listrik tersebut bisa jadi cerminan betapa memburu waktu di Jakarta bisa mengubah kelembutan hati seseorang? Wajar saja, secara psikologis memang jiwa manusia akan lebih tertekan jika dihadapkan pada ketergesaan. Sedangkan Jakarta selalu menuntut orang-orang untuk gesit dan tahan banting meski sesempit apapun waktunya.

Maka dari itu, banyak perantau di Jakarta yang akhirnya tak lagi jadi dirinya. Jakarta mengubah mereka menjadi egois sekaligus temperamen. Pasalnya, jika tidak beradaptasi seperti itu, orang-orang itulah yang akan tergilas. Lalu keok di tengah laju Jakarta yang terus mengebut dengan kecepatan tinggi, tanpa memperhatikan sekitar.

Bahkan Jakarta nyaris lupa tentang arti bernapas lega, karena seluruh penghuninya dipaksa untuk menabrak batas demi mencapai tujuan tanpa pernah berhenti. Padahal manusia sesekali butuh rehat, hanya sekadar untuk mengamati sekeliling yang perlu dibantu.

Itulah anehnya Jakarta. Kejam tapi banyak yang cinta, sehingga jadi rebutan banyak pendatang yang nafsu untuk mengencaninya.

Tak percaya soal Jakarta yang jadi incaran bak gadis yang ditaksir banyak lelaki? Tengok saja betapa penuhnya Transjakarta yang melayani berbelas koridor? Seluruh Jakarta kini memang telah tersambung dengan bus ber-AC kebanggan pemerintah provinsi ini. Bahkan, masyarakat dari kota penyangga di sekitar Jakarta juga terlayani dengan bus ini. Trayeknya telah diperpanjang lintas provinsi dan menjamah kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Transportasi yang terintegrasi seperti itu tentu memudahkan mereka yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Belum lagi ditambah mudahnya moda transportasi lain untuk menjangkau Jakarta. Sebut saja kereta listrik yang bisa memangkas waktu tempuh dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Rangkasbitung ke Jakarta.

Itu baru moda transportasi yang terhitung jarak pendek. Belum lagi layanan transportasi yang memudahkan masyarakat seantero Indonesia untuk berduyun-duyun datang ke Jakarta. Misalnya, kereta ekonomi dengan tarif termurah dari Semarang ke Jakarta bisa ditebus dengan harga kurang dari Rp. 150.000,-. Kendati penumpang mesti merasakan duduk di bangku yang keras sembari berbagi dengan satu atau dua orang penumpang lain, nyatanya tiket kereta ini hampir pasti laris terjual terutama saat akhir pekan atau pasca lebaran.

Lihat saja berita-berita yang memenuhi media massa. Kebanyakan mencatat bahwa perpindahan penduduk dari daerah ke Jakarta mencapai puncaknya ketika lebaran telah usai. Saat itu, para perantau lama ada yang “menyusupkan” pendatang baru yang tergiur dengan bayangan kesuksesan yang bakal direguk ketika bekerja di Jakarta.

Tak ayal, kontrakan petakan yang menjamur di gang-gang sempit di balik gedung-gedung pencakar akan semakin sesak terisi. Tidak ada yang kosong di Jakarta. Semua lahan bisa disulap jadi tempat tinggal atau tempat memungut rezeki. Di Jakarta yang sepi hanyalah hati para warganya yang telanjur dirasuki oleh hasrat ekonomi sebab untuk mengencani Jakarta butuh modal yang terlampau besar.

Jakarta juga telah menukar segala yang ia punya untuk penghuninya. Apa saja yang telah Jakarta beri ke penghuninya tentu tidak bisa ditukar dengan sikap angkuh para masyarakat. Bayangkan saja, Jakarta rela merusak tubuhnya. Tepian laut diuruk menjadi daratan padat demi masyarakat berkantong tebal yang butuh hunian dengan panorama laut yang membentang eksklusif. Selain itu, tanah makin dikeruk untuk disumpal dengan rel-rel yang bakal dilalui kereta bawah tanah layaknya di negara maju. Tanah juga makin digali demi mendapatkan setetes air untuk membasuh badan yang penuh peluh dan debu polusi. Sekaligus untuk memeroleh air yang mampu menghidupi keringnya kerongkongan.

Demikianlah Jakarta, banyak yang memaki namun tak banyak yang rela terusir dari ibu kota negeri ini. Jakarta mungkin seperti kekasih yang tidak romantis dengan cara-cara yang lumrah dan pasaran. Jakarta gengsi memberikan sebatang coklat atau seikat bunga bagi penghuni tercintanya. Jakarta hanya akan mencurahkan kelimpahan cintanya kepada mereka yang mau bergerak demi perubahan dan kemajuan.

Shela Kusumaningtyas, mendefinisikan diri sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Tulisannya dimuat di pelbagai media—baik cetak dan online. Telah menerbitkan dua buku di Ellunar Publisher, Kumpulan Puisi Berjudul Racau dan Kumpulan Opini di Media Massa Berjudul Gelisah Membuah. Bisa dihubungi via e-mail shelakusumaningtyas@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *