Film Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

May 14, 2019

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *