Cerpen

Estradus Membenci Hujan

April 13, 2021

Cerpen Erwin Setia

Dua belas hari menjelang ulang tahun ketujuh Estradus, Ayah pergi meninggalkan Estradus dan Ibu. Hari itu hujan turun teramat lebat. Tangis Ibu mengucur deras serupa bendungan jebol, sementara Ayah tak mengacuhkan seruan Ibu yang memanggil-manggil namanya. Ayah membawa sebuah payung kecil berwarna biru tua ke luar rumah. Di sana, di depan pagar seorang perempuan seumuran Ibu menunggu Ayah. Perempuan itu tampak cemas dan terburu-buru. Begitu Ayah tiba di luar pagar, Ayah memayungi perempuan itu agar tak kehujanan. Keduanya melangkah cepat, menaiki sebuah taksi yang sudah dipesan. Seperti tetes pertama hujan hari itu, Ayah dan perempuan itu menghilang dengan cepat. Mereka pergi tanpa meninggalkan jejak kaki atau salam perpisahan.

Sejak hari kelam itu, Estradus membenci hujan. Saban hujan turun, ia akan menghindarinya jauh-jauh seperti orang yang takut tertular virus mematikan. Ia mengatupkan jendela, menutup pintu rapat-rapat, dan menyumpal telinga dengan kedua tangan. Ia tak mau melihat hujan, mendengar suaranya, terciprat percikannya, atau mencium bau tanah selepas hujan. Di lain sisi, mata Ibu semakin berkabut dan ia jarang mengeluarkan kata-kata. Tiap kali menatap mata Ibu yang selalu tampak basah, Estradus langsung memeluk Ibu. Ia tak tahan memandangi matanya lama-lama. Ia tak tega melihat Ibu begitu tersiksa. Ibu memang tak banyak bicara dan bergerak. Namun mata Ibu serupa pendongeng bisu yang melontarkan cerita-cerita sendu. Selain hujan, Estradus juga menghindari mata Ibu. Ia mencintai Ibu, tapi ia tidak berani lagi melihat matanya.

Ibu berhenti berjualan pakaian dan mengantarkan Estradus ke sekolah. Ibu telah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Selepas kepergian Ayah, Ibu seperti sosok yang datang dari masa depan yang selalu mengenang hari-hari silam. Ia tidak lagi memasak, mencuci, dan melakukan aktivitas semacamnya. Ibu cuma diam di atas satu di antara empat kursi yang mengelilingi meja makan. Di seberang kursi tersebut adalah kursi Ayah biasa duduk. Ibu sering berbicara dan mengatakan hal-hal yang indah sendirian. Tak sekali dua kali Estradus mendengar Ibu tertawa-tawa dan menceritakan dengan suara tinggi masa-masa manis saat ia dan Ayah masih berpacaran. Tiap kali tawa panjangnya berhenti, Ibu langsung tercekat, kemudian menangis tiba-tiba. Ibu memukul-mukul meja sambil meneriakkan nama Ayah. Memandangi itu, Estradus hanya bisa menahan tangisnya. Berkali-kali ia meminta Ibu berhenti bertindak seperti itu, alih-alih berhenti, Ibu malah semakin meninggikan suaranya dan semakin keras memukul meja.

Pada ulang tahun kesepuluh, Estradus mendapat hadiah yang tak pernah ia harapkan. Hadiah ulang tahun paling menyedihkan yang ia terima. Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari akibat pendarahan parah di kepalanya, Ibu meninggal dunia. Estraduslah yang memergoki ketika Ibu membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Kepala Ibu sudah bocor dan lantai memerah saat Estradus memergokinya. Meski kepalanya berdarah-darah, Ibu tetap membentur-benturkan kepalanya dengan keras seakan kepalanya terbuat dari baja. Ia melakukan itu sambil meneriakkan nama Ayah. Estradus meminta bantuan tetangga untuk menolong Ibu. Ibu lekas dibawa ke rumah sakit. Saudara-saudara menjenguk Ibu. Tapi nyawa Ibu tak bisa diselamatkan. Pada hari kematian Ibu, hujan turun begitu lebat. Kebencian Estradus terhadap hujan pun semakin kuat.

Selepas kematian Ibu, Estradus tinggal di rumah Kakek Junus bersama Paman Darius. Paman Darius adalah satu-satunya anak Kakek Junus sekaligus adik Ibu yang belum menikah. Sebelum kehadiran Estradus, Paman Darius hanya tinggal bersama Kakek Junus yang pikun dan gampang menangis. Kakek Junus selalu menangis setiap kali ia sadar bahwa dirinya sudah lupa akan banyak hal. Kakek Junus menangis ketika lupa bahwa Paman Darius adalah anaknya, Estradus adalah cucunya, dan istrinya—Nenek Jasiah—telah meninggal dunia. Paman Darius yang mengaku tak ingin menikah merasa senang dengan keberadaan Estradus. Sebab ia tidak lagi hanya tinggal berdua bersama orang yang gampang menangis dan sulit diajak bicara. Paman Darius jelas mencintai ayahnya—Kakek Junus—tapi ia juga butuh teman serumah yang bisa diajak berinteraksi secara normal.

Estradus juga senang dengan Paman Darius. Paman Darius adalah seorang sarjana—entah jurusan apa, Estradus pernah menanyainya, tapi Paman Darius tak pernah mau menjawabnya. Ia pintar. Ia banyak baca buku dan mengenakan kacamata. Begitulah alasan Estradus menganggap Paman Darius pintar.

Estradus menjalani masa remaja di rumah itu. Beberapa hal berubah—Kakek Junus wafat, Paman Darius melanjutkan sekolah, Estradus mulai jatuh cinta—tapi kebencian Estradus terhadap hujan masih sama. Tiap kali hujan turun, ia berlari ke dalam kamar untuk mengurung diri. Ia tidak akan ke luar kamar sampai hujan benar-benar berhenti. Sampai petrichor tak tercium lagi. Kali pertama mengetahui keanehan Estradus, Paman Darius terheran-heran.

“Paman rasa kau mengidap ombrophobia, Estra. Sejenis ketakutan yang berlebihan kepada hujan.”

“Tidak, Paman. Aku tidak takut kepada hujan atau apa pun. Aku hanya membencinya.”

“Tapi kau tidak bisa terus-menerus menghindar dari hujan, Estra. Di negeri ini, hujan datang begitu sering dan tak bisa dicegah.”

“Biarlah, Paman. Aku tetap tidak mau menemui hujan.”

Pada akhirnya Paman Darius memaklumi keengganan Estradus terhadap hujan. Soal keanehan Estradus membuat Paman Darius teringat teman-temannya dan dirinya sendiri. Ia memiliki teman perempuan yang tidak pernah mau bertatap muka dengan lelaki, teman yang ketakutan setiap melihat jalan raya, cemas setengah mati kalau melihat warna merah, tidak mau berbicara lewat telepon, dan sebagainya. Paman Darius sendiri bertekat tidak pernah mau menikah. Suatu hal yang mulanya dianggap tak lazim oleh orang-orang sekelilingnya. Saat Kakek Junus masih hidup dan belum pikun, ia juga sering mengingatkan Paman Darius untuk cepat menikah. Paman Darius hanya menjawab “iya” sekadar untuk menyenangkan Kakek Junus. Kenyataannya, Paman Darius tak pernah menikah sampai Kakek Junus pikun dan meninggal dunia.

Paman Darius sedang mengetik rancangan tesisnya ketika suatu pagi Estradus yang telah menjadi mahasiswa membawa seorang perempuan ke rumah. Perempuan itu berambut lurus panjang, bermata kecil, dan bertinggi sedagu Estradus. Perempuan itu ceria sekali. Estradus memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Paman Darius terlonjak dari tempat duduknya.

“Kau serius, Estra? Rasanya baru kemarin kau lulus SD, sekarang sudah punya kekasih saja.”

“Aku mencintai Helena, Paman. Suatu saat aku pasti akan menikahinya,” kata Estradus. “Kau mau kan nanti menikah denganku, Helena?”

Helena tersipu. Paman Darius menggeleng-geleng dan mencandai Estradus agar menempuh cara hidup seperti dirinya—tidak menikah.

“Helena terlalu cantik dan baik untuk tidak kunikahi, Paman.”

Setelah hari itu, Estradus makin sering membawa Helena ke rumah. Paman Darius yang tengah sibuk dengan tesisnya tidak keberatan dengan kedatangan Helena. Sama seperti Estradus, Helena tipe orang yang enak diajak bicara. Ketiganya bisa membahas apa pun kalau sudah duduk semeja. Meskipun usia Paman Darius berselisih jauh dari sepasang sejoli itu, ia merasa tidak berjarak dengan topik yang keduanya percakapkan. Barangkali karena Paman Darius rajin membaca dan bergaul sehingga ia tak pernah ketinggalan gerbong kereta zaman yang melaju kencang.

 Seiring waktu hubungan Estradus dengan Helena kian dekat. Helena berkali-kali mengajak Estradus main ke rumah, tapi Estradus belum memiliki keberanian untuk itu. Ia mesti mengumpulkan nyali dulu untuk bisa bertemu langsung dengan orang tua Helena. Selain kurang percaya diri, kenangan hitam akan Ayah dan Ibu membuat Estradus tidak sanggup tiap harus berjumpa dengan orang-orang seusia Ayah dan Ibunya. Meskipun Ayah dan Ibu meninggalkannya dengan cara yang berbeda, tapi keduanya menyisakan kesedihan yang sama di hati Estradus.

Sampai suatu hari Estradus memberanikan diri menerima ajakan Helena ke rumahnya. Keduanya telah menetapkan hari itu. Celakanya, tepat hari itu hujan lebat turun. Estradus sudah bersiap-siap ketika hujan turun tiba-tiba. Ia sangat membenci hujan. Ia ingin cepat-cepat mengurung diri di dalam kamar. Namun ia tidak dapat melakukan itu. Helena dan orang tuanya sudah menunggunya. Akhirnya Estradus memilih untuk melawan kebenciannya itu. Setelah sekian lama, ia mau menjumpai hujan.

“Akhirnya waktu ini tiba. Kau memang harus melawan kebencianmu, Estra,” ujar Paman Darius sebelum Estradus berangkat ke rumah Helena dengan mengendarai sepeda motor.

Estadus menerobos hujan. Tiap kali suara hujan tiba di telinganya atau tetes hujan menimpa tubuhnya, Estradus teringat hari saat Ayah pergi dan Ibu mati. Ingatan itu berganti-gantian menyiksanya seperti dua penjahat yang mengeroyoknya di suatu jalan yang sepi.

Estradus tiba di rumah Helena. Di teras, Helena menyambutnya dengan senyum mengembang. Ia lekas mengajak Estradus ke dalam. Sepasang orang tua Helena sudah ada di ruang tamu. Keduanya telah duduk menanti kekasih anak mereka. Begitu Estradus memasuki ruang tamu, Helena memperkenalkan, “Ayah, Mama, ini lelaki yang dari tadi kubicarakan. Ini kekasihku. Namanya Estradus.”

Begitu mendengar ucapan Helena, sepasang orang tua itu terperanjat. Terutama ayah Helena. Matanya mennyipit dan tubuhnya membeku. Sementara itu, leher Estradus menegang. Ia mengenali dua orang di hadapannya. Mereka adalah Ayah yang meninggalkan Etradus bertahun-tahun lampau dan seorang perempuan yang dulu dipayungi Ayah.

Tanpa mengatakan apa-apa kepada Helena, Estradus buru-buru pergi ke luar. Ia memacu sepeda motornya kencang-kencang. Sangat kencang. Hujan masih turun begitu deras. Di tengah jalan, Estradus tak henti-henti mengumpat dalam hati. Sejak hari itu, ia semakin membenci hujan dan Ayah. **

Tambun Selatan, 16 Februari 2020


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *