Esai

Pepatah-pepatah Usang dan Geseran Pemikiran yang Mengembalikan Jalan

April 9, 2019

Esai Richard Oh

Di zaman kasak-kusuk seperti ini, mungkin kita lebih memahami kenapa pepatah seperti, Diam adalah Bijak,  sebagai sebuah penyesatan yang sangat merugikan. Mana mungkin diam itu bisa menjadi bijak? Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu sebuah gaya yang lebih menyembunyikan kebingungan atau sebuah tenggang rasa yang lebih mengacu pada keuntungan berdiam daripada merugikan orang lain.  Nah, itu satu lagi kebiasaan berpikir yang sama sekali tidak masuk akal. Merugikan orang. Bagaimana manusia bisa berpikir dirinya bisa merugikan orang, kalau dia tidak juga berpikir keuntungan dirinya?

Diam itu sama sekali tak berguna, kecuali bagi seorang bankir yang memperhitungkan untung dan rugi. Diam itu juga tidak bijak. Kecuali kalau kita balik ke era romantis dahulu, di mana seseorang berambut panjang dan suka bermain gitar dan berkecenderungan diam seperti manusia penuh penderitaan, seperti objek ketabahan dalam kesunyian atau kesunyian berpendam seribu kebijakan atau kebajikan. Stereotipe jadul yang entah kenapa menjadi populer di kampus sini dan tokoh romantis di sekian film laku. Tapi kita paham itu. Karena seorang pendiam bisa dengan mudah diproyeksi apapun di kepala kita: soliter, berarti kuat dan tabah secara karakter, romantis seperti seekor hewan peliharaan yang tidak membuat jengkel karena diapapun ia tidak membalas kembali dengan menggigit, misterius mengundang keingintahuan, simpatik karena tidak rewel mengusik urusan siapapun. Karakter yang sebenarnya warisan dari era ketika manusia memandang kehidupan sebagai sebuah tragedi. Di era setelah Goethe menjadi sebuah karakter romantika kelas wahid. Karakter penuh sensibilitas dan kehalusan jiwa dan kesabaran mendengar semua keluhan dan…tak berguna bukan? Karena apa yang bisa dilakukan manusia seperti itu, selain sebuah pundak atau bantal tangisan atau tong sampah semua kekesalan dan keluhan. 

Ada lagi satu frase populer yang beberapa tahun terakhir sering diutarakan sebagai sebuah bendara putih untuk memartisi diri dari pengkritik, sebuah warisan dari relativisme pascamoderen: Jangan menghakimi orang. Kita ketahui hari ini, di era serba relatif seperti sekarang, berdiam seribu kata sama sekali bukan sebuah penanda kebijakan atau tidak berbicara terus terang sebuah kebajikan berkonotasi tidak menghakimi orang. Di era di mana semua okay dan setiap hal memiliki berbagai sudut pandang, di mana letak kebenaran diberangus sebanyak alasan dan justifikasi, semua tergantung dari sudut pandang mana, tanpa sebuah wawasan yang menaungi apapun yang beredar. Tidakkah kita juga bisa berpikir: karena semuanya relatif maka berlaku kritis memungkinkan terwujudnya sebuah ruang di mana kekacrutan dan kekacauan bisa ditengarakan menjadi sebuah kecerahan solusi?

Mengkritisi tindak-tanduk seorang tercinta, teman dan kolega semakin terasa penting, karena tindakan itu mencerminkan sebuah partisipasi atau pertukaran berguna untuk mempertahankan sebuah standar kehidupan dalam setiap komunitas atau lingkaran kecil hubungan keluarga ataupun pertemanan. Menghakim dan mengkritik adalah dua hal yang berbeda. Menghakimi seseorang memiliki konotasi menjatuhkan seseorang untuk kepentingan diri. Mengkritik dengan berniat untuk memperbaiki adalah tindakan partisipatif yang benar. Dalam kekalutan era modern, kedua hal ini menjadi sengkarut tak terpisahkan. Sehingga saat ini mengkritik menjadi sebuah penghakiman yang melanggar kepribadian seseorang. Dalam keadaan seperti itu, seorang kekasih, teman, kolega, saudara, tak berdaya berkontribusi sama sekali. Karena ia menjadi seseorang yang mendengar tanpa berekspresi  atau sekutu keterpurukan yang diharapkan hanya simpati atau telinga yang sabar mendengar.

Empati tentunya memiliki fungsi yang tidak pasif untuk membangun semangat. Membangun semangat tentunya bukan hanya melewatkan masa sulit dengan rasionalisasi sederhana, tapi untuk menguasai persoalan agar bisa memajukan diri ke arah yang jauh lebih baik. Empati bukanlah pengasuh yang membantu seseorang terhanyut dalam perasaannya. Mestinya ia menjadi sebuah pelajaran berharga untuk diri sendiri untuk meluaskan wawasan terhadap keragaman dunia dan sifat-sifat manusia. Tidak seperti dipahami oleh Martha Nussbaum yang berpikir bahwa empati atau welas asih bisa menjadi sebuah terapi kehidupan, saya ingin mengajukan sebuah pemikiran sederhana: bahwa semua hal yang bisa memajukan manusia terletak bukan di perasaan, tapi di akal yang bisa membongkar kebuhulan situasi untuk sebuah jalan yang lebih mantap. Semangat dan perjuangan berasal dari sebuah perspektif pikiran yang mendorong seseorang untuk berorientasi ke sebuah arah di wawasan yang semakin membuka jalan ke depan.

Kritik mengacu pada debat dalam sebuah persilangan pemikiran. Di situ, baik sang pengkritik dan sang pembela diri memperoleh perspektif baru atau sebuah dimensi di luar diri. Di situ terlihatnya sebuah pandangan yang berguna untuk masing-masing mempertimbangkan. Kritikan bisa ditolak atau diterima, tapi dengan sebuah alasan atau landasan yang kuat sebagai argumentasinya.

Aleteia, keterbukaan dalam kebenaran, dan parrhesia, berani berbicara sebenarnya, adalah dua acuan yang dibutuhkan saat ini. Di manapun kita berada, dengan siapapun kita berhubungan atau bergaul, di situlah kita bisa menegakkan pilar-pilar kebersamaan yang saling membantu bahu-membahu untuk membangun sebuah komunitas yang tidak lagi mempersoalkan keuntungan secara individu atau keunggulan bagi siapa yang memicu persaingan tapi menciptakan sebuah arena kehidupan yang memungkinkan setiap individu bergerak dengan tempo dan energi yang berbeda ke arah sebuah dunia yang lebih baik untuk semua.

Richard Oh, sastrawan dan sutradara. Bersama Takeshi Ichiki merintis Kusala Sastra Khatulistiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *