Cerpen

Gasing Tengkorak

August 25, 2020

Cerpen Siska Amelia

Wajahnya tampak gelisah. Rambut ikal sebahu tergerai dilapih kelembai. Sesekali mulut dibuka lebar, tertawa sambil membelalakkan mata, mengedarkan tatapan liar pada dinding bercat abu-abu. Penat melepas tawa tak beralasan, ia meraung-raung. Ditarik-tariknya rambut, lalu berteriak tidak menentu.

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Si wanita semakin menggila tingkah lakunya. Sama sekali tidak memedulikan banyak pasangan mata yang tengah menatap heran. Dia mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Sambil menari-nari, dilempar serampangan baju itu. Perlahan semua yang menutupi tubuh dilepas. Dengan menyuguhi pandangan beringas, ia menempelkan tubuh bagian depan pada dinding, di samping kiri ranjang. Kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar dinding, lalu berteriak, menggeliat, mengamuk, tertawa, dan kadang mengeluarkan suara tangisan. Wanita tak berayah-beribu itu, nampak jelas begitu kesakitan.

Rosmayenti. Begitu warga memanggil namanya. Perawan usia 25 tahun, terkenal seantero kampung Karamba karena kemolekan tubuh dan paras dahayu yang Tuhan anugerahi. Tak ayal, berderet lelaki bertandang hendak mempersunting wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Sayang, wajah cantik tak selaras dengan tuturnya saat lelaki datang meminang. Rangkaian kata menghunus ulu hati acapkali terlontar dari bibir bergincunya. Menolak mentah dengan kata-kata pedas adalah hal lumrah baginya.

Hide. Satu di antara puluhan lelaki yang kerap mendapat perlakuan semena-mena dari Rosmayenti. Pria yang telanjur jujur mengungkapkan segala isi hati, malah disiram cerca-maki karena profesinya hanya penjual kayu bakar. Diusahakan Hide meredam hati yang memanas. Bergeming. Lelaki piatu tersebut memutuskan pergi tanpa wacana walau sepatah kata. Setiba di rumah, sengaja dia menutup rapat kejadian merendahkan harga diri, pada bapak yang begitu dihormati. Enggan Hide berbagi pilu dengan bapak yang turut dihina Rosmayenti. Suasana duka seratus hari kehilangan istri masih membekas basirah. Tentu ia tak mau menambah rasa sakit, jika dia bicara perihal apa yang dialaminya. Namun, saat wajah Hide tampak murung, justru bapak menenangkannya. Hide sedikit heran karena hal itu, dia coba menelisiknya mengapa bapak tampak tenang, tetapi diurungkannya, karena dia pikir itu bukan sesuatu yang buruk, justru dia menganggap apa yang ditunjukkan bapak melegakan hatinya. Hanya pada Mandaro, kawan karibnya, Hide menumpah-ruahkan segala isi hati.

Malam ini, langit tidak mengumbar banyak bintang. Hide yang dihubungi temannya agar menyegerakan langkah ke rumah ini, ternganga begitu melihat Rosmayenti berjingkrak tanpa busana, berkelakuan serupa binatang. Kemudian pikirannya mengembara, menjajaki setiap jengkal kejadian tujuh hari lalu.

“Pernah kau dengar tentang gasing tengkorak, Hide?” Mandaro melempar pertanyaan setelah mendengar semua yang Hide ceritakan. Kening Hide mengerut diiringi gelengan kepala, memberi isyarat bahwa dia tak paham dengan apa yang Mandaro ucap.

“Gasing tengkorak adalah gasing yang dibuat dari tengkorak jidat manusia yang mati berdarah,” tutur Mandaro. Ditatap seriusnya Hide yang mendengar dengan saksama.

“Almarhum kakek pernah bercerita tentang lelaki tua yang memiliki gasing tengkorak di kampung kita,” kata Mandaro melanjutkan obrolan.

“Lalu? Apa gunanya gasing tengkorak untukku, hah? Aku ini jatuh cinta, bukan ingin bermain gasing layaknya anak kecil.” Hide mengeluh kesal. Dihempas paksa tubuhnya pada kursi kayu bercorak kuno.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau cerita tentang gasing tengkorak yang mampu membuat wanita idaman kau menuruti maumu, hah?”

“Edan. Mana mungkin aku lakukan hal macam itu untuk taklukkan Rosmayenti?” ucap Hide. Ditekannya pemantik hingga mengeluarkan api kemerahan. Dia menghisap tembakau kuat sampai bara api meremang.

“Jangan naif, Kawan. Aku bisa saja mengantarmu ke rumah lelaki tua pemilik gasing tengkorak. Kakek bilang bahwa ia telah menurunkan ilmu gasing tengkoraknya pada seseorang.” Mandaro menyeruput  dan merasakan sejenak kopi tanpa gula mengalir, membasahi tenggorokan, lantas kembali angkat bicara.

“Kakek tak pernah bilang kepada siapa lelaki tua itu mewarisi ilmu gasing tengkorak. Kau dan aku bisa bertanya langsung pada lelaki tua tersebut.”

“Lalu?”

“Kita temui pemilik gasing tengkorak yang baru dan meminta agar Rosmayenti tunduk padamu.”

“Memangnya di mana rumah lelaki tua itu?”

Rimbo Data.”

Mereka beradu pandang. Bergeming. Hide hafal jalan menuju rimbo data. Beberapa kali bapaknya mengajak dia ke hutan lebat itu, mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Tetapi, Hide tidak mengetahui ada sebuah rumah di hutan yang lengang. Bapak juga tidak pernah bercerita. Barangkali terlalu sibuk dan fokus memilih kayu untuk keberlangsungan hidup.

Pikiran Hide menerawang, mengingat cerca-maki yang Rosmayenti lontarkan, tidak hanya padanya, tapi juga pada bapaknya. Untuk sesaat, darah dendam mengaliri tubuh Hide, namun raib begitu ia mengenang mendiang ibu yang selalu tanamkan nilai-nilai agama.

Mandaro mengambil secarik kertas dan pena bertinta biru. Ia nodai kertas itu, lalu menaruhnya di meja cokelat bermotif dedaunan.

Netra Hide tertuju pada kertas coretan Mandaro yang tertulis ‘Denah Lokasi Rumah Lelaki Tua Pemilik Awal Gasing Tengkorak’. Hide diam. Satu sisi ia menginginkan Rosmayenti, tapi di lain sisi, ia teringat mendiang ibu. Air muka Hide menampakan kebingungan yang sangat.

Rosmayenti kian meradang. Ia menerkam dan menerjang siapa saja yang ingin mendekatinya. Wanita paruh baya yang berniat menutupi tubuhnya dengan sarung, langsung dicekik hingga tak mampu memekik. Beruntung warga bisa melerai. Nahas, beberapa pemuda yang melerai malah dilempari apa saja oleh Rosmayenti. Tatapannya mendelik ke sekeliling, ia mulai menghalau orang-orang yang awalnya diacuhkan. Mereka ketakutan dan berhamburan, tak mau menjadi korban keberingasan wanita angkuh ini.

Pintu kamar telah dikunci Rosmayenti. Derap langkah warga perlahan menjauh, kembali ke-rumah masing-masing. Meninggalkan Rosmayenti yang terus saja mengerang.

***

Hide mengayuh sepeda begitu terburu. Kertas denah pemberian Mandaro digenggam erat. Ia mulai menapaki hutan rimbo data, membelah jalanan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar, juga tinggi. Hawa dingin pagi langsung memagut tubuhnya, serta-merta menghujam wajah penasaran lelaki penjual kayu bakar itu.

Hide memutuskan tidak ingin menuruti saran Mandaro untuk menjadikan gasing tengkorak sebagai media menganiaya Rosmayenti dan patuh padanya. Hide hanya berencana menemui lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak, memastikan apakah ada orang lain yang telah mendatangi lelaki tua tersebut. Dia juga hendak menanyakan siapa gerangan pemilik gasing tengkorak yang baru. Menguliti semua hal secara tuntas.

Rasa keingintahuan yang membuncah, membuat Hide semakin menambah kecepatan menga-yuh. Ia mau penderitaan Rosmayenti segera berakhir, walaupun kelakuan gadis berambut pirang itu malah membuatnya menderita. Belum pernah Hide menyayangi wanita begitu tulus, kecuali sayangnya pada Rosmayenti saat ini. Dia juga tidak mau gadisnya merasa sakit lagi.

Hanyalah gubuk reot beratapkan ijuk yang dilihat Hide di lokasi denah. Di sekeliling rumah tumbuh banyak ilalang, hal itu yang membuat Hide tak hirau sebelum-sebelumnya.

Pintu gubuk dibuka lebar seperti menunggu kedatangan tamu. Hide berencana masuk, tapi terhenti ketika melihat Rosmayenti yang berjalan perlahan menuju gubuk. Hide segera menyembunyikan diri di sisi kiri gubuk, memerhatikan langkah Rosmayenti yang memasuki gubuk.

Pintu gubuk ditutup saat Rosmayenti masuk. Hide mengendap-ngendap. Hide mengintip dari lubang gubuk yang ada. Dia melihat lelaki mengenakan topeng tengah memainkan gasing tengkorak. Gasing yang bertali kain kafan terus berputar diiringi sayup nyanyi samar. Asap mengepul dari kemenyan yang dibakar di dalam batok tempurung. Lelaki itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tumpul begitu melihat kedatangan Rosmayenti. Dengan wajah penuh kemenangan lelaki itu berkata, “Ini ganjaran untukmu karena telah berani meludahi wajahku tiga hari lalu.”

Lelaki itu memerintahkan Rosmayenti untuk berbaring pada kasur tipis yang telah disediakan. Rosmayenti bagaikan boneka hidup yang menuruti saja kemauan lelaki bertopeng. Dengan beringas, dia mulai menggerayangi tubuh Rosmayenti.

Tak tinggal diam, Hide berniat menghentikan perbuatan itu. Namun, belum sempat hal itu dilakukannya, lidah Hide terasa kelu, hatinya getir, badan serasa kaku ketika melihat lelaki itu melepas topengnya dan mencium bibir Rosmayenti.

B … ba … bapak,” ujarnya terbata. Masih sulit hati Hide memercayai lelaki itu ialah orang yang dikenal, disayang, dan sangat dihormatinya.

Seseorang menepuk pundak Hide dari belakang. Segera Hide membalikkan badan. Di depannya berdiri seorang kakek dengan tongkatnya. Dialah lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak. Dia menatap Hide tajam sembari menyisir jenggot yang telah memutih, lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di gubuk yang telah aku wariskan kepada muridku?”


Siska Amelia, beberapa tulisannya pernah memenangkan lomba, yang terbaru adalah cerpen berjudul ‘Palasik’, menjadi juara favorit lomba menulis cerpen nasional yang diadakan lomba online tahun 2020.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *