Buku Resensi

Fragmen Ingatan Bahari

September 24, 2019

oleh Udji Kayang

Pada sesi terakhir diskusi buku Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi (2018) di Balai Soedjatmoko, Ibe S. Palogai (penulis buku itu), menyampaikan pernyataan yang kurang lebih demikian, “Barangkali, orang Makassar menjadi pelaut bukan serta-merta karena laut adalah kehidupan mereka, melainkan keengganan bertahan di daratan yang penuh pertumpahan darah.” Terkait pernyataan itu, ada gambaran peristiwa kecil tetapi patut dipikirkan pada pengantar buku puisi Ibe, “… saya menyaksikan perkelahian dua lelaki. Perkaranya sederhana, tubuh mereka tanpa sengaja bersentuhan. Mata mereka saling tatap. Salah seorang kemudian maju melepas badik yang ia sisipkan di pinggang. Saya tidak tahu kelanjutannya. Orang-orang dewasa berkerumun dan menutup pandangan saya. Apa yang membuat mereka tergila-gila pada darah?”

Misalkan pernyataan Ibe benar, dengan demikian orang Makassar menjadi pelaut bukan karena mereka punya—meminjam frasa dalam cerpen H.B. Jassin—“darah laut”, melainkan sekadar pelarian dari daratan yang sengit dan mengerikan. Memang, kajian akademis diperlukan untuk membuktikan motif melaut orang Makassar secara lebih akurat. Maka, pernyataan Ibe mungkin saja salah. Namun, yang pasti benar, sekalipun masyhur sebagai pelaut, orang Makassar punya kampung halaman di darat. Apakah ada orang laut yang benar-benar berkampung halaman di laut? Pertanyaan itu coba dijawab Safar Banggai dalam buku kumpulan cerpennya, Nelayan Itu Berhenti Melaut (2019).

Nelayan Itu Berhenti Melaut tipis, hanya 70 halaman dan berisi 12 cerpen, yang beberapa bahkan cukup pendek untuk ukuran cerpen—misalnya cerpen “Ia Tak Sadar Air Matanya Jatuh”. Satu cerpen yang barangkali menjelaskan latar kultural Nelayan Itu Berhenti Melaut adalah “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng”. Jika sekujur buku Safar boleh dipadatkan dalam satu cerpen saja, tentu cerpen itulah yang paling representatif. Pada bagian akhir cerpen “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng”, Safar menulis pernyataan penting, “Orang Makassar dan Mandar memang pelaut, tapi mereka punya daratan asal. Orang Minang dan Jawa, memang perantau, tapi mereka punya tanah kembali. Tapi, kami orang Bajo, tanah asal menjadi dongeng.”

Safar, sebagai orang Bajo, tetap tak mau berlagak orang Bajo benar-benar berasal dari laut. Orang Bajo adalah representasi paling tepat bagi kebudayaan bahari, karena mereka bermukim di laut, mencari penghidupan di laut, bahkan mati pun di laut. Safar, dan orang-orang Bajo yang hari ini mulai mengalami peradaban darat, masih mungkin bercerita pada generasi mendatang bahwa kampung halaman mereka adalah laut. Tentu, Safar benar. Namun, jauh pada masa silam, barangkali ada daratan yang ditinggalkan, sebelum orang Bajo memulai peradaban laut mereka. Daratan itu tidak diketahui pasti. Maka, ketimbang menduga-duga dari daratan mana orang Bajo berasal, atau berlagak mereka diturunkan Tuhan di laut, Safar memilih “dongeng” sebagai kampung halaman orang Bajo.

Pilihan Safar mengingatkan pada revolusi kognitif Homo sapiens. Dongeng—atau dalam istilah Yuval Noah Harari: fiksi—adalah hasil revolusi kognitif itu, yang lantas menjadikan Homo sapiens mampu membangun peradaban manusia seperti sekarang, alih-alih punah karena seleksi alam. Dalam bukunya, Sapiens (2017), Yuval menulis, “… fiksi telah memungkinkan kita bukan hanya mengkhayalkan ini-itu, melainkan juga melakukannya secara bersama-sama. Kita dapat merajut mitos-mitos bersama seperti kisah penciptaan dunia dalam kitab suci, mitos-mitos Kala Mimpi orang-orang Aborigin Australia, dan mitos-mitos nasionalis negara-negara modern. Mitos-mitos semacam itu memberi Sapiens kemampuan yang tak pernah ada sebelumnya untuk bekerja sama secara luwes dan beramai-ramai.”

Fiksi melahirkan agama, suku, dan komunitas terbayang manusia modern: negara. Fiksi jugalah yang membuat orang-orang laut di Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, bahkan Filipina, Malaysia, dan Brunei, membayangkan identitas bersama sebagai orang Bajo. Kisah seorang putri dari Kerajaan Melayu yang memutuskan minggat berlayar bersama kekasihnya—seorang nelayan jelata—ialah dongeng yang diyakini orang Bajo menjelaskan asal-usul mereka. Kata tokoh Safar dalam cerpennya, “… cerita hilangnya Sang Putri telah menjadi legenda dan jika dosen sejarahmu masih mempertanyakan asal-usul suku kita, ceritakanlah apa yang sudah ayah ceritakan kepadamu pada malam ini.”

Selebihnya, selain cerpen penting “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng”, Nelayan Itu Berhenti Melaut melimpah fragmen-fragmen ingatan Safar sebagai seorang yang—kendati kini berperistiwa di darat, termasuk untuk menulis cerpen-cerpennya—lahir dan dibesarkan di laut. Membaca Nelayan Itu Berhenti Melaut seperti mendengar seorang perantau yang menceritakan peristiwa-peristiwa kecil di kampung halamannya dengan penuh kerinduan. Karenanya, pembaca tak perlu terlalu berharap Safar menulis dengan teknik ampuh, plot mengejutkan, atau diksi memukau bak pengarang-pengarang mutakhir yang penuh gairah. Safar, melalui 12 cerpennya, terasa sekadar ingin bercerita, sekadar ingin dibaca.

Ada satu pertanyaan setelah mengakrabi cerpen-cerpen Safar dalam Nelayan Itu Berhenti Melaut. Pada Oktober 1980, Sir Keith Shann berkunjung ke Indonesia dalam rangka Program Pertukaran Penceramah. Tiga dari beberapa ceramah yang disampaikan bekas Duta Besar Australia untuk Filipina, Indonesia, dan Jepang itu dibukukan lalu diterbitkan Kantor Penerangan Australia pada 1981 dengan judul Tetangga. Pada salah satu teks ceramah Shann, ada satu kutipan menarik, “…yang pertama kali menemukan Australia? Dalam segala kemungkinan pernyataan ini mungkin berada pada pelaut-pelaut suatu bangsa yang sekarang dikenal sebagai Indonesia.” Siapakah para pelaut yang Shann maksud? []


Udji Kayang, editor buku menyambi penulis lepas. Penulis buku Keping-keping Kota (2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *